
Seperti dua hari lalu , toko ini diramaikan pembeli yang tidak tau apa yang harus dibeli, pokoknya mereka harus mendapatkan sebuah barang yang berasal dari toko Gemezzz. Pokoknya harus ada merk Gemezzz nya.
Malam ini toko ramai, seramai hari-hari sebelumnya yang tidak pernah ada waktu luang untuk penjaga toko untuk bisa saling ngobrol.
Tetapi ada yang tidak seperti biasanya, ada yang aneh dengan diri Totok yang malam ini makin gak jelas dengan memakai rok span, kasos ketat, serta wig pirang berbentuk bob, dia merias wajahnya dengan begitu tebal, seolah orang tidak boleh tau siapa sebenarnya dibalik wajah itu.
Beberapa hari lalu Totok juga tampil dengan riasan perempuan , tetapi tidak semenor malam ini, malam ini pun dia pun lebih banyak diam dari pada ngobrol dengan ku, aku terus perhatikan perubahan yang ada pada diri Totok, tetapi semakin aku perhatikan, dia semakin bersikap endel di depanku.
Apa dipikirnya aku naksir sama laki-laki gila yang suka berdandan ala kupu kupu malam kayak gitu?
Meskipun aku masih lajang dan belum pernah punya pacar, tetapi untuk urusan kayak gini aku masih normal dan aku lebih milih perempuan asli dari pada perempuan berbatang dengan tubuh kekar yang memakai rok span hingga dua puluh cm dari dengkulnya hehehe.
“Mas Agus, bisa kesini sebentar” panggik Totok dari meja kasir tempat dia bersemayam dari mulai toko buka hingga penuh dengan pengunjung.
Aku hampiri totok yang hanya berjarak lima langkah dari tempatku berdiri.
“Ada apa mas” aku berusaha untuk terbiasa dengan dandanan Totok yang semakin mengerikan. Kenapa aku bilang mengerikan? Karena dia semakin tidak canggung untuk berperan sebagi perempuan selama menjaga meja kasir
“Mas Agus, nanti selepas kerja bisa temenin akunya ke alun alun mas, akunya pingin cari yang anget anget mas” kata Totok dengan senyum yang dibuat semanis eh semengerikan mungkin
“Waduh ngak bisa mas Tok, aku harus pulang... kasihan kedua temanku kalau aku tidak ada di rumah” aku berusaha untuk menolak ajakanya dengan sehalus mungkin, tetapi aslinya aku ini takut dengan kelakuan Totok yang mengajaku ke alun-alun untuk mencari anget-anget
“Eeehhhmmm emangnya mas Totok pingin cari apa sih di alun alu malam malam kayak gini mas”
“Ya udah kalau gak bisa mas Agus, eh atau mungkin ada yang gak ngebolehin mas Agus pergi sama akunya ya mas?”
janc*k dia berkata gitu sambil mulutnya di monyong monyongkan persis ikan Koi yang ada di rumah saudaraku
Tiba-tiba aku ingat omongan Indah untuk mencari jiwa totok, apakah ini waktu yang tepat untuk mendekati Totok agar aku bisa mencari jiwa dia sesuai yang diminta Indah?
Tapi kan hingga ini aku belum tau apa yang dimaksud sama Indah tentang mencari jiwa. Tapi kesempatan ini tidak akan ada untuk kedua kalinya. Bagaimana kalau aku terima saja ajakan dia ini.
__ADS_1
“Nggak ada yang ngelarang kok mas Tok, emangnya mas Totok mau cari apa di sana” aku berusaha memastikan bahwa ajakannya itu tidak menjurus ke hal yang mengerikan
“Gak ada yang akunya cari mas, akunya cuman kesepian aja karena tidak ada yang mau akunya ajak jalan jalan selama ini mas”
“Yaudah deh, aku mau anter mas Totok ke alun-alun, tapi jangan sampai larut malam ya” aku akan coba sekali ini dulu untuk jalan ke alun alun bersama laki-laki kekar yang dibalut pakaian perempun, belum lagi dengan polesan yang ada di wajahnya.
“Saya bilang dulu kepada kedua teman saya dulu mas Tok, agar mereka segera pulang setelah jam kerja berakhir”
Wajah Totok yang dibalut bedak tebal itu nampak bahagia ketika aku sanggupi untuk jalan ke alun alun , tapi kembali lagi aku melakukan hal ini karena aku butuh menyelami yang ada di dalam diri Totok.
Aku masih belum tau apa maksud Indah dengan mencari jiwa Totok, tetapi mungkin dengan mendekat dia aku bisa mendapat atau melihat sesuatu yang bersifat ganjil pada dirinya.
Apakah mungkin yang dimaksud Indah dengan mencari jiwa Totok itu adalah mencari sesuatu yang ada di dalam perasaan atau sesuatu yang bukan jasmaniah yang terdapat di dalam tubuh Totok?
Meskipun aku mau saja diajak untuk pergi berdua ke alun-alun di malam malam yang akan menimbulkan aroma adem dan anget, tapi ak harus selalu waspada , karena Totok ini tiper mahlum yang bisa hidup di dua alam heheheh.
Tepat jam 22.00 toko tutup, seperti beberapa hari yang lalu, aku harus mengusir pengunjung yang masih merasa haus untuk membeli beberapa produk dari toko gemezzz meskipun yang mereka beli itu tidak akan pernah dipakai oleh pembelinya.
Suatu keanehaan memang kenapa orang-orang membeli sesuatu yang bertolak belakang dengan ciri yang ada pada dirinya. Kalau memang Totok menggunakan penglaris untuk daganganya harusnya para konsumen akan membeli apa yang menjadi keperluanya sehari hari.
Bukan yang buta segalaya seperti ini, beli semuanya, pokok ada label gemezzznya! Hal ini merupakan keanehan tersendiri bagiku, dan mungkin lambat laun Totok akan menjelaskan kenapa customer membeli segala keanehan itu.
22.30 toko tutup, kedua temanku aku suruh mereka pura-pura pulang, tetapi sebenarnya mereka berangkat duluan ke alun alun kota dan aku suruh mereka berhenti di sebelah bank yang terkenal.
“Ayo mas naik mobil akunya aja mas, mas agus bisa nyetir mobil kan mas, akunya capek sekali mas” kata Totok sambil menyerahkan anak kunci mobil kepadaku, kemudian kami berdua menuju ke mobil yang terparkir agak jauh dari toko. Dan mobil itu ternyata mobil milik Bejo!
“Eemh ini bukanya mobil Bejo mas Tok, eeh apa ndak papa kita pake mobil orang yang sudah meninggal mas” aku mencoba untuk memancing dengan sebuah pertanyaan yang mungkin agak sensitiv.
“Nggak mas, ini mobil akunya, bejo gak punya apa-apa, dia hanya akunya pinjamin agar dia kelihatan bergaya gitu, udah ganteng body yahud kalau cuman naik angkot kan gak keren juga mas”
“Bejo cuman pajangan akunya aja mas, biar keliatan kalau toko itu bukan cuman milik akunya, biar keliatan kalau akunya bukan pemilik tunggal mas. Kan gak enak juga kalau dilihat...wihh Totok punya mobil , punya toko ..totok kaya rayaaa”
__ADS_1
Sebuah jawaban yang lumayan aneh buatku, ternyata Bejo bukanlah orang kaya yang pernah aku perkiraan sebelumnya.
“Kenapa, mas Agus heran ya sama jawaban akunya. Jangan heran mas, Bejo cuman akunya taruh sebagai boneka disana aja, selebihmya ya akunya semua sebagai pemilik dan seluruh modal untuk toko Gemezzz itu”
“Hhuufff toko Gemeezzz itu udah akunya punyai lamaaa sekali mas, tapi gak pernah akunya tinggalin. Karena akunya fokus dulu untuk jualan di Mjsr”
“Jadi toko itu milik mas Totok, dan semua modal serta mobil ini adalah mlik mas Totok?” tanyaku dengan heran , karena info ini kan bertentangan dengan informasi sebelumnya waktu Bejo mati, bahwa Toko itu pemberian suami Bejo pengusaha kaya raya.
Masalah ini semakin menarik saja, aku akan dengan senang hati untuk mengorek info yang ada di Totok ini. Aku akan mencari jiwa totok meskipun aku ndak tau maksudnya dengan mencari jiwa itu apa.
Mobil sudah memasuki alun-alun kota, di pinggir alun alun ada beberapa penjual makanan ringan yang masih berjualan menungggu pembeli yang semakin malam semakin sepi.
“Mas, parkir disana aja mas di deket mbok mbok yang jual gorengan mas, akunya lagi nyidam gorengan mas” tunjuk Totok pada seorang mbah mbah di pinggir alu alun yang sekarang sudah mulai sepi keadaanya
Kuarahkan mobil keluaran terbaru ini mendekati penjual gorengan yang sepi pembeli, penjual gorengan itu seorang perempuan yang nampak tua sekali, dengan beberapa gorengan yang sudah dingin tersaji di sebuah tampah.
Penjual gorengan ini berbeda dengan penjual gorengan pada umunya yang memakai gerobak dan memasak gorenganya di tempat dia berjualan, kalau mbok mbok tua ini menjual gorengan yang dia bawa dari rumah, sehingga sampai di tempat semua gorengannya pasti dingin dan lembek.
Semua gorengan itu di taruh dan disebar di atas tampah / tempeh yang dialasi dengan daun pisang, sekilas memang kurang menarik gorengan yang dijual mbok mbok tua yang rambutnya sudah memutih semua
“Haloo mbah, sudah lama ya akunya ndak kesini mbah” sapa Totok kepada penjual gorengna tua itu
Mbah mbah penjual gorengan itu melihat Totok denan wajah yang gembira , mungkin karena langgananya datang dan akan membeli gorengan yang dingin dan nampak tidak menarik itu.
Mbah penjual itu hanya diam saja semari mempersilakan kami untuk mengambil gorengan yang tersaji dingin di atas tampah, totok mengambil beberapa pisang goreng dingin dan memakan dengan rakus. Keliatanya apa yang dimakan totok itu enak juga.
Mbah mbah itu melihat kearahku kemudian dia mempersilahkan aku untuk mencoba gorengannya dengan menyodorkan tampah yang dia pegang dengan kedua tanganya ke arahku. Terpaksa aku ambil satu biji pisang goreng yang sudah kurang bagus bentuknya.
Ketika kumakan pisang goreng itu , terlihat wajah mbah itu tersenyum, kemudia sedikit tertawa, kemudian menyeringai mengerikan , dan kemudian dia memperlihatkan giginya yang nampak mengerikan karena sudah banyak yang tanggal. Setalah itu mbah itu diam tanpa ekspresi sama sekali.
Dia menoleh ke arah Totok yang masih rakus dan sibuk memakan beberapa gorengan dingin itu. dan kemudian dia mendekatkan kepalanya kearah Totok.
__ADS_1
“Nduk.. apakah sudah kamu ajak mas mu ini ke Gebang?” bisik mbah mbah tua ini dengan tersenyum