
Hotel Ryuichi, hotel milik Gibran tersebut semakin berkembang pesat saat dikelola oleh Gibran bahkan hotel tersebut juga sudah mempunyai cabang di beberapa daerah lainnya. Diusia yang masih muda Gibran mampu membuktikan ke semua orang jika dirinya layak dan mampu menjadi pemimpin.
Hari ini, Gibran memutuskan untuk mengecek Hotel terlebih dahulu sebelum dirinya pergi ke luar kota untuk melanjutkan pendidikannya. Gibran duduk disalah satu kamar hotel bersama tangan kanannya untuk membahas mengenai progam kerja mereka selanjutnya.
"Bagaimana perkembangan pembangunan hotel di kota B?" tanya Gibran pada salah satu tangan kanannya.
"Semuanya baik pak, kita hanya perlu memantaunya dari kejauhan" Ujar sang tangan kanan dengan sopan.
"Bagus, aku percayakan semuanya padamu saat aku pergi" ucap Gibran seraya menatap pemandangan dari ketinggian luar melalui jendela kamar hotel.
"Saya akan menjaga kepercayaan anda" jawab tangan kanan dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun.
Setelah mendiskusikan beberapa hal bersama asistennya, Gibran langsung pulang kerumah karena hari sudah mulai sore. Mengendarai mobil dengan santai, Gibran seolah menikmati udara senja yang terlihat matahari mulai berwarna kejinggaan itu.
__ADS_1
Sejenak pikirannya teralihkan pada Chayra, bagaimanapun Chayra masih membutuhkan penjagaan ketat tapi dirinya harus pergi untuk menempuh masa depannya sendiri. Ingin sekali dirinya menjaga Chayra, Gibran sangat menyayangi adiknya.
Masuk kedalam rumah, Gibran memutuskan untuk langsung kekamar dan membersihkan dirinya. "Kakk" baru saja membuka pintu, Gibran kembali membalikkan badannya saat mendengar panggilan dari Chayra.
"Kenapa?" tanya Gibran seraya menatap Chayra yang terlihat sedikit gugup.
"Ini buat kakak" Chayra menyodorkan sebuah paperbag dan itu membuat Gibran menautkan kedua alisnya sebelum akhirnya menerimanya.
"Kenapa bocah itu" karena penasaran, Gibran membuka papaer bag dan matanya membelalak bagaimana bisa adiknya itu membeli jam tangan semahal itu?
Gibran meletakkan jam tangan tersebut di atas ranjang kemudian pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 20 menit berlalu, setelah mandi dan berganti pakaian, Gibran memutuskan untuk mencari Chayra dan memintanya untuk menjelaskan maksut dari pemberian jam tangan itu. Mengetuk pintu kamar Chayra, Gubran sama sekali tidak mendapat jawaban.
"Apa mom tahu dimana Ara?" baru saja Imelda keluar dari kamarnya, Gibran sudah melontarkan pertanyaan
__ADS_1
"Tadi mom bertemu dengannya dibawah, mungkin sekarang adikmu dihalaman belakang." Ucap Imelda seraya tersenyum lembut.
"Terima kasih mom" Gibran langsung pergi menuju lantai bawah, benar saja adiknya sedang termenung menatap kolam ikan yang ada didepannya.
"Araa" Chayra menoleh dan tersenyum saat Gibran memanggilnya. Gibran langsung ikut duduk disamping Chayra. "Apa kakak tidak suka jamnya?" Chayra bertanya dengan wajah sendu saat melihat paperbag ditangan Gibran.
"Kakak sangat menyukainya, tapi kenapa kau membelikan ini untuk kakak?" Gibran menatap lekat wajah Chayra yang termenung menatap air.
"Ara membelikan kakak Jam agar kakak tidak lupa Ara, agar kakak tidak bangun telat seperti dirumah karena disana tidak ada yang membangunkan kakak, Ara takut jika disana kakak menemukan pasangan hidup kakak dan kakak melupakan Ara, mungkin Ara terlalu lebay tapi Ara takut, Ara hanya tidak mau seperti orang lain yang dilupakan setelah mereka menemukan orang baru" Chayra meneteskan air matanya, mungkin bagi sebagian orang Chayra terlihat lebay tapi Ara manusia dan Ara takut jika kakaknya melupakannya hanya demi pasangan hidupnya yang baru saja dikenalnya.
Gibran langsung memeluk adiknya "Dengar kakak, kakak tidak akan melupakan Ara apapun keadaanya, jadi jangan berpikiran macam-macam. Kakak akan sering pulang menjenguk kalian" Chayra mengangguk dan menenggelamkan wajahnya didada bidang sang kakak.
"Sekarang kakak akan memakai jam ini" Gibran melepaskan pelukannya dan memakai jam tangan hitam elegan yang sangat pas ditangan Gibran.
__ADS_1