INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....23. Ada Haris


__ADS_3

“Iya… dia yang menyuruh saya dan teman-teman saya untuk berak di atas atap toko” jawab Demit jelek yang sekarang makin tambah jelek.


“Sekarang juga kamu pergi dari sini atau saya akan kirim kamu ke Syurga dan kamu akan tersiksa di syurga!”


“Jangan … tapi saya akan disiksa oleh bos saya!”


“Jangan takut.. Marwoto itu manusia… dia tidak akan menang dengan golongan kita…. Sekarang kamu lihat aku dan istriku ini… apakah kami ini manusia atau bukan?”


“Kalau kamu bisa lihat kita berdua.. Maka kamu  akan tau kekuatan kita berdua… “


“Kamu dan aku ini golongan iblis.. Jadi tidak sepantasnya takut dengan manusia…. Sekarang kamu pergi dari secepatnya dan jangan kembali lagi dan berak di atas rumah itu”


Setelah demit jelek itu pergi… atap rumah yang awalnya penuh dengan tai iblis sekaran berangsur-angsur tai itu hilang.


Aku nggak tau perubahan apa yang akan terjadi dengan perginya suruhan Marwoto dari atas atap rumah itu, tetapi yang utama adalah setelah atap rumah itu bersih… ada beberapa orang yang tidak jadi masuk ke toko itu.


Apakah perubahannya secepat itu? Bisa jadi bisa tidak… tetapi yang terjadi sekarang, orang-orang yang tadinya akan masuk ke toko itu sekarang tidak jadi dan melewati toko itu saja.


Beberapa orang mulai masuk ke dalam toko sepi tempat aku tadi belanja itu.


Untuk sementara malam hari ini aku sudah puas karena aku berhasil memulangkan demit suruhan Marwoto yang pastinya akan membuat dia makin marah denganku.


“Yok kita balik Ten…”


“Malam ini kita balik ke rumah kontrakan mahasiswi saja Ten, gak usah ke desa sebelah, besok siang saja kita kesana, karena paginya saya akan bicara dengan pak Peno tentang KTP”


“Bener Man… rasanya dengan kita punya KTP tidak akan diusir oleh Marwoto, dan kita akan lakukan teror kepada Marwoto  ketika kita tinggal di rumah saya Man”


“Eh Man… demit yang lainya apa tidak kita usir juga?”


“Besok saja Ten… tiap hari kita hajar satu-satu saja, agar Marwoto bingung, kok tiap hari ada saja demit  yang datang ke rumahnya untuk melaporkan apa yang kita lakukan heheheh”


“Ten..  hari ini kan kita dapat uang lumayan… yuk kita makan di dekat sini saja, itu disana ada warung makan Ten”


Tidak jauh dari tempat lapaku ini ada warung  yang menjual aneka makanan siap saji, biasanya warung itu ramai, tapi entah kenapa malam ini hanya ada beberapa orang yang makan disana.


Aku dari kemarin-kemarin rasanya kepingin makan disana, tetapi karena kemarin warung itu ramai, aku jadinya malas untuk ke sana, tapi untungnya malam ini warung itu sepi.


“Yok Man.. saya sudah lapar sekali ini”


“Tapi nanti kalau kita makan disana, apa sampai rumah malah nggak kemalaman Man?”


“Kemalaman ya gak masalah Ten.. kenapa, kamu takut diperkhosa orang di jalan sepi itu ta Ten?... hehehe, kalau aku sih memang kepingin diperkhosa cowok ganteng Ten hehehe”


“Kemarin waktu aku jualan sendirian disini, aku sangat berharap diperkosa cowok , tapi sayangnya malah ketemu kamu di dekat telaga sana”


“Omonganmu gak karuan Man.. nanti pagi kamu akan saya kerjain agar kamu bisa sembuh dari kelainanmu Man!”


“Hahahah coba aja Ten.. hahahaha”


Warung makan ini memang sepi saat ini, hanya ada empat orang pembeli termasuk aku dan Ginten.


Tapi  tiba-tiba aku kaget ketika melihat orang yang sedang makan di sebelahku. Orang itu mengingatkan aku pada bosku  yang bersama aku melawan anak-anak Sutopo.


Terus menerus aku perhatikan orang yang sedang makan dengan santainya, dia sepertinya tidak memperhatikan kami berdua yang sedang melihat dia makan.


Tidak hanya aku, Ginten pun juga sedang berusaha mempelajari wajah orang itu juga.


“Pesan makan apa pak…bu?” tanya penjualnya tiba-tiba


“Eh saya pesan nasi campur saja, minumnya teh  hangat”


“Ten .. kamu pesan makanan apa”

__ADS_1


“Saya samakan dengan suami saya saja pak” jawab Ginten yang masih saja melirik orang yang ada di samping  kami


Sayanya orang yang berwajah Dimas itu tetap asik dengan makananya, dia begitu lahap memakan makan malamnya, hingga dia tidak tau apabila kami berdua sedang memperhatikan dia makan.


Lahap dan cepat.. Begitu istilah yang bisa diberikan kepada orang berwajah Dimas itu.


Hingga tidak lama setelah makanan kami terhidang…orang yang berwajah Dimas itu selesai dengan makananya dan setelah membayar dia pergi begitu saja dari warung ini tanpa melihat kami berdua.


“Pak… orang itu siapa?”tanyaku kepada penjual makanan


“Oh itu pak Haris… masak sampean tidak tau pak” jawab penjual makanan itu


“Saya tidak tau tau pak, saya kan tinggal di desa sana…sebenarnya dia itu siapa, kenapa kok sampai terkenal gitu pak”


“Oh.. pantas kalau sampean nggak kenal… dia ada di Gebang, bukan di desa sana..namanya Haris… dia tinggal di rumah sebelah rumah putih yang angker itu” jawab penjual nasi


“Hmm namanya Haris ya pak, dia berasal dari mana pak?”


“Waduh… saya kurang tau mas…pokoknya dia sering ada di gebang, dan pekerjaannya adalah serabutan, kadang disuruh bersihkan apa saja juga mau”


“Pokoknya semua hal serabutan dia akan lakukan, pokoknya dibayar heheheh”


Jangan-jangan dia Dimas.. Tapi dia kan tidak mengenalku….


Tapi memang wajahnya mirip dengan bos gila ku yang bernama Dimas… bos DImas yang tergila gila dengan Misnah sang pekerja pemuas napsyu.


Tapi tidak mungkini itu Dimas… Dimas pasti sudah binasa, gak mungkin dia pindah ke masa ini.


Ginten hanya diam saja sambil menghabiskan makananya, dari raut wajah Ginten, aku bisa baca bahwa dia juga sedang berpikir apakah orang yang tadi itu benar-benar adalah DImas.


Yang pasti Ginten tau waktu  membinasakan Dimas waktu itu, nanti saja aku akan tanya Ginten, apa yang terjadi pada DImas waktu itu.


*****


Kami dalam perjalan pulang ke desa, belum ada pembicaraan antara kami,, ginten aku bonceng sambil memegang karung yang berisi pakaian yang belum laku


Tapi hingga hampir mendekati telaga, Ginten belum juga membuka mulutnya…dia kelihatannya sedang berpikir keras tentang apa yang dilihatnya tadi


Tapi ada baiknya aku buka pembicaraan dulu dengan Ginten,, gak enak juga diam-diaman kayak gini, mirip suami istri yang bertengkar masalah ranjang.


“Ten… kenapa kamu diam aja… apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Gak papa Man… saya hanya heran saja”


“Heran sama orang yang namanya Haris itu?”


“Iya Man… saya masih berpikir apa yang terjadi ketika pemusnahan Dimas pada waktu itu”


“Tapi saya yakin kalau Dimas sudah dibinasakan oleh Mak Nyat Mani”


“Biar kamu tidak penasaran, besok kita datangi saja rumah yang ada di sebelah rumah putih itu… gimana menurutmu Ten?”


“Jangan Man… saya tidak berani bertemu dia.. Kita hindari sebisa mungkin apapun yang jadi masalah kita di masa lalu”


“Tapi saya yakin orang itu bukan Dimas… dia hanya mirip Dimas saja Man”


Aku dari awal sudah mengira bahwa orang yang tadi kita temui itu bukan Dimas, aku tau sekali ciri-ciri Dimas itu, tapi orang yang ada disana itu bukan Dimas… aku sangat yakin!


Melihat wajah Dimas itu sangat mengerikan, seolah di dalam wajahnya ada beribu ribu setan, ada di dekat tubuh DImas saja apabila kita tidak konsentrasi, seperti ada yang menyedot kita…


Tapi di dalam tubuh yang tadi namanya Haris itu sama sekali tidak ada apapun yang aku rasakan, tidak ada rasa mengerikan atau apapun.


Hanya manusia biasa yang  tidak memiliki kekuatan apapun… tapi aku tetap penasaran dengan orang itu.

__ADS_1


Kenapa aku penasaran… karena Dimas itu licik, dia jahat, dan apabila di suatu daerah ada Dimas disitu, pasti tempat itu tidak akan aman.


Jadi ada baiknya kita pastikan dulu ke rumahnya, apakah memang dia itu benar-benar Dimas atau bukan.


“Itu bukan Dimas Ten.. aku tidak bisa merasakan apapun yang dimiliki Dimas pada waktu itu”


“IYa Man.. saya juga merasa seperti itu, tetapi ingat.. Kamu ada di masa ini kan juga tidak memiliki apapun, kamu hanya orang biasa yang  kemudian ditemukan oleh mahasiswa-mahasiswa itu”


“Sudahlah Man.. jangan berpikir tentang Dimas… masa itu sudah berlalu, sekarang kita punya tugas yang harus kita selesaikan Man”


“Iya Ten…tapi apa kita tidak perlu tanya-tanya ke dia.. Yah untuk meyakinkan saja Ten”


“Kalau memang dia bukan Dimas ya sudah Ten…”


“Kalau seumpama dia benar-benar DImas dan ingat pada kita berdua gimana Man… apa yang akan kita lakukan?”


“Iya sih Ten.. benar juga apa katamu… sudahlah, jangan dekati orang yang bernama Haris itu”


*****


Seperti biasa pagi hari aku membersihkan sepeda milik pak Peno, termasuk sepeda kebo yang aku gunakan untuk berjualan tadi malam.


Sepeda ini yang aku gunakan untuk menuju ke rumah Ginten kemarin dan bertemu dengan Marwoto yang makin gila saja.


Kini saatnya sepeda ini aku kembalikan kepada pemiliknya sekalian aku tanya tentang pembuatan KTP.


Setelah sepeda ini bersih, aku menuju ke rumah pak Peno sambil kutuntun sepeda kebo milik pak Peno yang sudah bersih


“Selamat pagi pak Peno… maaf kemarin sepeda ini setelah selesai saya pakai untuk ke desa sebelah dan jualan pakaian”


“Ndak papa mas Tok…itu kan memang saya perbaiki agar mas Totok dan istrinya tidak kesulitan kalau mau ke mana mana”


“Pakai saja sepedanya mas.. Yang satunya kalau sudah tidak dipakai dikembalikan saja mas”


“Terimakasih banyak pak Peno.. oh iya pak.. Bagaimana tentang pembuatan KTPnya pak, apakah sudah ditanyakan ke teman pak Peno yang katanya ahli itu?”


“Nah…,itu yang akan saya bicarakan kepada mas Totok… pada dasarnya bisa… yah teman saya ini memang bukan orang pemerintahan, tetapi dia bisa membuatkan kartu keluarga berikut KTPnya tanpa harus susah payah untuk data-datanya  mas”


“Kalau misalnya kami ada di rumah Ginten sana.. Apakah bisa dibuatkan KTP di rumah Ginten itu pak?”


“Bisa mas.. Pokoknya dimana mas Totok mau tinggal, nanti akan dibuatkan sesuai dengan alamatnya”


“Tapi ya itu mas Tok.. biayanya tidak murah!”


“Kalau boleh tau berapa biaya pembuatan KTP itu pak?”


*****


“Jadi gitu Ten.. mahalkah biayanya?”


“Iya Man… tapi kita memang sepertinya harus punya benda yang namanya KTP itu Man, karena katanya benda itu berguna untuk diri kita dimanapun kita berada Man”


“Tapi di neraka benda itu tidak ada gunanya Ten hahahaha,... jadi gimana Ten…kalau kita jadi bikin, saya akan jualan lebih giat lagi.. Siang hari saya akan ke gebang untuk jualan baju”


“Nggak usah Man… saya kan ada uang.. Uang itu saja yang digunakan untuk pembuatan KTP…memangnya butuh berapa hari Man?”


“Tadi sih kata pak Peno semuanya butuh empat sampai lima hari, dan pada hari terakhir, kita nanti diminta untuk berfoto hahahah”


“Ya sudah .. bilang ke pak Peno.. uangnya ada dan kapan mau dilaksanakan”


Aku sebenarnya tidak yakin apabila teman pak Peno bisa buatkan kami berdua KTP, tetapi karena kata pak Peno teman dia itu memang ahlinya untuk hal-hal seperti itu maka aku percaya saja dengan apa yang dikatakannya.


Mungkin dengan kami punya KTP kami bisa melawan Marwoto.

__ADS_1


Cuman yang bikin aku bingung… tentang alamat tinggal kami, kalau aku memakai alamat rumah Ginten, pasti Marwoto akan curiga.


Kalau kami memakai alamat desa ini, Marwoto pasti akan mengusir kami dari desa sebelah.


__ADS_2