INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 98. KE VILA PUTIH


__ADS_3

“Apakah ada lagi yang perli eh perlu kita bicarakan mas Peli?”


“Sepertinya tidak ada mas, kalau kalian mau melanjutkan penyelidikan monggo, saya harus jaga warkop ini agar tetap buka sesuai dengan amanah dari mbah Joyo mas”


“Oh iya mas, mohon maaf, tolong lain kali kalau panggil saya kipli atau pli saja mas, jangan ki peli atau peli mas, yang dengar rasanya ndak enak gitu mas”


“Hahahah ok mas Kipli, saya panggil Ki Peli gitu kan karena diajari sama mbah Joyo mas hehehe, mulai hari ini sampean tak panggil Kipli saja mas”


Aku saat ini ada rencana ke arah atas, ke Gebang. Aku penasaran dengan vila putih itu, kenapa sampai mbah Joyo menulis pesan tentang vila putih dan hotel Waji, pasti keduanya ada hubunganya.


“Eh, kalian ndak ada kepingin ke hotel itu kah rek” tanya Blewah yang berjalan di posisi paling belakang dari kami berempat yang sedang berjalan menuju ke mobil yang terparkir dekat Hotel


“Sekali lagi awakmu njaluk masuk kesana, aku akan panggil Sumirah lho yo wah!” ancamku


“Iyooo iyo Gel, tapi kalian akan menyesal kalau ndak ambil buku tts iku Gel” kata Blewah sambil berjalan menuju ke hotel tampa sepengetahuanku


“Mas Agus! Mas Blewah lari masuk kedalam hotel itu lagii” teriak Indah yang berjalan di belakangku


“SUMIRAAAAAAHHHH” Indah teriak sekencang mungkin memanggil mbak Mirah agar segera menggantikan Blewah yang mulai bertindak ngawur


“Yancooookkk.... aaaaahhhh ngghhh”  teriak Blewah. Tubuh Blewah pun berhenti berlari, kemudian  diam mematung tepat di depan pintu pagar hotel


“Mbak Indaaah....., untung mbak panggil saya. Coba mbak lihat disana itu mbak, di halaman hotel ada apa saja itu mbah hihihihi” kata Sumirah yang sekarang sudah menggantikan Blewah menunjuk ke arah halaman hotel yang dipenuhi demit yang menunggu kami masuk ke sana


*****


Setelah sejenak ngobrol, kami lanjutkan lagi perjalanan, sekarang aku yang pegang setir, sebelahku adalah Glewo dan dibelakang adalah dua perempuan yang sedang asik bercerita.


“Lho Gel, kita mau kemana iki Gel”


“Ke vila putih sebenar Wo, aku pingin lihat anak-anak yang sekarang kayaknya sedang mengadakan acara disana”


“Oh iyo Gel, sampek lali aku. Arek-arek punk Soetopo Kingdom kan lagi ngadakan acara musik disana yo. Tapi apa masih belangsung acarane, ini kan sudah hari Minggu, acarane mereka kan cuma dari jumat sampai minggu aja Gel”


“Ngene lho Wo, tadi kamu ndak liat ta pesene mbah Joyo, hotel Waji dan vila putih, sebelum jatuh korban, keliatanya ada hubunganya antara vila tempat teman-teman kita ngadakan acara dengan hotel Waji Wo”


“Cuma kita kan belum tau apa hubungane kedua penginapan itu. coba pikiren, dari jarak nya ae wis jauh lho, belum lagi ngelewati bukit dan hutan kan, lha terus opo hubungane kedua penginapan itu Wo”

__ADS_1


“Disana itu lebih menyeramkan dari pada disini mas, korban yang ada disana ada ratusan, sedangkan yang ada di Waji mungkin hanya puluhan, tetapi Indah curiga kalau kedua penginapan ini ada hubunganya” kata Indah


“Tapi kan kita tidak perlu tau apa yang ada disana Ndah, karena yang kita cari kan ada di Waji, Totok kan yang sedang kita cari itu Ndah”


“Jadi kita cuma harus tau aja apa yang ada disana, dan ada hubungannya apa dengan hotel Waji” lanjutku


Perjalanan tengah malam ini lumayan mencekam, di tengan perjalanan hutan selalu ada saja penampakan yang selalu ingin menghalangi kami, mulai dari poci yang jumlahnya puluhan hingga mbak kenthu eh kunthi yang selalu tertawa cekikikan.


“Mas Agus, ingat tikungan yang sempat membuat teman mas Agus kehilangan sepeda motornya. Di sana mas Agus harus extra hati-hati mas, karena penunggu jembatan itu selalu meminta korban” kata Indah


“Iya Ndah, dari tadi juga aku extra hati-hati Ndah, perjalanan ini sebenarnya menantang maut, bayangkan kita tengah malam ada di sini dengan berbagai mahluk halus yang siap menghadang kita”


“Iya mas, pokoknya kalau kita ada di kondisi seperti ini kita harus ingat kepada sang maha pencipta mas” kata Indah lagi


“Sebentar lagi kita akan sampai di vila putih setelah perjalanan yang lumayan mengerikan hehehe”


“Gel nanti baliknya kita ndak bisa lewat Ngr aja ta, aku agak takut kalau balik lewt trws dan prgn lagi” kata Glewo


“Laopo kok takut itu lho , liaten tadi, apa ada yang berusaha mengganggu kita ta rek hehehe”


“Ndak ada mas, soalnya Bawok ada di atas mobil kita hihihihi” kata Sumirah


“tadi dia liat saya mas, kemudian dia tanya saya, tujuan kita ke mana, setelah saya kasih tau kita akan kemana, dia menawarkan diri untuk membantu kita mas” kata Sumirah lagi


“Jadi jangan Gr dulu mas Agus hihihihi, padahal yang bikin takut demit yang ada di hutan tadi itu kan yang ada di atas mobil si Bawok hahahah” kata Indah


“Iyo....iyoooo, sekarang mana si Bawok mbak Mirah, apa dia maih ada di atas mobil ini, dan sedang apa sekarang si Bawok itu mbak?”


“Masih ada diatas mobil mas dia berdiri di atap mobil sambil merentangkan kedua tangannya kayak film titanik itu lho mas “ jawab Sumirah


“Kok kamu tau film itu sih mbak Sum, kan kamu sudah mati tahun 90 an” tanya Glewo


“Heheheh masak hantu kerjanya cuma nakuti orang saja sih mas, kita kan juga perlu hiburan juga mas, apalagi di gedung bioskop itu kan banyak sekali teman-teman sebangsa kita mas”


“Jadi jangan salah lho mas., demit juga suka nonton hehehhe, apalagi di dalam gedung bioskop kan selalu gelap, atau temaram lah paling terang hihihihi”


Perjalanan menuju ke vila putih tidak terasa sudah sampai di Gebang, mobil terus melaju kearah atas tanpa berhenti, hal ini karena aku merasa harus segera sampai disana, aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi disana. Ndak tau karena insting atau karena pesan yang diberikan oleh mbah Joyo.

__ADS_1


Pukul 01.25 kami sudah melewati warung reyot yang ada di pinggir jurang, tempat Totok bertemu dengan nenek tua yang mengerikan.


“Sebentar lagi kita akan sampai rek, kita kesini hanya ingin lihat apakah ada yang terjadi dengan vila ini dengan adanya teman kita dari grup Sutopo kingdom yang menyewa vila untuk acara musik mereka”


“Mas, Indah kok merinding ya mas. Selama ini Indah ndak pernah merasa merinding seperti ini lho mas” kata Indah yang ada di kursi bagian belakang.


“Kalau bisa jangan terlalu dekat dengan vila itu,  saya merasakan hawa jahat yang luar biasa ada disana,  dan biarkan Bawok periksa apa yang ada dalam sana mas” kata Sumirah


“Ndak usah melibatkan Bawok mbak Mirah, kasihan dia. Biarkan dia ada di atas mobil ini. aku yang akan periksa didalam itu ada apanya”


Mobil kami sekarang sudah ada di depan pintu gerbang vila, di dalam halaman vila tidak nampak satupun kendaraan yang terparkir disana. Mungkin mereka sudah selesai dengan acaranya.


Vila itu nampak gelap gulita, hanya cahaya bulan yang lumayan terang yang bisa menerangi halaman dan bagian luar dari vila itu.


Aku turun dari mobil untuk memeriksa pintu gerbang vila yang kokoh dan terbuat dari besi yang kuat, kemudian Glewo dan kedua temanku Blewah atau Sumirah dan Indah juga sekarang juga ada di depan pagar vila.


“Vila ini kosong, tidak terdapat kehidupan sama sekali disini, sepertinya tidak pernah ada rombongan orang yang pernah kesini” kata Indah yang terus menerus melihat halaman vila melalui pagar vila.


“Kata Bawok, ada beberapa orang yang terjebak di dalamya, dan mereka tidak bisa keluar dari sana, tapi mereka tidak ada disana” kata Sumirah


“Kok aneh mbak Sum, ada orang yang terjebak disana, tetapi tidak ada disana”


“Saya kurang tau juga mas, tadi yang bilang itu si Bawok yang sempat masuk ke dalam vila itu untuk melihat ada apa didalamnya, dan yang paling mengerikan itu kamar yang diatas itu mas, yang jendelanya dipalang kayu itu” tunjuk Sumirah  atau Blewah


“Wo, di laci mobil kalau ndak salah ada senter, coba kamu ambil Wo, aku penasaran kepingin masuk ke dalam sana”


“Ngapain masuk ke sana Gel, ndak usah lah, cari perkara ae awakmu Gel” kata Glewo yang kelihatanya takut untuk masuk ke dalam sana


“Ndak papa Wo kita lihat, kita check saja di dalam sana sebentar. Ingat tadi pesan mbah Joyo di secarik kertas itu Wo, kita sebaiknya melihat apa yang terjadi di dalam sana juga”


Glewo membawa sebuah senter berukuan kecil yang nyala sinarnya luar biasa terangnya, sebuah senter dengan menggunakan baterai yang bisa diisi ulang dayanya.


“Coba sini senternya Wo”


Dengan menggunakan senter ini aku menyorot halaman vila yang luas, tidak terdapat satupun kehidupan disini.


 Tetapi ketika aku menyorot ke sekitar pintu gerbang vila, aku menemukan sebuah kalung emas dalam keadaan putus dengan bandul huru N dengan ukuran bandul yang tidak begitu besar.

__ADS_1


“Ini kalung perempuan, apa mungkin dari Grup Sutopo Kingdom?” gumamku


__ADS_2