
Aku berjalan menuju ke kamar belakang, karena Indah sedang melihatku dari pintu kamar belakang, dia ingin sekali bicara kepadaku tetapi ndak tau kenapa dia tidak menghampiriku saja,
Aku kemudian masuk ke kamar belakang sambil kututup gorden tipis yang membatasi antara kamar ini dengan diluarnya.
“Ada apa Ndah, kenapa kamu kok liatnya gitu sama aku Ndah?”
“Teman kalian itu mas, ada yang aneh dengan mereka semua mas, mereka kayaknya sudah ditandai. Bahkan salah satu dari mereka sudah ditandai untuk dicabut nyawanya mas”
“Tetapi Indah ndak tau juga mas, mereka terlibat dalam masalah apa mas, yang indah lihat hanya hitam di wajah mereka semua”
“Pokoknya mas agus ndak boleh ke sana mas, soalnya disana itu jahat sekali mas, menurut prnglihatan Indah, disana ada sesuatu yng sedang menunggu nyawa” kata Indah dengan wajah khawatir
“Ya wis sayangku Indah kamu jangan khawatir, aku dan kedua temanku akan nurut kamu kok Ndah”
“Iya mas, hati-hati sama mereka mas, kalau bisa selamatkan mereka mas, kasihan mereka itu kelihatanya anak baik-baik mas”
Aku kembali lagi ke tempat temanku berkumpul, ternyata sebagian dari mereka sudah ada yang tidur, keliatanya mereka capek, mungkin di tempat Kris mereka tidak sempat istirahat. Tetapi Ukik dan Tifano masih sibuk dengan Hpnya.
“Eh rek jangan bikin berita di sosmed kalau kalian ketemu sama kita disni lho yo, bisa mati koyok Ngot aku nanti rek”
“Nggak mas Dogel , ini lho aku lagi wa grup , kita lagi pastikan siapa aja yang akan ikut ke acara Sutopo ke 3. Wildan barusan tanya, no hp personil Bluekuthuq, tapi kami ndak bilang ke mereka kalau kita ada disini mas”
“Vilanya gimana? Sudah survey kah rek?”
“Belum mas, rencanane besok kita rame-rame ke kota S untuk bareng-bareng survey vila mas, sekalian jalan-jalan heheheh” jawab Ukik
“Kalian hati-hati kalau bikin acara di vila, takutnya tetangga sekitarnya merasa bising dan ndak suka sama musik kalian , kecuali kalian bikin acara orkesan, pasti mereka akan suka mas heheheh”
“Itu vila tua atau baru dibangun rek” tanyaku lagi,
“Karena kalau vila tua itu kadang penghuni ghaibnya rewel kalau penyewanya berbuat yang tidak mereka sukai”
“Kata Broni itu vila peninggalan jaman belanda mas, kamarnya kata nya ada 5, kamar mandi ada 2, ada dapurnya sisan, jadi kita bisa masak-masak disana mas” jawab Tifano
“Bluekuthuq ikut poko mas, biar aja bertiga, pokoknya ikut ramekan suasananya mas hehehe”kata Ukik
“Maaf cak , gak berani muncul di acara dulu rek, gini ae lho nanti kalian tak sambangi ae lho ,aku sama kedua temanku kesana liat kalian maen rek”
__ADS_1
“Siiip mas heheheh, gini lak asik, nanti mas Blewah tak mendemi koyok waktu acara di Jogja setahun lalu ma heheheh
“Wis lah, aku tak merem sik rek. Kalian lanjutkan ae melekkanya, aku sudah gak kuat rek, nguantuk pol aku”
Kutinggalkan Ukik dan Tifano yang masih sibuk dengan Hp masing-masing, gapapa pokoknya jangan sampai mereka menginfo posisi kami saja.
Adzan subuh sudah berkumandang dari mushala sebelah, aku segera bangun keluar kamar dan mengambil air wudhu, untuk sholat di rumah saja bersama Indah.
Ketika kubuka pintu kamar, ternyata teman-temanku semua sudah siap untuk menuju ke mushala. Aku ndak ngira dibalik wajah dan tingkah sangar mereka , ternyata mereka masih ingat pada Tuhanya.
Pagi ini terasa dingin disini, kelima temanku baru saja selesai berjamaah dengan warga sini di mushala kampung.
“Heheheh hari ini dengaren aku bisa sholat subuh di mushola rek, biasane aku ndak pernah kalau subuh sholat di masjid atau mushola” kata Broni
“Iyo Bron, disini kita jadi nggenah ya rek, gak kayak bisasane hihihi” sahut Ukik
“Mas, tak bikinkan kopi buat rame-rame ya mas” tanya Tifano
“Iyo Tif, bikino di ceret aja kayak semalam , biar semua bisa ngopi dengan enak, aku tak ke warung sebelah , cari indomi goreng buat sarapan kalian”
“Di gang sebelah mushola itu ada warung mracangan, kesana Bron, tapi ati-ati, banyak ibu-ibu muda yang suka belanja disana lho yo, ati-ati matane ojok jelalatan, soale ibu-ibu itu pakek daster yang aduhai hihihii’
“Hahahahh mas Dogel iki lak onok-onok ae mas hehehe, Aku tak kesana sama mas Blewah ae biar ibu-ibu itu semburat lari semua karena ada penampakan monster banyu mas heheheh”
“Blewah sama Glewo nek jam segini sik tidur semua, mereka tangine awan Bron heheheh”
Broni kemudian ijin ke kamar mandi untuk cuci muka , dan tidak sengaja matanya melihat ke kamar belakang , di kamar itu aku tadi sempat sholat
bareng indah.
“Mas Gel.. mas Gel” panggil Broni yang sekarang posisinya sedang melihat sesuatu di dalam kamar belakang
“Mas itu kok onok mukena dan sajadah?” tanya Broni dengan heran
“Biasa Bron, itu sajadah dan mukenah punyannya yang nungguin rumah ini , namanya Indah laninaningrum. Kapan-kapan tak kenalno sama dia ya heheheh”
“Leeh ojok aneh aneh mas , mas Dogel ini senengane ngelawak rek, hihihhi” wajah Broni mendadak tegang dan agak ketakutan.
__ADS_1
“Tenang ae Bron, deke lho sing jaga rumah ini biar bersih dan nggak gilani, coba kamu liat Bron, rumah ini terasa enak dan nyaman kan, padahal sudah belasan tahun kosong hihihi” aku sedikit berbohong pada Broni hihihi
Tiba-tiba Indah muncul diantara aku dan Broni, dia melihat wajah Broni dari dekat hingga jarak wajah mereka hanya beberapa cm saja.
“Mas Agus harus bisa melarang mereka ke vila itu mas, karena mereka akan dalam bahaya kalau ada disana mas. Bahkan salah satu dari mereka wajahnya sudah menghitam mas”
“Wajah hitam itu bearti mati mas” lanjut Indah
“Hanc**k merinding rek, koyok ada sesuatu yang dingin di depan wajahku mas “ kata Broni sambel mengelap wajahnya dengan menggunakan lengan bajunya
“Gak Popo Bron santai ae lhoo rek, memang dikamar itu hawanya dingin, makane aku kerasan ada di dalam kamar ini , coba kamu tiduro disitu ,nanti kmu kan kerasan Bron heheheh”
“Oh iya Bron, vila yang mau kalian sewa itu, itu vila milik kerabatmu kah Bron?”
“Iya mas, punya omku, di gratiskan biaya sewanya, pokoknyakita bisa tempati dan bersihkan” jawab Broni
“Lho selama ini vila itu ndak ada yang jaga atau ndak ada yang bersihkan kah Bron, nek gitu ya sekarang kotor keadaanya, bener ndak?”
“Di sana ada penjaganya mas, besok aku kontak penjaga vila biar bisa ngobrol sama dia tentang keadaan disana mas”
“Kamu harus tanya dengan jelas Bron, soale vila besar apalagi tinggalan Belanda itu jarang orang mau nempati atau sewa, itu saranku ke kamu sebagai teman lho bron” kataku
“Iya pastilah mas, kita harus tanya-tanya dulu pantanganya mas, aku ya takutlah kalau terjadi apa-apa dengan kami waktu disana” kata broni
“Iya Bron, apalagi itu si Ibor yang suka nganeh-ngenehi sama kebutuhan seksuwalnya, apane gak bikin masalah disana Bron, hati-hati itu macam Ibor. Yok kita ke teras ruang tamu lagi, kita ngobrol sama teman-teman lagi”
“Aku tak belanja Indomi dulu buat sarapan mas, nanti keburu siang” kata Broni sambil keluar rumah menuju ke warung yang tadi sudah aku infokan tempatnya.
Glewo dan Blewah ternyata sudah ada di teras, padahal wajah mereka berdua masin rembes, di teras kalau pagi udaranya sejuk, karena rumah ini menghadap ke barat, sehingga sinar matahari pagi tidak mengenai area teras ini.
Tifano datang dari arah dapur dengan membawa satu ceret besar yang berisi kopi hitam, ceret kopi itu dia taruh di meja ruang tamu berikut gelas plastik yang dia dapatkan di dapur.
“Rek, ngumpul dulu sini rek, aku pingin ngomong ke kalian tentang rencana kalian” kataku kepada Tifano, Ukik, Haris ,dan kris, sementara Broni sedang ke toko membeli bahan makanan untuk sarapan.
“Tadi aku sudah ngomong sama Broni rek, kalau bisa jangan vila itu deh yang akan kalian sewa. coba cari vila lain” kataku kepada mereka
“Masalahe vila itu kan gratisan mas” jawab Kris
__ADS_1