
“Apa yang kamu miliki itu luar biasa, tinggal bagaimana kamu mengolahnya saja, sekarang kita bisa lanjutkan ke dapur mas, kalau bisa kita segera tuntaskan sekarang, sebelum yang lebih mengerikan muncul” kata mbah Joyo
“Iya mbah” aku hanya menjawab singkat, aku sedang berpikir tentang apa yang ada di dalam tubuhku, tadi itu pertama kalianya aku bisa menggunakan apa yang diberIkan mbah putri, aku penasaran apakan kekuatan ini ada tingkatanya, dari kelas dasar hinga mahir hihihihi.
Pintu dorong yang menuju ke dapur sudah ada di depan kami, lantai yang berselimut debu kasar sudah dari tadi kami injak-injak, sehingga debu itu sudah berantakan.
“Ingat Ki peli dan mas Agus, jangan lupa terus berdoa dan memohon pertolongan dan petunjuk dari Sang Maha Pencipta, karena sebenarnya kekuatan kalian itu berasal dari Sang Maha Pencipta”
Suasana dapur seperti sebelumya kami kesini, panas, pengab dan berudara sedikit, kami tidak menunggu lama lagi untuk menuju ke arah kamar yang dulunya dipakai untuk tempat tinggal para karyawan hotel.
Pintu ruangan kamar yang rusak karena kutendang tadi yang merupakan tempat ndas glundung itu bersantai sudah ada didepan mata kami bertiga, kini saatnya untuk melakukan aksi kami.
“Silahkan mas Agus masuk terlebih dahulu mas, saya dan Ki peli akan bantu hingga kita mendapatkan kepala itu mas”
“Sik mbah, saya belum tau bagaimana skenarionya mbah, apa yang akan kita lakukan di dalam situ”
“Ambil kepala itu dan bawa pergi secepatnya, bungkus dengan kain sarung yang dibawah kipeli itu nak, dan kamu yang harus mengambilnya. Mbah dan Ki peli akan menghalangi tubuh tanpa kepala itu mendekati kamu mas”
Waduh kok ngeri gitu aku harus mengambil dan membungkus kepala busuk itu dengan menggunakan sarung yang dibawa Ki peli.
“Ingat mas, mulut kepala itu nanti akan berusaha menggigitmu, jangan sampai kamu terkena gigitanya mas, atau kamu akan kehilangan tanganmu karena membusuk”
Suasana yang gelap memang mengakibatkan kami tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada didepan kami, tidak seperti sebelumnya waktu aku dan Indah masuk ke sini, waktu itu aku kan membawa senter hpku sehingga aku bisa lihat apapun yang ada di sekitar sini.
Lha sekarang senter Hpku sedang dibawa Indah yang sedang bersama Glewo, mereka menjaga Blewah yang dalam keadaan koma.
“Seperti yang saya bilang tadi, gunakan mata batinmu untuk mlihat apa yang ada disini, bukan menggunakan panca indera penglihatanmu!”
“Satukan tubuhmu dengan yang ada di salam tubuhmu seperti tadi itu cepat”
__ADS_1
Aku masih bingung bagaimana cara untuk menyatukan diriku dengan pemberian mbahku, karena tadi waktu melakukan penyerangan terhadap induk semang keempat anak kecil itu kan tiba-tiba saja diriku bisa dikendalikan oleh sesuatu yang ada didalam tubuhku.
“Baik saya akan masuk ke dalam mbah” aku nekat masuk sebelum aku bisa menyatukan tubuhku dengan sesuatu yang ghaib didalam diriku.
Tapi ketika aku menapakan kakiku ke dalam ruangan yang benar-benar gelap gulita, tiba-tiba aku bisa merasakan kehadiran sesuatu di depanku, lambat laun aku bisa merasakan sesuatu itu sedang berdiri dipojokan ruangan.
Pelan-pelan aku bisa melihat seluruh ruangan ini, tetapi tidak menggunakan mataku, melainkan menggunakan batinku, dengan menututup mataku saja aku bisa melihat bentuk ruangan ini dengan baik.
“Ambil sarung yang diberikan Ki peli dibelakangmu mas, kemudian segera buntel kepala itu menggunakan sarung hingga mata dari kepala itu tidak bisa melihat apa-apa”
Ternyata mbah Joyo berkomunikasi denganku menggunakan mata batin juga, aku bisa mendengar dan bisa bercakap-cakap dengan mbah Joyo hanya menggunakan mata batin saja!
“Ingat , mata itu harus tertutup sarung hingga mata itu tidak bisa lihat apapun yang didepanya, setelah itu baru kita aman membawa pergi buntelan kepala perempuan Iblis itu”
Kembali lagi mbah Joyo berkomunikasi dengan ku menggunakan mata batin, dan ketika kutoleh kebelakang ternyata Ki peli sudah ada dibelakangku dengan membawa sarung. Aku ndak bisa berpikir, padahal tadi mbah Joyo dan Ki peli ada di luar ruangan ini.
Kuambil sarung yang dibawa Kipeli, sarung yang keliatanya sudah lama tidak pernah dicuci, karena bau sarung itu luar biasa penguk kalau orang jawa bilang.
“Jangan Kaget mas, yang kamu lihat terang itu adalah dari mata batinmu, bukan dari keadaan di dalam kamar ini yang terang benderang”
“Semakin kamu bisa mengolah tubuh dan menyelaraskan pemberian mbahmu itu dengan tubuhmu, dan ditambah dengan semakin kamu selalu ingat dan beribadah kepada Tuhan, maka kamu akan semakin bisa menyatukan apa yang ada di dalam tubuhmu”
Omongan mbah Joyo selalu terdengar di telingaku, seolah dia ada disebelahku, padahal dia ada diluar ruangan ini, dan aku hanya sendirian disini.
Ahaaaa, kepala itu ternyata ada di pojokan tempat tidur berbau busuk dengan yang warna spreinya sudah tidak karuan, kapala itu diam tak bergerak, tapi aku tidak lihat tubuh pemilik kepala itu, ku toleh kesana kemari, tetapi tubuh pemilik kepala itu tidak kutemukan.
“Tubuh itu tidak ada disana mas, mbah sudah lihat juga!, Di dalam kamar itu tidak terdapat tubuh pemilik kepala itu, sekarang segera ambil dan kita bawa ke rumah”
Kepala mengerikan itu ada di pojokan tempat tidur, dengan posisi yang menghadap ke tembok, jadi kepala itu membelakangi aku, terus terang aku takut juga lihat keadaan kepala tanpa tubuh yang selalu basah dengan cairan tubuh dan darah.
__ADS_1
Pelan-pelan aku mendekati tempat tidur yang baunya bukan main busuknya, mungkin bangkai tikus kalah busuk dengan bau tempat tidur ini.
Aku makin mendekati kepala mengerikan ini dan tanpa menunggu lama kuarahkan sarung yang diberi oleh Ki peli untuk menutupi ndas glundung itu.
Kepala aneh ini bergerak gerak liar ketika aku membungkusnya dengan sarung, hingga kemudian kuikat ujung sarung ini agar kepala itu tidak lepas.
“Bagus, ayo sekarang kita keluar dari sini. Peli, kamu bantu mas Agus untuk memegang kepala itu agar tidak lepas dari dalam sarungmu”
“Kemudian ayo kita pergi dari sini, sebelum tubuh pemilik kepala itu mendapat sinyal minta tolong dari kepala yang sedang kalian bawa itu”
Yang aku heran, kepala ini berat sekali, aku dan Ki peli sampai kesusahan membawa kepala yang mengerikan ini, tapi berkat adanya sarung ini paling tidak bisa membantu agar gerakan kapala mengerikan ini tidak terlalu membebani aku dan Ki peli.
Aku dan Kipeli membawa kepala dan berusaha menyeimbangkan pegangan ku agar Ndas mengerikan ini tidak keluar dari dalam sarung, sementara itu mbah Joyo sedang berjaga jaga agar tidak ada mahluk ghaib yang mengejar dan mengikuti kami.
Kami sekarang sudah berada di depan meja resepsionis ketika mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah tubuh tanpa kepala yang berlari dari dalam dapur menuju ke arah kami.
Keliatanya kepala ini berhasil memanggil tubuhnya untuk membebaskan dari dalam sarung bauk ini hihihihi. Aku bisa lihat dengan jelas tubuh tanpa kepala itu berjalan dengan cepat tanpa tertabrak apapun ke arah kami bertiga.
Tapi ternyata mbah Joyo lebih sigap, dengan ilmu yang dia miliki, dia berhasil membuat kepala itu terjengkang dan kemudian duduk di lantai yang berdebu aneh. Tubuh itu tidak bergerak sama sekali hingga kami berhasil keluar dari sini dengan selamat.
Kami terus berlari hingga keluar dari halaman hotel. Ketika kami bertiga sudah keluar dari hotel seketika kepala ini diam tidak bergerak sama sekali, yang ada malah kepala ini semakin berat.
“Tahan ya, memang berat, tahan hingga kita sampai ke rumah. Kepala ini sekarang sedang diam karena dia sudah berada diluar area alam hotel itu” kata mbah Joyo menjelaskan kepadaku dan Kipeli
Beberapa menit kemudian kami sampai dirumah mbah Joyo, keliatanya rumah mbah Joyo masih aman dari ganguan mahluk ghaib.
Assalamualaikum,..
Setelah mengucapkan salam , segera mbah Joyo masuk ke dalam rumah. Glewo, Indah dan empat anak kecil masih menunggui tubuh Blewah yang dalam keadaan tidak sadar diri.
__ADS_1
“Taruh kepala itu disana, disebelah teman kalian. Dan jangan dibuka sarungnya” kata mbah Joyo kepada aku dan Kipeli agar kami menaruh kepala ini di sebelah kepala Blewah
Keliatanya setelah ini mbah Joyo akan melakukan sebuah ritual untuk mengembalikan bagian dari Blewah yang sempat terhisap oleh ndas glundung itu.