
“Sabar-sabar ojok lari dulu rek, aku punya iki rek” kata Blewah sambil mengeluarkan taring patah dari saku celananya.
“Juangkreeeek!, ngawur ae Blewah iki!, ayo lari Wah, gak ada gunanya itu disini” teriak Glewo kemudian mendorong Blewah agar segera lari dari kawasan ini
Hawa disini semakin panas, semakin gerah, dan membuat mual, rasanya mirip kayak masuk angin tapi di dalam ruangan yang pengab, panas dan ber udara tipis.
Aku menarik lengan Indah untuk segera lari dari sini, aku anggap situasi sudah tidak kondusif sama sekali, kulihat juga Glewo yang juga berusaha mengajak Blewah segera pergi dari sini dengan menarik lengan tangan Blewah.
“Nek kamu ndak mau pergi dari sini tak tinggal kamu Wah, tak biarkan kamu ada disini!” teriak Glewo sambil melepaskan tangannya dari lengan Blewah
Blewah tetap tidak bergeming dengan ajakan kami untuk segera pergi dari sini, akibatnya Blewah kami tinggal untuk mencari bantuan kepada Ki peli.
Aku berusaha lari bersama indah, Glewo ada dibelakangku, Blewah ndak tau dia dimana, pokoknya aku lari dengan senter Hp tetap menyorot kedepan.
Akhirnya pintu gerbang hotel sudah terlihat di depan kami, kupercepat lariku yang disusul oleh Indah dan Glewo hingga akhirnya kami sudah ada diluar kawasan hotel.
“Wo, kamu cepat ke warkop mbah Joyo, minta tolong sana Ki peli, aku dan Indah mau masuk ke dalam lagi pelan pelan”
Glewo melanjutkan larinya menuju ke warung mbah Joyo untuk menemui Ki Peli , sedangkan aku dan Indah akan masuk ke dalam hotel lagi. Kenapa aku kok mau kembali ke dalam hotel lagi, apa alasanya?
Aku merasa bahwa hawa panas hanya ada di kamar nomor 4+ saja , selebihnya tidak terasa hawa panas ataupun hal aneh-aneh lainnya.
Jadi kesimpulanku mungkin sekarang yang ngeri-ngeri sedang berkumpul di depan kamar nomor 4+ untuk menghajar Blewah.
“Ayo kita kesana mas, menurut Indah beberapa yang kuat sedang ada di depan kamar nomor 4+, kita coba selamatkan mas Blewah dari sana mas”
“Kamu yakin kita bisa Ndah?” aku merasa bahwa aku hanya bisa melihat mahluk halus saja, aku merasa belum bisa melawan mereka.
“Mas ndak yakin dengan pemberian mbah Putri, mbah putri memberikan mas Agus yang terbaik, bukan cuman digunakan untuk melihat yang ghaib saja mas, tetapi juga untuk melawan mereka”
Aku ndak tau apa maksud Indah, tetapi mungkin ada benarnya juga, mbahku sudah kasih aku sesuatu di dalam tubuhku dan harus kupergunakan dengan sebaik baiknya disana.
Aku dan Indah kembali memasuki pintu gerbang hotel yang tidak pernah ditutup, suasana aneh kembali terjadi, aku merasakan hawa dingin di sekitar tengkukku, dan rasa mual di perutku kembali muncul.
__ADS_1
Ketika kulihat ke belakang, Glewo bersama dangan ki Peli berlari menuju ke arah hotel ini, sementara itu aku dan Indah sekarang sudah sampai di depan pohon mangga yang sedang berbuah lebat.
Aku terus masuk ke celah tembok yang memisahkan antara bangunan utama dengan motel atau bungalow yang ada disebelahnya. Keadaan disini mulai terasa hangat, berbeda dengan di depan tadi.
Aku dan Indah lari hingga di depan kamar 3+, di depanku Blewah sedang dalam keadaan kejet kejet, eh kejang kejang sambil melayang.
Bener-bener sebuah aksi yang mengerikan, tetapi aku belum berani menyipitkan mataku untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan Blewah, tetapi aku bisa merasakan adanya kekuatan yang sedang menarik Blewah.
“Mas, ini saatnya mas Agus mempraktekan apa yang mbah putri berikan kepada mas Agus, sekarang juga mas Agus masuk ke sana dan tarik mas Blewah dari sana mas” Indah berkata dengan yakin dan penuh ketulusan
“Pokoknnya jangan ragu dan percaya saja dengan kekuatan yang ada pada diri mas Agus!” kata Indah dengan sedikit memaksa
Kusipitkan mataku, ternyata di depanku Blewah sedang ditarik oleh empat mahluk aneh yang berwujud anak kecil dengan gigi taring panjang yang keluar dari mulutnya.
Hehehe, ternyata empat anak kecil aneh itu sedang memegangi kedua tangan Blewah dan kedua kaki Blewah, kemudian mereka menariknya. Sehingga Blewah telihat seperti sedang kejet-kejet, kejang-kejang sambil melayang.
Blewah tidak berteriak sama sakali karena dia sekarang dalam keadaan pingsan. Kalau tidak segera ditolong maka Blewah akan mati dengan keadaan tangan dan kaki yang terlepas dari tubuhnya.
“Ndah pegang senter Hpku ini dan kamu tunggu disini” kataku sambil menyerahkan hpku yang masih menyala lampu senternya.
Blewah jatuh di depan halaman depan kamar 4+ setelah keempat anak gila itu melepaskan Blewah. Keempat anak kecil itu sekarang ganti mengerumuniku, mereka memamerkan gigi taringnya masing masing.
Tapi ada yang aneh, ada salah satu dari anak buas itu hanya mempunyai tiga buah gigi taring!, gigi taring yang sebelah kiri bawah putus tepat di tengah.
“Bawa keluar Blewah rek, biar aku tangani mereka ini” teriakku pada Glewo dan Ki Peli yang sudah ada di sini
Indah tidak iku membawa keluar Blewah , dia masih setia menungguiku disini ketika keempat bocil bertaring dan ganas ini mulai mendekatiku dan mulai membuka lebar mulutnya untuk menggadoku, eh menggigitku.
Ketika keempatnya mulai menyentuh kulitku, tiba-tiba keempatnya kesakitan dan berlarian menyebar menjauhiku. Keempat bocah thaek itu hilang bagai ditelan bumi, sekarang aku yang bingung apa yang barusan aku lakukan sehingga bocil ngerik itu berlarian dari sini.
“Ayo mas kita keluar dari sini sekarang mas, mereka sudah pada pergi mas” teriak Indah sambil menarik lenganku
Aku sedikit berlari menuju ke luar bersama Indah, sepanjang kami keluar ini tidak ada satupun mahluk yang berusaha menganggu kami, pun tante tante sosialita berdaster putih yang suka nongkrong di atas dahan pohon sambil cekikikan. Mereka semua diam dan hanya melihat kami saja.
__ADS_1
Blewah masih dalam keadaan pingsan ketika kami sudah ada di depan pintu gerbang hotel Waji yang bener bener membuat otakku berhenti untuk berpikir.
“Taruh situ ae mas, biarkan dia terlentang dulu saja, biarkan dia menghirup udara pegunungan yang segar dulu, karena tadi waktu didalam itu keempat demit itu membuntu udara d sekitar teman kalian ini berada, sehingga dia pingsan akibat kekurangan oksigen“ kata mas ki Peli
“Untungnya kalian berdua cepat datang dan menarik mas ini hingga dia bisa bernafas lagi mas” kata Zul kipli kepadaku
“Baru kali ini saya lihat mereka itu mas, biasanya hanya yang ada di pohon-pohon saja yang selalu menyerang orang yang nekat masuk ke dalam situ” lanjut ki peli
“Lha tadi mas Ki Peli kok bisa tahu kalau keempat anak itu menutupi jalur udara teman kami ini mas” tanya Glewo
“Sederhana saja , udara disana makin panas, kalian makin gerah, sulit bernafas dan panik! Itu ciri ciri mahluk ghaib berusaha menutup udara yang ada disekitar kita mas”
Pukul 24.10 Nanta atau Blewah siuman, lama juga dia pingsan, koyoke tadi dia sedang menikmati pingsannya.
“Aku gimana rek?” satu kalimat yang aneh dari Blewah
“Kamu gak gimana-gimana, kamu wis aman Wah, gak jadi mati” kata Glewo
"Atau kamu mau tanya 'aku dimana' gitu Wah? "
“Lho sing arep mati sopo Wo, wong aku lho mainan sama anak anak lucu c*k” kata Blewah mulai ngelantur
“Oh yo wis Wah, yok sekarang kita ngopi yok ke warung mbah Joyo” ajaku, mungkin dengan ngopi dan makan maka otak Blewah akan pulih
“Sik rek, gigik taringku mana rek, itu senjataku biar anak anak iku takut sama aku c*k” Blewah berdiri sambil mencari gigi taring kecil yang tadi sempat dipamerkan ke kami sebelum dia dijadikan arena tarik-tarikan
“Ya mbuh Wah, tadi kan mbok pegang se, lha sekarang ilang yo ndak tau lagi rek” jawab Glewo
“Ayo Wo kita ke warkop , biarin ae blewah itu cariin barang anehnya dewe” ajaku pada Glewo yang masih waras dari pada Blewah yang sudah ndak karuan itu
Kami bertiga berjalan, kami menyeberang jalan, karena letak warkop itu sebelum hotel Waji kalau dari arah mjkt. Kami tinggalkan Blewah yang masih mencari barang anehnya.
“Mas Blewah mulai aneh lho ya mas, jangan ditinggal mas, harus selalu didampingi mas, Indah takut kalau mas Blewah tiba-tiba masuk lagi ke dalam hotel lagi”
__ADS_1
Aku menoleh ke arah belakang, dan betul kata Indah. Blewah sudah tidak di tempat tadi dia pingsan.