
“Tenang dan jangan berisik apalagi teriak Rochman….”
“Pembersihan ini memerlukan waktu dan ketrampilan…”
“Cepat Ginten… jangan banyak bicara…”
Ginten membungkuk diantara dua kakiku.. Kemudian tangan kanannya memegang terongku yang masih menunduk lemas..
Memang sih.. Dulu kata cowok cowokku.. Terongku ini adalah terong terbesar yang pernah mereka lihat, tapi aku tidak yakin dengan kata-kata mereka.
Ginten tetap memegang terongku yang masih gembuk tidak ada daya dan upaya…apalagi usaha.
Kemudian perlahan lahan Ginten mulai aksinya… aku tau apa yang akan dilakukannya….
Aku bisa menebak kalau dia akan membersihkan bagian dalamnya dengan cara menghisapnya….karena jeles sulit kalau membersihkan tanpa menghisap.
Ternyata benar juga apa yang akan dilakukan……tapi percuma juga… aku tidak akan terangshang sama sekali, apalagi membuat terongku berdiri.. Itu sudah merupakan hal yang tidak berguna sama sekali.
Setelah membersihkan dengan menggunakan air… Ginten langsung melahap terongku yang tidak akan menjadi besar sama sekali.
Tapi… tapi .. ada yang enak…..
L…lidah Gintem menari nari di ujung terongku… lubang terongku yang hanya selebar satu butir beras itu berusaha dimasuki lidah Ginten….
T..tidak….aku bukan penikmat perempuan… aku tidak bisa begitu saja terangshang dengan perempuan setelah peristiwa kencing nanah itu!
J…jangan sampai aku merasa nikmat dengan yang Ginten lakukan ini… aku bukan orang normal yang begitu saja menikmati hal yang dilakukan oleh perempuan..
“Tutup matamu Rochman…rasakan nikmatnya!”
Aku tidak boleh menutup mataku.. Ini jelas tidak mungkin……
Tiba-tiba Ginten merubah keahlianya.. Lidah dia yang tadi menari nari di ujung terong sekarang berubah haluan..
Terongku dia masukan lebih dalam ke bagian dalam tenggorokan dia…hingga aku merasakan bahwa ujung terong menyentuh sesuatu..
Dan … dan sentuhan itu menyebabkan sebuah rasa yang nikmat… di dalam tenggorokan Ginten yang hangat, ujung terongku menyentuh langit-langit mulut ginten yang lembut…dan itu sangat…. enak.
Selanjutnya yang aku rasakan… ada semacam aliran darah yang berdesir di bagian bawah terongku… aliran darah seharusnya tidak terjadi.
Karena dengan aku merasakan adanya aliran darah ini menyebabkan terongku akan membesar!
Setelah selesai dengan lidahnya..kemudian dengan Brutal Ginten mengemud dan mengochok terongku…
Dan.. dan hal yang tidak mungkin terjadi ternyata terjadi… terongku membesar dan semakin membesar dan mengeras.
Ginten mengetahui itu..kemudian dengan ganas dia mengeluarkan semua keahlianya..
Terongku rasanya seperti sedang dipermak habis habisan…
Ginten semakin liar dengan menggigit tipis tipis, memasukan hingga ke dasar tenggorokan, hingga memainkan lidahnya di ujung lubang terongku.
Tidak lupa tangan dia tetap dengan antusias mengochok pangkal terong.
Hingga pada akhirnya .. aku merasakan sesuatu yang memuncak…. Memuncak menjadi sebuah kenikmatan yang luar biasa… dan akhirnya ada yang keluar dari dalam terongku…
Sesuatu yang muncrat dan masuk ke tenggorokan Ginten dengan suksesnya.
“Sudah selesai Rochman.. Kamu sudah bersih.. Sekarang saya akan memandikan kamu”
“Jangan bingung dengan keadaan kamu yang tadi Rochman… semua terjadi secara alamiah dan tanpa paksaan…”
“Kamu tadi menikmatkan?”
“Iy..iya Ginten…jadi aku sudah bersih?”
“Sudah …ayo berdiri dan usahakan kecing dulu… agar semua yang ada di dalam terongmu keluar dan bersih”
Semua terjadi dengan alami… aku yang pecinta sesama jenis ini ternyata bisa menikmati apa yang dilakukan Ginten.
Apakah aku sudah berubah…tapi kenapa aku tetap memikirkan mas Ilham… atau bisa saja aku suka dengan laki-laki dan perempuan sekaligus.
Selesai Ginten memandikanku.. Kami memakai pakaian bersama sama…
“Kita sudah selesai tahap pertamanya Man.. sekarang kita menuju ke makam Painah… dia menunggu kita disana”
“Sebenarnya tujuan kita tadi apa Ginten?”
“Mengeluarkan nafsu yang terpendam… mengeluarkan sesuatu yang menumpuk di dalam tubuh”
“Sesuatu itu memang akan ada terus karena tubuh kita terus berproduksi… tapi untuk setengah jam kedepan ini kita sudah kosong dan bersih”
“Bersih dari nafsu dan bersih dari sesuatu yang ada di dalam tubuh”
“Ginten… kamu ini sebenarnya manusia atau masih berupa Demit?”
“Hehehe dengan berjalanya waktu.. Saya sudah bisa berubah menjadi manusia juga… tapi tidak sepenuhnya, karena untuk menjadi manusia ini membutuhkan energi yang besar dan ilmu yang tidak mudah”
__ADS_1
“Bagaimana kita berdua keluar dari sini tanpa sepengetahuan orang yang selalu riwa riwi berjaga di desa ini?”
“Tenang saja… mereka tidak akan melihat kita untuk sementara waktu.. Karena kita sudah mandi air sumur. Air sumur itu bukan sembarang air”
Aku dan Ginten dengan santainya berjalan menuju ke makam mbok Painah…
Dan apa yang aku takutkan datang juga..,bukan takut karena demit atau semacamnya.. Tapi takut karena dua orang penjaga malam itu berjalan menuju ke arah kami berdua.
“Tenang saja Roachman.. Mereka tidak akan melihat kita berdua”
Ternyata tidak salah yang dikatakan Ginten….pak Tukio dan temanya tidak bisa melihat kami berdua.. Padahal kami berpapasan dengan mereka.
Dua penjaga malam itu terus berjalan tanpa menoleh ke arah aku dan Ginten sama sekali.
“Terbukti kan apa yang tadi saya omongkan”
“Iya Ginten.. Tapi sebenarnya tujuanmu dengan hal seperti ini apa. .. apa yang bisa aku lakukan untuk memuaskan apa yang kamu maksudkan Ginten”
“Nanti saja.. Biar Painah yang mengatakan kepada kamu”
“Lalu apa hubunganya agar aku tinggal di rumahmu yang sangat kotor dan mungkin bisa menghabiskan waktu seminggu untuk membersihkannya”
“Nanti kamu akan tau sendiri apa maksud saya”
“Sekarang diam dan tetep jalan saja… setelah mushola itu nanti kita akan bertemu makan Painah”
Setelah berjalan beberapa lama akhirnya kami ada di depan makam umum… tapi anehnya aku tidak bisa melihat demit sama sekali disini.
Tidak ada demit maupun makhluk tak kasat mata disini.. Makam ini bersih saru ghaib.
“Tunggu dulu… akan saya buka mata batinmu dulu Rochman.. Saya tau kamu tidak bisa melihat ghaib disini kan”
“Iya Ginten…..semenjak aku ada di desa ini, aku sama sekali tidak bisa melihat ghaib dan sejenisnya, tapi kenapa aku bisa melihat kamu yang sekarang berbeda?”
“Berbeda.. Berbeda karena saya tidak gemuk, tidak tua dan tidak seperti yang kamu lihat dulu itu?”
“Iya Ginten….”
“Sekarang saya tanya kamu Rochman… wujud aslimu bagaimana dulu itu waktu kamu ditawan di ruang bawah tanah.. Apakah seganteng sekarang ini?”
“Eh iya wujud saya mengerikan Ginten…”
“Iya sama juga seperti kamu..saya juga bisa berubah menjadi wujud asli saya.. Wujud asli saya ya seperti ini”
“Dan kenapa kamu bisa melihat saya Rochman…. Karena saya mentransfer energi saya ke kamu, agar kamu hanya bisa melihat saya saja”
“Nah untuk sekarang ini, akan saya buka mata batinmu dulu.. Jadi kamu akan bisa melihat semua ghaib yang ada di sini dan dimanapun”
Rasanya ada hawa hangat yang keluar dari tangan Ginten dan hawa hangat itu mengalir mengikuti aliran darahku menuju ke seluruh tubuhku.
Kututup mataku, karena secara tidak langsung aku merasakan sesuatu yang nikmat dan hangat yang terus berjalan ke seluruh tubuhku.
Tubuhku rasanya relax sekali ketika hawa hangat itu kemudian mengalir ke seluruh tubuhku…
“Rasakan apa yang kumasukan ke tubuhmu Rochman, dan itu akan membantumu untuk melihat ghaib yang ada di manapun juga”
“Buka matamu Rochman… kok malah kamu menikmati apa yang aku masukan ke tubuhmu sih”
Ketika kubuka mataku…
“janc***k….”
“Heh kok malah misoh.. Bukanya mengucapkan salam kepada semua penghuni kubur itu!”
“Aku kaget Ginten… begitu banyaknya mereka yang ada di depan mataku…”
“Ucapkan salam kepada mereka Rochman!”
“Salam yang bagaimana… apakah assalamualaikum gitu?”
“Iya salam yang itu .. lalu salam yang mana lagi yang kamu tau Rochman?”
“Ok baiklah… meskipun saya tidak percaya dengan agama.. Tapi apa salahnya mengucapkan salam sesuai agama yang penganutnya paling banyak di sini.”
Aku tau aku seharusnya menganut suatu agama yang diturunkan Tuhan kepada umatnya… tetapi bagi kami setan setan tidak seharusnya kami menyembah Tuhan.
Tapi itu dulu…. Apakah sekarang aku harus menyembah Tuhan?
Apakah hidup sebagai manusia itu harus punya agama?”
Ah masa bodoh dengan semua itu…..
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…. semuanya”
Sebagian besar dari yang ada di makam ini menjawab salamku, mereka nampak bahagia sekali.
Mereka semua yang awalnya diam tidak bergerak, bahkan ada juga yang wajahnya penuh kebencian tiba-tiba berubah menjadi ramah dan penuh senyum.
__ADS_1
Yang ada sekarang adalah keceriaan. Aku tidak paham kenapa hanya dengan ucapan salam mereka yang ada di makam itu tiba-tiba bahagia.
“Lihat perubahan yang ada di dalam makam itu ketika kamu ucapkan salam Rochman”
“Iya Ginten… mereka terlihat bahagia… sebenarnya ucapan salam itu apa artinya dan kenapa dengan ucapan salam saja mereka bisa bahagia gitu”
“Ah jangan tanya saya Man… nanti saja kalau kamu bertemu dengan yang paham dengan agama.. Kamu Bisa tanyakan saja ke dia”
“Ayo kita masuk ke makam desa… ini adalah makam besar, karena makam ini sudah ada mulai ketika daerah ini mulai dihuni orang”
Aku dan Giten masuk ke dalam makam… kami berdua jalan menuju ke arah tengah makam.
Selama aku jalan bersama Giten. Banyak sekali mahluk ghaib disini yang memberikan kami jalan.
Makam ini penuh sekali dengan penghuni ghaib, bahkan dengan berbagai bentuk dan model..
Semua ini tentu saja tidak membuat aku takut, karena aku dulu juga adalah bagian dari mereka juga.
Ketika kami berdua sudah ada di tengah makam yang gelap… akhirnya Ginten berhenti di sebuah makam yang sederhana, tapi nampak baru….
Karena cat di maesan itu masih jelas berwarna putih meskipun sebagian kecil terkelupas.
Makam ini agak aneh, karena tanpa nama dan tanpa keterangan sama sekali.
Kalau bukan keluarga dari Mbok Painah pasti akan kesulitan mencari makan yang tidak ada keterangan nama , tanggal lahir, maupun tanggal meninggalnya.
“Ini makam Painah Man… memang sengaja tidak diberi keterangan nama agar orang luar yang tujuanya kesini untuk mencari kesaktian akan kesulitan”
“Mbok Painah itu merupakan orang yang disegani di desa ini, karena dia dianggap tetua yang mampu melakukan hal spiritual”
“Penduduk disini sangat menghormati painah, sehingga apabila ada orang yang tidak dikenal masuk ke area makam, penduduk disini pasti akan mendatangi dan menanyakan tujuan masuk ke area makam ini”
“Lha Mbok Painahnya mana GInten… dari tadi yang aku lihat hanya demit, pocong, kunti, tuyul, genderuwo, penduduk disini dan yang aneh aneh lainya..”
“Sebentar Man.. mungkin Painah sedang ada kegiatan di tempat lain”
“Hihihi kegiatan apa to Ginten.. Aneh aneh ae… mosok se sudah meninggal masih ada kegiatan juga hehehe”
“Jangan salah sangka kamu Rohman… Painah sering dimintai bantuan orang-orang pintar di sini dan di beberapa tempat untuk melakukan sesuatu”
“Dan Painah melakukan dengan tanpa imbalan, itu karena jiwa sosial Painah yang masih ada meskipun dia sudah meninggal
“Kita tunggu disini saja hingga Painah muncul Man… karena kalau kita keluar dari makam dan akan kesini lagi…kita harus melakukan ritual seperti tadi lagi”
“Lha tadi waktu kamu belum datang ke rumah Painah… katamu kamu kesini bertemu dengan Painah. Itu kamu kan tidak melakukan ritual membersihkan diri Ginten”
“Waktu tadi itu saya hanya bertamu, tidak ada maksud untuk melakukan suatu tujuan… sedangkan yang kita lakukan ini kan karena akan melakukan suatu tujuan”
“Berarti kamu tau apa tujuan kita kesini Ginten!”
“Nanti Painah sendiri saja yang akan menjelaskan… kamu diam dan ikutii saja apa yang Painah katakan”
Aku dan Ginten duduk di sebelah makam mbok Painah…
Banyak ghai yang datang dan menanyakan apa tujuan kami berdua disini, banyak yang menawarkan jasa mencarikan mbok Painah.
Tapi semua itu ditolak oleh Ginten, karena Ginten hanya menunggu Painah datang tanpa dicari sama sekali.
Setelah menunggu lama, tiba-tiba Ginten berdiri
“Berdiri man.. Painah datang.. Ibu dari Marwoto itu datang “
Ku Turuti saja apa yang dikatakan Ginten.. Aku heran Painah sangat dihormati oleh GInten, bahkan mungkin juga oleh sebagian penghuni area makam ini.
Tapi bagaimana bisa Marwoto itu bisa berkelakuan sangat berbeda dari pada Painah,
Memang pada zaman aku bersama pak Tembol dan anak-anak… Painah itu hebat, dia bisa membaca pikiran orang.
Termasuk dia membaca pikiranku juga, dan dia sempat menegurku karena memang aku ya orangnya seperti itu hehehe, dan terbukti dengan aku membelot bersama Dimas.
Tapi apakah dia masih ingat dengan ku.. Apakah Painah masih ingat siapa aku yang dulu sempat dia tuturi tentang arti kebaikan dan pertemanan.
“Assalamualaikum mbok Painah” kata Ginten dengan ramah
“Walaikum salam… “ jawab painah
“Hmmm kamu Rochman kan… hahaha. Saya sudah bisa menerka.. Kita akan bertemu lagi pada suatu waktu atau suatu masa”
“Terakhir saya bertemu denganmu ketika kamu pak Tembol dan anak-anak baik itu bertemu ke rumah saya yang ada di sebelah hutan itu”
“Hehehe bagaimana jalan pengkhianatanmu itu Rochman….?”
“Apakah dengan pengkhianatanmu itu menghasilkan sesuatu untuk kamu?”
“Jangan bilang kamu menyesal sudah berkhianat kepada teman-temanmu”
“Kamu ada disini karena hanya kamu yang bisa kami temukan.. Hanya kamu yang terbaik dari yang terburuk”
__ADS_1
“Sebenarnya saya tidak akan memberikan tugas ini kepada kamu, karena riwayat kamu waktu di jaman itu melakukan pengkhianatan”
“Tapi sayangnya tidak ada lagi orang yang bisa saya cari dari masa lalu selain hanya kamu saja”