
"Tro, aku ndak tau apa yang terjadi sama tubuhmu, tapi yang jelas kamu ndak bisa kami bawa ke rumah sakit Tro, karena kondisi tubuhmu yang gak bisa diajak keluar ruangan dan tidak bisa kena sinar matahari"
Petro hanya diam, air mata yang keluar dari satu mata yang masih tertutup itu terus mengalir, dia tidak berkata apa-apa lagi , hanya sesenggukan tidak jelas bercampur suara ngorok yang kami dengar dari mulut Petro.
"Yang bisa sembuhkan kamu hanya Allah Tro, tinggal tunggu keajaiban dari Allah Tro, dan tergantung juga dari doamu, rasa Ikhlasmu , aku yakin kamu akan sembuh Tro"
"Aku masih menunggu permintaan maaf dari Petro secara tulus agar dia bisa sembuh dari sakit nya ini, memang aku kasihan dengan keadaan dia, tetapi kalau kita ingat apa yang dia lakukan dengan kami dan rumah mbah putri, aku harus nya malah senang dia dalam keadaan seperti ini" batinku
Kuperhatikan luka itu semakin melebar, di bagian mata kanan keadaanya semakin parah, mata itu sudah hilang dan hanya meninggalkan lubang hitam menganga di rongga mata.
"Agh... aghku minta maaf, khg...kharena kesalahanku sendiri yang mengakibatkan semua ini, agh aghku mintaa maaf Gel, Wo, Wah" kata Petro dengan suara yang makin lemah dan makin serak
"She..shekhali lagi aghku minta maaf yaa, karena aku telah membuat Khalian hidup susah dan dikejar orgghang suruhan arab itu heh...uuggghhh hegh"
"Gel, koyoke Petro wis gak kuat lagi iku Gel , nafasnya wis menggos menggos Gel" bisik Glewo agak kerasa agar Petro sadar keadaanya hihihi
"Hussh ngawur ae, doakan biar dia cepat sembuh, bukan malah ngomong yang nggak-nggak awakmu iku Wo" bisiku kepada GLewo
Aku tau Petro saat ini memang kelihatanya sudah mulai sakratulmaut, tapi kalau memang ada keajaiban seperti yang dikatakan Sumirah itu, ya dia akan sembuh dan normal kembali.
"Tro, usahakan bersihkan pikiran dan hatimu dan lafalkan kalimat syahadat Tro. Kami akan bantu doa buat kamu, mudah-mudahan ada keajaiban Tro"
Petro tidak menjawab apa-apa, dia hanya mengangguk pelan saja. Nafas Petro sudah bisa dihitung dan ritmenya sudah kacau balau, perasaanku Petro sudah tidak kuat mempertahankan hidupnya lagi.
Tepat ketika nafas petro tinggal hitungan jari saja permenitnya, kemudian tiba-tiba seperti ada yang membuat kaget Petro, dia sekarang sudah bisa bernafas normal lagi, perlahan-lahan dia bisa membuka mulut dan berbicara lagi kepada kami.
"Gel, aku merasakan rasa hangat didadaku, doakan aku sembuh Gel, Wo,Wah"
"Awakmu akan sembuh pokoknya kamu harus bisa menyesali perbuatanmu selama ini, dan kamu harus bisa meminta maaf kepada orang yang sudah kamu bikin susah, baik itu kamu bikin susah dengan kelakuanmu atau dari omonganmu"
Kulihat semakin lama luka yang menganga itu kemudian mulai mengering, beberapa lama kemudian dari luka itu muncul jaringan baru yang perlahan lahan terbentuk dengan sendirinya.
Yah memang ndak masuk akal lah apa yang aku lihat ini. Tapi yang namanya dunia, hal yang tidak masuk akal sering menjadi kenyataan. Jadi usahakan bisa menerima sesuatu yang tidak masuk akal itu menjadi sesuatu yang masuk akal hehehe.
"Tro, awakmu semakin baik dan semakin ada kemajuan, sekarang kamu tak tinggal ya, kami masih ada urusan yang harus diselesaikan, kamu baik baik saja disini dan ingat, jangan membuat orang sakit hati, atau menyakiti orang lain"
"Lho kalian, mau kemana rek, baru saja salah satu mataku mulai bisa lihat, kok kalian malah mau pergi dari sini. Jangan-jangan kalian ini bukan temanku, jangan-jangan kalian ini dikirim Tuhan untuk menyembuhkanku" kata Petro dengan suara yang mulai normal
"Wis gak usah mikir aneh-aneh, pokoknya jangan sakiti orang lagi, kalau kamu sakiti orang lagi, maka sakitmu tidak akan bisa disembuhkan lagi" jancik aku kok sudah mulai koyok wong suci rek hihihihi
__ADS_1
"Kalau kalian pergi, lalu bagaimana aku bisa temukan kalian bertiga rek, tolong tinggalkan nomor telepon , tulis di meja nomor telepon kalian sebelum pergi dari sini" pinta Petro
"Kami ndak punya ponsel Tro, kami akan datangi kamu kalau kamu kepingin ketemu kita Tro" washuuuu, kelakuanku wis koyok orang sakti ae rek hihihihii
Tapi pancen harus gitu, biar Petro merasa kita ini tidak bisa di anggap remeh, apabila dia sembuh maka dia akan merasa bahwa kami ini membawa keberuntungan bagi dia heheh.
"Gini Tro, proses penyembuhanmu akan dipercepat, tapi kamu harus bisa meninggalkan kebiasaan burukmu, kamu harus meminta maaf kepada semua orang yang pernah kamu sakiti, meskipun permintaan maafmu itu bertepuk sebelah tangan"
Petro hanya diam saja ketika aku mulai membahas soal permintaan maaf, karena aku tau Petro itu orang yang paling susah untuk menyesali perbuatanya, dan selalu menganggap remeh segala urusan, padahal urusan itu menyangkut kepentingan orang lain, dan banyak yang akan dirugikan.
"Kami pergi sekarang Tro, dan pikirkan apa yang aku katakan itu. Kapan-kapan kami akan kunjungi kamu lagi Tro, dan semoga kamu baik baik saja"
"Terima kasih Gel, Wo , Wah, kalian benar-benar sahabat dan saudaraku"
Setelah berbasa basi dengan ibu kos, dan memberi kabar dia bahwa Petro baik-baik saja dan sekarang dia sedang dalam proses pemulihan, maka kami bertiga meninggalkan kos kosan itu.
"Sekarang kita pergi ke bekas tempat kerja totok, disana kita harus mendapat informasi awal, nanti dari info awal itu bisa kita kembangkan lagi rek"
Jarak antara daerah Nggl sampai ke bekas tempat Totok kerja itu sebenarnya tidak jauh, mungkin hanya sekitar tiga km saja, tetapi karena kepadatan lalu lintas, mengakibatkan perjalanan kesana ditempuh sekitar 30 menitan.
*****
"Yang dipamerkan itu kan kosong Wo, gak ada isinya, disini kan juga jual peti mati selain tempat rumah duka sementara heheh, tapi aku yo agak gimana gitu Wo"
Terus terang aku agak takut juga masuk ke tempat ini, tapi harus, kita harus masuk dan mencari informasi tentang Totok.
Mobil kami parkirkan tepat di depan ruangan yang bertuliskan Kantor, setelah itu aku dan kedua temanku dengan menahan takut masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan kantor itu.
"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu" tanya perempuan setengah baya yang duduk di balik meja ruangan yang bertuliskan kantor itu"
"Maaf bu, kami kesini hanya untuk mencari informasi tentang bekas pegawai disini yang sudah lama kelur dari sini, mungkin dia ada disini sekitar tahun 1997 an"
"Wah maaf pak, kami tidak bisa memberi tahu apapun mengenai bekas karyawan disini yang sudah resign kecuali ada surat pengantar dari kepolisian" jawab perempuan setengah baya itu.
"Maaf bu, saya paham bu. Tetapi saya tidak akan bertanya apapun mengenai urusan pekerjaan atau pribadinya atau jabatan dia disini, kami hanya mau menanyakan kenapa dia resign dari sini bu, nama orang yang kami maksud itu adalah Totok"
Ketika kusebutkan nama Totok tiba-tiba perempuan setengah baya itu terkejut, perubahan raut wajahnya yang tadinya ramah berubah menjadi cemas dan ketakutan.
"Eh..., ee saya t..tidak tau apa yang menyebabkan dia keluar dari sini pak , iya saya tidak tau. Karena sudah lama sekali orang yang bernama Totok itu keluar dari sini"
__ADS_1
"Eh saya kira tidak ada lagi yang bisa saya infokan, dan maaf saya ... eh saya harus kerja lagi" kata perempuan itu kemudian duduk dan menatap layar komputernya
"Ya sudah, terimakasih banyak, permisi"
Kami keluar dari ruangan itu, tapi perasaanku ada yang aneh dengan tingkah perempuan itu, dia kelihatanya ketakutan ketika aku bilang nama Totok. Mungkin ada sesuatu dengan Totok yang menyebabkan orang itu tiba-tiba cemas dan ketakutan.
"Wo, pindah ae mobilnya, parkirkan ke pinggir jalan ae. Mumpung mau makan jam makan siang, kita tunggu sampai ada karyawan disini yang keluar, nanti kita tanyain lagi saja"
Aku penasaran dengan jawaban perempuan tadi, maka aku putuskan untuk tetep ada disini mencari informasi tentang apa dan kenapa Totok keluar dari rumah duka itu,apakah dipecat atau dia mengundurkan diri.
Dan benar juga tepat jam 12.00 lebih sedikit ada beberapa karyawan yang keluar dari sana, dia menuju ke penjual mie ayam yang mangkal di bawah pohon samping tempat rumah duka itu.
"Ndah, ayo datangi dia. Kita tanyakan ke dia tentang Totok, kamu dan Blewah tunggu disini ya Wo biar tidak mencolok"
*****
"Selamat siang mas" sapa Indah kepada pegawai yang memakai seragam seperti yang dipakai Totok di tanda pengenalnya yang ada di dalam dompet itu.
"Iya mbak, ada apa ya" jawab karyawan rumah duka itu
"Mas, kerja disana ya?" tunjuk Indah ke bangunan bercat coklat tua tempat dia tadi keluar
"Iya mbak, kenapa ya mbak?" tanya orang itu curiga
"Maaf mas, saya mau tanya tentang seorang karyawan disana yang sudah lama keluar dari sana mas" kata Indah lagi
"Siapa namanya mbak,mungkin saya bisa bantu?" jawab laki-laki itu
"Namanya Totok mas, dia dulu pernah kerja disini sekitar tahun 1997 an mas"
Laki-laki itu kaget, dia terdiam sejenak sebelum kemudian dia menjawab pertanyaan Indah.
"Maaf mbak, mas. Kalau orang itu saya tidak tau apa-apa, bisa tanyakan ke kantot eh kantor saja mbak"
"Tadi kami sudah ke dalam dan bertemu dengan ibu-ibu yang ada disana mas, tetapi ketika saya sebut nama itu dia nampaknya ketakutan mas. Memangnya ada apa ya sama Totok mas?"
Sejenak orang itu diam, dia sedang berpikir untuk menjawab pertanyaan Indah, mungkin ada sesuatu yang mengerikan sehingga karyawan disana memilih tutup mulut dari pada menjawab tentang Totok.
"Kami Cuma mau tanya satu hal saja mas, kenapa Totok resign dari sana" kata Indah lagi
__ADS_1