INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....19. Ketahuan


__ADS_3

“Sik Ten… sebenarnya rencanaku ke sana itu mau ngapain sih?


“Kok rasanya aku ndak punya tujuan untuk ke rumah Marwoto”


“Lha kamu ke sana itu apa tujuanya Man.. kalau ndak jelas buat apa kamu kesana”


“Ah gini saja Ten… aku punya rencana untuk membuat Marwoto tidak kerasan di rumah itu, dan kemudian dia akan pergi dari sana menuju ke desa sebelah”


“Nah itu ide lumayan Man.. saya setuju dengan idemu itu…Tapi apa yang akan kamu lakukan di sana Man?”


“Aku ndak tau Ten….kamu ada ide nggak Ten?”


“Hahaha ini kan idemu Man.. kalau caranya ya kamu yang harusnya tau , kok malah sekarang tanya saya Man?”


“Dahlah…untuk malam ini saya mau lihat keadaan disana dulu, nanti baru kita pikirkan apa yang akan kita lakukan Ten”


“Ayo wis kita ke sana berdua Ten”


“Nggak mau … kamu aja yang ke sana Man…aku nunggu disini saja”


“Ya wis Ten…..kamu disini punya jam nggak Ten?”


“Gak ada lah..buat apa hantu punya jam… memangnya kamu tanya jam buat apa sih Man?”


“Ya buat tanda lah… nek misale lima belas menit aku belum muncul.. Kamu susul aku ke sana”


“Hahahah malas!...lima belas menit kamu belum muncul, terus aku ke sana..terus aku ditangkap juga..yo sama aja tolol Man!”


“Lima belas menit kamu belum datang.. Aku ya tidur aja disini…nunggu sampai kamu datanglah!”


“Wis sak karepmu Ten…mau nunggu atau mau nyusul ya sak karepmuuuuuu…. Aku berangkat dulu Ten”


“Tak doakan kepada raja setan…semoga kamu selamat sampai tujuan Man!”


“Waladalah… berdoa kok ke raja setan Ten… aku ya jelas tidak akan selamat Chok!”


“Lha kamu apa percaya sama Tuhan Man, kalok kamu nggak percaya sama Tuhan kan percuma juga aku berdoa kepada Tuhan!”


“Coba berdoa kepada Tuhan aja dulu Ten… kalok Tuhan mengabulkan ya bagus. Tapi kalok  Tuhan ndak ngabulkan baru kamu berdoa kepada raja setan!”


“SIk Man… saya kok bingung ya sama kamu…sebenarnya kamu percaya sama Tuhan atau raja Setan?”


“Terserah kamuae Ten… mau berdoa kepada siapa, pokoknya doakan aku ndak  ketahuan disana nanti”


“Ok Man.. aku akan berdoa kepada raja setan ae…. Agar kamu dilindungi sama raja setan”


“Jangaaaan….coba kepada Tuhan dulu aja Ten….”


“Ya wis lah, aku berangkat dulu… kelamaan kamu itu mau milih Tuhan atau setan!”


Ginten gendeng.., berdoa kok ke setan.. Meskipun aku ndak percaya Tuhan, Paling tidak dia doakan aku kepada Tuhan agar niat baiku ini terlaksana dengan lancar.


Tambah Gendeng Ginten iki suwi-suwi… tapi lama-lama dia itu cantik juga kok, tapiiii aku ndak ada minat sama sekali dengan dia.


Rencanaku saat ini membuat Marwoto ndak kerasan dengan cara mengisi rumah Marwoto dengan aneka demit yang ada di rumah Ginten, pati lama kelamaan pemilik rumah itu akan terganggu dan akhirnya dia tidak akan kerasan.


Nah untuk memuluskan rencanaku.. Aku akan lihat dulu keadaan di rumah Marwoto hehehe.


Aku berjalan keluar pintu pagar rumah Ginten…


Jalan depan rumah Ginten ini sepi tapi terang!.. Sialan memang kok.


Harusnya gelap gelap saja… biar enak kalau ada orang yang indehoi biar gak ketahuan!’


Aku heran dengan rumah-rumah yang ada disini… tiap aku noleh ke halaman rumah…selalu ada sosok yang berdiri di sekitar teras rumah.


Setan?... mungkin juga setan…karena ndak jelas sama sekali…apalagi tiap rumah itu punya sisi yang paling gelap, dan di sisi yang gelap itu sosok yang menyerupai gendruo itu sedang berdiri.


Yang jadi pertanyaanku… sosok itu milik siapa, apakah milik orang yang menempati rumah itu, atau kiriman dari seseorang.


Aku tidak jalan di tengah jalan… tapi aku jalan di pinggir…melipir di pagar rumah orang agar tidak terlihat siapapun.


Memang ndak ada yang lihat, karena jam segini kan mereka sudah pada tidur, jelas ndak akan lihat aku yang sedang jalan di sini.


Pelan-pelan aku melipir di pinggir jalan  hingga semakin dekat aku dengan perempatan jalan desa.


Kalau aku lurus maka aku akan menuju ke rumah Marwoto…


Kalau ke kiri aku akan ke hutan, kalau belok kanan maka akan ke gapura desa.


Aku harus waspada dulu, jangan-jangan di sekitar sini ada orang yang sedang ronda.

__ADS_1


Ketika aku akan menyeberang jalan untuk menuju ke rumah Marwoto, dari kejauhan  aku lihat ada orang yang sedang berdiri di depan rumah Marwoto.


Itu orang atau bukan ya… kalau orang, ngapain juga malam-malam gini ada di tengah jalan.


Eh tapi  aku kan malam-malam juga ada di tengah jalan,tapi aku kan punya tujuan mulia.. Jadi ndak masalah kalau aku ada di tengah jalan gini.


“Waduuuh sebenarnya benda apa itu yang malam-malam lagi ada di depan rumah Marwoto?”


Apa lebih baik aku ndak kesana dulu? Tapi nanggung…aku sudah setengah perjalanan  ini.


Lebih baik aku tunggu dulu hingga yang ada didepan rumah Marwoto itu pergi.


Setelah menunggu beberapa saat ternyata orang yang sedang berdiri di tengah jalan dan sedang menghadap ke rumah Marwoto itu ndak bergerak sama sekali.


Orang  itu seperti patung….


Sayangnya bagian depan rumah Marwoto tidak terkena sinar lampu jalan. Karena lampu jalan itu ada di tiga rumah sebelum rumah Marwoto.


Percuma juga aku menunggu disini lama-lama, karena orang yang ada di depan rumah Marwoto tidak bergerak sama sekali.


Lebih baik aku datangi saja orang itu..,aku yakin itu bukan oran, mungkin itu penjaga rumah Marwoto…seperti penjaga-penjaga rumah yang lainya, yang selalu ada di depan rumah.


Kulanjutkan menyeberang perempatan dan menuju ke rumah Marwoto.


Ketika aku sudah ada di seberang jalan, ternyata sosok itu masih ada disana tetapi untuk saat ini dia menoleh ke arahku,  tapi dia masih saja diam tak bergerak.


Aku semakin dekat dengan yang ternyata dia adalah makhluk ghaib penjaga rumah Marwoto, karena dia ada di depan rumah Marwoto.


Aku sekarang sudah berhadap hadapan dengan makhluk sialan yang tetap berdiri dan tidak bergerak dari depan rumah Marwoto.


Aku coba menjalin komunikasi dengan makhluk yang masih saja berdiri di depanku. Tapi ketika aku akan melakukan komunikasi dengan dia, tiba-tiba ada suara yang masuk ke kepalaku.


“Siapa kamu!” ternyata aku bisa mendengar dia bicara…


“Aku bukan siapa-siapa tapi aku manusia.. Sedangkan kamu setan. Jadi derajatku lebih tinggi daripada kamu, jadi lebih baik kamu minggir dan  cium kakiku sebagai bentuk penghormatan untuk aku”


“Heh… dasar manusia tolol dan sombong…. Kamu tidak akan selamat apabila melawanku… dengan sekali cungkil kamu akan terlempar dari sini”


“Hahaha…coba saja setan.. Tapi lebih baik kamu ndak usah mencoba.. Dari pada kamu terbakar dan mati..eh akhirnya masuk neraka juga hahahah”


Setan yang ada di depanku bergerak sedikit ke arahku.. Aku tau dia sedang menaksir kekuatanku, dan aku yakin kekuatanku lebih hebat dari pada setan yang ada di depanku ini.


“Hehehe kan sudah aku bilang.. Aku bukan apa-apa. Aku hanya manusia  dan derajatku  lebih tinggi, jadi kamu minggir dulu dari depanku”


“Tidak bisa.. Saya penjaga rumah ini.. Saya sudah sumpah setia pada pemilik rumah ini”


“Ya sudah.. Kamu ndak usah pergi, tapi aku ada beberapa pertanyaan buat kamu jawab, Jadi aku ndak perlu mengusir kamu dari sini”


“Siapa pemilik rumah ini?” aku mulai menginterogasi demit yang ada di depan rumah Marwoto


“Marwoto dan Suparmi” jawab demit itu


“Siapa yang suruh kamu jaga disini?”


“Bos saya adalah Marwoto”


“Kamu berasal dari mana?”


“Saya dari padang rumput disana itu”


“Hmmm disana ada dua penguasa.. Kamu dari wilayah Soebroto atau dari Mak Nyat Mani?”


“Heh manusia… bagaimana kamu tau nama  raja dan ratu disana…sebenarnya siapa kamu?”


“Hehehe ndak penting kamu tau siapa aku….pokoknya yang namanya Soebroto dan Mak Nyat Mani adalah dua penguasa yang aku tau sekarang menguasai daerah itu”


“Sedangkan Marwoto anak dari Painah adalah laki-laki yang seharusnya bisa menyatukan dua wilayah ghaib, tetapi dia sekarang malah berbuat yang tidak adil”


“Ibu dia Mbok Painah yang menyuruh saya kesini untuk memperbaiki akhlak anaknya serta istrinya yang seharusnya bisa mengayomi desa ini dan desa sebelah”


“Bagaimana kamu bisa tahu banyak tentang ini manusia… sebenarnya siapa kamu”


“Begini setan… kamu tidak perlu tau siapa aku, lebih baik kamu bantu aku untuk menyadarkan Marwoto agar mau merawat makam ibunya dan juga merawat desa asalnya, bukan hanya desa ini saja”


“Maaf saya tidak bisa membantumu.. Saya juga punya atasan yang  menyuruh saya untuk menjaga rumah ini beserta isinya”


“Niatmu baik manusia. Tapi saya juga punya pekerjaan disini, dan tidak bisa membantumu”


“Oh gitu… baiklah kalau begitu… aku tidak akan memaksamu untuk mendukungku, tapi aku bisa memaksamu untuk segera pergi dari sini”


Janc***k.. Kenapa aku malah nantang setan ini \, sedangkan aku sendiri belum tau bagaimana caranya menggunakan kekuatan yang diberi Painah ini.

__ADS_1


Aku bisa modiar kalau tiba-tiba aku ndak bisa menggunakan kekuatan yang diberi painah.


Yang kuhadapi ini memang bukan setan yang berpangkat, hanya setan suruhan saja, tapi untuk melawan setan suruhan ini aku ndak tau gimana caranya.


“Apa yang akan kamu lakukan untuk mengusir saya manusia?”


“Eh tidak ada… aku ndak punya cara bagaimana mengusirmu, tapi aku punya rasa cinta yang dalam kepada makhluk ghaib”


“Aku tidak perlu mengusir kamu dengan cara kekerasan, karena kita sebagai makhluk ciptaan setan sangat dilarang menggunakan kekerasan dengan sesama”


“Kekerasan hanya kita lakukan kepada makhluk ciptaan Tuhan saja”


“Eh siapa namamu kalau aku boleh tau sesama makhluk ciptaan setan?”


“Kamu mau nama yang mana wahai manusia ciptaan setan?”


“Eh terserah kamu.. Mau nama asli mu atau nama kerenmu atau nama panggungmu… terserah kamu”


“Nama saya JOE KOWIYONO, perpaduan nama  barat dan nama jawa… panggil saya Joe saja. Jangan dipanggil dengan nama lengkap”


“Wao nama yang fantastis setan”


“Namaku Totok, aku dari rumah putih di Gebang sana”


“Saya tidak peduli kamu dari mana, yang saya rasakan.. Di dalam dirimu ada setan yang kuat Totok”


“Makanya…aku tadi kan sudah bilang, bisa saya aku mengusirmu dengan kekuatanku… tapi sebagai makhluk ciptaan setan sebaiknya kita tidak melakukan kekerasan”


“Karena kekerasan hanya untuk melawan ciptaan Tuhan saja Joekowiyono”


“Heh Totok.. Saya kan sudah bilang … jangan sebut nama panjang saya,bisa bahaya kerena nama saya itu keramat”


“Ya maaf setan.. Saya kan ndak kepikiran”


“Ya sudahlah Joe.. aku mau pulang dulu, semoga kamu mau menjadi teman ku dan melakukan kegiatan setan dari pada hanya menjaga rumah manusia yang harusnya kamu takuti dan kamu usir itu”


*****


Aku dalam perjalanan pulang…


Aku harus mengambil hati si Joe dulu agar aku bisa masuk ke dalam rumah Marwoto..


Joe kayaknya bisa diajak kerjasama, hanya saja sayangnya dia di sana kan atas perintah atasanya, kalau dia melanggar perintah atasannya maka dia akan menerima hukuman.


Aku akan dekati dia lagi besok malam, hingga aku bisa berteman dengan dia untuk melakukan sesuatu.


Aku tidak bisa seenaknya minta masuk ke dalam rumah kepada setan penjaga itu, aku harus berusaha mendekati dia dengan baik.


Atau aku cari siapa yang suruh Joe jaga disana, itu lebih baik lagi, karena pasti atasan Joe akan menyuruh Joe untuk mengantarku ke rumah Marwoto.


Aku berjalan pulang ke rumah… tapi ini sudah jam berapa ya.. Aku takut kalau sampai rumah, tiba-tiba Ginten sudah melepas pakaianya, dan dia berkata …ini untuk kebaikan kamu juga Man!”


Dasar Ginten gak waras…padahal dulu waktu dia itu berupa setan, dia gak gitu lho.


Dulu dia itu kan kalau tidak salah anak buah Mak Nyat Mani dan berupa hantu yang gentayangan.. Tapi kelakuannya gak gendeng koyok gini juga.


“HEIII SIAPA KAMU.. APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI” tiba-tiba ada teriakan dari belakangku


Waduh… jangan-jangan ini  si Mawoto .. aku ketahuan ada di sekitar sini!


Kuhentikan langkah kakiku menuju ke rumah Ginten


“BERHENTI…. JANGAN LARI!” teriak orang yang ada di belakangku


Aku belum bisa tau siapa yang ada di belakangku ini.. Apakah dia Marwoto atau orang lain yang memergoki aku ada disini.


Alasan apa yang harus aku sampaikan apabila mereka bertanya kepadaku, apa yang barusan aku lakukan disini.


Sampai detik ini otaku belum bisa berpikir jernih tentang alasanku malam-malam jalan di desa ini.


Tapi lebih baik aku berhenti dan menyapa mereka, dari pada aku diteriaki maling dan dihajar satu desa ini.


Memang aku salah.. malam-malam gak jelas jalan di desa tetangga, dimana di desa ini tidak ada yang mengenalku sama sekali.


Tapi seandainya ada Ginten..dia bisa jelaskan kepada orang yang ada di belakangku ini agar tidak melakukan tindakan kekerasan terhadapku.


Aku masih belum berani berbalik arah untuk melihat siapa yang memanggilku, takutnya itu Marwoto


Ku Kuatkan diriku untuk berbalik dan melihat siapa yang datang…


Dan akhirnya aku berani juga berbalik arah… dan ternyata yang sedang berlari kecil dan menghampiri aku dari jauh ini dua orang penjaga malam yang sedang ronda malam.

__ADS_1


__ADS_2