INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 207 (PAKSA PULANG)


__ADS_3

Pak Tembol mengajak mas Sinank nang untuk keluar, karena di dalam sini sama sekali ndak kedengeran kalau kita sedang bicara, harus dengan suara keras agar lawan bicara bisa dengar apa yang dikatakan.


“Mas Nank, kami kesini khusus untuk menjemput kalian berdua mas” kata pakTtembol setelah kami ada di luar ruangan yang berisik itu


“Ayo pak, Karena saya tidak bisa pulang dengan sedirinya. Disini ada semacam penghalangnya, apalagi ada anjing penjaga yang di luar itu.


“Disini siapa yang kabur akan tersesat, dan akhirnya binasa dengan sendirinya kalau tidak terkena kabut yang ada di kolam renang itu, bisa juga karena dimangsa anjing penjaga” jawab mas Nank “Kecuali ada yang jemput dan menculik kami, pasti kami bisa pulang pak”


“Tapi ada satu masalah, mas Blewah itu sudah kerasan dengan kehidupan disini, jadi agak susah juga ajak dia pulang, apalagi dia sudah pernah minum cairan merah darah itu pak, lambat laun dia akan jadi  anak buah Totok” kata Nang lagi


“Aduh kenapa hal itu sampai terjadi ya…. Tapi kita harus bisa mengelurkan kan kalian berdua nak, eh bertiga bersama nak Mirah juga” Keluh pak Tembol


“Blewah itu gampang sekali terpengaruh pak, kadang kami yang susah sendiri akibat dari ulah Blewah itu pak. Lalu dengan kasus ini apa yang harus kita lakukan pak” tanya Dogel


“Ya harus dipaksa untuk pulang mas, itu satu-satunya cara agar dia selamat nak. Atau hmmmm atau minta tolong kepada Mirah saja nak. Gimana mas Nang, apakah bisa Mirah bantu kita untuk suruh nak Blewah balik mas? Tanya pak Tembol


“Mungkin bisa pak, karena Mirah sendiri tidak suka dengan keadaan Blewah ini, meskipun Mirah ikut joget-joget seperti itu pak. Dia itu hanya ingin menjaga mas Blewah agar tidak terjadi apa-apa dengan dirinya pak” kata Nang


“Begini saja nak, ayo kita masuk ke dalam dan kita coba bujuk nak Blewah untuk ikut dengan kita nak, kalau nanti tidak berhasil kita suruh Mirah saja untuk membujuk nak Blewah” pak Tembol memberi ide yang lumayan jitu


Kami masuk ke dalam ruangan yang berisik dengan musik disco ala 80an dengan lamp spot yang menyinari kesana kemari. kami kemudian ambil duduk di pojokan yang terlihat kosong.


“Itu nak Blewah sedang bersama Mirah nak, coba nak Dogel atau nak Petro kesana nak, dan bujuk dia, karena waktu kita tidak bisa lama ada disini”


Aku dan Dogel menuju ke area tengah hall yang biasanya digunakan untuk ngedance. Blewah dengan penuh semangat menggoyangkan tubuhnya hingga keringatnya mengalir deras.


“Hanchok…ambune Blewah koyok racun tekos Tro, kamu ae yang datangi Blewah Tro, gak tahan aku sama bauknya” kata Dogel yang kemudian kembali ke tempat dimana pak Tembol dan mas Nang berada


“Wah… Waaaaaah!” teriakku di jarak dua meter di belakang Blewah yang sedang njoget-njoget gak karuan


Asyu areke gak denger teriakanku, mosok jarak segini gak denger rek. Coba aku dari depan dia saja, siapa tau dia mau tak ajak balik.

__ADS_1


Aku kemudian mendatangi Blewah yang semakin gilak ngedance nya, dia kayaknya sudah mirip dengan orang kesurupan, makin cepat musik yang diputar, gerakan dia makin liar, tapi tunggu dulu, tiba-tiba Mirah berhenti dan kemudian dia menuju ke sebuah meja yang kosong.


Lebih baik kuhampiri saja Mirah itu, siapa tau dia bisa bantu aku untuk menyadarkan Blewah dan mengajak Blewah  pulang. Kuhampiri Mirah yang sedang duduk sendirian sambil terus melihat Blewah yang semakin liar gerakanya.


Di tengah dancefloor itu tinggal tiga sosok yang sedang ngedance dengan gerakan yang aneh dan cepat, termasuk Blewah yang lebih mirip dengan orang kesurupan.


“Mirah…..” panggilku sembil kucolek lengannya. Di dunia ghaib ini aku bisa lihat dan mencolek lengan Mirah, beda dengan di dunia kami yang tidak bisa lihat Mirah, karena dia ada di dalam tubuh Blewah.


Mirah menoleh ke arah ku yang ada di sebelah kirinya, dia kaget ketika lihat aku bisa mencoleknya.


“Eh mas Petro?!..... apa benar ini mas Petro?, apa mas Petro udah meninggal?” tanya Mirah keheranan


“Hehehehe, ndak Mirah. Aku, Dogel, Pak Tembol kesini untuk menjemput kalian bertiga untuk kembali ke ke dunia kami” kataku kepada Mirah yang ternyata cantik juga, dengan rambut yang sepunggung dan wajah yang tirus, ternyata Mirah cantik juga wujudnya.


Mirah hanya diam ketika aku bilang datang kesini untuk menjemput mereka bertiga, dia hanya diam dan memandangku dengan pandangan yang aneh.


“Kenapa Mirah, kok diwajah mu ada keraguan seperti ini?”


“MIrah senang mas, karena disini bukan tempat Mirah, tempat Mirah harusnya ada di alam damai mas, bukan didunia kalian apalagi di penjara ini mas” kata Mirah sambil melihat ke arahku terus menerus


“Ada apa Mirah, kenapa kamu lihat aku seperti itu, apa ada yang salah dengan aku Mirah?”


“Tidak ada…tidak ada yang aneh sama mas Petro, Mirah hanya khawatir sama mas Blewah yang tingkahnya semakin aneh semenjak minum minuman yang berwarna merah itu mas” kata Mirah yang wajahnya membuatku dag dig dug


“Memangnya minuman apa itu Mirah dan apa yang terjadi dengan Blewah setelah minum minuman itu, tapi ndak usah kamu jelaskan dulu, yang penting sekarang kita harus segera pulang karena ini bukan tempat kita dan bukan tempat kalian juga”


“Tapi mas Blewah yang susah mas, dia sudah sedikit berubah semenjak ada disini dan mulai meminum minuman yang katanya enak itu mas” jawab Mirah yang semakin dekat melihat ke arah wajahku, karena memang perlu mendekatkan wajah untuk bisa mendegar lawan bicara kita sedang bicara


“Hehehehe kalau kamu manusia, sudah aku nikahi dari dulu Mirah, gak usah pakek pacaran dulu  hihihihi. Ternyata kamu cantik sekali Mirah hihihihi. Ah sudah lah, ayo kita ke meja tempat pak Tembol dan mas Nang menunggu, kita ngobrol disana saja sekarang” kugandeng Mirah menuju ke meja yang ada di belakang sendiri itu


“Gimana nak Mirah, apa bisa kita ajak nak Blewah untuk pergi dari sini sekarang? Karena menurut nak Nang ini mas Blewah sudah meminum cairan yang mirip darah manusia itu” kata pak Tembol yang mungkin sudah mendengarkan cerita Sinank Nang

__ADS_1


“Itulah pak, sekarang mas Blewah sudah tidak mau mendengarkan apa kata Mirah lagi, Mirah hanya menemani dan menjaga dia disini pak, agar dia tidak diserang oleh mahluk lainya disini. Dia disini sudah mulai punya musuh pak, karena kelakuan dia yang makin aneh pak” cerita Mirah yang wajahnya mengingtkan aku kepad artis lawas Ida Iasha


“Waduh, kita harus susun rencana ini nak, karena waktu kami disini tidak bisa lama-lama nak, kita harus keluarkan kalian bertiga dari sini secepatnya nak”


“Begini saja pak Tembol, lebih baik kita paksa Bleweh untuk keluar dari sini. Karena orang yang sudah seperti ini tidak akan keluar dari sini hingga musik ini berhenti, dan mereka sudah dalam keadaan lemah, dan ketika mereka dalam keadaan lemah orang-orang yang ada disana memberikan minuman yang bisa membuat tenaga mereka kembali semula”


“Jadi kalau kita menunggu hingga mas Blewah lemah jelas tidak mungkin, kerena setelah itu ada anak buah Totok yang akan keliling untuk menawarkan minuman yang kata mereka bisa untuk mengembalikan tenaga mereka hingga bisa kembali sehat dan normal pak” kata Sinank Nang


“Jadi waktu yang tepat itu ya saat ini, saat mereka capek dan lemah, kita paksa dia untuk keluar dari sini pak, entah bagaiaman itu caranya pak” lanjut mas Nang


“Ayo kita selesaikan sekarang saja nak, eh nak Mirah tunggu disini aja dan bersiap-siap untuk lari dari sini bersama kami ketika nak Blewah sudah berhasil kami  paksa nak” kata pak Tembol


Akhirnya kami bertiga menuju ke arah dancefloor dimana Blewah sekarang bergerak-gerak dengan gerakan yang makin aneh, lebih tepat gerakan yang mengarah ke pemujaan dan penyembahan atas sesuatu, dan yang ada disini hanya tinggal tiga sosok saja termasuk Blewah.


“Kita gotong saja pak, kita kan berempat, pasti bisalah menggotong mas Blewah yang kurus itu pak” kata Sinank nang


Ketika Blewah sedang melakukan goyang kayang hihihihi, goyang kayang mirip biduan dangdut koplo waktu show goyang pantura, inilah saatnya kami maju dan mengangkat tubuh Blewah dan membawa keluar dari sini.


“Mas Petro jongkok di belakang mas Blewah, mas Dogel siap terima tubuh mas Blewah ketika saya nanti dorong dia, pak Tembol di bagian kaki saja yang paling ringan. Nanti saya di bagian paha dan mas Petro di sebelah saya” Sinang nang mengemukakan rencananya.


Kami sudah ada di posisi masing-masing dan siap untuk membopong Blewah keluar dari sini ketika dia dalam keadaan paling lemah. Kami menunggu instruksi mas Nang, karena dia yang tahu kapan keadaan penari itu menjadi lemah dan siap untuk di bopong keluar dari sini.


Mas Nang memberikan kode kepada kami untuk ada di posisi yang tadi kita sepakati bersama, aku sudah ada di belakang Blewah yang gerakanya makin lemah karena energi dia semakin habis, dan Dogel ada disebelahku yang sudah siap menerima kepada dan tubuh bagian atas Blewah ketika dia jatuh ke belakang.


“…….SEKARANG!!!…..”


Sinank nang mendorong bagian dada Blewah hingga dia terhuyung-huyung dan jatuh ke belakang, dibelakang Blewah sudah ada aku yang sedang sedikit jongkok, hingga tubuh Blewah tidak serta merta jatuh begitu saja ke bagian belakang.


Ketika Blewah jatuh kebelakang dan tertahan oleh tubuhku, di sebelah tubuhku sudah ada Dogel yang siap menangkap kepala Blewah yang basah dan menjijikan karena keringat, ketika kepala dia aman, mas Nank memegang tubuh Blewah yang masih tertahan oleh punggungku.


Kemudian ketika Dogel dan mas Nang sudah memegang tubuh Blewah, akupun berdiri dan mengambil posisi di sebelah mas Nank untuk memegang punggung Blewah, kemudian pak Tembol memegang bagian kaki Blewah.

__ADS_1


Setelah semua aman, dan pada posisi yang tepat, mas Nank memberi instruksi untuk segera lari dari area ini. kami berempat menggotong tubuh Blewah yang memang sudah lemas. Kami menuju ke arah pintu masuk. Mirah mengikuti kami dari belakang sembari melihat ke segala arah.


Ketika kami sudah sampai di pintu keluar, tiba-tiba musik berhenti!…, lampu lampu menyala dengan terangnya!..., Suara teriakan dari segala penjuru menggema!


__ADS_2