
Dareen memeluk tubuh Agatha erat, perasaan bersalah menyeruak didalam hatinya. Melihat kekasihnya bercucuran air mata dengan pandangan kosong membuat Dareen tak kuasa menahan air mata. Segera mengusap sudut matanya agar tidak ada orang lain yang melihatnya.
"Sayang, maafkan aku. Tenanglah sekarang ada aku disini" Dareen mengusap pipi Agatha dan mengecup keningnya. Tidak ada respon dari Agatha, pandangannya masih kosong.
"Terima kasih pak, anda boleh pergi" ucap Dareen pada dua petugas keamanan yang masih berdiri dibelakangnya.
"Sama-sama, kami permisi" dua petugas menundukkan kepalanya, membalikkan badannya dan pergi dari sana.
Setelah kepergian dua petugas, Marcell langsung membopong tubuh Agatha, membawanya ke sofa dan mendudukkannya disana.
"Tunggu sebentar aku akan mengambilkanmu minum" ucap Marcell dan berlalu kedapur. Disini Marcell membuat kesalahan baru, dimana Agatha belum merasa tenang tapi dirinya sudah meninggalkan Agatha sendirian.
"Agathaa, apa yang kau lakukan?" teriak Marcell dan berlari dari arah dapur.
.
.
__ADS_1
"Sayang" Jasmine menggoyangkan lengan Gibran, mencoba membangunkan suami tampannya untuk membersihkan diri. Pergulatan panjang mereka baru selesai 3 jam yang lalu dan mereka langsung terbang kealam mimpi hingga terik matahari sudah tenggelam diiringi gelapnya malam.
"Lima menit lagi ya sayang" bukannya membuka mata, Gibran malah membenarkan posisinya dan memeluk guling.
"Sayang aku lapar, ini sudah hampir jam makan malam" rengek Jasmine mencoba memelas, dan itu berhasil. Gibran langsung bangun dan menyipitkan matanya saat cahaya lampu memaksa masuk kedalam indra penglihatannya.
"Pesan saja ya, tidak usah memasak. Kau pasti capek" Jasmine dengan cepat mengangguk, memang Gibran selalu mengerti keadaannya.
.
.
"Aku tidak tahu, bukannya itu nomor kuar negeri ya?" tanya Chayra seraya mengedikkan bahunya.
"Iya sepertinya, lalu darimana orang ini bisa menemukan nomorku? aku tidak pernah menulis nomorku di medua sosial manapun. Dan lagi, nomor ini selalu berkata bahwa dia akan menemui ku suatu saat nanti"
"Mungkin saja penggemar rahasiamu, ah coba kakak tanyakan pada kak Elard. Bisa jadi kak Elard tahu" usul Chayra.
__ADS_1
"Baiklah nanti akan kutanyakan jika dia sudah kembali" pasrah Alesha. Sebenarnya nomor itu tidak terlalu menganggu dirinya, hanya saja dirinya penasaran siapa pemilik nomor misterius itu.
"Sayang" panggilan lembut membuat mereka berdua menoleh, terlihat Marcell yang berdiri dibelakang mereka.
"Aihh kalian ini, sudahlah aku akan pergi" Alesha mengerucutkan bibirnya, hanya dirinya yang jomblo disini tentu saja itu akan membuatnya selalu tercampakkan saat mereka sibuk dengan pasangan mereka.
"Sayang kenapa keluar dari kamar?" tanya Chayra membantu Marcell untuk duduk.
"Aku bosan, berbeda jika kau menemaniku. Jika aku berdua denganmu dikamar meskipun tidak keluar satu hari penuh pun aku kuat" goda Marcell membuat wajah Chayra memerah dan memukul pelan lengan Marcell.
"Apa penculikan itu berdampak pada otakmu?" bantah Chayra dan dibalas kekehan kecil oleh Marcell.
Angin berhembus dengan damainya, menambah kenyamanan dua insan yang menikmati malamnya. Bintang pun seolah tersenyum saat melihat kebahagiaan mereka.
"Kau tahu sayang, jika aku bisa menghentikan waktu aku akan menghentikannya agar kita bisa lebih lama seperti ini." ucap Marcell seraya mencium pucuk kepala Chayra yang bersandar dibahunya.
"Akupun begitu, nyatanya kita hanya manusia. Kita hanya akan melewati ini sementara dan kita akan melewati hal baru diwaktu yang baru juga. Doa dan harapanku juga sama, ingin waktu seperti ini terus terulang hingga maut memisahkan kita" Di pikiran mereka sama, seolah tidak ingin waktu berlalu agar kebersamaan mereka terasa lebih lama.
__ADS_1
"Ara sudah malam, ajak Marcell masuk" ucap Riko didepan pintu taman belakang.
"Iya dad" jawab Chayra patuh.