
Pintu kantor hotel berhasil kubuka karena tidak dikunci, apakah mereka ini sembrono atau bagaimana sih, kok bisa nya kantor Hotel atau tempat resepsionis tidak dikunci ketika mereka pergi
“Pintu ini tidak dikunci bukan karena mereka lupa menguncinya rek, tetapi karena mereka sedang diserang didalam situ hingga mereka tidak sempat menyelamatkan diri ke mana mana” guman Blewah yang makin cihuuiii aja berlagak mirip palanolmal
Pintu kubiarkan terbuka dulu agar udara pengab di dalam ruang kantor itu keluar semua, terus terang bau udara didalam ini busuk sekali.
“Bukaen sik ae Gel, pokok bau busuk dan bau darah kering keluar semua, bahaya nek kita masuk ke sana sementara yang kita hirup itu bau darah dan bau mayat hehehehe”
Ada benarnya juga Blewah ini, karena kita belum tau apa yang ada di dalam sana, bisa saja mayat atau sesuatu yang mengerikan ada disana.
Setelah lebih dari sepuluh menit kami menunggu hingga udara busuk yang terperangkap di dalam sudah keluar, kemudian Blewah berdiri di depan pintu kaca, dia menyinarkan cahaya senter ke seluruh tembok ruangan pada bagian yang terdekat dengan pintu.
“Sik rek, jangan keburu masuk dulu, kita harus tau setiap jengkal yang kita akan masuki, jangan sampai kita salah langkah masuk ke dalam jebakan rek, pokoke tiap kita maju beberapa langkah, kita harus menyinari lantai dan dinding ruangan ini” kata Blewah
“Beda sama waktu kita ada diluar tadi, nek ini kan ruangan, kalau ada apa-apa kita ndak bisa kemana mana, dan akhirnya kita terkurung disini, itu yang bahaya rek heheheh” tambah Blewah
“Opo maneh disini kan gelapnya melebihi diluar rek, kalau diluar kan kita dibantu sinar bulan, sedangkan disini tidak ada sinar lain selain sinar lampu senter kita rek”
“Jadi kita harus bisa menjaga langkah kita rek, dan satu hal ojok sampek hpne Dogel iki kehabisan batre heheeheh” kata Blewah sambil melihat strip baterai ponselku yang belum aku charges semenjak kemarin hihihihi
“Aman, baterai hp Dogel sik dua strip rek, kita lanjut masuk ke dalam yo rek” ajak Blewah
Setelah Blewah menyinarkan cahaya senternya di sekelilling ruangan, atau sejauh cahaya senterku ini bisa menerangi ruangan dan dirasa aman, kami berjalan pelan masuk ke dalam ruangan.
DEG...., hawa didalam ruangan ini ternyata hangat, ketika aku injakan kakiku di keramik berdebu ruangan ini kengeriaan tiba-tiba melingkupiku, aku merasakan perbedaan hawa yang amat drastis ketika aku mulai melangkahkan kakiku ke dalam ruangan ini.
“Ojok berhenti baca Doa rek, aku merasa kita ada di bagian dunia mereka, gimana kita terus atau balik?” tanya Blewah”
“Terus ae Wah , pokoke hati-hati ae rek” kata Glewo yang gunggungan
Keadaan di dalam sini sangat berbeda dengan diluar sana, disini benar benar pengab dan panas, ditambah banyak bercak hitam dilantai dan di tembok yang kemungkinan besar itu adalah darah yang mengering
Kami sekarang ada didepan meja resepsionis yang setinggi leher, meja itu ketika terkena sinar senter bener bener berdebu dan banyak bercak hitamnya juga. Blewah menyinari tembok disekeliling meja resepsionis ini.
__ADS_1
Ya Tuhan , banyak sekali cap telapak tangan yang berlumuran darah di tembok dan meja resepsionis ini, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini, kalau lihat bercak hitam dimana mana, berarti disini pernah terjadi pergumulan.
“Sopo sing berani melongok dibawah meja resepsionis iki rek?” tanya Blewah kepada kami
Tentu saja tidak ada yang berani menjawb pertanyaan Blewah ini , siapa memangnya yang berani melongok ke bagian dalam meja. Iya kalau ndak ada apa apa, kalau misalnya ada sesuatu yang mengerikan gimana?
“Pegangin senternya Gel, aku mau ke bagian dalam meja ini, siapa tau disana ada sesuatu yang lumayan hehehe” kata Blewah yang memang paling berani diantara kami
Blewah menyerahkan senter itu kepadaku , kemudian dia minta disinari ketika dia loncat masuk ke bagian dalam meja resepsionis.
“Hmm gak ada apa apa disini kecuali bekas genangan darah yang sudah mengering disini, dibagian bawah sini banyak sekali darah keringnya, kemungkinan besar di bagian ini ada pembunuhan yang mengerikan”
“Bawa sini senternya Gel, aku penasaran sama yang ada disini, kayake disini sesuatu itu sedang membongkar bongkar mayat korban”
Aku memberikan senter itu kepada Blewah yang sedang ada di dalam bagian dalam meja resepsionis, aku ndak tau apa yang sedang dikerjakan Blewah disana, tetapi kayaknya dia berhasil menemukan sesuatu disana.
“Lhaaaa onok dompet nang kene rek, yo koyok ngene iki sing tak perlukan” kata Blewah dari dalam meja resepsionis
Tidak lama kemudian dia lompat keluar dari posisinya sekarang, kemudian dia memamerkan sebuah dompet yang belumuran darah kering.
“Koen ini gendeng Wah , saiki awakmu malah koyok pencuri harta makan china ae ***, nggilani temen awakmu iku” kata Glewo
“Yo pancen c*k, aku pancen dulu kan seneng mbongkar bong cino, lumayan oleh mas masan , meskipun kadang tarung sama mayite hahahah”
“Ndeh tambah gendeng arek iki, nek ngomong sing bener Wah, ojok ngalantur ae c*k, bahaya koen iki Wah, menantang maut dengan mahluk tak kasat mata raimu syu!” kata Glewo lagi
Aku bingung sama Blewah ini, apa bener dia dulu pernah jadi maling Bong ( makam china), dan gelod sama mayat yang ada di dalam bong itu?
Setelah meneliti lantai dan dinding ruangan ini , kemudian kita teruskan untuk menuju ke ruangan-ruangan yang merupakan kamar kamar hotel yang standart, beda dengan yang di luar tadi , kalau kamar kamar ini kayaknya hanya kamar hotel biasa yang harganya murah.
Pintu pertama ada di sekitar 10 meter dari kami, keliatanya Blewah akan masuk ke dalam kamar itu.
“Rek kamar pertama yang pintunya terbuka, kita harus periksa disana rek, siapa tau ada sesuatunya lagi , tapi sebelumnya kalian harus tetap doa, jangan putus doa, karena kayaknya disana ada sesuatu yang jahat rek” kata Blewah sambil berjalan menuju ke pintu hotel yang dalam keadaan terbuka.
__ADS_1
Keadaan yang benar-benar gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun kecuali cahaya yang berasal dari tetepon selularku benar-benar membuaku tambah ketakutan. Tetapi apakah wajar kalau aku ketakutan, karena aku disini kan tidak sendirian, aku bersama temanku yang paling berani.
“Eh kalian diam dulu disitu rek, kalau seumpama ada apa apa sama aku kalian lari cari pertolongan keluar ya rek, aku tak coba sinarin keadaan di dalam kamar ini” kata Blewah yang semakin nekat untuk menikmati kengerian yang ada di sini
Kuturuti apa maunya Blewah yang selama ini kami juluki monster mbayu karena dia ini jarang mandi, dia kemudian berjalan maju , dia sekarang ada di depan pintu kamar yang sedang terbuka pintunya ini.
“Astagaaaa!!!!. Apa yang sebenarnya sedang terjadi sisini, kenapa kamar ini benar benar mengerikan” kata gumam Blewah yang sempat kami dengar
“Ada apa di dalam sana Wah?” Kataku sambil meliha ke arah Blewah yang tetap menyinari keadaan dalam ruangan hotel yang pintunya sedang terbuka itu
“Kesinio kalian rek, kalian harus lihat dulu di dalam kamar ini rek, agar kalian bisa menilai yang terjadi disini” ajak Blewah kepda kami
Kami berdua berjalan pelan ke arah Blewah yang ada di depan sebuah kamar yang pintunya sedang terbuka, kukuatkan hatiku untuk melongok apa yang ada didalam sana.
“Astagaaaa, apa yang sebenarnya terjadi dengan isi kamar ini!” gumamku
Benar-benar mengerikan apa yang ada dalam kamar di depanku, seluruh yang ada didalam sana seluruhnyaaaaaaa hitam semua, dinding, lantai, tempat tidur termasuk sprei, bahkan plafon kamar berbercak warna hitam dan menimbulkan bau yang amat busuk.
“A..apakah itu juga darah Wah?” tanya Glewo
“Koyoke itu darah yang dioser-oserkan dibalwur-blawurkan diciprat-cipratkan disiram siramkan di seluruh ruangan kamar. Sepertinya di hotel ini ada mahluk gila yang mengerikan” kata Blewah
“Tetapi apabila dimana mana banyak darah , lalu dimana mayatnya, dari tadi kita ndak lihat mayat, yang kita lihat hanya mayat kering berambut panjang yang sedang duduk di kursi kamar nomor 2+ kan” kata Blewah
“Yang pasti disini ada mahluk gila yang suka bermain dengan darah, gimana Gel ,apa kita teruskan jalan jalan di ruangan ini?, disana kan masih ada kamar yang terbuka pintunya, apa kamu ndak penasaran sama yang ada dikamar lainya” tanya Blewah
“Besok aja, lebih baik kita kesini siang hari aja Wah, biar ada cahaya matahari, ndak gelap gelap gini, lebih baik kita balik saja karena aku merasa banyak sekali sesuatu yang berusaha masuk ke dalam badanku”
“Sama Gel , aku juga merasa ada sesuatu yang membuat badanku nggereges rasane, lebih baik kita balik saja sekarang rek, besok siang kita kesini lagi lah” kata Glewo
Kami akhirnya berjalan kembali ke arah pintu kantor untuk menuju ke luar ruangan, Blewah tetap saja menerangi tiap sudut ruangan dengan senter dari telepon selular miliku.
Selangkah kemudian Blewah menyinari sebuah kalender dengan bercak darah yang sudah menghitam di dinding meja resepsionis, tahun di kalender itu tertulis
__ADS_1
...1997.....