INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....21. Marwoto datang


__ADS_3

“Begini saja  mas Tok..nanti sore saya akan antar ke pak Rt dulu saja, saya akan tanyakan syarat untuk pembuatan KTP dulu”


“Tapi kayaknya tetep harus mengurus kartu keluarga dulu mas”


“Eh pak Peno.. begini pak… istri saya kan mewarisi  sebuah rumah di desa sebelah. Sebuah rumah rusak yang sudah ada sejak jaman penjajahan pak”


“Hmm terus gimana maksudnya mas?”


“Apakah  dengan surat kepemilikan rumah, kami bisa bikin kartu keluarga dan KTP?”


“Coba saya lihat dulu surat tanahnya mas, kalau jaman penjajahan itu kan berbeda dengan jaman sekarang, kita tanyakan saja ke kelurahan setempat dulu”


“Setahu saya surat jaman penjajahan bisa dikonversikan menjadi akta tanah jaman sekarang, asal bukti-bukti kepemilikannya kuat”


“Nanti dari bukti kepemilikan itu mungkin mas Totok dan bu Ginten bisa bikin surat penduduk.


“Waduh… berarti masih lama ya pak  untuk punya sebuah KTP”


“Jangan berprasangka dulu mas… kita tanya dulu ke teman saya sebelum kita ke RT. Saya ada teman yang agak sakti, karena bisa bikin surat apa saja tanpa kelengkapan.”


“Sore nanti mas Tok saya kabari ya”


“Ok pak Peno… terima kasih banyak. Oh iya, saya mau teruskan mereparasi sepedanya pak Peno”


“Sebentar  mas, saya ambilkan dulu sepeda, alatnya dan part yang kemarin saya beli”


Sebenarnya aku tidak peduli dengan KTP dan sebagainya, tugasku disana kan hanya membuat Marwoto berubah saja.


Masak kalau mau ngerubah orang harus punya KTP segala hehehe, tapi karena Ginten ada rumah disana yang mana rumah itu akan ditinggali dan di renovasi, maka diperlukan surat yang bernama KTP itu.


Aku sebenarnya tidak ngurusi masalah Ginten dan rumahnya, tapi kok yang aneh, aku lama-lama bisa perhatian dengan perempuan itu.


Ndak tau kenapa sekarang aku merasa ada yang berbeda dengan diriku, aku senang kalau lihat Ginten, rasanya ada semacam semangat ketika bersama Ginten.


*****


Siang ini kelar sudah aku perbaiki sepeda pak Peno, untungnya pak Peno punya peralatan yang lumayan lengkap di rumahnya, jadi tidak perlu dibawa ke bengkel untuk menyelesaikan sepeda kebo ini.


Nanti sore saja aku serahkan  sepeda kebo ini kepada pak Peno, karena saat ini dia sedang kerja di kota Gebang.


“Man..! ayo makan siang..” teriak Ginten dari dalam rumah


sudah tiga hari aku dan Giten  tinggal satu  rumah, semenjak ada Ginten  rumah ini makin bersih dan makin rapi, makanya dia ngotot ingin membersihkan rumahnya yang ada di desa sebelah.


“Man.. siang ini kamu sudah selesai dengan sepeda itu?”


“Sudah Ten….sudah beres kok.. Sudah bisa dinaiki hehe”


“Ayo ke desa sebelah.. Kita bersih-bersih rumah sekalian nantangin Marwoto”


“Marwoto ndak usah kamu tentang..dia akan datang dan bikin masalah dengan kita kok, tenang saja Ten.. penjaga malam yang kemarin kita takut takuti itu pasti akan lapor ke Marwoto”


“Sepeda itu sudah bisa kita pakek belum Man?”


“Sudah bisa, tapi  aku kan belum bilang ke pak Peno untuk pakek sepeda itu Ten, atau gini aja Ten… kamu ke sebelah, ke bu Peno, bilang aja pinjem sepedanya untuk ke desa sebelah”


“Ayo Man… tapi kamu bawa juga sepedanya ke bu Peno, agar dia tau kalau sepeda ini sudah bisa dipakai”


“Ayo sekarang aja Ten… aku kok kepingin tau keadaan rumahmu kalau siang gini”


Setelah lapor kepada bu Peno dan meminta izin  meminjam sepeda ini untuk kami pakai ke desa sebelah, maka siang ini aku dan Ginten ke desa sebelah berboncengan menggunakan sepeda kebo milik pak Peno.


“Kalok kayak gini kan kita bisa lebih cepat  sampai ke sana dari pada jalan kaki Man”


“Ya lebih cepat lagi kalau naik motor Ten heheheh, tapi kalau lihat orang naik motor rasanya kok aku bingung ya Ten”


“Motor jaman sekarang bentuknya aneh dan sebagian besar terbuat dari plastik hehehe”


“Ya beda lah Man…jaman dulu yang kamu lihat kan motor perang yang bahannya dari besi semua dan bentuknya besar juga.


Tidak terasa kami sudah melewati gapura desa…. Siang ini jalan desa ini sepi, sama seperti kemarin, mungkin karena panas dan sebagian besar warganya sedang kerja.


“Ten…kita langsung ke rumahmu atau ke tempat Marwoto dulu?”

__ADS_1


“Langsung saja Man…nanti juga Marwoto akan datang sendiri ke  rumah aku kok..pasti dia akan tanya lagi masalah KTP”


“Iya Ten… sebenarnya apa sih pentingnya punya KTP.. kok kayaknya kartu berwarna biru itu sangat penting bagi penduduk sini”


“Nggak tau Man… kita langsung ke rumah saja Man… saya mau bersih bersih sebentar saja”


Rumah Ginten yang tidak terawat itu sudah terlihat… aku penasaran sebenarnya Marwoto akan melakukan apa dengan aku dan Ginten.


Tugas dari Painah ini harus aku selesaikan secepatnya, karena aku kan juga harus berjualan pakaian juga,aku ndak mau karena tugas ini akan menggangguku cari uang.


Tapi masalahnya Ginten itu sekarang juga sedang sibuk sama rumahnya, memang aku dan Ginten butuh rumah tinggal, dan rumah ini cocok untuk ditinggali.


Hanya saja keadaan rumah ini sangat kotor dan sebagian juga ada yang perlu perbaikan…itu yang bikin aku ragu apakah aku bisa mengerjakan berjualan pakaian, melakukan tugas Painah dan bersih bersih rumah Ginten.


Aku dan Ginten sekarang ada di bagian samping rumah, dan akan masuk ke dalam rumah lewat pintu samping yang kata Ginten sama sekali tidak pernah dikunci.


“Man… sini, saya mau tunjukan sesuatu sama kamu”


“Ada apa Ten..


“Coba kamu lihat di bagian paha bonekaku itu…


Cahaya matahari cukup bisa membuat ruangan samping rumah ini tidak gelap tapi tidak terang dan panas, tapi cukup sebagai penerangan di rumah ini.


“Itu di bagian paha bonekaku itu ada bekas apa itu Man?” kata Ginten sambil menunjuk ke bagian boneka yang dia maksud


Kudekati bagian boneka yang  ditunjuk Ginten, karena kalau dari posisiku ini aku sama sekali tidak melihat adanya sesuatu yang aneh, tapi sejenak kemudian setelah aku periksa dengan cermat.


“Itu… hihihi itu kan bekas lendir-lendir yang berasal dari chroootnya laki laki Ten hihihih”


“Iya Man… makanya saya marah dengan Marwoto…dia dengan seenaknya melakukan chrooot di boneka saya ini. Harusnya dia lakukan itu ke istrinya kan”


“Hahaha Iya sih ten…. Wuiih banyak sekali bekas sp*rma si Marwoto disini… tapi apa kamu yakin yang ngochok disini itu si Marwoto saja?”


“Iya lah Man, beberapa kali saya pergoki dia sedang melakukan itu ke boneka saya, jelas saya marah lah man… kenapa harus ke boneka , kok nggak ke saya saja Man hehehe”


“Memangnya kamu mau digituin sama Marwoto Ten?”


“Hehehe untungnya aku gak minat sama perempuan Ten hehehem, ayo Ten.. apa yang akan kita lakukan, keburu sore ini Ten”


“Kita bersihkan bagian ini dulu saja Man”


“Tapi bukan bersihkan rumah ini yang paling utama Man.. kita disini memancing agar Marwoto datang kesini”


“Saya ingin memperlihatkan bukti kepemilikan rumah ini kepada Marwoto”


“Kalau menurut saya jangan Ten…Marwoto itu orang pintar, dia pasti punya banyak teman di pemerintahan, bukti kepemilikan rumah ini pasti akan diincarnya Ten”


“Dan aku yakin dia pasti akan menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkan rumah ini”


“Kalau tidak kita tunjukan ke Marwoto, dia nanti bisa seenaknya mengusir kita Man”


“Hehehe ngusir kita dari sini tidak hanya menggunakan bukti kepemilikan rumah, tapi dengan kita tidak punya KTP pun dia bisa mengusir kita Ten”


“Aku ndak tau sesakti apa KTP itu sehingga kok bisa dijadikan suatu alat untuk mengusir seeorang dari suatu daerah”


Aku dan Ginten membersihkan rumah bagian samping, kami keluarkan dulu boneka Ginten yang seukuran dengan Ginten dan dengan bentuk yang yang presisi persis Ginten ketika dia masih jadi hantu.


Ketika kami sedang sibuk dengan  membersihkan  samping rumah, tiba-tiba aku dengar langkah kaki dari depan rumah


“Man.. ada yang datang..ayo kita ke depan Man”


“Itu kayaknya si Marwoto Ten….dia mungkin mau ngomong sesuatu”


Kami menuju ke depan rumahmu dan ternyata benar, Marwoto datang, tapi dia tidak sendirian…siang hari ini dia ditemani oleh JOE KOWIyono.


“Ada apa pak To?”


“Tidak apa-apa … saya cuma mau lihat rumah ini sebelum saya miliki dan saya hancurkan secepatnya, karena anak saya makin besar dan dia memerlukan rumah untuk tempat tinggalnya”


“Kenapa bapak Marwoto sangat menginginkan rumah ini, bukanya rumah ini keadaanya sangat memprihatinkan, belum lagi demit yang ada disini sudah beranak pinak mulai dari jaman penjajahan hingga sekarang”


“Itu masalah mudah buat saya…pokoknya rumah ini akan saya miliki cepat atau lambat”

__ADS_1


“Oh gitu pak.. Kalau seumpama rumah ini bapak hancurkan, lalu bagaimana dengan boneka atau patung yang hampir tiap hari bapak buahi itu hihihi” kata Ginten dengan berani


“Buahi apa maksudmu!” bentak Marwoto


“Tidak usah pura-pura pak… sp*rma  yang ada di paha boneka itu sudah membuktikan kok pak hehehe”


“Hahahah bukti milik kalian ini lemah! Apa buktinya kalau yang melakukan itu saya hahaha”


“Tanyakan saja ke Joe KowiYono pak.. Dia selalu lihat apa yang bapak kerjakan hahahah”


“He…siapa kalian ini sebenarnya!” bentaknya sambil melotot


“Kamu tidak tau siapa kami … wajar Marwoto, karena kamu taunya hanya anak-anak Sutopo”


“Tapi kamu pasti tau Ginten kan… perhatikan istri saya ini baik-baik!”


“Kalian ini siapa..dan b..bagaimana tau tentang anak-anak Sutopo?”


“Kamu tidak perlu tau siapa kami, pokoknya kami ada disini untuk membenahi urusanmu dengan desa sebelah dan yang paling penting urusanmu dengan ibumu …Painah!”


“Kamu memang mirip dengan Ginten.. Saya tau kamu pasti ada hubungan saudara dengan Ginten” Kata Marwoto ketika melihat Ginten


“Untuk saat ini… tinggalkan kami karena kami sedang sibuk membersihkan rumah ini,... karena kami akan ada disini untuk mengamati dan memperingati kamu!”


“Satu lagi Marwoto… Joe kowiYono bukan apa-apa bagi saya dan istri saya, jadi jangan sampai suruhanmu itu  kami musnahkan”


“Hahaha tadi saya sempat kaget juga dengar kamu bicara tentang anak-anak Sutopo , dan juga ibu saya Painah. Tapi sekarang jaman sudah berubah… mereka yang tadi kamu sebutkan entah sekarang ada di dimensi mana”


“Yang ada disini sekarang hanya ada saya… saya yang berkuasa disini. Jadi kalian berdua siap saja akan saya usir dari sini”


“Sekarang  mana KTP kalian, jangan sampai saya anggap kalian pendatang liar yang tidak memiliki identitas sama sekali”


“Tenang saja Marwoto, identitas sedang diurus, juga tentang surat bangunan ini, sedang dalam proses konversi dari data jaman penjajahan belanda menjadi data yang terbaru”


“Pada intinya kamu tidak bisa menguasai rumah ini, dan tidak lama lagi kami akan tinggal disini!”


“Kami akan paksa kamu untuk  menyeimbangkan desa ini dengan desa sebelah. Ingat… kamu mendapat mandat dari Mak Nyat Mani dan Soebroto!”


“Jangan sampai beliau beliau itu turun tangan dan memaksa kamu untuk melakukan apa yang mereka sudah mandatkan”


“Kamu tidak usah bicara masalah dua orang penguasa daerah demit itu,  kamu harus ingat… mereka berdua itu demit yang hanya mementingkan daerah ghab mereka sendiri”


“Zaman sudah berubah Total, kaerna jasa saya maka desa ini bisa maju!... dan tentang ibu saya…kalian berdua tidak usah ikut campur, dia sendiri yang tidak mau saya ajak ke pindah ke desa ini”


“Dia sendiri yang tidak mau menjual salah satu rumah yang ada di desa sebelah untuk kebutuhan saya dan istri saya!”


Tiba-tiba Marwoto pergi begitu saja dari hadapan kami tanpa pamit dan tanpa mengucapkan salam.. Dia pergi begitu saja bersama Joe KowiYono yang sempat melihatku dengan tersenyum.


Aku tidak tau apa maksud dari setan pengawal Marwoto itu, kenapa dia tersenyum kepadaku, apakah dia senang dengan apa yang barusan aku lakukan?


Ataukah dia senang dengan wajahku.. Jangan-jangan setan itu humu juga!


“Man… ngawur kamu itu. Kita ini belum saatnya untuk membuka kedok kita Man”


“Masalah ini nantinya malah akan kemana mana setelah kamu buka kedok dan masalah identitas dan tentang bukti kepemilikan rumah ini”


“Tenang aja Ten.. pokoknya jaga saja surat rumah ini, jangan sampai dicuri oleh Marwoto”


“Aku sengaja seperti itu sebenarnya karena memancing reaksi dia, apakah dia akan kaget atau gimana, eeeh ternyata dia malah ketawa..”


“Dan dia ada keinginan untuk menguasai rumah ini, jadi menurutku di dalam rumah ini ada sesuatu yang membuat dia tertarik Ten”


“Aku ada keinginan malam ini kita nginap disini saja Ten….setelah selesai berjualan, seperti kemarin kita malam-malam kesini”


“Ya sudah terserah kamu Man… nanti malam waktu ke pasar jangan lupa ingatkan saya untuk beli bahan makanan dan beli sapu, obat pel dan apapun untuk membersihkan rumah ini”


Aku tadi salah perhitungan dengan Marwoto, aku kira dia akan  kaget dan takut ketika aku bicara tentang Mak Nyat Mani, Soebroto, dan anak-anank Soetopo. Ternyata tidak!


Dia malah tertawa seakan akan semua yang aku katakan itu sudah tidak ada di pikirannya, semua memang sudah berbeda zaman, tetapi kalau tidak karena anak-anak Sutopo dia tidak akan bisa semakmur ini hidupnya.


Dia tidak bisa menghormati jasa-jasa pahlawan, hal ini mirip sekali dengan penduduk negara Konoha yang sudah melupakan jasa para pahlawanya.


Siang menjelang sore hari kami sudahi dulu bersih bersih rumah GInten, untuk saat ini sih sudah lumayan, sudah bisa untuk ditinggali.

__ADS_1


__ADS_2