INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 210 (LHO KOK GINI)


__ADS_3

Tidak ada pilihan selain harus menunggu hingga keadaan benar-benar aman, hingga yang mencari kami merasa kami sudah hilang atau kembali ke alam kami. Hal ini juga karena kami sekalian menunggu Blewah dan anjeng sangar itu sehat dan bisa meneruskan perjalanan menuju ke titik awal kami datang.


“Saya penasaranm siapa yang berkuasa disini, di kota ini, atau di alam ini, atau di daerah ini. Kalau ndak salah tiap daerah mempunyai penguasa sendiri-sendiri mirip dijaman kerajaan dulu” kata pak Tembol


“Waduh ya ndak tau pak, mungkin mas Nang yang mahluk dunia ini bisa tanya ke penduduk sini. Eh sebenarnya kenapa pak Tembol kok kepingin tau hal itu?” tanya Dogel penasaran


“Ndak papa, saya cuma pingin tau saja, kok disini bisa tenang sekali, penduduk ghaib disini bisa jalan santai dan saling menghormati dengan pengendara kendaraan yang juga berseliweran disini”


“Beda dengan di Negara wakanda yang penduduknya sedang antri minyak goreng, hingga penguasa wakanda ngomong kalau mau masak direbus saja jangan digoreng” kata pak Tembol sambil tersenyum sinis


“Waduh saya juga ndak tau pak, saya kan ada di dunia kalian, saya menjaga keluarga Chinta secara turun-temurun pak” kata Mas Sinank nang


“Mas Nang jaga keluarga nak Chinta mulai tahun berapa, atau mulai generasi berapa” tanya pak Tembol


“Saya baru saja kok pak, mungkin semenjak Indonesia merdeka atau sebelumnyalah pak. Saya mulai generasi buyutnya mbak Chinta pak” kata mas Nang


“Hmmm bearti mas Nang tau yang namanya Sebroto dan Mak Nyat Mani dong” kata pak Tembol


“Saya tau pak….mmhh…” Kata mas Nang dengan singkat tanpa menjelaskan kelanjutana, hanya kata-kata saya tau pak dan mmmhh saja


“Oh mas Nang tau, tau yang bagaimana mas Nang” tanya pak Tembol yang keliatanya penasaran dengan jawaban singkat dan penuh tanda tanya itu


“Ehmm saya tau mereka pak….saya tau…”jawaban mas Nang semakin membuat pak Tembol makin penasaran


Tapi ternyata pak Tembol tidak meneruskan pertanyaanya, pak Tembol hanya diam dan tersenyum penuh arti kepada Si Nank nang.


“Nak Petro, bagaimana keadaan anjeng itu, apakah dia sudah siap untuk jalan lagi?” tanya pak Tembol


“Sudah pak …lha ini di lagi jalan jalan patroli keadaan disini pak heheheh”


Anjeng itu pulih dengan cepat, dia mendekatiku sambil melihat wajahku, mungkin dia minta pendapatku untuk jalan melihat keadaan disekitar sini, jadi setelah dia melihatku, aku langsung elus kepalanya saja.


“Nak Mirah…gimana keadaan nak Blewah, apa dia siap untuk melakukan perjalanan?” tanya pak Tembol kepada Sumirah


“lha ini sudah bisa duduk pak , tapi mungkin untuk jalan dia masih kurang pak,” jawab Sumirah


“Abah Fuad…. Gimana kita teruskan perjalanan setelah keadaan aman?” tanya pak Tembol


“Bagaimana kamu tau keadaan disini sudah aman!, bukannya kita masiih sembunyi di rumah kosong ini” jawab abah Fuad agak sewot dengan pertanyaan pak Tembol


“Lha itu anjeng nak Petro sedang melihat keadaan di luar, dia seperti itu sedari tadi waktu membantu kami menemukan nak Nang dan nak Blewah” jawab pak Tembol

__ADS_1


“Pffffh, anjeng kok dipercaya, percayalah sama omongan yang mengajak kalian kesini, bukan dengan penjaga rumah itu” jawab abah Fuad dengan nada yang kurang pas heheheh


Tidak lama kemudian anjeng itu datang dan dia duduk di depan kami sambil menggoyangkan pangkal ekornya, dia menatapku  dan menjulurkan lidahnya.


“Keadaan sudah aman, kita bisa keluar sekarang pak”


“Heeeh…. Kenapa kalian percaya dengan anjeng itu, dia tidak punya pemikiran harus bagaimana dan apa yang dikerjakan” kata abah Fuad


“Mas Nang, coba sampean lihat di sekitar sini sudah aman belum mas” suruh pak Tembol dengan nada pelan


Mas Nang yang pada dasarnya juga kurang suka dengan abah Fuad segera jalan menuju ke sekitar area sini untuk memeriksa apakah masih ada yang mengejar kami atau tidak.


“Aman, sekarang kita bisa keluar dari sini, keadaan disini sudah sepi lagi, tapi ndak tau lagi nanti setelah kita ada di jalan besar itu“ kata mas Nang


“Ayo nak Blewah, kita mulai jalan lagi, nak Mirah bisa bantu nak Blewah jalan ya, biar nak Agus bisa fokus perhatian jalan yang akan kita lalui nanti”


Kami akhirnya melanjutkan perjalanan yang sebenarnya mudah, hanya saja karena ada masalah Blewah dan Abah Fuad yang tidak suka dengna anjeng yanag akan kubawa ini, sehingga agak tersendat juga.


Anjeng ada di depan kami beberapa meter, dia selalu waspada dengan telinga yang selalu berdiri, ekor dia pun tidak goyang sama sekali, meskipun memang ia tidak memiliki ekor, tapi paling tidak dia saat ini sedang dalam keadaan serius.


Kami jalan terus mengikuti anjeng yang sudah banyak membantu kami mulai dari kami menemukan Blewah sampai membunuh mahluk aneh yang menguasai rumah Nabil….tapi aneh juga dengan orang yang mirip dengan abah Fuad, kenapa dia bisa tidak suka sema sekali dengan anjeng itu.


“Njeng…njeng, kamu tak kasih nama Semprul aja ya njeng”


Kami sekarang ada di perempatan jalan dimana kami harus belok ke kiri setelah ini, tapi si Semprul kenapa hanya diam saja di depan kami, apakah ada sesuatu yang membingungkan dia?


“Nak Petro…coba nak Petro datangi Semprul itu nak, keliatanya dia sedang melihat atau merasakan adanya sesuatu disana nak” kata pak Tembol


Aku dan mas Nang yang akan mendatangi Semprul yang sedang berdiri sambil melihat kearah kami yang beberapa meter di belakangnya, mungkin dia sedang meminta persetujuan atau dia melihat sesuatu yang ganjil, dan menyuruh kami untuk mendatanginya.


“Mas Petro kelihatanya anjeng itu melihat sesuatu deh mas, dan kita disuruh mendatangi dia mas” kata mas Nang


“Kalian tunggu di sini dulu saja, aku dan mas Nang yang akan lihat ada apa di sana. Kalian siap saja untuk lari apabila kami suruh lari” kataku kepada yang lainya


Aku dan mas Nang sudah dekat dengan Semprul yang duduk dengan lidah yang terjulur dan kepala yang selalu menoleh ke arah kamu, kelihatanya dia ingin bilang…kesiniooo ada yang menarik disana.


“Mas nang coba ikuti arah Semprul ini sedang melihat sesuatu mas, mungkin kita tadi disuruh dia untuk memperhatikan sesuatu disana mas”


Semprul melihat ke arah kiri, dia menatap tajam ke arah seseorang yang memakai pakaian koko dan memakai kopiah hitam, orang itu nampaknya sedang mencari sesuatu. Karena dia celingak-celinguk dan bertanya kepada beberapa orang yang kebetulan ada disana.


“Ada yang aneh disini mas, kenapa dia mirip dengan orang yang kita kenal?”

__ADS_1


“Jangan kasih tau lainya dulu mas Petro, kita lihat orang itu hingga jelas mas, karena jarak kita dengan orang yang memakain baju koko itu sekitar lima belas meteran, cukup jauh juga bagi mata kita untuk melihat dengan jelas pada sesuatu yang belum tentu benar”


“Kasih tau kepada teman-teman kita untuk menunggu disana, dan bilang ada yang harus diselesaikan disana dengan kita dan Semprul” kata mas Nang kepadaku


Aku balik kepada rombongan yang sedang menunggu kabar dari aku dan dari mas Nang, mereka bingung juga setelah aku bilang kalau aku dan mas Nang harus selesaikan yang ada disana dulu dengan anjeng yang sekarang aku panggil dengan nama Semprul.


“Ayo kita kesana mas Nang, kenapa otaku berkata yang sebaliknya ya mas Nang. Aku merasa yang ada di depan kita ini yang sebenarnya”


“Belum tentu mas Petro, semua harus kita buktikan dulu, makanya saya sudah heran dengan kelakuan orang yang sekarang ada bersama teman-teman kita itu”


Semprul tetap berjalan di depan kami, dia tetap waspada dan melihat kesana kemari dengan hati-hati, hingga kami sudah sekitar lima meter di depan orang yang sosoknya kami kenal itu.


“Assalamualaikum….”sapa mas Nang kepada orang itu


“Waalaikumsalaaaaaaaaam… kalian ini dari mana saja!, abah cari- cari terus dari mulai kalian datang kesini mas, sampai abah bingung jangan-jangan kalian tersesat dimana gitu”


Nah kan, yang sedang kita hadapi bersama mas Nang ini abah Fuad, lalu yang ada disana bersama pak Tembol dan lainnya itu siapa?.


“Eh iya bah, untung ada semprul ini, dia yang tadi mengajak kami berdua ke abah Fuad, kalau tidak, mungkin kami tidak akan bertemu dengan abah Fuad ini” kataku


“Anjing yang pintar, anjing yang sesuai dengan pilihan abah” kata orang yang ternyata abah Fuad yang datang menjemput kami


“Oh iya…. Apakah kalian sudah berhasil mendapatkan mas Blewah dan mbak Mirah itu heheheh?”


“Tentu saja sudah abah, lha ini saya sudah ada di depan abah, berarti kan semua sudah selesai, dan kita harus pulang bah, kami bisa selamat juga karena dibantu oleh anjeng ini bah” kata mas Nang


“Ya sudah kalau gitu. Mana yang lainya, ayo kita balik ke alam kita, dan kalau kalian mau, anjing ini ajak saja juga. Nanti dia bisa menjadi pengawal kalian meskipun dia nantinya berupa hantu saja” kata abah Fuad


Nah kalau yang di depan kami ini adalah abah Fuad, lalu siapa yang ada bersama pak Tembol dan kawan-kawan kami itu, dan apakah dia sekarang tidak membahayakan teman-teman kami?


Kalau lihat dari cara bicara, keramahanya, dan aura wajahnya, dia ini memang abah Fuad. Berbeda dengan yang ada bersama teman kami itu, dia yang selalu murung, dan selalu marah kepada kami. Dan sangat membenci Semprul!


“Maaf abah, sebenarnya abah Fuad ini ikut bersama kami atau tidak waktu abah mengirim kami ke alam ghaib ini?” tanya mas Nang


“Ya jelas tidak mas, kan abah sudah bilang, ikuti petunjuk yang akan diberikan oleh tiruan abah yang ada disana, tiruan abah ini sejenis anjing pelacak yang akan mencari keberadaan kedua teman kalian. Ya tiruan abah itu ya berupa anjing yang juga akan melindungi kalian lah” kata abah Fuad


“Itu yang kamu kasih nama Semprul itu apa bukan yang membantu kalian? Dia itu memang anjing penjaga disana, dia disana merasa disiksa dan tidak disayang sama sekali oleh juraganya. Makanya abah nego dia dan abah ambil alih sebagai tiruan abah. Masak kalian tidak bisa memahami bahasa abah” kata abah Fuad lagi


“Nah karena kalian lama sekali ada disana dan tidak balik-balik maka abah putuskan juga menjemput kalian, hingga abah bertemu kalian disini ini”


“Eh gini abah Fuad, keliatnya kami ada sedikit masalah. Jadi ada yang mirip dengan abah, dan saat ini dia ada bersama teman-teman kami yang ada disana” kata mas Nang

__ADS_1


“Kami akan selesaikan dulu yang sedang bersama kami itu Bah, dan untuk sementara abah Fuad mungkin bisa ditemani Semprul disini”


__ADS_2