INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 50, GEBANG


__ADS_3

Pagi yang cerah bagi kedua temanku , tetapi awal pagi yang mengerikan bagiku karena  sebentar lagi aku akan pergi bersama Totok.


“Ndah kalau menurutmu bagimana, apa aman kalau aku pergi bersama Totok ke daerah Gebang?”


“Ndak papa kok mas, Indah percaya kalau mas Agus bisa membawa diri, buktinya hingga sekarang mas dipercaya oleh Totok sampai-sampai dia mau mengajak mas Agus ke sana”


“Tapi apakah kamu ndak bisa kawal aku Ndah, aku takut kalau dia melakukan sesuatu Ndah”


“Heheheh kalau Indah ikut mas Agus, lantas yang jaga rumah ini siapa mas, kalau teman mas Agus yang bernama Petro itu datang lalu gimana mas”


“Geeeel sudah jam 08.00 kamu ndak mandi siap-siap pergi sama Totok ta?” teriak Glewqo dari ruaang tamu


“Iyoooooo!”


“Ya wis Ndah , aku mau mandi dulu ya, kamu jaga rumah dan kedua temen ku itu ya Ndah”


Sebenarnya aku ini  gak mau kalau harus pergi berdua dengan Totok, tapi karena petunjuk dari Indah seperti itu ya apa boleh buat, terpaksa tak lakukan aja.


“Gel, jangan macem-macem lho yo hihihihi eman  perjakamu Gel,  jangan sampai jokomu digondol Totok Cuma gara gara ke daerah howo adem hihihii” kata Glewo


Glewo dan Blewah mengantarkan aku ke perempatan tempat Totok menungguku. Dan ternyata benar diperempatan itu sudah menunggu sebuah mobil warna hitam dengan Totok ada di dalam mobil itu.


“Wis rek aku turun disini aja , tak jalan kaki ke mobil Totok ae, kalian segera balik aja”  akurisih kalau kedua temanku lihat dandanan Totok yang pastinya nanti akan berdandan dengan dandanan yang ajaib


“Wis ta Gel, tak antar sampai tujuan aja lah , ojok bingung gitu ta Gel, nanti kan juga kalian berdua enak anak kan disana hihiihih” kata Blewah


Kurang ajar anak anak ini ,aku malah diantar sampai  ke sebelah mobil totok yang sedang diparkir di pinggir jalan dengan mesin nyala agar AC di dalam mobil tetep berhembus.


Kuketuk jendela samping mobil Totok, dia nampak tekejut ketika aku sudah ada disamping mobilnya. Yang kurang ajar itu kedua temanku tidak segera pergi dari sini, mereka menunggu hingga totok keluar dari dalam mobil.


Totok membuka pintu mobil dan jeng jeng jeng..... lelaki kekar itu makin mengerikan.....


“ Ya tuhan cantik sekali bos Totok siang ini “ puji Glewo kurang ajar


“Makasih mas Glewoooo, akunya ajak mas Agus jalan jalan dulu ya mas Glewo, eeh mas Glewo sama mas siapa ini satunya minta oleh oleh apa hihihihi”


“Jangan pikirkan oleh oleh untuk kami mas Totok, yang penting mas Totok bisa membuat bahagia Agus aja sudah membuat saya dan Blewah senang kok mas”


Gila totok siang ini memakai dress putih panjang seksi hingga menutupi kedua kakinya yang burik dan berotot, tetapi yang paling mengerikan adalah dia memakai buah dahdah palsu hingga dadanya besar membusung berbelah tengah hihihihi.


Karena Dress yang dia pakai ini bebelah dada rendah, akibatnya buah dahdah palsu itu semakin menyembul metuntung dengan mengerikan, mungkin ini adalah buah dahdah  terbesar yang penah aku lihat selama hidupku.


Totok lagi lagi menggunakan Wig lurus panjang berwarna hitam pekat. Aku heran sebenarnya  Dress macam ini kan harusnya dipakai pada malam hari, tapi  karepmu Tok, aku gak ngurus.

__ADS_1


Blewah dan Glewo dari tadi memasang wajah kurang ajar, mereka berdua tidak pernah lepas dari senyum di wajahnya, kan anying namanya!


“Yuk mas Agus yang setir ya, biasanya kan cowok yang nyetirin mobil , ceweknya duduk dengan santui di sebelahnya”  kata Totok dengan lagak yang bener bener buat mual mual


“Iya bener Gel, kamu kan cowok , ya harus menjaga dan melayani ceweknya dong, jangan sampai seorang cewek itu memintamu untuk dilayani, jadi sebaiknya bertindaklah sebelum diminta Gel” kata Glewo lagi


“Janc*k ojok melok melok C*k” hardikku kepada kedua kawanku.


Mobil pun melaju dengan aku sebagai drivernya, terus terang keadaan di dalam mobil ini cukup canggung juga. Aku bingung kalau mau lihat Totok karena di dada Totok terpasang buah dahdah palsu yang luar biasa besarnya.


“Mas Agus kenapa kok diem aja, masak kita jalan jalan gini harus diem dieman sih mas” protes Totok


“Emmm saya ndak tau mau ngobrol apa mas Totok,” jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


“Apa gak mau tanya kita mau ke mana ini mas, atau tanya akunya kita mau ngapain mas”


Waduh kok ada kata-kata ngapain, kata-kata ngapain ini yang paling mengerikan diantara kata kata lainnya.


“Bukanya saya ndak mau tanya apa apa mas Totok, tetapi saya kan sedang fokus nyetir mas, apalagi kita ke arah luar kota mas” aku berusaha untuk  tidak terjebak dalam komunikasi yang mengarah ke hal yang mengerikan


“Duuh mas Agus ini bener-bener bikin akunya bergetar hebat lho, baru ini akunya kenal cowok yang cool dan menjaga tindak tanduknya dengan baik, cewek mana yang tidak tergila gila sama mas Agus”


Bgnsth!.... salah ngomong rek, karepku ngomong yang agak ndak enak, kok malah dia bilang bergetar hebat. Bergetar hebat ndogmu ta!


“Sudah mas, di kota M cewek saya mas” aku hanya mau menjawab yang singkat singkat saja  kepada totok , karena takutnya dia akan menanyak hal lainya


“Bearti sekarang lagi LDR dong mas, tapi akunya yakin kalau cewek mas Agus ini pasti bangga punya pasangan yang selalu mendahulukan kepentingan ceweknya. Jadi iri deh sama cewek mas Agus ini”


Duh salah maneh cara jawabku, maksude itu aku bilang punya cewe agar Totok tidak berbuat aneh-aneh ke aku, kok malah  saiki deke bilang gitu.


“Ehmm mas Totok kita ini mau kemana mas sebenarnya, karena kalau ke kawasan prgn kan kita belok kiri di depan itu mas”


“He’eh mas kita ke arah prgn mas , akunya nanti mau sambang ke saudara dari mbah yang semalem jual gorengan itu mas”


“Nanti kita ke daerah yang namanya Gebang mas, disana suasananya masih enak dari pada di daerah pegunungan sekitaran sini mas. Nanti disana ada sebuah vila yang asik buat istirahat mas, tapi vila itu besar sakali , kalau mau ke sana harus  rame rame mas”


“Lho saudara mbah mbah penjual gorengan itu tinggal di Gebang?” tanyaku agar tidak hanya membicarkan soal vila dan penginapan saja


“Iya mas  dia tinggal di pinggir hutan, dia tinggal di sebuah warung yang ada di pinggir jalan dan pinggir jurang”


“Dia namanya mbah kara, mbah Kara itu hhmm apa ya..... dah gak usah bahas mbah Kara ya, kita bicara lainya aja ya mas”


Aku sebenarnya pingin melihat wajah Totok ketika berbicara,  karena manusia berbohong atau panik atau tidak suka itu bisa dilihat dari wajahnya, tetapi sayangnya aku tidak berani melihat wajah Totok.

__ADS_1


Hanya gara-gara ada buwah dahdah yang begitu besar yang dipakai oleh laki laki berotot  itu yang membuatku tidak berani menoleh ke arah kiri. Karena buah dahdah palsu itu membuat otaku semakn kacau cara berpikirnya.


“Mas Agus, kalau nanti kita sudah ada di Gebang tolong sementara jangan panggil Totok dulu ya mas, panggil aja akunya Titik. Kak Titik aja mas, dan jangan tanya apa alasanya mas , karena memang  tidak ada alasanya mas”


Totok berkata begitu dengan nada yang tidak seperi biasanya, mungkin lebih kearah tegang atau bisa dibilang sedikit  ada rasa emosional. Agak aneh juga untuk seorang Totok.


“Iya kak Titik, mulai sekarang  aja kupanggil dengan nama Titik heheheh,  biar kebiasan kan kak” aku berusaha mencairkan suasana yang tadinya agak tegang, tapi Totok tetep tidak membalas gurauanku, keliatanya dia sedang dalam keadaan tegang.


Mobil sudah masuk ke kawasan prgn, sekarang tinggal mencari daerah Gebang yang dimaksud oleh Totok ini. Sebenarnya bagi aku yang beberapa kali pernah kesini, aku tidak pernah tau di sini ada daerah yang bernama Gebang.


“Maaf kak, untuk ke daerah yang kakak Titik bilang ini arahnya mana ya, karena saya yang sudah beberapa kali kesini tidak penah sekalipun mendengar yang namanya daerah Gebang”


“Ikuti saja jalan ini mas,  nanti sebelum masuk kawasan penduduk ada jalan berbelok ke kanan” kata totok singkat”


Jalur yang kami tempuh sebelumnya ini berasal dari Mjkt jadi memang harus melewati pct kemudian hutan yang lumayan naik turun jalananya baru setelah itu masuk kawaan Prgn. Persis jalan yang kulalui  bersama kelima teman dari SUTOPO grup.


 dalam kategori uzur dan dalam keadaan malam hari pula sehingga belum masuk kawasan ini kami sudah dihinggapi oleh beberapa macam masalah.


Tetapi dengan Totok ini beda kendaraan yang kami pakai ini mungkin baru beberapa bulan saja, sehingga berbagai tanjakan dan turunan bisa dilibas dengan santai.


“Itu mas.... di depan ada belokan kecil ke kanan, kita kesana mas. Hati-hati mas karena jalanya kecil, tetapi cukup mulus kok jalannya , semulus paha akunya yang mulai mengecil ini mas ehehehe”


Aku tidak menjawab gurauan Totok yang selalu mengarah ke hal-hal yang berbau begituan. Setelah kubelokan  disani jalanya mulus dan tidak terlalu sempit, mungkin bis kecil bisa masuk ke sini.


Jalan ini berkelok kelok dan semakin lama semakin besar, rumah penduduk pun semakin banyak bahkan ada pula sebuah bangunan tempat mengurus legalitas kependudukan yang berpapan nama Gebang.


Aneh juga, aku yang orang malang dan sering berpergian ke daerah sini, tapi aku ndak tau kalau disini ada daerah  yang bernama Gebang.


“Mas nanti lurus aja ikuti jalan ini, di depan sana nanti jalan dan pemandangannya bagus sekali mas, dan masih jarang wisatawan yang tau daerah ini mas, tetapi  yang menarik menurut cerita dari orang orang didaerah ini itu hawa mistisnya besar sekali mas. Sebesar punya mas Agus hihihih”


Kan mulai lagi  guyonan yang berbau mengarah ke daerah gituan , kalau seumpama aku ladeni pasti  akan semakin menjurus dan semakin mengerikan, menghadapi orang macam ini kita jangan  sampai menanggapi lelucon menjurusnya.


“Nah kita sekarang keluar dari wilayah pemukiman mas, nanti didepan ada pertigaan, kalau lurus kita menuju ke sebuah vila yang besar dan megah, kalau ke kanan kita akan kesebuah danau atau bisa disebut rawa.


“Setelah rawa akan ada sebuah desa mas. Konon di daerah ini ada sebuah desa tak kasat mata mas, desa yang menurut cerita dihancurkan oleh  penguasa daerah sini karena seuatu sebab tidak diketahui”


Aku hanya bisa mengangguk saja karena aku tidak berani menoleh ke arah kiri...., yah sebenarnya aku kepingin menoleh ke arah kiri ketika Totok sedang bicara, sekedar menghormati orang  mengajak bicara lah.


“Itu pertigaanya ya kak, berarti sekarang kita terus saja, ndak belok ke kanan kan” tanyaku tanpa menoleh sama sekali


“Iya mas Aguuuss , kan tadi  akunya udah jelasin, masak lupa sih? Jangan-jangan mas Agus ini tipe cowok yang habis manis sepah dibuang ya. Suka ngelupain mantan heheheheh”


Jalan disini ngeri juga, sebelah kanan jurang yang dalam, sebelah kiri semak belukar dan hutan, mana sepi lagi disini, gimanaaaa kalau tiba-tiba totok yang kekar ini minta gituan, apane aku ndak ketakuan dewe hihihihi.

__ADS_1


Setelah belokan nanti di sebelah kanan ada warung mas, kita berhenti saja disitu, tapi parkirnya di sebelah kiri aja mas, karena ngeri juga kalau lihat jurang di kanan jalan ini mas.


__ADS_2