
"Araa" panggil seorang pria tampan dengan pakaian casual sedang berjalan tergesa-gesa diikuti oleh gadis yang berada dibelakangnya. Chayra mendongakkan kepalanya, dan terkejut saat kakaknya dan Alesha terlihat berlari kearahnya. Melepaskan pelukannya, Chayra langsung memeluk Gibran yang sudah berada dihadapannya. Tangis yang sedari tadi ditahan agar tidak tumpah sudah tidak bisa dibendung.
Gibran menatap tajam pada Elard saat merasakan punggung Chayra terlihat bergetar. "Elard jelaskan padaku apa yang terjadi" Gibran tidak memperdulikan pandangan terkejut dari para mahasiswa yang ada disekitarnya. Bahkan sampai membuat Dareen kembali menelan ludahnya saat melihat Gibran seorang pewaris keluarga Yunanda berada didepannya bahkan juga memeluk gadis tadi.
"Kakk ara takutt, Ara tidak mau mengalami kejadian seperti 2 tahun yang lalu. Hiks hiks Ara takuttt" Gibran semakin menatap tajam pada Dareen dan Elard.
"Elard Lamont" bentak Gibran membuat Elard sedikit berjingkut karena terkejut, jika keluarganya sudah memanggil namanya dengan lengkap, sudah bisa dipastikan jika mereka sangat marah.
"Cepatlahh kak jawab sebelum kak Gibran semakin marah" Alesha yang berdiri disamping Elard langsung memukul lengan Elard gemas.
"Ecaa diamlah" sekarang Alesha yang dibuat terkejut saat Elard membentaknya.
"Pria itu tadi hampir menarik tangan Ara dan mengajak Ara agar menyenangkannya" Elard berkata seraya menatap tajam pada Dareen yang terlihat menunduk.
__ADS_1
Gibran langsung melepaskan pelukannya dan mencium kening Chayra. Dan setelah itu, Gibran mendekat kearah Dareen yang terlihat gugup.
Dug
Semua orang yang berada disana terkejut saat Gibran menonjok perut Dareen hingga membuat Dareen terduduk dilantai. Dengan cepat, Dua sahabat Dareen langsung membantu Dareen untuk berdiri.
"Itu imbalan untuk mu yang berani mengganggu adikku" Gibran langsung kembali dan menarik Chayra untuk pergi keluar kampus diikuti oleh Elard, sedangkan Alesha masih diam ditempatnya, entah apa yang dipikirkan gadis itu.
"Aleshaa" teriak Elard dan Alesha pun baru menyadari saat dirinya hanya sendiri disana bahkan ketiga saudaranya sudah pergi.
Mengikuti langkah kaki Elard yang lebar, membuat Alesha sampai harus mengatur nafasnya saat sudah sampai dimobil Elard.
"Kenapa kau ikut masuk kemobilku? apa kau tidak membawa mobil" tanya Elard menatap Alesha yang masih sibuk menaikkan suhu ac dimobilnya.
__ADS_1
"Tadii aku jalan-jalan bersama teman-temanku lalu-" belum sampai Alesha menyelesaikan ucapannya, Elard sudah memotongnya "Aku tidak bertanya tentang kegiatanmu hari ini, aku hanya bertanya apa kau tidak membawa mobil? jawabannya hanya Bawa atau tidak bukannya menjawab satu paragraf" gerutu Elard dan langsung menjalankan mesin mobilnya.
Alesha tidak memperdulikan Elard yang masih menggerutu. "Kakk aku haus" Mendengar ucapan Alesha membuat Elard langsung mengambil botol dan melemparnya kearah Alesha. Baru saja Alesha selesai minum, perutnya berbunyi "Kakk aku lapar" dengan menatap melas pada Elard yang sibuk menyetir, Alesha sukses membuat Elard langsung membelokkan mobilnya kerestoran.
"Ayo turun" Tersenyum sumringah, Alesha langsung turun sedangkan Elard hanya menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di mobil Gibran, Chayra masih diam seraya memandangi jalanan lewat jendela mobil. Gibran dibuat merasa bersalah dalam hal ini, bagaimana bisa tadi dia meninggalkan adiknya mendaftar seorang diri?
"Araa" Gibran menyentuk pucuk kepala Chayra hingga membuat Chayra menoleh dan tersenyum.
"Kakk ara ingin kesana" Chayra menunjuk salah satu bangunan yang bertuliskan Rumah Coklat, Gibran tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Inilah Chayra, saat suasana hatinya sedang tidak baik, Chayra akan memakan coklat sebagai pelampiasannya.
"Berjanjilah pada kakak jika kau tidak akan makan dengan porsi banyak" bukan menghemat uang, hanya saja Gibran tahu jika makan Coklat dengan versi banyak juga tidak baik untuk kesehatan. Setelah memarkirkan mobilnya, Gibran langsung mengajak Chayra untuk turun.
__ADS_1
Berjalan seraya menggandeng tangan Chayra sukses membuat para pengunjung rumah coklat tersebut menatap kearahnya. Tanpa memperdulikan pandangan mereka, Gibran langsung menarik kursi untuk Chayra duduk. "Biar kakak yang pesan, kamu tunggu disini" Gibran mengacak rambut Chayra hingga membuat Chayra mengangguk dan tersenyum.