INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....29. Di kantor polisi


__ADS_3

“Kata bu Peno tadi di pasar sedang ramai bicarakan masalah Marwoto dan keluarganya Man”


“Penduduk desa sebelah tidak menyangka kalau seorang yang mereka hormati ternyata melakukan perjanjian dengan setan”


“Nah ini yang aku nggak suka dengan yang namanya manusia Ten…. mereka selalu beranggapan bahwa hal seperti itu adalah perjanjian dengan setan, padahal setan sendiri tidak pernah mengatakan kata Janji kan?”


“Beda dengan negara syempak yang kalau akan ada pemilihan kepala negara, calon kepala negaranya selalu berjanji  yang muluk muluk, tetapi tidak pernah ditepati”


“Setan itu sekarang derajatnya lebih tinggi dari pada manusia Ten… tidak pernah mengatakan janji, tetapi manusianya saja  yang ngaku-ngaku sudah mengadakan perjanjian dengan setan”


“Wis karep karepmulah Man… kamu mau tak ceritakan apa yang tadi diceritakan bu Peno apa nggak sih sebenarnya?”


“Iyaaaaa.. Ayo cepat cerita”


“Jadi kemarin malam kata ibu -ibu yang ada di pasar, di dalam rumah  Marwoto ditemukan jasad yang sudah sangat membusuk… dengan isi perut yang sudah pada keluar”


“Bahkan ketika jasad busuk itu akan diangkat oleh petugas tidak tau dari rumah sakit atau dari  puskesmas….tiba-tiba daging jasad itu rontok…karena sudah terlalu lembek”


“Kalau kata buibu di  pasar itu kayak daging yang  terlalu lama di presto  Man”


“Marwoto dan istrinya sekarang sedang dimintai keterangan oleh polisi  tentang jasad yang ada di kamarnya itu”


“Dan yang parah…. Katanya penduduk di desa sana tidak mau menerima Marwoto dan istrinya lagi, penduduk desa sana sepakat untuk mengusir Marwoto  dan Suparmi”


“Dah cuma itu yang tadi diceritakan bu Peno hasil dari mendengar omongan dari ibuibu yang belanja di pasar”


“Kalau menurut aku… jasad itu adalah dukun yang disewa Marwoto untuk mengerjai kita Ten”


“Dukun itu sudah melakukan apa yang dilakukan oleh setan, dia menerapkan ilmu setan pada dirinya yang merupakah manusia ciptaan Tuhan dan pernah menyembah Tuhan sebelum dia berlagak jadi setan”


“Akhirnya dia mati dengan keadaan mengerikan seperti itu… seperti yang ada di neraka… tempat tinggal yang nyaman untuk setan… goblooook sekali dukun itu”


“Terus sekarang gimana Man?”


“Siang ini kita kesana yuk.. Aku penasaran dengan Suharto…. Dimana anak Marwoto waktu kejadian ini, apakah dia sedang ada di luar desa ini atau gimana”


“Rumah itu pasti  kosong, demit yang ada disana gimana ya kabarnya Ten… sekarang mereka kan sudah tidak ada yang memberi makan lagi”


“Biarin aja Man…gak udah ngurusi yang bukan urusan kita, fokus pada Marwoto saja, bagaimana kalau dia diusir dari desa sebelah, dan apakah penduduk desa ini mau menerima Marwoto dan keluarganya”


*****


Siang hari aku dan Ginten berboncengan lagi… kami ini sudah seperti suami istri, hanya saja kami sama sekali tidak melakukan hubungan badan… apakah agar tidak melakukan maksiat?


Tentu saja tidak!... aku suka sekali melakukan maksiat… tapi berhubung aku belum menemukan laki-laki yang mau menerima aku apa adanya, jadinya ya aku belum melakukan maksiat sama sekali.


Eh apakah karena ada Ginten ya…sehingga tidak ada laki-laki yang mendekati aku sama sekali, apakah karena anggapan orang sini Ginten itu adalah istriku ya?


Tapi Ginten  ini baik…dia gak mau aku jadi humu, dia mau merubahku….


Tapi sayangnya aku belum bisa menikmati  dan merasakan apa nikmatnya melakukan  hubungan badan dengan perempuan  semenjak terakhir dulu itu waktu aku kena penyakit khelamin.


“Heh  Man… kalau nyetir sepeda jangan sambil melamun!.... Liat dari tadi kamu bawa sepedanya pelan sekali dan gak stabil gitu”


“Sorry Ten hehehe. Kok tau kalau aku sedang ngelamun Ten?”


‘Iya tau lah…. Kamu lagi ngelamun jorok jorok ya…..”


“Dari pada ngelamun… nanti malam kamu saya puasin ya Man?”


“Aduuuuh jijik Ten jijiiiiik!”


“Belum ngerasain udah bilang jijik sih kamu ini Man…. tunggu aja tanggal mainnya.. Kamu akan menikmati tiap apa yang akan aku lakukan ke kamu Man”


“Oh iya Man.. apa kamu gak kepingin punya anak?”


“Ya kepingin Ten… tapi…”


“Gak usah pakek tapi-tapian Man… yang penting kamu sudah kepingin punya anak saja sudah merupakan suatu kemajuan…”


“Ingat Man… anak bukan keluar dari lubang tai… tapi keluarnya dari lubang yang akan kamu nikmati bersama aku hihihihi”


Asik ngobrol sama Ginten.. Gak terasa kami sudah dekat dengan rumah Marwoto… tinggal belok ke kanan saja kami sudah sampai…


“Lho Ten… sepanjang pagar rumah Marwoto kok sekarang ada pita kuning yang tulisanya dilarang melintas”


“Iya Man… fungsinya apa ya itu… tapi koyoke itu dari kepolisian deh Man… yuk kita tanya ke tetangga sebelah saja Man”

__ADS_1


“Kamu aja yang ke tetangga sebelah Ten.. aku kan gak kenal”


“Yo sama saja saya ya juga gak kenal tetangga sebelah juga Man… sik sebentar.. Saya mau ke sebelah rumah Marwoto dulu”


Selama Ginten ke tetangga sebelah rumah Marwoto, aku berusaha mencari demit yang bernama JOE KOWiyono yang pernah kutemui disini.


Demit itu kayaknya humu juga deh, karena pernah tersenyum sama aku,.... Eh tapi aku kan bukan demit lagi, Mana bisa ngelakuin fu fu fu  skidipap asik asik sama demit!


Ya sudahlah lebih baik nunggu Ginten datang dulu… tapi aku tetapi penasaran sama  garis kuning yang berasal dari polisi ini.


“Man… lebih baik pergi dari sini dan jangan masuk ke sana” kata Ginten setelah dari rumah sebelah


“Itu garis polisi Man, karena disini ada kasus kekerasan dan pembunuhan”


“Hahahahah dimana unsur kekerasan dan pembunuhannya Ten… dukun itu kan mati sendiri karena dia melakukan apa yang setan lakukan”


“Man.. polisi itu hanya lihat ada bukti mayat di rumah Marwoto.. Dan pasti mereka berpikir ada yang dibunuh oleh Marwoto jauh hari sebelumnya, karena mayat itu sudah busuk”


“Hihihi lucu sekali Ten… terus gimana soal Marwoto dan istrinya?”


“Mereka berdua sekarang sedang ditahan karena kasus pembunuhan dan sedang digali informasi tentang mayat busuk yang ada di rumah ini”


“Hihihi gak akan bisa nyambung Ten…. ya sudah lah… biarkan mereka yang menanggungnya… sekarang yang terpenting.. Apakah penduduk disini masih mau menerima Marwoto dan Istrinya?”


“Ini yang mau saya bicarakan ke kamu Man…. penduduk sini akan mengusir mereka setelah mereka selesai dengan urusan hukum”


“Nah ini baru berita  bagus Ten…. agar mereka pindah ke desa kita, dan minta maaf ke ibunya”


“Kamu tau Ten…manusia kalau belum kena kena masalah besar pasti lupa apa-apa…nanti kalau sudah kecentok masalah besar, baru dia merasa bahwa ini adalah hukuman Tuhan… ini cobaan Tuhan… ini teguran Tuhan…”


“Padahal Tuhan itu tidak melakukan apa-apa, kalau kata raja setan… Tuhan itu baik, tidak akan melakukan apa-apa kepada manusia… justru yang melakukan apa-apa itu ya setan kayak aku ini Ten”


“Karena ulah manusia sendiri yang kepingin kayak setan….hahahaha”


“Omonganmu lama-lama makin ngelantur Man…. ayo kita pulang  dan pikirkan apabila penduduk desa sebelah juga menolak kehadiran Marwoto disana”


“Eh tadi saya sempat tanya ke tetangga sebelah… polisi yang membawa Marwoto itu polisi yang mana”


“Kata orang sebelah polisi yang ada di Gebang Man… gimana kalau kita ke sana Man?”


“Ayo  Ten… aku penasaran… apakah aku boleh kasih penjelasan kepada polisi itu ya ten hihihihi”


*****


“Ayo kita kesana….”


“Hehehe aku gak pernah ke kantor polisi Ten”


“Podo Man!”


Sepeda Kebo aku parkir di sebelah motor-motor yang ada disana.


Kemudian aku dan Ginten masuk ke sebuah ruangan yang  pintunya terbuka.


“Heiiii… mau kemana?” tegur petugas yang memakai seragam polisi


“Ya mau ke kantor polisi pak”


“Iyaaa… kalian ini mau bertemu siapa… jangan nyelonong asal masuk saja… lapor dulu ke sini .. mau ketemu siapa dan tujuannya apa” kata petugas yang perutnya agak buncit itu


“Ya maap pak… saya kan gak pernah kesini…. Eh saya mau ketemu Marwoto”


“Marwoto?... petugas disini tidak ada yang bernama Marwoto, kalian pasti salah”


“Bukan petugas polisi pak… tapi orang yang dari desa sana, yang dibawa kesini karena dituduh melakukan pembunuhan itu pak”


“Ooooh orang itu… kalian siapa dan ada perlu apa… Marwoto sekarang sedang dalam penyelidikan, jadi belum bisa dibesuk”


“Memangnya ini rumah sakit apa pak? Kok ada kata-kata besuk juga pak?”


“Heh.. kamu ini kalau diberitahu yang sopan… ini kantor polisi… jaga sikapmu disini!” bentak petugas itu lagi


“Setahu saya besuk itu untuk orang sakit pak… saya kan gak tau kalau ternyata disini juga ada kata besuknya”


“Ya udah terserah kalian… kalian ini siapa  dan perlunya menemui Marwoto untuk apa?”


“Saya Totok pak…boleh dibilang saya ini teman dia, meskipun dia tidak mengakui saya sebagai temannya”

__ADS_1


“Saya kesini untuk memberikan keterangan tentang orang yang sudah membusuk di rumah marwoto itu, dan keterangan saya ini benar pak”


“Sebentar.. Saya akan panggilkan petugas yang sedang mengurusi urusan ini” kata petugas jaga itu


“Hihihihi  ternyata disini juga ada yang besuk juga Ten hahahaha”


“Sssttt.. Diam dulu kamu Man… dan lakukan apa yang tadi d suruh sama petugas itu”


Petugas itu masuk ke ruangan dalam.. Lama juga dia ada di dalam.


Aku gak paham… padahal hanya memanggil orang yang ada di dalam saja kok perlu waktu yang lama, apa manggilnya di depot rawon sana?


Tapi ya sudahlah…aku tunggu saja sampai orang itu ada di depanku, dan akan aku jelaskan duduk perkaranya hingga ada tubuh membusuk di rumah Marwoto.


Setelah menunggu sekian lama, akhirnya petugas yang tadi itu keluar dari ruangan dalam, tapi dia hanya sendirian, tidak bersama petugas yang katanya mengurusi kasus ini.


“Mana KTP mu mau saya data dulu….” kata petugas itu


“Waduuh pak… kami berdua masih mengurus KTP.. mungkin tiga hari lagi KTP kami akan jadi pak”


“Lha terus bagaimana kami akan mendata kalau kalian tidak punya identitas diri… kalian ini warga mana?”


“Kami warga desa Br pak.. Sebelahnya desa Bs  tempat Marwoto tinggal”


“Lho… desa kamu itu berjarak sekitar 3km dari desa Bs… tapi kamu mengetahui kejadian yang terjadi malam kemarin”


“Iya pak….”


“Lalu bapak dan ibu ini sebenarnya tau kejadian itu dan akan memberikan keterangan kepada kami ini berdasarkan apa?”


“Apakah kalian malam hari itu ada disana?”


“Dengan jarak lebih dari tiga km dari desa Br ke desa Bs pada tengah malam pula.. Apa yang kalian lakukan disana?”


“Eh kami berdua memang ada disana pak, karena kami saat itu ada di rumah istri saya yang tidak jauh dari tempat kejadian”


“Rumah istri bapak ini dimana?”


“Di gang sebelah.. Rumah dari mbok Ginten”


“Hahahaha… saya orang sekitar sini pak.. Dan saya juga kadang patroli disana… di desa itu ada dua rumah yang kosong dan angker karena sudah puluhan tahun tidak ditempati.. Bahkan kata orang-orang sana rumah itu sudah ada sejak jaman penjajahan”


“Rumah itu terkenal angker hingga tidak ada yang berani ada didalam rumah itu….. Sekarang kalian kok ngaku-ngaku sebagai pemilik rumah hahaha”


“Itu memang rumah peninggalan nenek istri saya pak”


“Ya sudah terserah kalian berdua… sekarang jelaskan kepada saya.. Kenapa kalian malam itu ke rumah pak Marwoto”


Dan apa yang kalian lakukan di rumah kosong yang ada boneka nya itu?”


Kuceritakan saja apa yang sedang kami lakukan disana, sampai pada keadaan ditemukanya jasad busuk yang ada disana itu. Termasuk dua petugas ronda yang malam itu ada disana.


“Cukup dengan cerita kalian… tapi maaf karena saya tidak bisa mendata kalian , jadi kami tidak bisa menerima keterangan dari kalian berdua”


Ketika aku dan Ginten sedang emosi dengan petugas koplo ini… pintu ruang dalam kemudian terbuka. Seorang petugas keluar dari dalam ruangan  dan mendatangi kami bertiga.


“Dua orang ini yang ingin memberikan keterangan kepada kita?” tanya petuga polisi yang baru saja keluar dari dalam ruangan.


“Siap Ndan… tapi mereka tidak punya KTP.. kita tidak bisa mendata mereka ndan”


“Ya sudah… saya ambil alih dulu.. Kamu kembali ke mejamu saja”


“Siap Ndan…”


“Tolong jelaskan kalian ini siapa, apa hubungannya dengan Marwoto dan apa yang akan kalian berikan info kepada kami


Kuceritakan aku tinggal dimana, dan apa saya yang aku ketahui tentang Marwoto dan kenapa sampai aku dan Ginten ada disana malam hari itu.


Aku tau cerita ini pasti tidak akan masuk akal bagi seorang polisi yang selalu menyertakan logika dalam tiap penyelidiknya.


“Heheh cerita kalian ini tidak masuk akal sama sekali… tetapi  saksi mata dua orang penjaga malam di sana berkata kalau mereka bertemu dengan dua orang laki dan perempuan yang sudah ada didepan rumah Marwoto”


“Jadi menurut penjaga malam itu, mereka dipanggil oleh seorang perempuan yang ternyata ibu yang di depan saya ini untuk segera ke rumah Marwoto karena ada bau yang sangat busuk yang berasal dari dalam rumah”


“Ya betul sekali itu pak.. Kejadianya memang seperti itu””


“Sekarang pertanyaan saya… apa yang kalian lakukan di tengah malam itu.. Kenapa kalian kok tiba-tiba menuju rumah Marwoto?”

__ADS_1


“Pasti ada alasannya kan.. Kenapa kok malam-malam ke rumah itu, kalau memang kalian ada keperluan harusnya kan bisa besok paginya saja kesana?”


“Apakah karena kalian tau bahwa ada sesuatu di rumah itu sehingga tengah malam kalian ke sana?”


__ADS_2