Doctor Vs CEO

Doctor Vs CEO
Eps. 227-S2


__ADS_3

Elard dan Chayra sekarang berada didalam mobil milik Chayra untuk pulang. Supir yang sebelumnya ditugaskan Elard untuk menjemputnya kembali pulang dengan sia-sia. Sepanjang perjalanan, baik Elard maupun Chayra tidak ada yang membuka mulutnya. Mereka seperti sepasang kekasih yang bertengkar, nyatanya tidak. Mereka sedang menyelami pikiran mereka masing-masing.


"Kakk, apa Ara harus menunggu Marcell?" Setelah terdiam beberapa saat, Chayra membuka obrolan.


"Turuti kata hatimu yang paling terdalam" jawab Elard dengan tenang.


"Lalu jika Ara sudah menunggunya dan ternyata disana dirinya melupakan Ara bagaimana?" Inilah yang ditakuti Chayra.


"Jika dia benar-benar tulus padamu dia tidak akan tergoda oleh siapapun" Elard mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap rambut Chayra.


***********


***********

__ADS_1


Hari-hari berlalu dengan cepat, tak terasa tahun pun ikut berganti. Dengan setelah jas dan bucket bunga, Gibran berniat memberikan kejutan pada Jasmine. Selama satu tahun ini, hubungan mereka berdua meningkat meskipun belum terdapat ikatan diantara mereka.


Jasmine juga belum mengetahui wajah asli Gibran karena memang Gibran belum menunjukkannya, biarlah nanti menjadi kejutan yang luar biasa di malam pertama mereka. Ya, Gibran berniat menjadikan Jasmine istri setelah wisuda mereka, bahkan jikalau bisa Gibran ingin sekali cepat-cepat menikah agar bisa melindungi Jasmine dari orang tua Jasmine yang serakah itu. Tapi apalah daya, jika sang daddy meminta dirinya untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.


Tidak ada makan malam romantis diatas rooftop gedung paling tinggi, hanya ada makan malam dipinggir danau dengan dekorasi sederhana karena Gibran tidak ingin Jasmine curiga dengan siapa dirinya yang sebenarnya. Bukan tidak ingin, Gibran hanya belum siap.


"Selamat malam tuan putri" Gibran yang menunggu dipinggir danau langsung menghampiri Jasmine dan duduk menggunakan lututnya sebagai tumpuan, tak hanya itu Gibran juga menyodorkan buket bunga yang ditengahnya terdapat kotak beludru berwarna merah.


"G-Gibran" Jasmine menutup mulutnya, tak sadar dia juga menitikkan air mata. Jasmine tulus mencintai Gibran, bahkan dirinya sering diejek oleh teman satu kampusnya karena dekat dengan pria culun tapi Jasmine sama sekali tidak menanggapinya.


"Ini sebagai tanda jika kita sudah memiliki ikatan" ucap Gibran seraya meraih kotak tersebut dan memakaikan pada jari manis Jasmine.


Jasmine tersenyum dan langsung memeluk Gibran, tidak ada ungkapan yang bisa menggambarkan rasa bahagia keduanya.

__ADS_1


Gibran langsung mengajak Jasmine untuk duduk disebuah kursi berhadapan yang sudah didekorasi sesederhana mungkin. "Emm Gibran" Gibran mendongak, menatap wajah Jasmine yang terlihat penasaran akan suatu hal.


"Katakan, apa yang ingin kau tanyakan" ucap Gibran lembut.


"Bukankah cincin ini sangat mahal?" Jasmine menunduk, dirinya takut menyinggung perasaan Gibran.


"Semahal apapun cincin itu aku tidak peduli yang penting aku bisa memberikan yang terbaik untukmu." Jawab Gibran tulus dan mengusap ujung bibirnya dengan tisu.


Setelah makan malam, mereka berdua duduk dipinggir danau disebuah kursi panjang. Angin malam berhembus dengan kencang seolah tak mampu mendinginkan dua insan yang sibuk menyalurkan kehangatan lewat dekapan mereka.


"Besok aku harus pulang untuk menjenguk orang tuaku" ucapan Gibran membuat Jasmine mendongakkan kepalanya, menatap Gibran yang terlihat tampan meskipun masih dengan dandanan culunnya.


"Kenapa mendadak sekali?" Tanya Jasmine kembali menelusupkan kepalanya dilengan kokoh itu.

__ADS_1


"Tidak mendadak, aku sudah lama merencanakannya hanya saja aku baru bisa mengatakannya padamu sekarang" Sesekali Gibran mencium pucuk kepala Jasmine. Jasmine mengangguk, mencoba mengerti bahwa dunia Gibran bukan hanya tentangnya.


__ADS_2