
Indah melayang menuju ke arah kami, sementara itu Ngot sedang mengikuti orang yang diduga adalah Dimas
"Ayo kita ke atas, dia menuju ke arah atas mas" kata Indah
Ternyata mereka berjalan ke arah atas, atau ke arah vila putih, lalu kemana sebenarnya tujuan dari orang yang dicurigai sebagai Dimas itu?
"Mas Blewah, Sumirah kok mual mual mas" dalam keadaan sedang berjalan cepat untuk mengikuti orang yang diduga Dimas itu jalan, tiba-tiba Blewah berubah menjadi perempuan
"Mas Mirah kok muaaaal , gimana ini mas?" ulangnya sekali lagi
"Mual kenapa sih Mirah, apa aku terlalu cepat jalanya hingga kamu mual-mual?" tanya Blewah dalam suara normal
"Pasti ini gara-gara mas Blewah kemarin keluar di dalam mas, sekarang Mirah mual-mual nih mas" kata Blewah lagi dengan suara perempuan
"Terus kalau ini jadi gimana maaaaassss" kata Blewah lagi dengan gaya dan logat perempuan
"eeeheh...eeeheh...eeeheh... ada apa dengan taman kalian ini mas, kenapa dia bicara sendiri dan aneh gitu"kata pak Tembol setelah mendengar suara Blewah yang menjadi ala perempuan
"Biasa pak, kumat gendenge, jangan direken pak, dia itu suka tiba-tiba gitu. Kok ya ndak liat-liat keadaan kumatnya pak" kataku
"Ah masak dia ini mengalami gangguan jiwa mas, memang sih kalau lhat wajahnya, rambutnya yang gimbal, kulitnya, dia ini cocok dikatakan sebagai gangguan jiwa akut mas" bisik pak Tembol kepadaku sambil terus berjalan cepat mengikuti aku dan Indah yang ada di depan kami dalam keadaan gelap gulita
"Sudah pak, jangan dihiraukan. Nanti kan sembuh sembuh sendiri pak" kata Dogel
"Jalan ini kan menuju ke rumah putih, apa dia tingggal disana ya, kenapa dia kok bisa menuju ke arah sini" gumam pak Tembol
Di depan kami Ngot sudah terlihat, dia mengikuti sekitar tiga meter di belakang orang itu.
"Nak, lebih baik orang itu saya ajak bicara dulu, kalian tetap di belakang saya saja, jaga-jaga kalau ada apa-apa nak" kata pak Tembol
"Baik pak, kami back up bapak dari belakang"
Kemudian pak Tembol sedikit berlari untuk mengejar orang yang diduga bernama DImas itu. Orang tua itu ternyata lincah ketika harus mengejar orang yang diduga DImas itu. Tidak memerlukan waktu lama, pak Tembol sudah ada di belakang orang yang berwajah asing.
"Pak, tunggu sebentar pak" panggil pak Tembol kepada orang yang ada di depannya
Orang itu behenti dan menoleh ke belakang. Dia berhenti dan menunggu pak Tembol sampai di sebelahnya.
"Ya ada apa pak, ada yang bisa saya bantu pak" kata orang yang terduga Dimas itu ramah
Pak Tembol berhenti sejenak tepat di belakang orang itu, karena keadaan yang gelap mungkin nyebabkan pak Tembol tidak bisa melihat wajah orang yang ada di depannya itu dengan jelas.
"Maaf bapak siapa namanya?" tanya pak Tembol
__ADS_1
"Nama saya Haris pak, ada yang bisa saya bantu pak?. Mungkin kalau besok, saya ada waktunya siang hari saja pak, kerena pagi dan sore sudah ada yang booking saya pak" jawab orang yang mengaku bernama Haris itu
"Pak Haris tinggal dimana?" tanya pak Tembol yang sekarang suaranya berubah menjadi lebih ramah
"Itu pak, di sebelah rumah putih itu, saya tinggal disana pak, karena kalau di Gebang tidak ada tanah kosong untuk di bikin gubuk, atau rumah kosong yang bisa saya tinggali pak" jawab orang yang bernama Haris itu
"Nama bapak siapa kalau saya boleh tau. Eh maaf bapak ini berasal dari mana, karena saya tidak pernah lihat sampeyan ada di sekitar kota ini" kata pak Haris
"Nama saya Tembol, saya sedang tersesat disini, makanya tadi ketemu sampeyan saya bahagia sekali. Saya berasal dari Sby, dan bersama rombongan kami bikin kemah di hutan sana itu pak" tunjuk pak Tembol pada hutan di belakang vila putih yang sekarang keadaanya sudah hancur
"Kemudian kami tersesat ketika kami bersama sama sedang jalan menyuri hutan, tapi Alhamdulillah bisa ketemu sama orang baik ini" kata pak Tembol
"Bapak dengan berapa orang pak?" tanya pak Haris
"Kami berempat pak" jawab pak Tembol
"Begini saja, malam ini kalian di rumah saya saja, karena kalau malam gini bahaya ada di daerah sini kalau tidak tau arah dan tujuan. Jadi bapak bisa nginap di rumah saya saja sampai besok pagi, gimana?" tawar pak Haris
"Kalau memang pak Haris tidak keberatan kami mau nginap sampai pagi pak" kata pak Tembol dengan penuh suka cita"
"Ayo kita ke rumah saya saja, kebetulan malam ini saya dapat uang lumayan, dan saya beli gorengan banyak ini, kalian bisa makan bersama saya" kata pak Haris sambil menunjukan tas kreseknya yang agak berat itu
Aku heran, kenapa orang ini bisa baik sekali ya, apakah pak Tembol salah orang ya, jangan-jangan memang salah orang pak Tembolnya ini.
“Ayo kita ke rumah saya saja, kalian tamu saya, jadi saya harus menjamu kalian” Kata Haris ramah
Kami jalan menuju ke rumah Haris yang ada di sebelah kanan vila putih kalau dari depan gerbang vila putih. Sebuah rumah sederhana dari susunan kayu yang diserut rapi, dengan halaman rumah yang penuh tanaman indah.
Halaman rumah itu banyak ditumbuhi tanaman yang berbunga. Macam bunga telekan dan sejenisnya, hanya itu saja yang nampak di halaman depan rumah ini.
“Kamu sudah lama tinggal disini Haris?” tanya pak Tembol
“Sekitar lima tahunan pak” jawab Haris dengan yakin
“Sebelumnya kamu berasal dari mana?” tanya pak Tembol yang berusaha mengorek informasi dari Haris
“Saya tidak tau pak, saya ini hanya orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Ketika saya lewat sini, ada rumah kosong ini dan sebuah rumah putih besar yang ada di sebelah kiri itu”
“Saya pilih tinggal di rumah kecil ini saja pak, karena rumah besar itu mengerikan keadaanya” jawabnya lagi
“Ayo silahkan masuk semuanya” setelah Haris membuka gembok besar di pintu rumahnya
Kami masuk ke rumah kayu yang lumayan indah, tidak ada perabot sama sekali, hanya ada tikar lusuh yang robek di sana sininya.
__ADS_1
Lantai rumah ini menggunakan semen yang dibuat rata dan licin sehingga menyerupai keramik, tidak ada foto atau hiasan sama sekali, tidak ada radio dan Tv, rumah ini benar-benar kosong. Yang ada hanya itu tadi selembar tikar saja.
“kalian bisa tidur di tikar itu saja, karena di rumah ini tidak ada apa-apanya selain satu dipan pemberian penduduk sini. Jadi maaf, kalian hanya bisa tidur di tikar itu saja hingga besok pagi” kata Haris
“Sebentar, saya akan taruh gorengan ini dipiring” kata haris yang masuk ke dalam ruangan bagian dalam
“Ayo dimakan dulu pak, mas. Mumpung belum mlempem” kata Haris sambil membawa sebuah teko blirik yang terbuat dari logam berwarna hijau blirik, dan sebuah piring seng berisi aneka gorengan yang tadi dia beli
Mereka bersama-sama duduk di tikar busuk sambil sesekali menikmati aneka gorengan yang disediakan oleh Haris.
“Bagaimana ceritanya hingga kalian bisa tersesat di hutan angker yang ada di balik rumah putih itu?” tanya Haris
Pak Tembol kemudian mengarang cerita sedetil mungkin dan membawa-bawa hal ghaib juga, agar Haris percaya dengan perkataanya.
“Hmm ceritamu tidak masuk akal pak, tetapi tetap saja bisa masuk akal apabila dihubungkan dengan hal ghaib pak, semua yang namanya ghaib itu tidak bisa diprediksi pak” kata Haris sambil memakan gorengan lagi
“Kalau pak Haris ini bagaimana kok bisa tau-tau ada di sebuah kota kecil ini?” tanya pak Tembol
“Saya tidak tau bagaimana awalnya pak, pokoknya tiba-tiba saya berjalan dari arah bawah menuju ke kota ini. Disini saya juga tidak tau harus berbuat apa, kecuali mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang guna saya belikan makan pak”
“Kemudian kok bisa dapat rumah yang sederhana dan nyaman ini pak, meskipun hanya menggunakan lampu minyak, karena listrik tidak tersambung disini, tapi rumah ini benar-benar nyaman untuk ditinggali” kata pak Tembol lagi
“Seperti cerita saya sebelumnya, saya butuh tempat tinggal dan pakaian untuk hidup sebelum saya mencari kerja disini. Setelah saya jalan melintasi jalan ini, saya menemukan rumah yang besar dan keadaanya mengerikan. Tidak terawat sama sekali, saya jelas tidak berani masuk ke dalamnya”
“Kemudian saya berjalan lagi dan menemukan rumah ini dalam keadaan kosong kotor dan berdebu, tetapi di dalamnya ada beberapa potong pakaian yang bisa saya gunakan”
“Setelah berganti pakaian yang lebih baik, saya turun ke kota itu untuk mencari pekerjaan, apa saja akan saya lakukan pokoknya halal dan bisa untuk saya makan selama disini” kata Haris
Sebenarnya cerita dia cukup masuk akal bagiku, tetapi tidak bagi pak Tembol yang merasa ada sesuatu dengan orang yang bernama Haris itu.
“Saya sama sekali tidak percaya dengan yang dia omongkan nak” bisik pak Tembol setelah yang bernama Haris itu masuk ke kamarnya dan tidur
“Insting saya berkata bahwa ada yang disembunyikanya nak, dan tentang rumah kayu ini. Pasti ada alasan tertentu hingga rumah ini ada di sebelah vila putih”bisik pak Tembol lagi
“Menurut saya, semua ini ada hubungannya dengan masalah kami di masa lalu nak” kata pak Tembol lagi
“Saya harus mencari tau tentang si Haris ini dan tentang rumah yang ada di sebelah bangunan rumah putih yang hancur itu nak”
******
sebelumnya saya minta maaf. Karena saya di diagnosa tertular omicron setelah menjalani swab. maka mungkin untuk dua novel yaitu indah laminatingrum dan misteri dua penginapan akan terlambat tayang
tapi untuk mbelani rasa penasaran para pembaca, akan saya usahakan tanyang sesuai skedulnya.
__ADS_1