
“Ten…. tadi kamu merasa ada yang aneh nggak ketika kita tadi makan rawon?”
“Aneh gimana Man?”
“Nggak tau Ten… pokoknya aku merasa ada yang aneh ketika aku masuk ke warung itu”
“Nggak…sama sekali saya nggak merasa apa-apa disana, mungkin itu cuma perasaanmu saja Man
Aku dan Ginten balik ke desa dengan menumpang angkutan umum antar desa.
Di Gebang memang ada angkutan umum yang siap mengantar petani atau peladang maupun penduduk desa yang bekerja dan sekolah di kota.
Hanya saja angkutan antar desa ini hanya ada pagi hari sampai sore hari saja. Yang sore hari pun hanya mengantar dari kota ke desa.
Aku pernah tanya ke anak-anak yang KKN waktu itu, kenapa angkutan desa ini tidak melayani rute sore hari dari desa ke kota.
Jawaban mereka karena setelah sore hari, tidak ada penduduk desa yang ke kota, atau jarang sekali yang ke kota, sehingga angkutan itu akan rugi kalau jalan pada sore hingga malam hari.
Saat ini di dalam angkutan desa ini ada sepuluh orang termasuk aku dan Ginten…
Memang berdesak desakan, tapi kan menghemat waktu juga dari pada jalan kaki ke desa.
Sebelahku adalah ibu-ibu yang satu desa dengan aku, rumah dia pernah beberapa kali aku bersihkan. Dia sempat bertanya aku dari mana dan perempuan yang di sebelahku ini siapa.
Setelah aku jelaskan bahwa tadi aku baru dari makan rawon, dan yang disebelahku adalah istriku, tiba-tiba dia berubah diam.
Mungkin dia merasa tidak enak ngobrol denganku sementara ada Ginten yang aku anggap sebagai istriku.
“Tadi itu waktu masuk ke warung nasi rawon itu rasanya kayak ada sesuatu yang mengagetkan aku Ten, tetapi tidak ada apa-apa disana”
“Tidak ada apa-apa Man, itu cuma mungkin kamu nginjak aliran listrik saja heheheh”
“Ah kamu ini kalau diajak ngobrol serius kok malah gitu sih Ten”
“Sudahlah Man.. pokoknya jangan berusaha mencari apapun yang aneh-aneh disini, ingat kita ini sudah pensiun untuk urusan dengan yang ada di Gebang”
“Iyaaaaaaa Teen”
Ibu-ibu yang ada di sebelahku yang satu desa denganku itu ternyata mendengarkan omonganku dengan Ginten, alisa nguping!
Dia kemudian tersenyum dan berkata kepadaku…
“Sudahlah mas Totok… yang namanya istri itu banyak benarnya, lebih baik mas Totok ngalah saja sama Istri”
Ha???...
Kenapa larinya ke arah ngalah sama istri?...
Yang sedang aku bahas dengan Ginten apa… kenapa tetangga desa ini malah ngomong kayak gitu
“Inggih bu saya mengerti”
“Nah gitu mas Totok, pokkonya kalau mau rezekinya lancar, salah satu kuncinya adalah mengalah sama istri”
“Saya pikir mas Totok ini masih single…padahal mau saya jodohkan dengan anak saya hehehe”
“Hehehe iya bu… maaf”
Waduh gawat iki.. Kenapa arahnya ke perjodohan, jangan-jangan ibu-ibu di desa pada mau jodohkan anak perawanya kepadaku.
Kuliri Ginten yang dari tadi hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ibu-ibu ini.
Setelah beberapa menit perjalanan , angkutan desa itu sampai juga di gerbang desa.
Ternyata angkutan desa ini hanya sampai di gapura desa, dan tidak masuk ke jalan desa. jadi penumpang angkutan desa ini jalan kaki ke rumah masing-masing.
Ketika aku dan Ginten turun dari mobil, ibu-ibu yang tadi sempat ngobrol dengan ku mendekati Ginten.
“Oh ini ya istri mas Totok?” tanya sambil berkenalan
“Iya bu…nama saya Ginten”
“Beruntung kamu mbak Ginten bisa punya suami macam mas Totok ini, dia orangnya rajin dan tidak suka aneh-aneh di desa ini”
“Hehehe Inggih bu, bu .. saya dan mas Totok duluan ya, soalnya mau menata pakaian yang nanti sore ini akan kami jual di pasar kota”
“Ayo mas Tok …kita kan belum menata yang buat jualan nanti malam mas”
Ginten menarik tanganku agar berjalan lebih cepat dan meninggalkan ibu-ibu sok tau yang tadi sempat bicara denganku dan dengan Ginten.
Aku tau Ginten gerah juga dengan kelakuan ibu-ibu itu.
“Hehehe pintar juga kamu cari alasan Ten”
“Gimana lagi tok, kalau nggak gitu orang itu akan mengorek ngorek semua tentan kita, kemudian dia sebarkan ke seluruh penduduk di desa ini”
__ADS_1
“Kalau lihat modelnya…ibu-ibu itu model yang suka menyebarkan gosip”
“Iya benar Ten…”
*****
Sore hari aku dan Ginten sudah siap dengan karung baju yang akan aku jual ke pasar.
Ginten akan ikut bersamaku, tetapi karena sepeda pak Peno yang model kebo itu belum selesai aku kerjakan, maka untuk malam ini aku jalan kaki menuju ke gebang.
Karung pakaian dan terpal untuk lapak kami taruh id atas sepeda, kemudian sepeda itu akan aku tuntun hingga sampai di pasar gebang.
“Kita berangkat sekarang aja Man.. agar sampai di pasar tidak terlalu sore”
“Ok Ten.. tapi kamu kuat kan jalan kaki ke Gebang?”
“Kuat lah…Masak sini sana saja aku tidak kuat Man”
Sepeda gunung sudah aku keluarkan dari dalam rumah.. Kemudian karung yang berisi pakaian bekas yang sekarang kubawa lebih banyak dari pada sebelumnya itu aku tumpangkan ke atas sadel sepeda.
Dan tentu saja memang agak sulit bawanya,karena karung ini lebih besar dari pada kemarin.
“Man… bawa karung segini ini bisa nyampek ke Gebang kah?”
“Hahahaha, bisa lah Ten.. tenang saja Ten… kan ada kamu, kalau ada apa-apa kan kamu bisa bantu aku hehehe”
“Eh Man.. nanti malam kita jadi ke rumah ku tidak, setelah kita selesai dengan urusan jualan pakaian?”
“Sebenarnya kita ke sana malam-malam gini ini ngapain Ten? Bukannya tadi pagi kita sudah ke sana?”
“Iyaaa… kita tidur disana saja, sekalian bersih bersih rumah saya”
“Tapi tidak hanya bersih-bersih Man.. kita mulai memantau apakah ada kegiatan Marwoto yang dilakukan pada malam hari”
Ok aku paham Ten… tapi kita kan hrus pulang dulu untuk menaruh karung yang berisi pakaian yang belum laku disini kan?”
“Iyalah Man..pokoknya kita harus sudah selesai dengan urusan berjualan baru kita ke desa sebelah”
Dengan perlahan lahan kami berdua jalan menuju ke arah Gebang. Sore ini untungnya matahari sudah tidak seberapa panas, sehingga kami jalan kaki dengan tidak merasa kepanasan sama sekali.
Kami tiba di gebang ketika matahari sudah surup, dan terdengar adzan maghrib.
*****
“Berikutnya kamu sudah harus mulai cari pengepul pakaian bekas untuk dijual disini”
“Ah nggak Ten… aku kepingin jualan di kota yang lebih besar”
“Ngawur.. Yang harus kamu cari dahulu itu dimana kamu bisa kulakan pakaian bekas untuk dijual dulu. Untuk urusan dagang di kota besar itu urusan nanti saja”
Setelah perjalanan yang panjang, dari pasar ke rumah pada malam hari, dan setelah menyimpan hasil penjualan di tempat yang aman, aku dan Ginten siap untuk acara berikutnya.
Kami berjalan kaki menuju ke desa sebelah.
Perjalanan ke desa sebelah tentu saja sangat sepi dan gelap, belum lagi aku dan Ginten harus menghindari pak Tukio dan temanya yang selalu ronda di tengah malam.
Tapi dengan penuh kesabaran akhirnya sampai juga di rumah Ginten…
“Ten… rumahmu ini kok banyak sekali demitnya sih?”
“Itu ada besar dan mulutnya selalu terbuka,kayaknya dia minta makan itu Ten”
“Biarin aja Man, selama mereka tidak mengganggui kita ya biarin saja, sampek mereka bikin masalah ya kita singkirkan mereka”
“Kamu kan sekarang sudah punya energi untuk melawan yang gituan”
“Iya sih Ten,, cuma risih aja liat mahluk besar tapi tidak berbulu dan mulutnya selalu terbuka sambil liatin kita terus menerus”
“Kalau gitu kamu usir aja Man, sekalian nyoba ilmu yang diberi Painah”
Aku ini tidak takut sama sekali, hanya risih saja dengan yang makhluk ciptaan Tuhan yang jelek itu.
Tapi kalau aku usir ya kasihan juga, dia tidak punya tempat tinggal kan.
Tapi kalau dibiarkan… aku yang jijik lihat mulutnya yang nggilani itu.
“Heh lebih baik kamu tutup mulutmu itu, dari pada kamu aku usir”
“Hehehe mereka mana paham bahasamu Man”
“Sudahlah kamu usir saja sekalian,yang lainya juga. Agar rumah saya jadi adem untuk ditinggali”
“Malam ini kita bersih bersih rumah dari hal negatif dulu saja, besok baru kita lanjutkan untuk membersihkan kotoran yang ada disini”
“Waduuuh kalau bersihkan rumahmu .. mending kamu suruh orang saja Ten… bukanya kamu sudah punya uang kan”
__ADS_1
“Kalau aku yang kamu suruh heheheh.. Gak mampu Ten.. rumahmu nggilani nemen ini kotoranya”
“Siapa yang bisa disuruh bersih-bersih Man?”
“Besok pagi coba aku tanyakan ke pak Peno dulu saja Ten, siapa tau dia punya teman yang bisa kita suruh bersihkan rumah ini”
“Sekarang ayo kita bersih-bersih dari berbagai makhluk halus yang ada disini dulu Ten..”
“Tapi gimana cara nya Ten hehehem, aku tidak tau cara menggunakan energi yang dikasih Mbok Painah itu”
“Hehehe gampang Man… tantang mereka dulu, nati energi yang ada di dalam tubuhmu akan keluar dengan sendirinya, dan akan membuat mereka yang ada disini kapok untuk melawan kamu”
“Ya sudah…kamu duluan Ten..ayo coba kamu duluan yang usir mereka semua, aku mau lihat dulu gimana caramu mengusir mereka Ten
“Ikuti aku Man.. ayo sini.. Yang pertama kita lakukan adalah mengumpulkan mereka dulu, baru kemudian kita hancurkan mereka”
“Gimana cara mengumpulkan mereka Ten?”
“Gampang Man… makhluk seperti mereka ini senang dengan sesuatu yang berhubungan dengan hal hal yang negatif. Kita melakukan hubungan badan di sini saja mereka akan suka dan tepuk tangan”
“Bahkan nanti ada juga yang mau ikut serta dengan kita Man”
“Wah…gak mau kalau aku harus berhubungan badan sama kamu Ten, kamu kan tau kalau aku ini jijik sama punyanya perempuan”
“Gampang… nanti antara jam tiga hingga jam empat pagi pasti punyakmu berdiri..tanpa perlu adanya rangsyangan… Nanti ketika punyakmu berdiri dengan otomatis, aku akan siap untuk dibuahi hehehe”
“Wah …idemu gendeng Ten.., gak masuk akal sama sekali..”
“Sudahlah…,kita tunggu hingga besok jam tiga pagi saja untuk mengusir mereka semua yang ada disini, sementar itu sekarang kita jalan-jalan ke rumah Marwoto dulu saja Man”
“Jam tiga pagi.. Kamu mau ngapain sama aku Ten!”
“Sudahlah Man, ini juga demi kebaikanmu juga kan, katanya kamu kepingin keluar dari rumah itu?”
“Iya Ten…tapi apa tidak ada jalan lain ta Ten?”
“Jalan lain ya satu persatu dan cara satu persatu itu tidak efektif karena masih ada harapan mereka yang kamu usir itu datang lagi”
“Ya sudah lah Ten… terserah kamu!.. Sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“Saya penasaran dengan penjaga rumah Marwoto, saya yakin Marwoto tidak kosongan, dia pasti punya penjaga yang mungkin berasal dari Soebroto”
“Ayo kita ke sana sekarang saja Ten…aku kok juga penasaran dengan keadaan rumah Marwoto”
“Eh Ten.. disini kan tujuan kita agar Marwoto juga memikirkan kondisi desa sebelah kan?”
“Iya Man…”
“Nah.. gimana kalau kita usahakan memindah semua demit yang ada disini ke rumah Marwoto, sehingga dia tidak akan kerasan ada di rumah itu”
“Iya Man… masuk akal juga idemu”
“Jadi kalau hanya memindah, nanti malam jam Tiga pagi kita tidak usah melakukan gituan kan Ten… kita kan niatnya tidak ngusir tapi mindah mereka kesana saja”
“Kamu ini lho …jangan gitu Man, apa yang sudah direncanakan jangan diubah lagi”
“Ayo kita ke rumah Marwoto sekarang saja Man!”
Kami berdua jalan menuju ke rumah Marwoto yang hanya beda gang dengan rumah Ginten. Tapi berhubung disini tiap beberapa rumah ada lampu penerangan jalannya, akibatnya jalan ke rumah Marwoto tidak gelap,.
Aku jadi ragu untuk menuju ke rumah Marwoto, karena sepanjang jalan dari rumah Ginten ke rumah Marwoto ada lampu penerangan jalannya.
Malam ini lebih baik aku batalkan saja dulu ke rumah Marwoto sambil memikirkan cara lain yang lebihj baik
“Hehehe.. Kalau caranya kayak gini ya kita akan jadi santapan penduduk desa Ten… jalan di depan kita itu terang benderang!”
“Kalau ada penduduk disini yang memergoki kita, pasti klta disangka maling…”
“Ayo balik ke rumahmu saja dulu Ten… gak enak rasanya jalan di bawah sinar lampu warna oren yang terang itu”
“Iya Man… kita kesusahan untuk menuju rumah Marwoto”
“Atau kita cari cara mematikan lampu jalan itu Man hehehe”
“Ndasmu Ten!.. Lampu itu otomatis dan lampu itu juga milik negara heheheh…,kita ini orang kuno dari masa lalu , kita jelas ndak tau cara mematikan lampu jalan itu Ten hehehe”
“Lha terus gimana caranya kesana Man..kita harus tau keadaan disana pada malam hari…coba kalau aku masih jadi hantu.,. Aku bisa bebas kesana dengan tenang!”
“Atau gini saja Ten…kita suruh saja demit yang ada di rumahmu ini untuk kesana dan melihat ada apa saja disana”
“Wah..katamu kamu sudah malas berhubungan demit demit itu Man!”
“Iya Ten… tapi ini kan terpaksa.. Kita harus tau apa yang ada disana kalau malam hari kan?”
“Dahlah Ten.. ayo kita ke sana saja, kalau ketahuan kita bisa lari ke hutan yang letaknya ada di belakang rumah Marwoto”
__ADS_1