INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....11.Di rumah Ginten


__ADS_3

“Sebenarnya apa maumu Ginten.. Kenapa kamu dekati aku lagi… aku bukan yang dulu lagi”


“Aku sudah bosan dengan masalah yang dulu dengan Dimas, aku sudah tidak mau lagi berseteru dengan siapapun, pokoknya aku akan  berubah”


“Aku sudah bosan harus berperang dengan orang-orang lagi, apalagi harus berkhianat lagi, Kalau kamu memang ingin minta bantuanku tidak masalah, tapi jangan yang  ada pertumpahan darahnya”


Aku merasa Ginten ingin memanfaatkan aku.. Dia sepertinya ingin menggunakan aku untuk melakukan apa yang dia maksud


Aku sudah tidak mau lagi sopan santun dengan ginten… aku tidak mau lagi menggunakan kata “saya”... kuanggap saya dia setan yang lebih rendah derajatnya dengan ku


Aku sudah capek apabila harus berseteru lagi dengan siapapun yang ada disini. Pokoknya aku harus bisa melawan Ginten.


“Hei.. Rochman…yang sopan kalau bicara denganku!”


“Aku lebih tua dari kamu!” tegur Ginten


“Sudahlah ginten.. Tidak perlu sopan santun lagi kalau berhadapan denganmu… kalau kamu minta bantuanku ya sudah.. Aku seperti ini ya terima saja”


“Sudah….sudah… ikuti saja apa yang kukatakan Rochman!.. Ini juga untuk kebaikan kamu!”


“Apa yang aku suruh dan aku katakan ini ada hubunganya denganmu disini, dan semua ini harus kamu selesaikan”


“Malam nanti kutunggu kamu di bekas rumah Painah yang ada di pinggir hutan, disana nanti akan saya kasih tau apa saja yang harus kamu lakukan!”


Setelah berkata seperti itu tiba-tiba suara Ginten menghilang…suara  dia hilang begitu saja dariku.


Dengan melihat apa yang terjadi dengan Marwoto, aku jadi bisa meraba apa maksud dari Ginten.


Apa mungkin dia ingin agar aku menyadarkan Marwoto dari keanehannya, ataukah ada hal lain yang berhubungan dengan keanehan Marwoto yang harus diselesaikan?


Biarlah nanti malam saja aku coba untuk ke rumah ibu dari Marwoto. Bearti nanti malam aku tidak bisa berjualan.


Atau lebih baik aku berjualan dulu saja sebelum ke rumah Painah.


Sekarang aku akan ke rumah Ginten.. Aku akan lihat dulu apakah ada tempat yang bisa aku gunakan untuk tinggal disana.


*****


Kukayuh sepeda milik pak Peno menuju ke desa sebelah  untuk kedua kalinya dalam satu hari ini.


Aku penasaran kenapa Ginten begitu memaksa agar aku tinggal di rumahnya, padahal jelas Marwoto tetua desa itu tidak mengijinkan aku untuk tinggal disana.


Tapi akan kucoba dulu untuk lihat apakah bangunan bagian dalam rumah Ginten itu masih bisa ditempati atau tidak.


Sekarang aku sudah ada di depan rumah Ginten..rumah yang penuh dengan ilalang, halaman dia penuh dengan rumput yang tinggi. Meskipun bangunan bagian depan masih terlihat utuh meskipun disana sini sudah rusak.


Pintu pagar yang terbuka ini mengundangku untuk masuk ke dalam rumah dan melihat keadaan rumah itu dengan lebih teliti.


Setelah tolah toleh menunggu keadaan sepi dan aman… sepeda pancal ini kumasukan ke halaman rumah Ginten yang banyak ilalang dan rumput gajah yang tinggi tinggi.


Sebelum aku masuk, aku harus sembunyikan sepeda ini di suatu tempat, aku takut apabila ada warga sini yang melihat sepeda ini, kemudian melaporkan ke Marwoto.


“Ah disana saja, dekat di antara pohon mangga saja, disana keliatanya aman”


Hmmm dari samping rumah ini keadaan dindingnya yang semi permanen itu sudah rusak… bahkan ada sebagian kayunya yang sudah lapuk dimakan usia.


Tapi kalau bagian dalamnya masih bagus ya sebenarnya tidak masalah bagiku…


“Ah itu ada pintu samping”


Aku berjalan ke arah pintu samping dengan hati-hati, bukan karena aku takut… tapi karena ilalang dan rumput yang tinggi ini  memungkin kan dipakai sebagai tempat tinggal ular yang pastinya banyak di sekitar sini.


Kudorong sedikit pintu samping ini.. Ternyata bisa terbuka… pintu ini tidak terkunci sama sekali.


Berarti semua orang bisa masuk ke dalam rumah ini.. Dan  apabila aku tinggal disini apakah aman?


Sebelum aku masuk ke dalam rumah Ginten, aku harus melihat bagian dalam rumah ini melalui pintu samping..


Memang Gelap.. Tapi perlahan lahan mataku mulai terbiasa dengan keadaan gelap yang ada di bagian dalam rumah Ginten.


Aku mulai melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam….


Tiba-tiba bulu kudukku meremang…. Aku merinding .


Baru kali ini aku bisa merinding, padahal dulu kan aku juga setan.. Kenapa aku sekarang malah bisa merinding gini ya


Harusnya aku kan bisa berteman dengan semua mahluk ghaib disini, tapi kenapa sekarang alku malah merinding seperti ini ya hehehe.


Aku berjalan masuk semakin ke dalam …


Lantai rumah ini sudah bercampur dengan debu dan tanah.. Sehingga plester atau ke lantai ini tidak kelihatan sama sekali..

__ADS_1


Kalau aku tinggal disini  jelasnya aku harus kerja keras untuk membersihkan rumah ini, jelas tidak mungkin tinggal disini dalam keadaan seperti ini.


Dari samping aku berjalan ke arah ruang depan..


“AAAAAHHH….SIAPA KAMU!”


Aku melihat sosok yang sedang berdiri di dekat jendela rumah, jendela yang mengarah ke jalan yang ada di depanya.


Sosok itu tidak bergerak sama sekali setelah kutunggu beberapa menit…


Sosok seukuran manusia itu hanya berdiri menghadap ke arah jendela saja…


Aku masih harus mencerna siapa yang itu dan sedang apa di dalam rumah ini…. Terus terang sekali lagi aku bukanya takut, tetapi lebih tepatnya kaget saja ketika tiba-tiba aku liat itu.


“Itu pasti patung!”


Aku yakin sekali itu pasti patung…


Entah apa tujuanya ada patung di sini, tetapi aku yakin sosok sebesar itu pasti patung.


Pelan-pelan kudatangi patung yang ada di dekat jendela yang mengarah ke luar…


“Hmmm ternyata cuma boneka… boneka dengan pakaian yang… yang..yang wajahnya mirip Ginten!”


“Kenapa disini ada boneka dengan wajah dan postur mirip Ginten…apa maksudnya ini!”


Apa tujuan sebenarnya dengan adanya boneka ini?


Meskipun keadaan boneka ini sudah rusak dan kotor disana sini, tapi aku masih bisa lihat bahwa boneka ini adalah boneka Ginten.


Siapa yang menaruh disini dan tujuannya apa nanti akan aku tanyakan kepada Ginten saja.


Setelah aku amati seluruh ruangan  yang ada di rumah Ginten, kesimpulanya aku tidak bisa tinggal disini , perlu beberapa hari untuk membersihkan rumah Ginten.


Beberapa hari itu untuk keadaan normal, maksudnya tidak umpet-umpetan dengan Marwoto.


Tetapi apabila keadaanya begini bisa beberapa minggu untuk membersihkan rumah ini.


Yang heran… kenapa Ginten memaksa aku untuk tinggal di rumah ini, kenapa tidak di rumah Juriah saja…tapi ya sudahlah, mungkin dia kepingin agar rumahnya ada yang membersihkan dan menempati juga.


Aku keluar dari rumah Ginten dengan hati-hati….


Tetapi ketika aku sudah sampai di perempatan, dan harus berbelok ke kanan, tiba-tiba dari arah depan, dari arah rumah Marwoto.. Munculah orang yang kukenal dengan motor yang pernah dipakai oleh anaknya.


Ya.. dia Marwoto.. Ketika dia melihatku… dipacunya motor itu hingga  dia sekarang ada di depan sepeda yang akan kukayuh.


“Ngapain lagi kamu ada di desa saya ini!” bentak Marwoto


“Maaf.. ini desa kamu,... desa ini sudah ada beratus ratus tahun lalu!” aku tidak mau kalah dengan dia


“Jangan banyak bicara kamu Totok… memang desa ini sudah ada sejak lama… tetapi saya yang membuat desa ini maju…”


“Karena jasa saya sehingga desa ini lebih maju dari pada desa yang ada disebelah sana”


“Karena jasa saya penduduk desa ini tidak ada yang susah!”


“Dan sekarang desa ini menjadi desa saya, kekuasaan saya!...karena tidak ada yang berani melawan saya!”


Wah makin sombong saja orang ini… seandainya anak-anak Sutopo tau tentang ini, pasti mereka sangat menyesal sudah menyelamatkan Marwoto dan Suparmi.


Bahkan bisa juga Mak Nyat Mani dan Soebroto pun akan menyesal sudah memilih orang ini sebagai pasangan yang bisa mempersatukan dua des ghaib.


“Sekarang saya tanya… kamu dari mana dan mau ke mana ?”


“Aduh.. bukan urusan bapak tanya-tanya saya mau ke mana dan dari mana… pokoknya terserah saya mau kemana, dan saya rasa desa ini bukan milik siapapun!”


“Jadi terserah saya mau ke mana saja… kamu tidak usah menghalangi saya untuk berjalan kemana saja selama saya tidak bikin masalah di desa ini”


Aku lewati saja Marwoto yang kelihatanya semakin marah dengan omonganku,


Kukayuh sepeda ini keluar dari desa dan menuju ke desa dimana aku tinggal…, sekarang aku tinggal menunggu Ginten datan…


Karena aku ingin bicara mengenai rumah dia yang keadaanya tidak karuan itu.


*****


Sore hari menjelang malam.. Aku masih di ruang tamu rumah bekas kontrakan mahasiswi, aku menunggu Ginten yang katanya akan datang.


Padahal biasanya jam segini aku sudah ada di pasar untuk berdagang pakaian bekas yang diberi oleh para mahasiswa.


Adzan maghrib sudah terdengar dari tempat tinggalku… tetapi hingga kini Ginten belum juga datang.

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus menuju ke rumah mbok Painah yang katanya sudah rusak parah itu?.. Tapi sebaiknya aku tunggu Ginten datang dulu saja.


Kemarin Ginten kan tidak bilang aku harus ke rumah Painah jam berapa, kemudian lanjut ke makan Painah jam berapa.


Karena kalau ke sana pada tangah malam, jelas aku akan ditegur oleh penjaga malam disini, tetapi kalau aku ke sana pada jam ya tidak mungkin, karena masih ada warga disini yang berkeliaran.


Apalagi nanti aku kan harus lewat warung mbok Nah, pasti akan ketahuan oleh mbok Nah juga.


Hehehe tapi yang jelas untuk berburu ilmu itu ya harusnya tengah malam, waktu keadaan sepi dan tidak ada seorangpun di sekitar sini.


Kalau begitu sambil menunggu malam hari, lebih baik aku tidur dulu saja, nanti tengah malam aku akan ke rumah Painah. Setelah itu lanjut ke makam nya….


*****


Kurasa ini sudah tengah malam…


Keadaan di luar sangat sepi, seharusnya tidak ada seorangpun yang berkeliaran pada tengah malam ini, kecuali pak Tukio dan pak Sapari penjaga malam yang hebat.


Kututup pintu rumah setelah aku yakin tidak ada siapapun di luar.. Tidak ada juga duo penjaga malam yang selalu berkeliling desa.


Aku berjalan pelan, dan aku usahakan tidak berjalan di tengah jalan.. Aku selalu ada di bawah pohon.. Menghindari sinar bulan yang saat ini sedang terang-terangnya


Aku tidak takut sama sekali.. Yah  sekali lagi karena aku dulunya kan demit juga, hanya saja saat ini aku tidak memiliki kekuatan apapun, bahkan untuk melihat mahluk halus pun aku sama sekali tidak bisa.


Perjalanan melipiri jalan desa sudah dekat dengan rumah dan warung mbok Nah… nanti didepan itu belok ke kiri, kemudian lurus saja hingga ketemu hutan.


Ketika aku sudah ada di depan warung mbok Nah..  dari kejauhan dua orang penjaga malam menuju ke arah sini, untungnya mereka tidak melihatku.


Tapi sayangnya aku tidak tau harus sembunyi dimana, karena di sekitar sini tidak ada tempat untuk sembunyi.


“Ahhhh di belakang warung mbok Nah mungkin bisa kujadikan tempat sembunyi!”


Segera aku menyeberang jalan dan menuju ke belakang warung mbok Nah.. dan untungnya dua orang penjaga malam itu tidak melihatku.


Mereka berdua berjalan melewati rumah dan warung mbok Nah.. menuju ke tempat aku datang tadi.


Setelah kurasa aman… melanjutkan perjalanan menuju ke tempat Painah lagi…


Hingga akhirnya aku dengan selamat tiba di rumah mbok Painah ibu dari Marwoto yang sudah meninggal.


“Dulu aku pernah kesini,dan mbok Painah bisa membaca pikiranku  hehehe”


“Kalau tidak salah sumur itu letaknya ada di bagian belakang, aku harus kesana untuk mengambil air sumur”


“Untungnya aku bawa senter kecil.. Hadiah dari mas Ilham…. “


“Uuugh rumah ini keadaanya sebagian sudah roboh, hanya bagian belakang yang menaungi sumur saja yang masih tegak berdiri”


Katanya Ginten akan bertemu aku disini, tapi sampai beberapa menit aku disini, Ginten sama sekali tidak menampakan dirinya.


Ah dia mungkin sengaja akan menakutiku hahaha.


Takut? Tentu saja tidak…


Aku tentu saja tidak punya rasa takut dengan semua model demit.. Karena aku pernah alami yang lebih mengerikan daripada demit yang umum hehehe.


Selain itu aku juga bekas Demit kan heheheh


Kucari timba yang seharusnya ada di sekitar rumah sumur tua ini..


“Ah disana timbanya ”


Untung tali yang terbuat dari tali tampar ini masih baik keadaanya.


Setelah ku teliti dengan cermat.. Baik tali dan embernya ternyata masih bisa digunakan untuk mengambil air yang ada di di dalam sumur


Aku sama sekali tidak mau melihat bagian dalam sumur, bukannya aku takut, tapi aku tidak mau kalau tiba-tiba ada yang mengagetkan aku dari dalam sana.


Dari pada aku kaget dan pingsan disini, maka lebih baik lubang sumur itu tidak kulihat saja.


Pelan pelang ember itu kumasukan ke dalam lubang sumur yang pasti gelap keadaanya.


Tapi hingga tali ini hampir habis, ember itu belum juga sampai di permukaan air sumur…


Padahal tali ini panjang, ketika tali aku ukur pakai perkiraan bentangan lengan.. Ada sekitar lima belas meter lebih panjangnya.


Sisa tali yang kupegang ini tinggal tiga meter, jadi yang sudah masuk sumur itu ada sekitar dua belas meteran, tapi belum menyentuh permukaan air juga..


Kalau sampai tali ini habis.. Apa yang harus aku perbuat lagi….


Kucoba untuk menurunkan tiga meter sisa tali ini saja, dan semoga bisa menyentuh permukaan air dalam dua meter saja, karena yang satu meter untuk aku pegang.

__ADS_1


__ADS_2