
Sore hari…, aku dan Ginten ada di rumah kontrakan, aku sedang menunggu kabar dari pak Peno, karena besok kan sudah hari ketiga untuk proses pembuatan KTP.
Harusnya besok kami bertemu dengan seseorang di mana gitu , dan melakukan pembayaran atas pembuatan KTP
“Ten.. aku lagi bayangin bentuk dan isi KTP itu.. Paling juga hanya nama dan alamat kan Ten”
“Gak cuma itu Man.. Saya pernah ditunjukin sama bu Peno bentuk KTP dan isinya apa saja”
“Bentuknya koyok kartu remi Man.. tapi agak kecil… isinya nama, alamat, agama, tempat tanggal lahir, pekerjaan kalau gak salah ada jenis kelaminya, sama status Man”
“Hah.. terus tempat tanggal lahirnya gimana Ten.. aku lahir di Timur tengah,, bapakku setan penguasa sepetak padang pasir disana”
“Aku lahir ketika disana sedang terjadi perang saudara… kemudian oleh bapaku aku dikirim negara ini… negeri yang lucu.. Termasuk kamu ini yang lucu juga Ten hihihihi”
“Halah Man..man…ngaku ngaku dari timur tengah segala.. Wong kamu kelahiran tanah jawa waktu belanda baru masuk ke negara ini kok!”
“Sok tau kamu Ten… memangnya kamu bisa ngarang gitu itu dari manaaaaa?”
“Heheheh saya diberitahu Mak Nyat Mani wakakakak”
“Asal kamu tau Man.. saya ini sebenarnya puteri dari jin yang menguasai wilayah laut jawa yang letaknya ada di sekitar antara pulau kalimantan dan pulau jawa”
“Tapi saya nggak sombong Man”
“Pantesan namamu Ginten.. Lha kamu ternyata orang jawa asli heheheh”
“Sekarang dimana orang tuamu Ten.. apa kamu gak mau pulang ke dasar laut lagi?”
“Gk Man.. kalau saya pulang nanti saya disuruh jadi putri duyung.. Trus dikawin sama ikan paus yang kuntilanya paling kecil sebesar pohon asem….
“Lha terus … gimana menurutmu kalau sampai saya dinikahkan sama ikan paus Man?”
“Hihihihi.. Mana mau ikan paus sama kamu Ten.. terus nganumu yang hanya sebesar itu mau dimasuki kuntila ikan paus hahahah”
“Kalau ngarang cerita yang serius dong Ten hahaha… boleh gak masuk akal…. Tapi jangan mbual mbual hahaha”
“Aku bayangin kuntila ikan paus..kok jadi kepingin ya Ten”
“Ajing!... saya serius Man… asal kamu tau..punyaku ini elastis.. Bisa dimasukin kuntila sebesar apapun.. Apalagi kuntilamu yang cuma sebesar salep cap kaki tiga hihihihi”
“Aaaaah gendeng kamu Ten… asyudahlah, jangan bahas barang gak karuan terus aja.. Aku kan jadi gak kuat ini”
“Oh iya Ten.. untuk agama..nanti diisi agama apa Ten?”
“Saya pilih agama yang paling banyak pengikutnya saja Man… kalau kamu gimana Man?”
“Kalau ditulis gak punya agama gimana ya Ten…secara aku malu sama iblis iblis lain kalau aku punya agama…”
“Setan gak perlu agama… tapi ada juga setan yang belajar agama Ten… aku dulu punya temen, setan yang beragama kristen.. Dia selalu mengikuti apa saja yang diajarkan di gereja, karena waktu itu dia tinggal di gereja…”
“Ada juga teman aku yang mualaf juga Ten.. gara-garanya sederhana Ten…”
“Dia kan waktu tengah malam sedang punya tugas menakut nakuti manusia… terus waktu itu malam hari itu dia berjaga-jaga di sekitar kuburan Ten…
“Kemudian lewatlah seorang bapak-bapak dengan pakain putih dan bersarung…”
“Sebenarnya aneh juga karena malam-malam ada bapak-bapak jalan sendirian dengan pakaian yang rapi”
“Kemudian teman ku berubah menjadi pocong Ten…..”
“JREEEENG… dia langsung berdiri berhadap hadapan dengan bapak-bapak yang berjalan sendirian….”
“Otomatis bapak-bapak itu kaget dan mengucapkan nggak tau doa atau apa gitu.. Tujuannya agar pocong itu pergi dari hadapanya..”
“Tapi hingga berkali kali bapak bapak itu mengucapkan sesuatu, pocong itu tidak pergi-pergi”
“Teman aku pun semakin berani kepada bapak itu Ten.. karena dia tidak merasa tidak ada yang berubah pada dirinya ketika bapak-bapak itu mengucapkan sesuatu….”
“Kemudian mungkin karena jengkel..orang tua itu menarik kain yang menutup wajah pocong itu…lalu dengan suara yang keras ..orang tua itu membacakan sesuatu di telinga teman aku berkali kali Ten..”
“Ternyata yang terjadi adalah temanku malah tidak takut.. Karena dia tidak tau arti yang diucapkan orang tua itu. Tapi bagi temanku suara yang terdengar sangat merdu”
“Setelah orang tua itu capek dan kehabisan suara karena dia bolak-balik mengucapkan kalimat yang sama….,temanku kemudian merubah dirinya menjadi jin lagi, dan bilang kepada orang tua itu..”
“Saya senang dengar apa yang tadi bapak ucapkan.. Tapi saya tidak tau apa artinya”
“Kata bapak itu.. Masuklah islam.. Nanti kamu akan tau artinya… setelah tau artinya.. Kalau ada yang mengucapkan kalimat itu kamu harus ketakutan!”
“Kalau saya tidak ketakutan bagaimana pak? Tanya temanku Ten”
“Lalu bapak itu bilang.. Ya harus takut.. Gak boleh gak takut.. Kalau bisa kamu nanti terbakar dan jadi asap, karena begitu seharusnya….”
“Karena menarik..akhirnya teman aku mau saja diajak masuk agama orang tua itu Ten”
“Nah dari situ.. Dia akhirnya masuk islam dan sampai sekarang dia aktif di masjid dan mushola yang ada di daerahnya hehehe”
“Nah kalau aku kepingin agama yang ditulis di KTP itu semua agama Ten… dan akan aku pelajari semua agama yang ada disini”
“Jadi kalau aku nanti sudah pensiun dari urusan ini dan gak ada kerjaan…. Dan ketika aku kembali jadi hantu.. Maka aku nggak akan bingung menakut nakuti orang lagi”
“Kalau waktu aku sedang menakut nakuti orang, dan kebetulan yang aku takuti itu orang muslim… tiap dia mengucapkan kalimat doa.. Aku bisa ikuti dengan lebih merdu dan lebih jelas dari pada orang itu hehehe”
“Tapi kan kamu akan panas dan ketakutan ketika ada yang mengucapkan kalimat untuk mengusir setan Man…”
“Ya nggak Ten.. karena aku sudah tau cara mengendalikan…karena semua agama sudah aku pelajari termasuk cara mengendalikan kalimat-kalimat yang mereka ucapkan hahahaha”
“Omonganmu gak masuk akal blash Man.. omongane wong edan!”
“Lha terus gimana Ten.. kan aku gak punya agama Ten.. mosok harus memilih salah satu dari agama yang ada disini Ten hihihih”
“Dari pag gak jelas.. Sana kamu ke rumah pak Peno, kayaknya ia sudah datang itu Man, tanyakan juga besok kita akan ke mana, bertemu siapa dan mengisi datanya dimana”
“IYooooo ratu setaaaan”
“NDASMU MAN!”
Hihihih aku paling suka kalau nggoda Ginten, dia itu orang yang kadang mudah percaya sama omonganku…
Apakah ini yang namanya kecocokan ya. Apakah dari kecocokan akan timbul cinta? Heheheh males C*K… gak akan aku jatuh cinta sama perempuan hahahah”
Nah .. kebetulan sekali, ternyata motor pak Peno sudah ada di teras rumahnya….
Tapi apa sopan ya kalau ke rumah pak Peno sekarang?
Ah masa bodo… aku akan kesana sekarang saja.
“Ah ada mas Totok.. Kebetulan ini mas.. Eh besok bisa ketemu dengan teman pak Tolani di kecamatan?”
“Seperti yang saya katakan sebelumnya… pak Tolani hari ini sedang ada wawancara kerja di sebuah rumah sakit di kota M sebagai driver mobil ambulan”
“Jadi nanti yang akan mengarahkan mas Totok dan mbak Ginten adalah teman dari pak Tolani yang bernama pak Mustajib”
“Besok dia akan tunggu jam delapan di kecamatan.. Pak Mustajib akan nunggu mas Totok dan mbak Ginten di sebelah pos keamanan kecamatan”
“Dan jangan lupa, dananya besok dibawa ya mas Tok”
“Baik pak.. Besok jam Delapan pagi di pos satpam ya pak.. Eh namanya pak Mustajib”
“Betul mas Tok.. oh iya ..eh besok tanyakan juga tentang data yang harus diisi di KTP itu… dilihat dan di cek dulu datanya… takutnya ada yang salah mas”
“Karena KTP itu nanti langsung jadi, Maka mas Tok dan mbak Ginten sebaiknya menunggu disana saja”
“Baik pak.. Terimakasih banyak atas bantuannya pak.. Akan saya beritahu istri saya Ginten dulu pak”
Wah .. besok aku sudah punya KTP..tidak akan ada yang mengusir aku dan Ginten lagi.. Heheheh.
Aku akan jadi penduduk negara ini tanpa takut apapun karena aku sudah punya identitas diri.
*****
“Sip Man…kita bisa kemanapun tanpa takut jadi warga yang tidak beridentitas lagi hehehe”
“Iya Ten… eh malam ini kita nginep di rumahmu aja Ten.. besok pagi kita berangkat ke kecamatan dari sana saja”
“Sik Man…memangnya kamu tau dimana letak kecamatan itu?”
“Waduuuh iyo Ten.. aku kok gak tanya pak Peno tadi… sesuk ae kita cari Ten…, besok kita berangkat pagi aja Ten, biar kita gak telat.,. Soale kan kita harus cari dimana alamat Kecamatan”
Setelah adzan maghrib yang membuat jantungku jedag jedug…, aku dan GInten menuju ke desa sebelah..
Malam ini adalah malam terakhir kami berdua tidak beridentitas, karena besok kami berdua sudah memiliki identitas.
“Eh Man, kita lewat rumah Marwoto yuk… kita lihat apa yang terjadi disana.. Apa mungkin Marwoto masih nekat tinggal disana”
“Ho oh Ten.. setuju, aku sudah gak sabar mamerin KTP kita ke Marwoto hahahah”
“Sik Bentar Man… seandainya Marwoto pindah ke desa sebelah… lalu bagaimana dengan kita Man… padahal kita rencanakan akan pindah ke rumahku Man”
“Gak masalah Ten…pokoknya dia harus pindah… setelah itu kan tugas kita selesai”
__ADS_1
“Eh tapi kalau tugas kita selesai.. Apa yang harus kita lakukan Ten, secara kita ini kan sudah menjadi manusia meskipun dalam diriku ini masih ada iblisnya”
“Kalau bisa kita hidup bersama punya anak dan bahagia selamanya Man… bukanya itu tujuan dari manusia Man”
“Iya Ten… tapi kan aku jelas gak bisa Ten.. mosok aku harus kamu paksa untuk jadi suamimu Ten…”
“Ya harus bisa.. Kamu harus merubah kelakuanmu yang suka lubang tai menjadi pecinta lubang kenikmatan tempat jalan keluarnya anak kita nanti Man”
“Wahahahah.. Ngimpiii Ten…Ngimpiiii.. Mana bisa aku suka sama lubang dalane anak hahahah”
“Nanti suatu saat kamu akan suka dan akan menikmati Man hehehe, Eh iya Man… bukanya malam ini kita harusnya nyekar ke makam mbok Painah?”
“Wooo iyo Ten.. sampek lali aku.. Gara-gara soal KTP sampek lupa aku Ten… atau tengah malam nanti aja kita ke makamnya?”
“Jangan Man… besok malam saja kita kesana Man… malam ini saya kepingin tau keadaan Marwoto.. Apakah dia akan melakukan sesuatu dengan desa ini atau dia sedang beres-beres rumahnya.
Ketika aku dan Ginten sudah sampai di gapura desa.. Ternyata keadaan desa ini aneh…. Desa ini gelap dan aku merasa ada sesuatu yang sedang terjadi disini.
“Stop dulu Man.. lihat keadaan desa ini.. Lampu yang ada di pinggir jalan desa ini mati. Dan yang mengerikan itu yang melayang layang di atas rumah tiap penduduk disini itu” tunjuk Ginten
“Ini pasti ulah Marwoto Ten.. ayo kita ke sana!”
Aku kayuh pedal sepeda, aku mulai masuk jalan desa.. Tetapi tiba-tiba bayangan putih transparan yang melayan di tiap rumah penduduk sini mulai mendekati aku dan Ginten.
Tetapi tiap bayangan itu berusaha masuk ke tubuhku.,.. Mereka tiba-tiba terbakar… dan lenyap begitu saja.
Aku tidak merasakan apa-apa, hanya saja rasanya risih sekali apabila bayangan-bayangan itu mulai mendekati aku.
“Man.. bayangan ini berusaha masuk ke tubuh kita ya.. Maunya mereka ini apa sih Man?”
“Mbuh Ten.. mereka pikir kita ini manusia pada umumnya… mereka tidak tau kalau aku ini setan dan lebih sangar daripada mereka hantu-hantu kemarin sore!”
“Aku yakin mereka ini suruhan Marwoto kampret itu Man… kita langsung saja ke sana Man, nanti akan aku buat Marwoto gak sadar diri, kemudian kamu perkhosa Marwotonya”
“Yancoooook! Emoh Ten jijiiiik.. Syilite Marwoto kremien jeh!”
“Kuntilaku nanti dirubung kremi Ten.. yeeek nggilani c*k!”
“Hahahaha.. Lha terus enake diapain Man?”
“Ndogke kamu prekes ae Ten..biar dadi ndog dadar hahahaha”
Dengan penuh kegembiraan dan suka cita aku dan Ginten menuju ke rumah Marwoto, aku tidak tau apa tujuan Marwoto dengan disebarnya demit-demit yang dia dapat dari kuburan ini.
Karena sebagian besar demit yang dari tadi berusaha masuk ke dalam tubuhku ini masih bau tanah dan bau bunga setaman.
Kami sudah belok kanan dari perempatan.. Dang langsung menuju ke rumah Marwoto…
Perbedaan yang sangat mencolok… tidak ada demit yang melayang-layang di atas atap rumah Marwoto…
Dan memang keadaan dirumah ini juga gelap.. Karena listrik mati.
Tapi apakah matinya listrik ini juga disengaja, dan atas perintah dari Marwoto juga?
Sayangnya dalam gelapnya desa, tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah…,
“Tulisan warga yang mengusir Marwoto sudah tidak ada Man!”
“Dan di dalam rumah ini juga ada tanda-tanda kehidupan, yang berarti mereka berdua ada di dalam rumah Man”
“Ayo kita masuk paksa saja Ten… suruh dia menyudahi kekacauan ini, tapi kayaknya kita harus pakek kekerasan deh Ten”
“Kamu tunggu diluar Ten.. aku akan masuk ke dalam dulu”
Ketika aku melangkahkan kakiku masuk ke halaman rumah Marwoto… tiba-tiba muncul dihadapanku makhluk yang berwarna hijau jelek bermata satu dan bertanduk..
Makhluk itu tinggi besar dan mengeluarkan aroma yang sangat busuk..
“KAMU SIAPAAAAAHHHHH….” makhluk itu berbicara sambil mendekatkan mulutnya di wajahku
“Janc*****k!... ambune c****k .. kamu berapa tahun gak sikat gigi!...makananmu bangkai tikus yaaa!”
“Bau mulutmu c****k..lebih bau daripada tumpukan sampah yang ada di pinggir desa!”
“Minggir.. Aku mau ketemu Marwoto… jangan halangi aku atau kamu aku mandikan dan akan aku buat kamu wangi!
“Kamuuh tidak boleh masuk ke dalam rumah boskuuuuuuuuuhhh!” katanya sambil menyemburkan udara busuk yang keluar dari mulutnya
“BNGZTH.. ABABMU C*K!.....MINGGIR ATAU KAMU AKAN AKU BIKIN JADI API!”
“KAMU TIDAK BOLEH MASUUUKK… BOS SEDANG ISTIRAHAT” kata mahluk jelek itu lagi
“Ten.. panggil penduduk disini.. Kita usir ramai-ramai marwoto yang makin gendeng ini
“Gimana cara memanggil penduduk sini Man….?”
“Pukul kentongan yang ada di luar itu sekeras dan selama mungkin”
Sementara Ginten memanggil penduduk desa, aku akan ajak bicara setan jelek ini, setan jelek ini kelihatannya bodoh, dan mudah untuk dibohongi, tapi dia ini keliatanya jujur.
Yah kembali lagi sebagai kodrat setan pada jaman sekarang, setan sudah menjadi budak manusia, hanya dengan iming-iming makanan menyan atau wewangian dan beberapa macam sesajen, mereka sudah mau menjadi suruhan manusia.
Tapi aku bukan setan yang bodoh, karena aku akan melawan mereka semua.
“Heh setan… coba lihat aku baik baik… kamu akan tau siapa kau!”
“HAHAHA KAMU MANUSIA TOLOL YANG MAU MELAWANKU” jawab setan goblok itu
“Dasar setan goblok… matamu cuma satu.. Coba perhatikan aku sekali lagi…!” bentak ku karena aku sangat jengkel
“HMMM AAAAHHHGH.. KAMU SAMA SEPERTI AKHUUUUHH!” kata setan itu kaget
“Tidak sama tolol… aku bukan setan yang tolol dan mau dibohongi sama manusia macam kamu!”
“Aku punya harga diri dan aku tunduk kepada amanat raja setan untuk menakuti manusia!... bukan malah dibodohi manusia!”
Setan itu terdiam ketika melihat aku dan mendengar apa yang aku katakan….Memang benar-benar gak punya otak.. Mau saja aku pengaruhi.
“Aku mau tanya.. Siapa yang sedang kamu lindungi itu, dan mana JOE KOWIyono?
“Orang yang saya lindungi Marwoto , dia memberi saya makanan… Joekowiyono sudah dipecat .. karena suka mengintip bos laki waktu bos laki sedang mandi””
“SIAPA NAMAMU WAHAI SODARAKU” aku mencoba untuk merangkul sesama setan”
“Saya tidak punya nama.. Orang tua saya membuang saya ketika saya dilahirkan dalam keadaan cacat.. Akhirnya saya bisa hidup dan besar dengan sendirinya”
“Gimana kalau kamu aku panggil Pah’aruf saja?”
“Eh saya ini perempuan…yah karena saya cacat seperti ini, orang tua saya tidak menghendaki saya hidup, kemudian dibuang ke telaga sana… untungnya ada Sekar.. Saya diangkat jadi pembantu di istana sekar”
“Hemmm Sekar adik dari Mak Nyat Mani kan!”
“Iya.. kok kamu bisa tau….?” kata setan perempuan itu lagi
“Sudah gak usah dibahas aku tau atau tidaknya…”
“OK bagaimana kalau kau aku beri nama Fhuwan saja.. Eh jangan.. .kayaknya kurang panjang namamu.. Heem gimana kalau aku panggil mbak Fhuwan… fuuuh… fhuuuaan wan… karena bau mulut dan nafasmu busuk kayak dasarnya neraka”
“Kamu aku beri nama Fhuwan Mahabraniwati… cocok kan.. Mahabraniwati karena kamu mbelani bosmu dengan nyawamu. Padahal kamu ini kan perempuan heheheh”
“Eh .. hihihi Fhuawan sukaaaa.. Fhuwan sukaaaaaa” katanya sambil melompat lompat
“Sekarang biarkan saya masuk ke rumah ini nanti… tapi nanti, sambil nunggu warga yang berkumpul disini hehehe”
“Kamu bantu kami ya Fhuwan.. Nanti kamu aku kasih tugas yang berguna bagi penduduk sini.. Kamu lindungi desa ini.. Pengawalan desa ini ada di tanganmu Fhuwan Mahabraniwati”
“Shyiiiyaaappsshh” jawab Fhuwan
Tiba-tiba pintu rumah terbuka ketika aku sedang bicara dengan setan yang aku beri nama Fhuwan Mahabraniwati.
Ternyata yang keluar adalah kutukupret yang bernama Marwoto…
Dia berdiri diambang pintu.
Sementara sudah ada beberapa warga laki laki yang datang karena ulah Ginten yang memukul kentongan dengan keras dan berkali kali.
“MAU APA KAMU BIKIN BERISIK DI RUMAHKU” bentak Marwoto sambil menunjuk aku
Aku tau Marwoto tidak hanya menunjuk ke aku, tetapi dengan telunjuknya dia menyuruh suruhan demit-demit untuk menyakiti aku.
Tapi ya bukanya sombong…. Memang tidak ada yang bisa menyakiti aku. Sekali lagi karena aku ini kan juga setan, ditambah lagi kekuatanku sudah di upgrade oleh mbok Painah.
“Heheheh kamu tidak akan bisa menyakiti aku To….!”
“MARWOTO… BUKANYA KAMU SUDAH DIUSIR WARGA UNTUK PERGI DARI DESA INI!”
“LALU KENAPA KAMU MASIH ADA DISINI DAN MENYERANG RUMAH WARGA DENGAN DEMIT SURUHANMU!”
Marwoto terdiam… dia kaget dengan apa yang barusan aku bicarakan, dia tidak menyangka bahwa aku bisa tau apa yang sedang dia lakukan.
__ADS_1
Warga yang datang semakin banyak… tetapi tidak ada yang berani bergerak, kemungkinan besar karena mereka takut dengan kekuatan Marwoto.
Aku harus pancing warga sini agar tidak takut dengan Marwoto… agar malam ini mangusir Marwoto pergi dari sini.
“MARWOTO.. DARI PADA AKU BIKIN KAMU KESAKITAN, SEKARANG JUGA KASIH TAU KAMI WARGA SINI .. BAGAIMANA CARANYA MENYALAKAN LAMPU DESA” sengaja aku teriak dengan keras agar warga yang semakin banyak ini tidak takut lagi dengan Marwoto
Warga semakin banyak dan mulai berisik karena mereka mulai tidak sabar… tapi aku tau mereka ini takut dengan Marwoto.. Makanya warga sini hanya bisa ngedumel saja.
“Saya tau cara menyalakan lampu desa pak..” kata salah satu pemuda desa dengan suara yang pelan.
“PERGILAH DAN NYALAKAN.. AKU JAMIN MARWOTO TIDAK AKAN MENYAKITI KAMU, KARENA DEMIT-DEMIT MILIK DIA SUDAH AKU KUASAI!”
“SEKARANG MARWOTO HANYA ORANG TUA YANG TIDAK TAU DIRI DAN TIDAK PUNYA KEKUATAN SAMA SEKALI!” teriak ku dengan keras
Pemuda itu mengajak beberapa warga untuk menyalakan lampu desa. Yang entah dimana letaknya. Tetapi tiba-tiba Marwoto berteriak.
“JANGAN SEKALI KALI KAMU NYALAKAN LAMPU ITU!.., ATAU…” teriak Marwoto
“ATAU APA MARWOTO.. ATAU KAMU AKAN MERASAKAN KESAKITAN KARENA DEMITMU MULAI MENYERANG TUBUHMU”
Orang yang tadi akan pergi menyalakan lampu desa pun berhenti karena teriakan Mawoto, mereka ketakutan. Tetapi tidak lama kemudian mereka tertawa ketika melihat Marwoto kesakitan sambil memegang perutnya.
Penduduk desa mulai mempercayai aku…
Setelah lampu desa nyala.. Ratusan demit yang ada di atap tiap rumah wargapun pergi dengan sendirinya.
Keadaan desa menjadi terang lagi… dan kepercayaan serta keberanian warga mulai memuncak.
Kini saat yang tepat untuk mengusir Marwoto dari desa ini..
“WARA DESA YANG TERHORMAT… UNTUK MENGHINDARKAN MARWOTO AKAN MELAKUKAN TINDAKAN ANEH-ANEH LAGI, ADA BAIKNYA DIA DAN ISTRINYA YANG BERNAMA SUPARMI KITA USIR DARI DESA INI SEKARANG JUGA”
“OH IYA… PERKENALKAN NAMA SAYA TOTOK, DAN ITU ISTRI SAYA GINTEN… KAMI BERDUA TINGGAL DI RUMAH TUA GINTEN… KARENA ISTRI SAYA ADALAH CICIT DARI MBOK GINTEN PEMILIK RUMAH ITU”
Warga desa mulai rame ..mereka meneriakan Yel yel untuk mengusir Marwoto malam ini juga.
Perangkat desa pun hadir.. Mereka sempat memberikan pengertian kepada penduduk desa yang sudah emosi untuk tidak melakukan tindakan analkiss eh anarkis.
Beberapa warga desa mulai mendekati dan memegang Marwoto yang hanya diam saja tanpa ada perlawanan sama sekali.
Beberapa ibu-ibu bersama Ginten masuk ke dalam rumah Marwoto dan memaksa keluar Suparmi yang sembunyi di dalam lemari…
Keadaan di rumah Marwoto sangat tegang,
Marwoto meminta waktu untuk mengemasi pakaian dan beberapa barang yang akan dia bawa ke desa sebelah…
Penduduk mengawal Marwoto dan Suparmi hingga melewati gapura desa, setelah itu beberapa pemuda duduk duduk di sekitar gapuran untuk mamantau keadaan Marwoto berjalan dengan diam
Sebelum penduduk pergi dan pulang ke rumah masing-masing, aku akan jelaskan siapa aku dan siap Ginten.. Tetapi tentu saja bukan yang sebenarnya.
“Bapak-bapak..ibu-ibu… nama saya Totok dan ini istri saya Ginten, kami berdua penduduk desa sebelah, kami kenal dengan orang tua Marwoto yang bernama Painah.. Orang tua yang kasihan karena semasa sisa hidupnya diabaikan oleh Marwoto”
“Istri saya adalah pewaris rumah Ginten, dan diperkuat dengan dokumen kepemilikan rumah.. Dokumen kepemilikan rumah akan kami perlihatkan besok siang di hadapan perangkat desa ini”
“Mulai detik ini .. kekuasaan desa bukan lagi dibawah Marwoto.. Tetapi sudah dibawah pengurus dan perangkat desa dalam hal ini RT,RW, dan LURAH”
“Mulai hari ini kalian tidak usah takut dengan Marwoto , karena saya yang akan melindungi desa ini selama Marwoto akan melakukan penyerangan kembali”
“Besok pagi saya akan pergi sebentar, dan siangnya saya ada disini.. “
“Oh iya.. Ada baiknya kita lakukan pembersihan rumah Marwoto, kita buka rumah itu agar terang benderang dan tidak mengerikan”
“Tapi kita lakukan besok siang saja, tunggu saya datang dulu”
“Sekarang bapak-bapak dan ibu-ibu bisa kembali ke rumah masing masing, karena saya akan melakukan pembersihan di rumah kalian masing-masing”
“Memangnya ada apa di rumah kami ini pak?” tanya seorang ibu-ibu yang sedang bersama suaminya
“Tadi ketika lampu jalan desa ini dimatikan oleh Marwoto, di tiap atap rumah ada belasan demit suruhan Marwoto yang sedang berusaha memperkeruh suasana dan pikiran pemilik rumah”
“Tapi sekarang sebagian besar demit itu sudah pergi… mereka mengikuti orang yang telah memberi mereka makan”
“OH.., pantesan, tadi anak bayi saya rewel nangis terus” kata pemuda yang sedang duduk di gapura desa
“Ya sudah.. Mudah-mudahan setelah kepergian Marwoto , di desa ini akan nyaman, dan kalian akan merasa aman, tanpa takut akan seseorang yang sering mengancam kalian”
Ketika sebagian besar penduduk desa sudah balik ke rumahnya, dan hanya meninggalkan perangkat desa dan beberapa pemuda. Aku mulai dengan mengusir sisa demit yang masih ada di sekitar sini.
“Eh pak Totok.. Eh kami akan temani pak Totok untuk melakukan pembersihan….” kata orang tua dengan janggut yang memutih
“Perkenalkan nama saya Wongso… saya sebenarnya tetua disini, hanya karena anak Painah yang semakin aneh itu, saya menjadi tersingkir”
“Eh ini pak lurah yang bernama Johan, kemudian pak RT dan RW yang bernama pak Purwo dan pak Heru”
“Baiklah bapak-bapak… sekarang setelah Marwoto pergi, tugas kalian untuk menunjukan kewibawaan kalian disini, dan saya akan membantu kalian dengan sepenuh hati”
“Sekarang kalian bisa pulang saja pak… saya akan menyelesaikan urusan saya dengan sisa demit-demit”
“Saya akan bantu pak Totok.. Kebetulan saya juga paham masalah ini, hanya saja saya tidak sekuat Marwoto”
“Monggo pak Wongso kalau mau membantu saya, untuk pak RT, RW dan pak Lurah bisa pulang saja”
Akhirnya perangkat desa pun pulang, tinggal aku, Ginten dan pak Wongso serta beberapa pemuda desa yang masih ikut dengan aku…
“Monggo.. Kita lakukan pembersihan…”
“Pak Wongso… untuk menjaga desa ini, saya suruh anak buah Marwoto yang tadi menjaga rumah Marwoto untuk melindungi desa ini dar serangan Marwoto”
“Penjaga rumah Marwoto itu saya beri nama Fhuwan.. Nanti bapak bisa lihat dia kalau sudah saya panggil”
“Pak Wongso bisa berdiskusi dan berkomunikasi dengan Fhuwan”
“Tapi ingat.. Jangan beri makan dia dengan kemenyan, bunga atau sejenisnya.. Biarkan dia cari makan sendiri, karena kodrat setan atau iblis itu memang cari makan sendiri”
“Oh iya pak… pak WOngso tidak perlu takut dengan Fhuwan.. Dia itu mamang iblis, tetapi dia akan menghormati manusia apabila antara manusia dan setan berjalan sendiri sendiri”
“Maksudnya bagaimana pak Totok?” tanya pak Wongso kebingungan
“Gini pak.. Kita berlogikan saja…misalnya pak Wongso punya ilmu yang dibanggakan bapak, kemudian ada orang yang berusaha mempelajari ilmu bapak dan kemudian orang itu memakai ilmu bapak untuk menguasai bapak”
“Kira-kira pak Wongso marah atau tidak?”
“Tentu saja saya tidak terima pak Tok..” jawab pak Wongso
“Nah … begitu juga setan dan iblis pak… mereka itu diperintah Tuhan untuk mengganggu kehidupan manusia… tetapi sayangnya manusia berusaha mempelajari ilmu setan… dan digunakan untuk menguasai setan”
“Maka dari itu setan semakin benci pada manusia yang jahatnya bisa melebihi setan pak hehe”
“IYa…benar juga pak Totok… sya baru ngeh sekarang ini pak”
“Nah dengan pak Wongso paham.. Saya berharap tidak ada yang berusaha mempelajari ilmu iblis untuk dipraktekan kepada sesama manusia”
“Kalau udah gitu nanti manusia menyalahkan Iblis yang melakukan ini semua… padahal tidak.. Padahal manusia yang mempelajari ilmu setan yang melakukannya… yah seperti si Marwoto itu pak”
“Ya.. saya mengerti pak Totok..”
“Nah sekarang akan saya panggilkan penjaga rumah Marwoto yang ternyata dia itu baik, dia memang iblis dan tujuan di bumi untuk mengganggu manusia.. Tapi dalam tahap yang wajar saja..hehehehe”
Aku memanggil Fhuwan yang sudah aku dapuk untuk menjadi penjaga desa. Dia perlahan lahan menampakan dirinya di hadapan pak Wongso.
Tentu saja pak Wongso kaget dengan hadirnya si Fhuwan yang bentuknya aneh dengan mata satu dan tanduk itu.
“Sapa saja dia pak, dan jangan takut.. Dia juga makhluk Tuhan seperti kita juga kan pak hehehe”
“Sekarang Fhuwan dan pak Wongso sudah saling kenal.. Dan ingat Fhuwan. Jangan minta-minta makan ke pak Wongso dan penduduk disini”
“Kamu ditakdirkan untuk mencari makan yang ada di alam semesta ini, dan kamu disini didapuk sebagai penjaga keamanan desa.. Kamu punya kuasa untuk mengusir yang jahat-jahat dari desa ini”
“Jadi kamu disini punya jabatan, punya harga diri, dan punya kekuasaan. Kamu sudah bukan iblis tolol yang selalu menjadi peliharaan orang saja, kamu bisa mengambil keputusan, tapi tentu saja semua harus didiskusikan dengan pak Wongso ini”
“BHaiiikkk siyaaaap” kata Fhuawan yang menyemburkan bau busuk dari mulutnya
“Gimana pak Wongso.. Apakah siap untuk menjaga desa ini bersama dengan Fhuwan?”
“Saya selalu siap pak Totok….”
“OK.. sekarang kita melakukan pembersihan desa”
Aku, Ginten, pak Wongso dan Fhuwan .. diikuti beberapa pemuda desa jalan-jalan ke seluruh jalan desa yang ada disini.
Beberapa demit suruhan Marwoto berhasil aku dan Fhuwan temukan dan aku usir mereka agar tidak ke tempat ini lagi
Fhuwan sempat heran ketika aku tidak membinasakan demit-demit suruhan Marwoto itiu, tetapi hanya mengusir mereka dari sini,
Begitu juga pak Wongso yang dalam hatinya pasti menginginkan agar aku membunuh demit-demit itu.
“Hehehe pasti kalian bertanya tanya, kenapa saya tidak membinasakan demit demit itu?”
“Jawabanya adalah.. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan dan punya tujuan hidup juga, mereka pasti punya keluarga juga kan”
__ADS_1
“Jadi jangan sampai kita menyakiti mereka yang hanya akan menimbulkan dendam di hati mereka.. Cukup kita usir dari desa ini saja sudah cukup”