
Perjalanan pulang siang menjelang sore ini lebih banyak diwarnai oleh suasana yang sunyi, tidak ada satu orangpun diantara kami yang berbicara, mulai dari start hingga sampai memasuki kawasan dekat terminal Mjkt.
“Gel, ini kita mampir ke gemezzz dulu atau langsug pulang” tanya Glewo yang ada di belakang kemudi
“Mampir dulu saja mas, ada yang mau indah lihat disana mas, mumpung masih sore jadi yang ada disana mungkin hanya nenek tua penghuni kamar mandi mas”
Indah inginkan agar kita mampir dulu ke toko Gemezzz, mungkin dia akan menemui dan mengajak bicara nenek tua itu.
“Indah kepingin tau apa yang ada disana kemarin malam mas, dan sekalian memintakan maaf kepada nenek itu atas kelakuan mas Blewah kemarin hihihih”
“Wis karepmu Ndah heheheh, pokoke aturen ae gimana caranya wiss aku manut awakmu ae Ndah” jawab Blewah tiba tiba
Mobil sudah parkir di depan toko Gemezzz, toko itu sepi , lampu depan mati semua , halaman parkir depan penuh dengan daun kering dan debu, sudah persis dengan ciri ciri toko yang sudah lama kosong.
Pintu harmonika depan toko yang berwana pink pun sekarang sudah menempel debu yang agak tebal sehingga toko ini sekarang kelihatan tidak terawat sama sekali.
“Ayo kita turun mas, kita ke samping toko , sore sore gini disini sudah mulai kelihatan banyak yang berkeliaran mas ya mas”
Memang sore menjelang magrib ini disini sudah mulai ada beberapa mahluk tak kasat mata yang berusaha menampakan diri kepada kami, aku lihat waktu tadi aku menyipitkan mata untuk membuktikan omongan Indah.
“Kita duduk-duduk saja dibawah pohon ini mas, sebentar Indah mau panggil nenek tua itu agar hadir diantara kita mas”
“Tapi apa perlu aku minta maaf ta Ndah nanti hehehe” tanya Blewah atau Nanta
“Terserah mas Blewah lah, kalau kita mau minta bantuanya kan ndak ada salahnya kita minta maaf mas, nenek tua itu sebenarnya baik, hanya saja dia paling tidak suka apabila ada yang ngintip kamar mandinya mas”
Kami berempat duduk santai di bawah pohon.
“Duh gatel kabeh Ndah nek gini carane heheheh” kata Glewo sambil cengengesan
“Diemo Wo, ojok mayak rek” tergu Blewah
Tiba tiba udara dingin menyelimuti kami, udara yang hanya muncul di antara tengkuk hingga kepala bagian belakang saja, kemudian didepan kami muncul bayangan. Bayangan itu bisa terlihat olehku meskipun aku tidak menyipitkan mataku
“Selamat sore mbah Saripah” kata Indah kepada nenek yang berupa bayangan saja
Nenek yang ada didepanku ini tidak semenakutkan seperti waktu aku lihat di jendela kamar mandi itu, nenek yang di depanku ini bewajah ramah dan mungkin seumur dengan mbah putriku
“Iyo nak ayu” jawab mbah Saripah sopan
__ADS_1
“Mbah saya nyuwun ngapunten karena tidak sopan dengan mbah Saripah” tiba-tiba Blewah meminta maaf kepada nenek tua itu
Nenek itu hanya melihat ke arah Blewah dengan tatapan tajam tanpa berkata apapun.
“Ini teman teman saya mbah, mereka tidak ada niat jahat kepada mbah, mereka hanya ingin tau apa yang ada didalam rumah itu mbah” kata Indah
“Sik cah ayu , koe ini nganggo( pakai ) gelunge mbah putri yang namanya mbah ***** ya?" tanya nenek tua itu (maaf saya tidak bisa sebutkan nama mbah saya yang sudah meninggal)
“Inggih mbah, saya disuruh mbah putri untuk pakai ini, karena saya ditugasi untuk membantu cucunya mas ini” tunjuk Indah kepadaku
“Jenengmu sopo cu?” tanya nenek tua itu sambil menoleh kepadaku
“Kulo Agus mbah, cucunipun mbah putri *****”
“Pantesan sing di dalam tubuhmu itu saya kenal cu”
"Njenengan kok bisa kenal mbah saya? Tanyaku penasaran
"Mbah kakungmu kui temanya suami saya waktu kita bersama sama ngungsi ke hutan. Jadi kita bisa saling kenal sampai Merdeka"
“Ada perlu apa kalian memanggil saya?” tanya mbah Saripah ramah
“Buat apa kamu tanya tanya iblis itu to cah ayu? Lebih baik kamu gunakan waktumu dengan hal yang lebih berguna dari pada ngurusi Iblis itu” jawab mbah Saripah
“Nuwn seweu mbah , kami ada alasan penting hingga kami mau berurusan dengan iblis itu, akan saya jelaskan kepada mbah Saripah” kataku
Aku coba untuk jelaskan secara singkat saja tentang apa yang terjadi dengan kami dan dengan Indah, juga kujelaskan juga apa yang mbah putriku omongkan.
“Hmmm aku ngerti keadaan ini cu, tapi yang kalian hadapi ini bukan manusia, tetapi Iblis, penyewa toko ini adalah laki laki yang suka berdandan perempuan, dia adalah pimpinan dari ribuan iblis yang ada di sini”
“Dia selalu menyuruh anak buahnya untuk memberikan Tumbal kepadanya, kalau anak buah itu idak memberikan Tumbal maka dia tidak segan untuk membunuhnya. Seperti yang terjad pada laki laki gagah yang pernah ada disini itu”
“Bejo” gumamku
“Iya , namanya Bejo. Bejo dibunuh karena gagal menyediakan sesembahan kepada iblis itu yang namanya tidak boleh disebutkan. Sesembahan itu harus berasal dari pembeli toko ini”
“Bejo harus mendapatkan perempuan yang masih perawan untuk kemudian dipacari oleh yang tidak boleh disebut namanya itu, kemudian dibawa ke daerah pct , dan setelah itu mbah tidak tau apa yang terjadi sama mereka , karena setelah itu jasad mereka sebagian ada disini”
“Jadi Bejo itu anak buah Totok?” tanyaku
__ADS_1
“Dia memang memperkenalkan diri dengan nama Totok cu, tapi nama dia sendiri itu benar benar tidak boleh disebutkan karena mengandung banyak arti yang mengerikan dan menjijikan”
“Kemarin apa yang terjadi disini mbah, dan kami minta maaf karena kami mengintip melalui jendela kamar mandi” kata Blewah
“Jangan kamu ulang lagi cara itu, lebih baik kalian memanggil mbah saja dan akan mbah jelaskan apa yang terjadi disini kemarin malam” kata mbah Saripah
“Kemarin malam ada ribuan demit yang datang, karena yang tidak boleh disebut namanya itu membawa puluhan mayat yang mereka dapatkan bukan pada jaman ini”
“Tetapi mbah tidak ikut mereka meskipun mereka menawari mbah bangkai, darah dan lainnya”
“Sudah cu, sementara ini hanya itu yang bisa mbah ceritakan kepada kalian” kata mbah Saripah yang kemudian hilang dari depan kami
“Ayo kita pulang mas, sementara ini sudah ada beberapa perkembangan baru mas, tetapi tetap saja menurut Indah semua persoalan ada di Waji, disini hanya untuk mencari mangsa dan memberi makan ribuan demit dengan tubuh tanpa arwah, karena menurut Indah arwah-arwah dari mayat itu ada disana, di waji mas”
“Mas Nanta pasti tau dan sudah melihat apa saja yang terjadi di Waji tadi siang kan, nah nanti malam sekitar pukul 23.00 kalau kalian penasaran bisa kesana lagi mas, ingat tadi mbah Saripah bilang mayat itu bukan dari jaman ini kan”
*****
Sholat Maghrib di mushola sebalah rumah memang nikmat, karena suasana yang memang nyaman dan sepi dari suara mobil dan motor. Selepas maghrib kami duduk di ruang tamu, dan seperti biasa Blewah sedang mengamati barang temuanya.
“Malam nanti kita ke Wai gak rek” tanya Blewah
“Kenapa Wah, memange kamu mau apa ke sana?”
“Iya aku, mau kembalikan buku tts ini dan aku akan ambil kalau kita masuk ke dimensi waktu sebelum terjadi peristiwa berdarah seperti yang tadi siang itu”
“Peristiwa berdarah maksudnya gimana Wah, tadi siang kan ndak ada apa apa disana?” aku penasaran dengan yang dikatakan Blewah.
“Mangkane ta sipitkan matamu Gel biar tau keadaan disana yang sebenarnya, Indah ae tau kok makane Indah kan selalu pegang tanganmu Gel”
“Kan Indah sudah ngomong sama mas Agus, waktu kita di halaman hotel kalau yang Indah rasakan adalah aroma kematian dan teriakan minta tolong mas, kemudian waktu kita masuk ke kantor hotel yang ada itu hanya darah dan teriakan minta tolong dari dalam kamar”
“Tadi itu keliatanya baru saja dimulai gotong royong bunuh membunuh mas, dan pembunuhan itu bukan dari sesuatu tetapi dari para tamu yang ada disana, mereka saling cengkeram saling cekik, saling berebutan memakan tubuh temannya dan keluarganya dan kemudian meminum darahnya”
“Mangkanya mas Blewah lalu mengajak kita lari, karena orang yang saling bunuh di itu kemudian melihat kita mas, mereka mengejar kita meskipun banyak dari mereka yang anggota tubuhnya sudah tidak lengkap lagi”
“Mereka berusaha mengejar kita mas, dengan mulut yang penuh darah dan potongan daging teman yang mereka makan, tetapi untungnya gerakan mereka lamban mas”
“Ok, nanti malam pukul 21.00 kita beangkat ke wai lagi,mudah-mudahan mobil merah menyala milik Totok itu masih kuat apabila kita ajal jalan muter-muter Mjkt-Pct-Mjkt
__ADS_1