INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 54, PERINGATAN DARI PEMILIK DEPOT MAKAN


__ADS_3

Kuhentikan dulu laju mobil untuk melihat bayangan dokar yang sebentar lagi akan melewati mobil,  bayangan dokar yang makin lama makin jelas ini nampaknya memang sengaja di perlihatkan kepadaku.


Aneh ada bayangan dokar yang melintas di sebelah mobil Totok, dan didalam dokar itu jelas aku bisa lihat ada dua temanku Tifano dan Ukik yang kemarin datang kerumah. Mereka berdua anggota Sutopo yang berencana menyewa vila di kawasan prgn.


Bayangan dokar itu melewati mobil yang kami tumpangi tetapi penumpang dokar itu sama sekali tidak menoleh ke arah kami. Mereka serius melihat ke depan.


Tapi kenapa didalam dokar itu ada Tifano, Ukik , dan kalau ndak salah ada anak Jakarta yang bernama Ali al mahfud, sedangkan yang tiga orang penumpang lainya aku tidak kenal.


Dan anehnya pakaian yang dikenakan ketiga temanku itu bukan pakaian yang biasa mereka kenakan, pakaian yang mereka pakai saat itu malah bernuansa jaman dulu, pakaian yang dikenakan orang pribumi di pedesaan pada


waktu sepelas penjajahan.


Padahal mereka Ukik dan Tifano belum pernah ke daerah ini , kemarin saja kita mau survey lokasi vila saja malah terjadi beberapa kejadian mengerikan gitu, lha tapi kenapa bayangan yang aku lihat itu seolah mereka sudah lama ada disini?


Kenapa aku bisa mengira mereka sudah lama ada disini , karena aku lihat dari pakaian yang mereka kenakan, lagi pula bayangan itu menuju ke atas, dan diatas jelas tidak ada apa apa kecuali vila putih itu. Lalu apakah mereka semua itu akan ke vila putih?


Apa yang sedang terjadi dengan mataku, kenapa aku tiba-tiba melihat hal aneh-aneh, baik di vila maupun yang barusan aku alami ini. Aku masih bingung dan belum bisa berlogika dengan apa yang barusan aku lihat.


Apakah aku sedang dilihatkan sebuah proyeksi dimasa lalu tentang keadaaan disini setelah tadi kita melewati kabut yang cukup mengerikan? Tapi kenapa di proyeksi itu tiga temanku yang tergabung dalam kelompok Sutopo Kingdom itu nampak?


“Mas Agus, kenapa kok diam? Ayo dijalankan saja mobilnya mas, keburu malam ini mas. Kita kan harus ke mjkt secepatnya mas” teguran Totok sempat membuat aku kaget ketika aku sedang melamun dan memperhatikan dokar yang sudah melewati mobil.


Apa yang Totok katakan? Apakah dia tidak lihat ada keanehan disini, atau dia sengaja tidak menghiraukan adanya bayangan dokar yang tadi barusan lewat?


“Iya mas, kita segera berangkat dari sini saja mas,  rasanya kok merinding disini mas” aku pura pura saja merasakan merinding ketakutan ada disini.


“Mas Agus ini merinding karena apa? Apakah karena kita berduaan disini, mas gak kuat ya ada akunya disini mas hihihihi”


Waduuuh wong iki rek, kok masih aja pikirane gak karu karuan ngene sih,  apa dia gak sadar-sadar kalau aku ini normal, dasar penggemar lubang t*i.


“Merinding karena disini udaranya makin dingin mas, semakin gelap disini makin dingin mas. Jadi lebih baik jendela ini tidak kita buka terlalu lebar mas” jawbku kepada Totok

__ADS_1


Mobil kujalankan lagi menuju ke bawah, dan anehnya jalan ini sekarang keadaanya sudah mulus lagi, tidak serusak dan separah tadi waktu barusan melewati kabut. Jendela mobil terpaksa kubuka lagi karena berisik  akibat totok berulang ulang memutar lagu band kami yang berjudul Ngerap.


Jam 18.30 kami sudah sampai di Gebang, terus terang aku lapar sekali karena dari siang perutku belum terisi makanan sama sekali.


“Mas Totok ini sudah jam segini, kita mana bisa buka toko mas, udah telat untuk buka toko mas” aku mengingatkan Totok tentang tokonya


“Hehehe iya mas Agus, gak papa kok gak buka toko, pelangganku akan tetap setia menunggu toko gemezzz akan buka lagi. Sekarang lebih baik kita cari makan dulu mas, perut akunya udah laper sekali mas”


Kujalankan mobil di antara deretan kios toko dan warung yang ada disepanjang jalan Gebang, aku cari sebuah warung makan yang agak bersih dan juga jangan yang kaki lima, bukan karena aku gak mau makan di kaki lima, tetapi aku malu kalau harus makan di kaki lima.


Kenapa  kok malu, ya jelas aku malu kalau harus makan bersama laki laki kekar yang memakai dress dan wig!, apa kata orang-orang di warung kalau lihat Totok yang agak berewokan itu memakai dres dan wig panjang.


“Itu mas Agus, ada sebuah depot yang lumayan mas, kita makan disana saja mas” kata Totok sambil menunjuk ke sebuah depot makan yang ada di sebelah penginapan yang bernama Tombo Ngantuk, sedangkan depot makan itu


bernama Tombo Luwe


Pukul 18.45, Mobil kuparkir di depan depot makan yang terlihat sepi pengunjung, bahkan bisa dibilang depot ini sama sekali tidak ada pengunjungnya, hanya kami berdua saja yang  kini berada disini.


Seorang perempuan yang berumur sekitar 50 tahun keluar dari dalam ruangann yang pintunya hanya dibatasi dengan kelambu yang sudah agak lusuh.


“Ya pak , mau pesan makan? Adanya cuman rawon dan pecel saja, gimana mau tidak pak?” kata perempuan yang rambutnya sudah terlihat memutih semua.


Kupanggil Totok untuk memberitahu bahwa disini hanya ada dua menu saja,  tetapi ternyata Totok berdiri dan menghampiri pemilik depot.


Aku bisa lihat wajah terkejut dari ibu pemilik depot itu, dia mungkin heran lihat laki laki sedikit brewok dan berwajah macho tetepi memakai dress perempuan dan memakai wig panjang pula.


Sepakat kami memesan rawon untuk makan senja menjelang malam.  Aku kembali duduk di meja kursi yang berseberangan dengan  meja kasir, saat ini Totok keliatanya sedang sibuk dengan Hpnya.


Tidak lama kemudian perempuan pemilik depot itu muncul dan memanggilku, dia belum menyediakan makanan untuk kami berdua, tetapi dia memanggilku untuk mendekat. Tanpa ijin Totok aku menghampiri  perempuan setengah abad itu.


“Inggih ada apa bu?” tanyaku

__ADS_1


“Eh masnya minum apa ya, tadi kan kalian berdua belum memesan minum” kata perempuan pemilik depot itu sambil menuliskan sesuatu di secarik kertas dan menunjukanku


“Teh hangat saja dua bu” kataku sambil membaca kertas kecil yang dia berikan kepadaku


“KAMU DALAM BAHAYA, HINDARI BANCI ITU..... begitu yang tertulis di secarik kertas yang kemudian diambilnya lagi dari tanganku kemudian dia masuk ke dalam rumah


Hmm sebenarnya ada apa ini. Kenapa pemilik depot ini memperingatkan aku dengan menuliskan peringatan di selembar kertas kecil, apakah dia ini orang yang paham tenang dunia ghaib, atau apakah dia melihat sesuatu di tubuh Totok?


Selama makan Totok sama sekali tidak mengajaku berbicara, dia sibuk dengan hpnya, keliatanya dia sedang asik ngobrol dengan seseorang menggunkan aplikasi Wa, aku sih ndak ada urusan dengan dia, mau dia wa atau bakar hpnya aku ndak urusan.


Tetapi peringatan ibu-ibu pemilik warung ini yang membuatku berpikir terus, sebenarnya apa yang akan dilakukan Totok denganku, apakah aku akan menjadi korban berikutnya Totok setelah Bejo?


Heheheh kau ndak peduli selama aku masih dibantu oleh Allah dan aku tidak melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum, aku juga belum merasa terancam.


“Yuk kita lanjut mas, hari sudah makin malam ini mas, akunya takut kalau kemalaman sampai di Mjkt mas” kemudan Totok atau Titik berdiri dan menghampiri  ibu  pemilik depot itu untuk membayar makanan dan minuman


Setelah semua beres pukul 20.10 kami kembali meneruskan perjalanan pulang menuju ke Mjkt melewati jalur seperti ketika kami berangkat kesini, hanya saja sekarang dalam keadaan malam hari dan gelap, sehinga jalur ini cukup serem juga.


Saat ini  pukul 21.45. karena tadi lumayan lama kami ada di depot rumah makan hanya karena menunggu Totok yang sedang sibuk dengan aktivitas Wanya sehingga sampai di hutan ini sudah lumayan malam,


Mobil berjalan di gelap malam , sebentar lagi kami kami akan memasuki wilayah hutan yang cukup mengerikan dengan kontur jalan yang aduhai.


Aku  ingat dimana Tifano kehilangan motornya ketika dia iba-tiba menabrak sesuatu dibelokan itu, dan aku ingat juga ketika waktu itu kami dihadang oleh poci dan kami tanpa rasa takut bisa membuat poci itu hilang karena ludah kami.


Hihihi kejadian pada waktu itu memang lucu, gara-ara ludah Blewah yang luar biasa bau, akhirnya para poci itu lari dengan wajah dan tubuh yang kepanasan.


22.05, di depanku adalah tikungan tempat Tifano kehilangan motornya, dan semoga tidak terjadi apa apa dengan kita yang sekarang sedang melalui jalur yang kata Indah angker ini.


“Mas Agus, kalau lewat sini harus hati-hati mas, karena di tikungan itu sering ada kecelakaan, angker disini mas” Totok memperingatkanku dengan nada yang sama sekali tidak takut, bahkan cenderung santai.


Padahal dari tadi aku terus menurus berdzikir karena aku merasa ketakuan , karena aku merasa ada sesuatu yang sedang mengikuti kami mulai dari masuk hutan hingga sekarang ada di tikungan yang mengerikan .

__ADS_1


Dan apa yang aku khawatirkan bukan karena adany mahluk ghaib diluar sana, tetapi sesuatu yang mengikutiku dan  seseorang yang ada di sebelahku yang bernama Totok!


__ADS_2