
“Oh nggih mbak matur nuwun atas infonya” aku ndak usah tanya-tanya lagilah, malah bikin jantungan , semalem wis dibikin senam jantung, lha sekarang kok malah ada yang aneh lagi, jangan-jangan nanti ada yang makin aneh lagi
“Kenapa mukakmu kok pucat gitu Gel, koyok habis liat banci lagi colay ae Gel” tanya Glewo
“Gak popo Wo, aku kecapekan mungkin, wis ndang dihabiskan makanya, kita langsung cabut dari sini ae, nanti kita langsung ke Gemezzz ae rek soale ini wis sore banget”
Mobil Totok kembali menuju ke arah mjkt, sengaja aku duduk di kursi belakang agar aku bisa gunakan untuk tidur barang sejenak. Aku kaget karena tiba-tiba Glewo membangunkanku ketika sudah sampai di toko Gemezzz yang dalam keadaan gelap gulita.
“Lho Gel, kok tokone Tutup, apa Totok belum sampai kesini Gel?” tanya Glewo dari dalam kabin mobil
“Mboh Wo, kemarin dia cuma bilang aku disuruh bawa mobilnya ke mjkt , karena dia mau ke luar kota, lha tapi ya ndak tau lagi nek dia belum balik dari perjalananya rek”
“Coba kamu telpon Gel , kita harus gimana dengan toko yang sedang tutup ini, apakah kita pulang atau menunggu dia sampai datang?” kata Bleawah
Aku coba untuk menghubungi totok via telepon. Tetapi telpon seluler dia mati, beberapa kali aku terus coba hubungi Totok, tetapi sama saja telepon dia tidak aktif.
Atau lebih baik kita tunggu saja disini aja ya, siapa tau setelah ini dia datang, kan ndak enak kalau juragane teko tapi anak buahe malah ngeluyur pakek mobil juragane”
“Gimana Gel, apa kita tunggu saja sampai Totok datang?” tanya Blewah
“Lebih baik kita tunggu saja Wah sembari aku telepon terus dia, kalau sampai jam 19.00 an dia belum juga datang kita cari dia ke pct saja, ke hotel yang aku omongkan tadi itu”
“Yo wis setuju Gel, sekalian cari dia disana, siapa tau dia ada dihotel itu nunggu kamu jemput ehehe”
“Aneh kenapa para pelanggan yang bisasanya berduyun duyun kesini sekarang kok tidak ada yang datang sama sekali ya rek, apakah mereka ada yang mentelepati mereka agar tidak datang karna toko gemzzz sedang tutup ya rek?”
“Iyo Gel, bisasane kan meskipun tokone tutup tetapi palanggan yang gila gilaan itu tetep ae antri di depan pintu toko, tapi sekarang sepiiiiiii, malah koyok toko yang lama tidak pernah buka ae rasane” jawab Blewah
Sudah hampir satu jam kami menunggu di depan ruko tetapi tidak ada penampakan Totok sama sekali, bahkan aku yang beberapa kali coba telpon dia juga sama saja, hpnya tidak aktif. Atau mungkin dia kehabisan daya baterai, maklum kan seharian dia pergi.
“Ayo rek kita ke pct, lihat di hotel di sana dan mungkin juga Totok ada disana. Sekalian kita lihat kondisi hotel itu ,kemarin aku dewekan disana ngeri rek, tapi nek bareng-bareng gini kan enak hehehe”
Akhirnya pukul 20.25 mobil meluncur ke daerah pct, aku putuskan untuk mlihat sekali lagi yang ada di hotel aneh itu, siapa tau Totok juga ada disana, jadi sekalian bisa kami jemput dan kita bawa ke Mjkt.
__ADS_1
Satu jam sudah mobil meluncur ke kawasan pct dengan driver Glewo yang ngawur, Glewo itu kalau bawa mobil selalu ndak bisa lihat selah kapan dia harus nyalip, atau kapan dia harus ngebut atau kapan harus pelan, pokoke sak karepe kakinya nginjak pedal gas.
Pukul 21.57 kami sudah sampai dipct, daerah ini seperti kemarin, tidak terlalu ramai, akhirnya kuputkan untuk mampir ke warkop mbah Joyo saja dulu, baru kemudian kita ke hotel Waji.
“Wo mampir nang warkop dulu aja, kita ngopi dulu Wo, sekalian tanya-tanya info seputar hotel itu ke pemilik warungnya”
Tidak sulit untuk mencari wrkop mbah Joyo, karena disini warkop pinggir jalan yang paling besar adalah warkop mbah Joyo , biasanya pengendara motor degnan tujuan prgn kadang mampir ke warkop ini dulu untuk sekedar istirahat sejenak.
“Itu ya Gel warkope” tunjuk Glewo yang ada di balik kemudi mobil
“Iyo iku Wo, parkiren agak jauh dari warkop ae Wo, lewati hotel dulu aja, biar nek seumpama rombongan Totok datang ndak kaget nek ada mobile disini, parkiren di bawah pohon asem sana ae Wo” tunjuku di seberang warkop melewati hotel yang agak jauh dari warkop
“Nanti kita agak lama ae di warkop sambil liat situasi disini, nek sekirane aman dan sepi-sepi aja baru kita masuk ke sana rek”
Kami berjalan agak jauh dari kami perkirkan mobil ke ke warkop mbah Joyo, tapi itu memang trik ku agar kalau ada apa apa dengan kami, kami bisa lari dengan cepat ke arah mobil yang kami parkir melewati hotel.
Warung mbah Joyo saat ini tidak terlalu ramai pengunjung, malah bisa dikatakan hanya kami pembelinya, mungkin karena ini bukan malam minggu dan mungkin juga para pedagang pasar yang biasanya mampir ke sini belum pada datang.
“Mbah Joyo kami pesen kopi hitam tiga ya mbah” kataku sambil mendatangi tempat menaruh aneka gorengan dan bungkusan yang beraneka ragam
“kopi hitam tiga pakek gula atau kopi pahit mas?” tanya mbah Joyo yang sedang mengangkat ceret berisi air mendidih dari kompor yang ada disampingnya
“Pakek Gula tapi satu sendok kecil saja mbah agar tidak terlalu manis” jawab Glewo yang sedang duduk melihat jalan raya yang sepi.
“Ini kalian pada mau kemana kok bertiga jalan kaki dasri arah hutan mas” tanya mbah Joyo ramah
“Ndak kemana mana mbah, cuma penasaran sama hotel itu, saya mau ke sana lagi , mau lihat apa yang mbah Joyo kemarin katakan kepada saya mbah” jawabku dengan setengah berbisik
“Maksudnya bagaimana mas, apa saya ada ngomong sesuatu sama mas ini?” tanya mbah Joyo sengan wajah kebingungan
“Lho kan kemarin saya kesini mbah, malah saya sempat habis empat gela kopi susu yang nikmat itu lho mbah” jawabku dengan yakin dan pasti
“Eh masnya itu ke warkop mana, saya kemarin ndak jualan mas, warung tutup setelah maghrib karena saya kurang enak badan, mungkin masuk angin, saya saja baru lihat masnya ini sekarang kok mas heheheh”
__ADS_1
“Lho jadi mbah Joyo kemarin tidak jualan? Dan warung ini tutup setelah maghrib?” tanyaku penuh keraguan “Lha ini saya tau nama njenengan mbah Joyo, karena kemarin kan saya sempat kenalan sama mbah”
Aku masih belum percaya dengan yang barusan aku dengar, lha kemarin itu aku ngobrol tentang hotel waji bersama siapa lho kalau mbah Joyo ternyata kemarin tidak jualan, tapi masa bodohlah,aku coba tanya-tanya lagi tentang hotel itu.
“Mbah Joyo tau hoel Waji yang di seberang itu mbah” tanyaku
“Oh hotel kosong itukah mas, taulah mas, mbah kan sudah jualan disini semenjak hotel itu dimiliki oleh orang dari ibu kota, disana awalnya adalah tempat peristirahaan keluara mereka, tetapi kemudian lama sekali kosong karena kabarnya pemiliknya sekeluarga mati disana, tetapi anehnya mayatnya tidak pernah ditemukan mas”
“Tapi mulai sekitar setahun kemudian hotel itu ada yang menempati, mungkin pemiliknya. Tapi mereka jarang datang, kadang mereka datang sendirian dan kadang berdua atau bertiga. Hanya saja sama sekali tidak ada tamu penyewa kamar hotel itu mas”
“Jadi hotel iti kosong mbah, dan ndak ada yang pernah sewa lagi disana, apakah berhantu mbah?” tanyaku penasaran
“Mbah tidak tau mas, pokoknya disana tidak ada yang mau menyewa, yang mbah dengar sih hotel kosong itu berhantu mas, jadi yah begitulah mas”
“Kalian tadi bilang mau ke hotel sana? Mau ngapain mas disana, kan kosong, kalian penasaran dengan apanya mas, kok hotel seperti itu dibuat penasaran sih mas hihihi. Saya saja kalau ambil air bersih di depan hotel itu rasanya gimanaaa gitu mas”
“Iya mbah, tapi seandainya kalau mau kesana itu masuknya lewat gerbang yang terbuka itu ya mbah?” aku pura pura tanya saja, biar dia tidak curiga kepadaku
“Iya mas, masuk saja ke sana mas, wong hotel itu tidak pernah ada penghuninya kok, yang punya pun tidak pernah ada disana, tapi hati-hati mas, jangan sampai melamun kalau disana, bisa bisa kalian kesurupan lho, apalagi malam-malam gini mas”
“Opoko Gel, ada masalah ta? Kok wajahmu ngono c*k?” tanya Glewo ketika aku kembali duduk dikursi panjang bersama kedua temanku
“Wis ntik ae tak critani, nanti ae pas pulang kita ngrobrol, sekarang fokus ke hotel itu sik rek, karena mungkn ada beberapa hal yang aneh disana rek”
Setelah membayar sejumlah uang atas kopi hitam yang kami minum, selanjutnya kami bertiga berjalan kaki menuju ke hotel yang katanya selalu kosong itu, padahal kemarin kan ada penjaganya, penjaga yang aneh dan berkepala botak.
Aku masih belum paham siapa Mbah Joyo yang kemarin kutemui itu, kenapa berbeda dengan yang sekarang. Dan yang bikin kaget, ternyata mbah Joyo kemarin itu tidak jualan karena sakit, lalu mbah joyo siapa yang kemarin menjualiku sampai empat gelas kopi susu?
Teka teki tentang Indah dan lagu kami semakin kesini semakin banyak yang terlibat, dari pemilik depot yang ternyata sudah meninggal, kemudian mbah Joyo yang menunjukan tempat aneh dibelakang hotel, kemudian mbah Kara yang aneh itu, ada lagi Baldy dll.
Apakah semua orang orang ini ada hubunganya dengan indah dan lagu kami? Sebenarnya semua itu berawal dari hal sederhana saja kan, hanya mencari jasad Indah dan mencari sesuatu yang membuat lagu kami menjadi mengerikan. Hanya itu saja, tetapi tenyata tidak semudah itu, semakin kesini semakin banyak yang kutemui.
Gerbang hotel Waji sudah ada di depan kami, dan benar saja kata mbah Joyo, ternyata hotel ini gelap gulita dan kosong, tidak seperti kemarin waktu aku kesini bersama Totok, kemarin masih ada beberapa penerangan meskipun kurang sekali. Tetapi sekarang sama sekali tidak ada penerangan.
__ADS_1