INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 183 (UNTUNG ADA BU PUJI)


__ADS_3

Keadaan disini berangsur-angsur mulai normal, udara dingin yang mengerikan tadi sudah mulai berkurang, pak Tembol dan ketiga teman perempuan kami sudah ada di ruang tamu.


“Sudah mulai normal pak, tapi keadaan di luar sana masih tetap berupa hutan dan kuburan pak, keadaan di luar belum berubah menjadi normal pak” kata Winna


“Yah paling tidak serangan suhu udara yang ekstrim tadi sudah mulai berkurang  nak, meskipun yang diluar itu masih belum berubah sama sekali” jawab pak Tembol


“Dalam keadaan seperti ini kita masih belum bisa keluar dari sini nak, dan jangan memaksakan diri untuk keluar seperti tadi nak” kata pak Tembol lagi


“Pokoknya ingat kata mbahnya mas Dogel, kita tidak usah coba-coba untuk keluar dari sini selagi keadaan belum normal benar” kata Indah


“Tapi sampai kapan keadaan ini akan seperti ini pak, aku takut kalau setelah ini akan ada yang aneh-aneh lagi pak” sahut Chandra


“Hehehe, saya tidak bisa menjawab pertanyaan nak Chandra, paling tidak kita masih bisa selamat sampai sekarang dan tidak kurang apapun kan” jawab pak Tembol


Keadaan diluar tidak beda dengan sebelumnya, hanya saja saat ini kabut mulai hilang , dan keadaan diluar tetap sama saja gelap, hanya ada hutan dan kuburan kuno saja yang terlihat oleh kami.


“Seandainya ada mas Sinank nang, mungkin dia bisa atasi masalah ini pak” kata Chinta sambil melamun


“Nah, saya rasa saat ini mungkin nak Chinta belum memerlukan pertolongan nak Sinank nang, sehingga dia tidak datang kesini, tetapi bisa juga dia sekarang sedang ada di luar sana untuk melawan Totok agar kita bisa selamat” jawab pak Tembol


“Mungkin juga berkurangnya hawa dingin ini juga ulah dari Sinank nang kan, kita tidak tau apa yang terjadi di luar sana nak, karena yang kita lihat hanya hutan, kuburan dan gelap saja. Yah… intinya harus sabar lah” lanjut pak Tembol


Pelan-pelan hawa dingin disini berubah menjadi hangat, melanjutkan hawa hangat kemudian keadaan di luar beransur-angsur tidak gelap, tidak gelap artinya ini adalah langit diluar rumah mbah Dogel ini mulai terlihat cahaya di pinggirnya.


Pelan-pelan semua berubah, pemandangan hutan dan kuburan pun pelan-pelan berubah menjadi pemandangan rumah, rumah bu Puji. Pelan-pelan semua menjadi normal, hingga semuanya selesai pada pukul 09.30.


Tidak ada yang bisa berkomentar atas perubahan yang terjadi disini. Kami sudah ada di dalam keadaan yang normal kembali. Di luar sudah banyak orang yang berlalu lalang, ibu-ibu berseliweran sambil membawa barang belanjaan, semua normal!


“Alhamdulillah….. kita bisa kembali lagi nak, dari tadi saya sudah ketakutan apabila kita dibawa ke masa yang ndak karu-karuan nak. Tapi untungnya semua sudah selesai” kata pak Tembol


Kami berhasil melewati keadaan yang mengerikan, tapi sebenarnya siapa yang berhasil menetralisir keadaan ini hingga kami kembali ke melihat pemandangan normal.


“Sik kalian disini dulu, aku mau keluar dulu, aku mau cek ada apa sebenarnya disini, sekalian tanya ke mbak Puji apakah dia tadi sempat menoleh ke rumah ini ketika pergi ke pasar dan antar anaknya sekolah” kata Dogel kepada kami


“Aku ikut Gel, sekalian jaga kamu kalau ternyata ada apa-apa di luar sana Gel”


Kami berdua keluar rumah dalan keadaan agak gimana gitu, tapi normal kok, ketika aku mulai menginjakan kakiku ke tanah depan rumah, rasanya sama kayak seperti biasanya hehehe.

__ADS_1


Rumah bu puji yang tepat ada di depan rumah mbahnya Dogel itu tidak tertutup rapat pagarnya, jadi pemilik rumah pasti sedang ada di dalam rumah.


Ketika kami sampai di depan pagar rumah bu Puji, ternyata beliau sedang akan keluar rumah, jadi kita tidak perlu bertamu ke rumahnya.


Bukanya kami gak mau bertamu, tapi gak enak dan agak sungkan karena mesti nantinya disuguhi makanan dan minuman, jadi lebih baik ketemu di depan gini aja lebih enak.


“Bu Puji…. Bisa ngomong sebentar bu?” tanya Dogel


“Iya..ada apa mas Agus, kok keliatanya sedang bingung gitu?” tanya bu Puji setelah mellihat wajah Dogel yang mungkin agak gimana gitu


“Bu, eemmh.. tadi pagi bu Puji ke pasar ndak?” tanya Dogel


“Iya mas Dogel, saya kepasr lah, kenapa mas, apa mas Agus mau nitip sesuatu?” bu Puji bertanya balik


“Endak bu, ehmmm tadi bu Puji apa lihat rumah mbah Putri ndak bu, kalau lihat tadi gimana keadaanya bu?” tanya Dogel lagi


“Ya jelas lihat lah mas, wong pintu rumah saya ini langsung berhadapan dengan rumah mbah Putri kok mas, memangnya ada apa tho mas?” tanya bu Puji dengan wajah penuh rasa ingin tau


“”Maaf bu, ehm tadi rumah mbah putri bagaimana keadaanya bu, apakah tertutup kabut atau gimana bu Puji?” tanya Dogel lagi


“Biasa kok mas, ndak ada yang aneh-aneh, hanya saja dari subuh tadi ada orang yang selalu berseliweran di depan rumah mbah Putri, dan orang itu selalu meniupkan asap rokoknya ke halaman rumah mbah putri”


“Terus gimana bu, gimana ceritanya bu?” tanya Dogel


“Yang saya lihat, orang itu jalan dari arah rel kereta mas, dia kemudian lewat rumah mbah putri, ketika lewat depan rumah mbah putri, dia tiupkan asap rokoknya beberapa kali mas, setelah itu dia pergi ke arah jalan besar”


“Tapi tidak lama kemudian dia datang lagi mas, yang aneh dia datang dari arah rel kereta api lagi, kemudian yang dilakukannya sama seperti sebelumnya, dia meniupkan asap rokoknya ke halaman rumah mbah Putri”


“Saya curiga dengan kelakuan orang itu, karena dia barusan menuju ke arah jalan besar, tapi kok tiba-tiba muncul lagi dari arah rel kereta api mas”


“Kemudian saya lapor kepada suami saya. Saya dan suami menunggu di ruang tamu untuk melihat orang itu datang lagi, dan akhirnya memang benar orang itu datang lagi mas. Waktu itu sudah pukul 07.00 an kalau ndak salah”


“Dia datang lagi dan meniupkan asap rokoknya ke halaman rumah mas Agus. Kemudian suami saya menegur dia, dan yang aneh ketika dia kami tegur, tiba-tiba dia lari kembali ke arah rel kereta dan hilang disana”


“Suami saya tidak percaya kalau dia pergi begitu saja mas, setelah kami tunggu hingga seperempat jam, ternyata dia datang lagi dan mulai meniupkan asap rokoknya lagi ke halaman rumah mbah Putri, suami saya marah, kemudian suami saya kejar orang itu hingga beberapa penduduk ikut mengejarnya, tapi dia hilang di sekitar rel kereta api.


“Yang aneh itu mas Agus dan teman mas Agus, kenapa kok baru sekarang keluar rumah, setelah orang itu pergi dan tidak kesini lagi. suami saya sempat heran kenapa sampai mas Agus tidak ikut sholat subuh, padahal mobilnya ada disana mas” kata bu Puji lagi

__ADS_1


“Biasanya kalau mobil mas Agus dan temannya tidak parkir di sebelah masjid, pasti kalian tidak ada di rumah mbah Putri, dan pastinya tidak subuhan di masjid”


“Nah itu masalahnya bu Puji, sebentar akan saya ceritakan apa yang sebenarnya sedang terjadi tadi bu”  kata Dogel yang kemudin menceritakan apa yang terjadi dengan mereka yang ada di rumah


“Ternyata benar apa kata suami saya tadi, suami saya bilang kalau orang yang meniupkan asap rokok di halaman rumah itu sedang mengirim sihir kepada pemilik rumah itu” kata bu Puji


“Tapi..tapi kalian tidak apa-apa kan mas, tidak ada yang eeh yang sakit atau kesurupan kan” kata bu Puji panik


“Ndak ada bu, kami semua sehat dan tidak kurang apapun kok. Dan kami ucapkan banyak terima kasih kepada Ibu dan suaminya bu Puji. Entah apa yang tejadi dengan kami apabila ibu Puji dan suaminya tidak mengusir orang yang meniupkan asap rokoknya ke rumah itu” kata Dogel  lagi


*****


“Nah kan, kita sekarang sedang dalam pengawasan Totok, tapi untungnya kita tinggal di daerah  perkampungan dan desa, sehingga tetangga akan curiga apabila ada sesuatu yang diluar kebiasaan kita” kata pak Tembol


“Kita juga ditolong mbah putri dengan meminjamkan kamarnya untuk kita masuki ketika serangan hawa dingin itu makin menjadi-jadi” tambah Chandra


“Jadi ada enaknya tinggal disini, karena semua ada yang membantu, coba kalau kita ada di vila sana, wah akan makin ndak karu-karuan keadaan kita nanti” kata Winna


“Memang ada saja serangan dari Rochman atau Totok. Seperti semalam, rumah ini dikepung pocong yang begitu banyak, tetapi karena pagar ghaib rumah ini benar-benar kuat, pocong itu hanya bisa meludah diluar pagar saja”


“Kemudian serangan hawa dingin yang tadi itu, mungkin akan lebih mematikan lagi apabila tidak ada pagar ghaib di rumah ini, jadi memang benar kita memang harus tinggal disini selama Totok masih hidup” kata pak Tembol


“Untuk ngilangin pusing, gimana kalau kita ke desa Bs pak, kita ke warung mbok Nah, sekalian kita makan siang disana pak” kata Chinta yang dari tadi nampak bingung


“Ok..boleh..boleh, saya setuju nak, kalian bertiga cepat mandi dulu agar cepat kita kesananya nak, hehehe” kata pak Tembol


Aku tidak tau siapa itu mbok Nah, tetapi kalau memang ketiga perempuan ini dan pak Tembol pernah ke sana pastinya bukan tempat yang mengerikan untuk didatangi.


“Desa Bs situ tempat apa pak?” tanya Dogel


“Waduh susah juga jelaskanya nak, karena saya dan anak-anak Soetopo pernah ada disana, dan kami ketemu dengan mbak-mbak ini disana juga, waktu mereka sedang ada kegiatan KKN nak Dogel”


“Tapi setelah saya dan anak-anak Soetopo masuk ke dimensi waktu yang berbeda akhirnya kami dan mbak-mbak ini merasa tidak pernah bertemu heheheh, bingung kan”


“Nah di desa itu adalah asal semua pokok masalah itu mulai berkembang nak, dan menurut mbak-mbak ini di desa itu awal mereka bertemu dengan Totok atau nama sebenarnya adalah Rochman yang memang ganteng hehehhe” cerita pak Tembol


Sebelum siang hari,kami sudah berangkat menuju ke arah Gebang, perjalanan yang tidak ada kendala sama sekali hingga dalam waktu tidak lebih dari dua jam mobil sudah sampai di sebuah desa yang bernama Gebang.

__ADS_1


“Lho pak, bukanya ini ke vila puitih pak” tanya Dogel


“Iya nak, kalau lurus nanti itu ke vila putih, tapi nanti kalau ada perempatan kita belok ke kiri nak”


__ADS_2