
“Ten.. kamu kan gak punya pakaian… ambil disana pakaian yang kamu maui.. Tapi tidak ada ****** ***** sama penutup dadamu”
“Tapi tenang aja Ten… aku nggak doyan sama empal brewokmu, apalagi sama gunung kembarmu yang ukurane aneh itu ”
“Halah gak doyan apane Man… tadi kenapa kamu bisa chruuut di mulutku kalau gak doyan hehehe”
“Itu kan gak sengaja.. Lagian bibir kamu itu rasane koyok pacarku jaman dulu yang namanya Warjo!.. Rasa bibirmu persis rasanya Warjo Ten”
“Pakek aja yang ada dulu Ten..nanti malam kita ke pasar, belikan pakaian dalam buat kamu… gini-gini aku makin sayang sama kamu Ten hehehe”
“Aku mau mandi dulu Ten… sama mikir apa yang harus aku lakukan setelah ini…mumet kepalaku mikirno kamu”
“Ya sama mandi Man, saya mau bersih bersih rumah dulu…”
Pagi harusnya aku ke desa sebelah untuk membersihkan rumah Ginten, tapi bagaimana caranya ke sana, masak harus jalan kaki.
Lagi pula apa kata tetangga kalau lihat aku sedang bersama Ginten yang nggak jelek jelek amat gitu. Aku disini sudah dianggap penduduk disini baik.
Pokoknya penduduk disini selalu menganggapku orang baik, karena aku tidak pernah aneh-aneh, lha sekarang tiba-tiba ada Ginten.. Bagaimana menjelaskan kepada penduduk disini tentang adanya Ginten ini.
Pagi ini hawa di sekitar desa ini dingin sekali, apakah ini karena sesuatu yang Mbok Painah katakan kemarin?
Padahal matahari sudah mulai bersinar dengan ganasnya.
Kamar mandi rumah ini letaknya ada di samping belakang, tapi sebelum mandi kita harus ambil air dari sumur dulu…. Nanti aku akan ambilkan air untuk Ginten, agar dia tidak kesulitan mandinya.
Eh … kok aku tiba-tiba bisa perhatian dengan Ginten sih..!
Kuselesaikan mandi dengan cepat, agar Ginten bisa bergantian dengan Ginten…
Ketika aku sedang mengeringkan tubuh dengan handuk…tiba-tiba samar aku dengar ada orang yang sedang ngobrol di dalam rumah.
Suara perempuan yang sedang bicara…berarti di dalam rumah ini ada dua perempuan yang sedang ngobrol…
Siapa dua perempuan itu!... di ruang tamu kan cuma ada Ginten saja, lalu siapa yang satunya itu”
*****
“Lho ada bu Peno…”aku jelas kaget, ada istri dari pak Peno yang sedang ngobrol bersama Ginten di ruang tamu
“Hehehe iya mas Totok.. Ini saya sedang melihat lihat pakaian yang akan dijual mbak Ginten”
Heran?... jelas aku heran, bagaimana bisa Ginten memasukan tetangga sebelah hingga mereka berdua ngobrol dengan hangatnya.
“Eh iya bu Peno… eh cari pakaian apa to Bu Peno?”
“Nggak mas… saya cuma mau lihat-lihat saja kok .. sebagian besar pakaian ini masih bagus dan kelihatan bermerk juga ya mas Tok”
“Eh iya bu… eh kalau ada yang cocok.. Monggo bu peno bisa ambil saja hehehe, gratis bu.. Wong saya juga dapatnya gratis kok bu”
“Hush jangan bilang gitu… pakaian bekas layak pakai ini jangan diberikan secara gratis…. Dijual saja buat biaya hidup kalian berdua”
“Mbak Ginten… saya pamit pulang dulu ya… saya soalnya belum masak untuk suami saya”
“Monggo mas Tok…. mas Tok ini harusnya seneng ada mbak Ginten yang rajin.. Hehehe”
Ginten mengantar bu Peno pulang.
Aneh.. kenapa bisa begini…
Kenapa bisa ada bu Peno yang terus terang bukan ibu-ibu yang ramah, dan sulit untuk diajak ngobrol baik baik itu.
Bagaimana bisa Ginten mengajak masuk ke rumah dan ngobrol bersama bu Peno.
“Tok… hehehe gimana.. Itu bu Peno ternyata baik sama kita kan”
“Lha kamu tadi gimana…kok bisa baik sama bu Peno?”
“Biasa aja tadi Tok…”
“Tadi saya lagi nyapu di depan…, kemudian datang lah itu bu Peno, kelihatannya dia habis dari pasar gitu, karena bawa belanjaan banyak”
“Karena dia tetangga sebelah..ya saya sapa selamat pagi gitu aja Tok”
“Dia senyum dan jawab selamat pagi juga. Kemudian dia masuk ke rumahnya, tidak lama kemudian dia keluar lagi dari dalam rumah”
“Dia menghampiri saya.. Sambil senyum dia tanya siapa saya dan berasal dari mana”
“Ya saya bilang aja kalau saya ini istri kamu yang berasal dari desa”
__ADS_1
“Lho lak ngawur kamu Ten… penduduk disini itu ndak tau aku berasal dari mana, karena aku disini ngakunya hilang ingatan setelah keluar dari hutan disana itu. Kok sekarang kamu ngakunya malah sebagai istriku yang ada di desa”
“Halah wis terlanjur Tok.. lagipula bu Peno nggak masalah kan Tok, kamu aja yang bingung sendiri dengan berbagai alasanmu saja”
“Asssst mbuh lah Ten..pokoknya kita harus segera pergi dari rumah ini dn tinggal di desa sebelah… tinggal di rumahmu yang gak karuan itu”
“Oh iya… tadi bu Peno mau minjemin kita sepeda yang agak besar Tok, agar bisa digunakan untuk boncengan ketika kita mau jualan di pasar”
“Waduuuuh tambah jeru iki Ten… mbuhlah”
“Kamu mandi sana cepat… kita pagi ini ke desa sebelah jalan kaki lebih pagi saja agar tidak ketahuan si Marwoto”
Ketika Ginten sedang mandi, aku gunakan waktu untuk membersihkan dan menyiapkan pakaian yang akan aku jual nanti malam.
Rencanaku hari ini… pagi ini aku dan Ginten bersih-bersih rumah yang ada di desa sebelah, sore hari sampai malam aku jualan pakaian.
Malam harinya kami ke desa sebelah lagi untuk coba tidur disana.
Tapi yang jadi masalah adalah kendaraan, aku cuma punya satu sepeda yang hanya bisa digunakan untuk membawa pakaian dalam karung yang akan aku jual ke kota.
Boncengan sepeda itu jelas tidak bisa digunakan untuk membonceng Ginten,karena sepeda ini tidak besar, orang sini menyebutnya sepeda gunung.
Sepeda gunung yang sangat tidak praktis sama sekali, beda dengan jaman dulu… ada sepeda kebo yang bisa digunakan boncengan dan membawa rumput untuk pakan ternak!
Ketika aku sedang beres-beres pakaian…
“Mas Totok….” tiba-tiba ada orang yang memanggilku dari luar..
“Oh pak Peno… ada yang bisa saya bantu pak?” aku segera keluar rumah setelah tau yang memanggilku adalah pak Peno tetangga sebelah rumah
Waduuuh pasti ini urusan tentang Ginten… bisa saja bu Peno tadi lapor ke suaminya bahwa ada perempuan gila yang sedang ada di rumah ini.
Apa yang harus aku katakan kalau pak Peno tanya tentang keberadaan Ginten disini.
Ya sudahlah.. Hadapi saja apa yang akan terjadi, kalau memang diusir ya sudah.. Aku dan Ginten bisa tinggal di rumah Ginten saja.
“Mas Totok… istri saya bilang kalau ada istri mas Totok disini ya”
“I..iya pak.. Gimana pak, ada yang bisa saya bantu”
“Nggak ada mas Tok, ini saya cuma mau kasih tau saja… eehmm sepeda yang sekarang mas Totok pakai itu kan kecil. Tidak bisa digunakan untuk boncengan, apalagi bawa karung yang berisi pakaian untuk berjualan di pasar”
“Ginten pak…”
“Ya itu.. Mbak Ginten”
“Tapi lebih baik mas Totok lihat dulu kondisi sepedanya, sudah berkarat sih… tetapi masih bisa digunakan dengan baik kok mas”
“Ayo ke rumah saya untuk melihat sepeda saya mas”
“I..iya pak… terima kasih banyak sudah banyak membantu saya pak”
“Tidak papa mas Tok… saya suka dengan orang yang ulet dari pada orang yang berpangku tangan menunggu pemberian orang lain”
Wuih… bagaimana bisa pak Peno sebaik ini meminjamkan sepeda kebo… meskipun katanya keadaanya rusak, paling tidak masih bisa diperbaiki sana sininya kan lumayan.
“Saya tidak mengira mas Totok punya istri di desa. Lalu bagaimana kok bisa istrinya mas Totok ada disini secepat ini?” pertanyaan pak Peno ini sungguh sulit untuk dijawab
“Keajaiban pak… kalau bapak percaya keajaiban..yah itulah yang terjadi” aku tidak punya jawaban lain di otakku, yang ada di otakku hanya kata-kata keajaiban saja
“Saya ada disini juga karena keajaiban, saya tidak tau saya berasal dari mana awalnya… tetapi akhirnya mas Ilham dan teman-teman mahasiswa berhasil menemukan dimana saya berasal”
“Bagaimana mereka bisa menemukan desa mas Totok?”
“Itu yang saya tidak tau pak… tapi kata Ginten, dia didatangi anak-anak muda yang berasal dari kota, dan mereka bilang kalau saya ada di sebuah desa”
“Kemudian Ginten nekat mencari saya, dan malam hari kemarin saya punya firasat bahwa istri saya ada di sekitar desa ini,... ternyata betul pak”
“Malam hari kemarin saya tidak bisa tidur sama sekali.. Kemudian saya iseng jalan-jalan.. Sempat ketemu sama orang-orang yang sedang ronda juga”
“Ketika saya ada dekat kuburan, ternyata istri saya ada di depan pintu kuburan”
“Awalnya saya takut, tapi saya tidak mau merepotkan penduduk sini, saya tidak mau bikin heboh disini malam malam gitu.. Ketika saya dekati, ternyata dia istri saya”
“Orang-orang yang ronda apa tidak tau kalau dekat kuburan itu ada perempuan yang ternyata istrinya mas Totok”
“Saya tidak tau pak, karena mungkin saja mereka tidak melihatnya”
“Masalahnya itu kami di desa belum memiliki yang namanya KTP, yang ada hanya surat tanda lahir saja pak,m dan itupun saya tidak tau dimana keberadaanya”
__ADS_1
“Sebenarnya saya malu ada istri saya kesini pak, nanti dipikir tetangga disini saya bawa perempuan nakal masuk rumah”
“Hahaha saya tau modelnya perempuan nakal mas.. Saya bisa bedakan mana perempuan nakal dan bukan, dan mbak Ginten itu perempuan baik-baik..”
“Lagipula maaf ya mas.. Maaf.. mas Totok kan tidak ada dana untuk membayar perempuan nakal, jadi pikiran saya ya mbak Ginten itu bukan perempuan nakal”
Fiuuuuhh akhirnya aku lolos juga membuat cerita yang tidak masuk akal. Tapi anehnya bagi pak Peno ceritaku itu masuk akal, dan dia percaya juga dengan ceritaku itu.
Pak Peno membuka pintu belakang rumahnya yang merupakan pintu menuju ke dapur.
Dapur penduduk desa disini ini besar-besar, karena di dapur itu juga termasuk kamar mandi dan sebagai gudang kering juga.
Gudang kering maksudnya adalah gudang untuk menyimpan alat-alat rumah tangga yang masih bisa dipakai dan belum bisa dikatakan rongsokan
“Itu mas sepedanya.. Sepeda itu milik bapak saya, tapi setelah beliau meninggal, saya agak malas untuk merawatnya”
“Karena yah, karena modelnya itu yang saya kurang suka… kalau mas Totok mau perbaiki, ya monggo”
“Yah mas Totok kan tau apabila barang orang yang meninggal lebih baik digunakan dengan baik untuk orang yang membutuhkan, jadi daripada mangkrak, lebih baik mas Totok perbaiki saja”
“Nanti mas Totok bisa gunakan untuk bepergian dengan istrinya”
“Coba bawa keluar dulu sepeda ini mas, tolong dilihat apa yang rusak, nanti untuk yang rusak akan saya belikan, mas Totok hanya memperbaiki hingga mulus saja mas”
“Wah terima kasih banyak pak… kalau dilihat, ini ada beberapa bagian yang harus diganti, yang paling utama adalah ban luar dan ban dalam”
“Untuk yang lainya masih bisa diperbaiki, termasuk rantai akan saya cuci dulu pak”
“Jadi yang harus saya beli ini apa mas?”
“Cuma ban dalam dan ban luar saja pak, yang lainya akan saya perbaiki dan saya minyaki saja pak”
“Jangan hanya diperbaiki mas, tolong dilihat lagi bagian mana yang tidak layak untuk dipakai, jadi saya ke kota sekalian beli, tidak bolak balik mas”
“Ya sudah pak, eh akan saya tulis saja apa saja yang memang sudah tidak layak pakai”
*****
Pagi hari menjelang siang, setelah dari rumah pak Peno untuk memeriksa sepeda dia yang katanya rusak.. Aku dan Ginten berjalan kaki menuju ke desa sebelah.
“Sepedanya kapan jadinya Tok?”
“Lha siang ini kan pak Peno masih mau ke kota untuk beli beberapa bagian sepeda yang rusak Ten”
“Nanti malam kita jualannya gimana Tok?”
“Karung naikan ke sepeda, kita jalan kaki saja ke pasar”
“Ealah Tok, tau gini lebih enak jadi hantu saja Tok.. gak capek capek jalan”
“Kalau kamu jadi hantu, kamu gak akan bisa hisap terongku Ten hihihihi”
“Iya sih… bener juga apa katamu Tok”
“Lebih baik kita susah-sudah duku saja Ten… saya kain nanti juga kita bisa berhasil setelah ini”
“Berhasil sih berhasil, tapi jangan lupa tujuan ke sini itu apa, kasian itu mbok Painah”
“Iyoooo aku kan gak akan lupa tujuan kita kesini Ten”
Setelah berjalan kaki yang cukup melelahkan akhirnya kami berdua sudah melewati gapura desa yang sangat indah dan besar.
Berbeda dengan gapura desa tempatku tinggal.
“Kalau di desa seperti ini gapura itu adalah simbol dari kemakmuran desa Tok”
“Semakin besar dan indah gapura desa itu,m menunjukkan penduduk desa itu tingkat kemakmurannya tinggi”
“Jadi kalau kamu mau merantau ke desa-desa, lihat dulu gapuranya. Kalau jelek jangan kamu masuki Tok hehehe”
“Gak usah ngawur Ten… kamu sendiri nggak merasa kalau gapuramu jelek dan bau”
“Gapura apa Tok.. aku kan tidak punya desa”
“Gapura yang ada diantara kakimu itu lho.. Udah jelek berbulu.. Bau lagi hahahaha”
“Ngawur ae… dari pada kaum Humukayak kamu Tok.. gapuranya di syilit.., tempat lubang tai keluar…”
“Gitu kok kaum Humu suka, malah dijilati lagi hiiiiii!”
__ADS_1
“Sudah tau itu lubang tempat tai keluar kok malah disukai.. Dijilati juga hiiii dasar kaum humu laknat dan bodoh!”