
Kami ada di dalam rumah mbah To, kemudian seperti biasa mereka pak Tembol dan mbah To saling tukar pikiran tentang bagaimana mereka bisa sampai di masa ini, pokoknya pembicaran hanya mereka berdua yang paham, sedangkan kami semua hanya sebagai pendengar saja.
“Winna, Chandra, dan eeh Chinta kalalu ndak salah ya namanya. Bagaimana, apa kalian ingat dengan saya?” tanya mbah To setelah ngobrol panjang lebar dengan pak Tembol
“Maaf pak, saya sama sekali tidak pernah ingat kalau kami memang pernah bertemu dengan mbah To” jawab Winna
“He he he ndak papa, pokoknya kalian bertiga sehat an tidak kurang apapun lah” kata mbah To lagi
“Oh Iya mas Mbul, bagaimana dengan anak-anak Soetopo ya mas, apakah mereka sudah kembali ke masa ini?” tanya mbah To dengan wajah yang serius
“Saya tiap hari sampai selau berdoa agar diketemukan oleh mereka semua sebelum saya mati, pokoknya saya berdoa minta waktu untuk hidup agar bisa ketemu dengan mereka bersembilan” kata mbah To dengan wajah sedihnya.
“Sampai sekarang saya belum mendengar kabar mereka mas To, saya sudah suruh mereka bertiga untuk hubungi teman-teman mereka. Tapi kabar Sembilan anak Soetopo itu masih belum katemu” kta pak Tembol
Yang jadi masalah sekarang ini adalah, saya, mas Petro,mas Dogel, dan mas Blewah ini bukan dari masa sekarang kita berada ini mas, kami ini sebenarnya dari masa depan mas, tetapi ndelalah setelah masuk terowonan aneh di hutan belakang vila kok malah kami ada di masa ini”
“Dan ternyata di masa ini makin jelas dan nyata. Kami ternyata harus melindungi ketiga cewek-cewek ini dari Rochman atau yang bernama Totok mas, karena dari tiga cewek ini ada semacam energi yang luar biasa besarnya, dan itu yang sedang diincar Totok mas” kata pak Tembol kepada mbah To
“Iya, saya ingat, waktu itu mereka bertiga ini ada di antara saya, Widodo, dan Mak Nyat mani. Waktu itu sedang ada pembukaan portal menuju ke kediaman mak Nyat Mani untuk kesembilan anak-anak Soetopo yang mengakibatkan ketiga perempuan ini terpapar energi yang luar biasa” kata mbah To dengan wajah yang serius
“Dan sekarang yang sedang mengincar mereka bertiga adalah Rochman yang sudah berganti nama menjadi Totok” kata pak Tembol
“Hmmmm Totok, saya ingat! Dia pernah ada di desa ini beberapa tahun silam, dan mbak mbak ini apakah kalian pernah kenal dengan Totok?” tanya mbah To
“Kami kenal waktu KKN pak, dia orang yang baik dan selalu membantu kami tanpa pamrih” kata Chinta
“Kalian pada waktu KKN itu belum tau tidak ketemu dengan saya ya, padahal kalian sempat bersama pak Tembol dan anak-anak Soetopo ke rumah saya dan bersama sama memecahkan masalah Dimas hingga pak Tembol dan anak-anak Soetopo itu menuju ke masa lalu” jelas mbah To
“Hehehehe saya percaya kalian memang tidak bertemu dengan saya setelah adanya perubahan sejarah yang dilakukan oleh mas Tembol ini heheheh”
“Mas Tembol gak mau nyekar ke makam istri saya Suparmi?” tanya mbah To
“Tentu saja ayo mas, eh mbak Suparmi kapan meninggalnya mas?” tanya pak tembol Kaget
“Sekitar 5 tahun lalu mas, dia sebenarnya menunggu kalian datang untuk mengucapkan terima kasih, karena berkat kalian desa ini dan desa sebelah bisa damai mas” kata mbah Woto
Terus terang aku, Dogel, dan Blewah tidak paham dengan apa yang mereka ceritakan, tetapi paling tidak masalah Totok nantinya bisa sedikit terpecahkan dengan adanya mbah Woto ini.
__ADS_1
Setelah kami nyekar ke makan istri dari mbah Woto yang bernama Suparmi, kami sekarang menuju pokok dari masalah yang terjadi pada kami saat ini.
Sekarang giliaran aku dan Dogel yang cerita apa saja yang kami alami selama ini, termasuk ketiga perempuan Winna, Chandra, dan Chinta.
“Hmmm jadi seperti itu ya, sayangnya saya tidak begitu mengikuti tentang cerita Totok, tapi apabila Totok Itu benar-benar adalah Rochman maka harusnya di sekitar sini juga ada Dimas. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya sempat dengar pembicaraan mereka secara tidak sengaja”
Rochman adalah orang kepercayaan Dimas yang paling setia. Saya pernah dengar mereka bicara kalau mereka berdua akan bersatu untuk tujuan tertentu yang saya tidak jelas.
“Jadi disini sepertinya ada konspirasi antara Mak Nyat Mani, Soebroto dan Dimas. Tapi saya rasa itu tidak mungkin terjadi. Tapi saya tidak berani mengambil kesimpulan. Kalian saja yang coba untuk pecahkan”
“Lho, bukanya Dimas dan Rochman itu musuh dari Mak Nyat Mani dan Soebroto?” tanya pak Tembol dengan heran
“Awalanya begitu, kemudian ternyata ada sesuatu yang akan mereka cari selain itu, dan penyatuan wilayah itu menurut saya hanya sekedar proses pelengkap untuk sebuah tujuan yang lebih besar” kata mbah To
“Saya tidak bisa bantu kalian, karena saya disini sudah punya keluarga, Istri dari anak saya yang bernama Suharto sedang hamil hehehehe, saya akan punya cucu sebentar lagi. Tapi kamu mas Tembol masih muda saja hahahah”
“Jadi saya minta maaf kalau tidak bisa membantu kalian, dan saya tidak mau ikut campur di dalam urusan dengan Dimas atau Rochman” kata mbah To dengan sangat berhati-hati cara bicaranya
“Ndak papa mas To, kami kesini karena ingin silaturahmi dengan mas To aja kok , dan urusan dengan Totok atau Rochman biar kami yang bersangkutan saja yang akan mengatasinya mas hehehe” jawab pak Tembol
“Dan mengenai konspirasi yang dikakukan oleh Mak Nyat Mani dan mereka itu bukan urusan saya mas To, tugas saya hanya melindungii ketiga mbak –mbak cantik ini dari Totok atau Rochman saja” kata pak Tembol
Keika kami sedang pamit untuk pulang, tiba-tiba mbahTo menyuruh pak Tembol untuk mendekat kepadanya.
“Totok ada disini, jadi saya tidak mau terang terangan bicara kalau saya juga menentangnya. Karena penduduk sini sudah kadung suka dengan dia dan semua kelakuanya yang sangat positive disini!” tegas mbah To
“Kalian Cepat pulang dan jangan mampir-mampir lagi, karena kalian harus sampai rumah sebelum maghrib” kata mbah To dengan wajah yang serius
Bagaimana mbah To bisa tau kalau kami harus ada di Mjkt sebelum maghrib, apakah dia hanya menebak atau memang dia tau apa yang sedang terjadi dengan kami.
*****
Perjalanan pulang ini rasanya berbeda dengan ketika kami berangkat kesini, rasanya ada yang sedang membuntuti kami di tengah hutan yang sepi ini.
“Entah benar atau tidak nak, rasanya ada yang sendang mengikuti kita dari belakang ya nak?” tanya pak Tembol tiba-tiba
“Indah dari tadi sudah tau pak, tetapi Indah belum bisa tau siapa yang sedang membuntuti kita, karena tiap Indah dan mas Ngot cari energi yang mengikuti kita ini selalu nihil, alias tidak ada siapapun yang sedang mengikuti kita pak” kata Indah
__ADS_1
“Ada mbak Indah, energi itu ada di atas kita, bukan ada di belakang kita, kalau mbak Indah cari dibelakang kita jelas tidak ada mbak” kata Mirah
“Sudahlah nak, kita harus waspada dan selalu siap akan apa yang akan mendatangi kita nanti, tapi kalau bisa kita agak cepat agar bisa sampai di rumah mbah putrinya mas Dogel sebelum maghrib” kata pak Tembol khawatir
“jangan khawatir pak, Mirah rasa yang mengikuti kita itu bukan dari Totok, tapi dari sesuatu yang berasal dari rumah mbah To. Keliatanya itu suruhan mbah To untuk melindungi kita selama perjalanan pulang ini “ kata Mirah
Pukul 15.30 kami masih ada di jalan desa yang menghubungkan Gebang dengan desa tempat tinggal mbah To. Mobil tidak bisa melaju kencang karena jalan yang tidak mulus, alias Gronjal-gronjal. Dan yang bikin ngeri disini itu sepi sekali kalau siang menjelang sore hari seperti ini.
“Nak Dogel, nanti kita tidak usah lewa jalur Pct ya, kita lewat jalur yang rame saja nak, meskipun memutar tetapi palling tidak kita ada di keramaian dari pada lewat jalur pct yang selalu sepi dan lewat hutan segala” kata pak Tembol
“Apa ini masih jauh pak?”tanya Blewah yang kok dengaren mau bicara dan tanya masih jauh atau tidak. Biasanya Blewah kan hanya mau bicara dengan Mirah saja
“Mungkin beberapa kilo lagi baru kita sampai di Gebang nak Blewah, kenapa nak Blewh kok tiba –tiba menanyakan masih jauh atau tidak nya mas?”
“Kata Mirah yang tadi mengikuti kita sudah tidak ada pak, keliatanya sudah kembali ke pemiliknya, mungkin dirasa sudah aman, makanya dia langsung pulang ke mbah To” jawab Blewah
“Ndak papa nak Blewah, Inshaallah perjalanan pulang ini akan selamat sampai di rumah nak, dan kita sampai di rumah sebelum maghrib, agar tidak terjadi apa-apa dengan nak Winna, Chandra, dan Chinta”
Pukul 16.00 tepat kami baru sampai Gebang setelah perjalanan yang meneggangkan tadi, sekarang sudah banyak orang yang lalu lalang di daerah Ini, tetapi ada yang mengganggu penglihatan kami.
“Pak Tembol, bapak ingat tidak warung kopi yang kita datangi malam malam itu?” tanya Dogel
“Iya nak, kenapa nak?” jawab pak Tembol
“LIhat disana pak, siapa yang sedang bersama penjualnya itu pak” tunjuk Dogel pada orang yang sedang bicara dengan penjual kopi itu
“Itu kan orang yang mengaku bernama Haris nak, kenapa dia ada bersama bapak penjual kopi itu?”
“Ya mungkin dia sedang beli kopi pak, bisa saja mungkin Haris baru saja membersihkan rumah orang disini dan kemudian dia ngopi disana itu pak” kataku
“Yang saya maksud bukan Haris pak, tetapi laki-laki yang sedang duduk itu pak dan dia sekarang sedang tersenyum memandang ke arah kita pak” kata Dogel yang kemudian mempercepat laju mobilnya
“Ya Allah…. Itu Rochman atau Totok mas dan dia sedang tersenyum kepada kita” kata pak Tembol ketakutan
“Ayo lebih cepat lagi laju mobil ini mas, agar kia sampai di rumah sebelum maghrib mas” kata pak Tembol
Ketiga perempuan yang bersama kamipun hanya bisa diam ketika mereka melihat ada Totok di pinggir jalan sambil tersenyum aneh kepada kami yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
Mobil yang kami naiki akhirnya sudah keluar dari daerah Gebang. Sekarang kami mengarah jalan utama, jalan besar yang selalu rame dengan kendaraan besar dan mobil pribadi. Benar juga keputusan pak Tembol agar lewat jalur utama saja dari pda lewat Pct yang hanya ada jalan kelak kelok lewat pegunungan dan hutan yang tentu saja sepi dan ngeri.