INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 133 (MBAK BASHI)


__ADS_3

“Halah ternyata seekor kucing hitam solid, dia sedang menggeser-geserkan tubuhnya di pintu pojokan bak air. Aneh, kalau pintu kamar mandi ini tertutup, lalu dari mana kucing hitam ini datang?”


“Mas heheheh ambil kucing itu mas, kasih nama sekarang, energi positivnya bagus untuk kamu, meskipun kita tidak tau kucing hitam ini  datangnya dari mana” kata Mirah


“Tro sini o, bawa sini lampu minyaknya” suruhku kepada Petro yang masih berdiri agak jauh dariku


Sinar lampu minyak itu berhasil menerangi sebagian kamar mandi yang harusnya terlihat bersih, hanya saja karena banyak debu sehingga kamar mandi ini kelihatanya kotor.


“Lho Wah, kok iso ada koceng di dalam sana Wah” tunjuk Petro


Aku ndak jawab pertanyaan Petro, karena aku juga tidak tau bagaimana ada koceng di dalam kamar mandi yang pintunya tertutup.


Setelah terkena sinar lampu minyak, ternyata kucing itu masih ada turunan persianya, mungkin bisa dibilang ini jenis persimed atau persia medium.


“Gendong dan kasih nama sekarang mas” ujar Mirah lagi


“Puuuusss, siini pusss” panggilku pada kucing hitam itu yang tiba-tiba mendatangiku dan menggeser geserkan tubuhnya di kakiku


Tanpa berpikir panjang kucing itu aku gendong, karena aku sendiri memang suka sama binatang ini baik yang lokal atau yang masih ada turunan rasnya.


“Oooh ternyata kamu betina ya, hehehe ndak papa, aku tetep suka kok  hahahah” kugendong kucing itu


“Namamu MBAK BASHI, hihihih. Dari pada kamu ada disini, lebih baik kamu ikut aku saja mbak Bashi”


“Wah gak ada nama yang lebih bagus dari pada itu ta? Macam desy atau Cindy gitu lho wah hihihi” kta Petro


“Iku lak namanya banci sing mbok pangku Tro hahahah”


“Eh Mirah, apa ndak sebaiknya kita minta ijin kepada mbah Saripah? Aku merasa dulu pernah bikin dia marah lho”


“Hihihihi mas Blewah ini gimana sin, coba kamu lihat kucing itu dalam-dalam, siapa yang  ada di dalam kucing itu mas hihihihi”


Aku kaget ketika kulihat lebih dalam ke arah mata kucing hitam yang kuberi nama mbak Bashi itu, ternyata di dalam tubuh mbak Bashi ada mbah Saripah yang sedang menatap tajam ke arahku hihihii.


“Saya minta maaf mbah, saya pernah berbuat yang tidak baik kepada mbah Saripah” sambil kugendong dan kupandangi wajah mbak Bashi

__ADS_1


Kulepas kucing itu agar bebas berjalan, aku penasaran apakan kucing ini akan mengikutiku  atau dia tetap ada di sekitaran kamar mandi.


Ketika kulepas ternyata kucing itu mengarah ke kamar yang ada di sebelah kamar mandi. Dia  berjalan pelan menuju ke kamar yang dulu ditempati Joe atau Bejo.


“Apa kita ikuti kucing itu Wah” tanya Petro yang ragu


“Eh iya Tro, tadi tak liat di dalam kucing itu ada mbah Saripah, dia yang jaga di kamar mandi itu”  aku sebenarnya malas memberitahu Petro, tapi gimana lagi semua arahnya ke hal yang ghaib.


“Hehehe kamu ini malah bikin aku takut ae Wah, gimana bisa seorang mbah-mbah ada di dalam kucing heheheh”


“Lha terserah awakmu Tro, mau percaya atau tidak, contohnya aku, di dalam tubuhku ada aku dan ada Asyumirah. Apa itu masuk akal?” aku bingung cara jelaskan ke Petro yang belum percaya dengah hal ghaib


Sekali lagi aku sebenarnya malas untuk bersinggungan dengan hal ghaib, karena otak manusia itu mempunyai keterbatasan dari apa yang dia lihat, rasakan, dan pelajari. Jadi manusia hanya bisa menalar dan memikirkan dari apa yang dia lihat rasakan dan pelajari saja.


Beda dengan Ghaib yang sifatnya tidak terbatas, otak kita tidak mampu menalar dengan yang berhubungan dengan Ghaib, semua yang tidak masuk akal bisa saja menjadi masuk akal pada ghaib, tinggal kita sebagai manusia harus bisa memilah milah mana yang kita butuhkan dan mana yang harus kita buang.


Seperti halnya Petro ini, aku ndak bisa kasih dia penjelasan secara logika, karena ghaib tidak cocok untuk dijadikan logika, ikuti saja arah ghaib itu kemana, kalau tetap ke arah tujuan kita ya ikuti, tetapi kalau sudah tidak sesuai yang tinggalkan. Itu menurutku lho ya.


“Pokoke ikuti aja kemana kucing itu jalan mas, sudah ndak usah berlogika dengan Petro mas, ndak akan bisa ketemu kalau kalian tetap saja adu logika mas” kata Mirah yang ternyata tau kebingunganku.


Kucing hitam yang kuberi nama mbak Bashi itu menuju dan masuk ke kamar Bejo. Ketika sampai di lemari yang tadi kututup pintunya dia mengeong keras, keliatanya dia ingin masuk ke dalam sana.


“Sudahlah Tro, biasakan dengan apa yang ada disini, karena perjalanan kita masih jauh, apalagi dengan keadaan Dogel yang semakin hari semakin aneh saja”


“Ada apa mbak Bashi,  mau masuk ke dalam lemari itu kah mbak” tanyaku pada kucing yang berbulu gondrong rembyak rembyak  berwarna hitam pekat itu.


Mbak bashi tetap mengeong keras dan sesekali menggeserkan tubuhnya ke kakiku. Aku tau dia ingin masuk ke sana, tetapi aku belum tau apa yang menjadi alasan dan tujuan dia kesana.


Apakah mbak Bashi yang di dalamnya itu terdapat mbah Saripah itu ingin mengajaku ke lorong yang banyak mayat atau ke lorong satunya yang  terlihat dalam dan jauh.


“Wah, kucing itu mau masuk ke dalam lemari Wah” kata Petro


“Iyo Tro, lemari ini akan ku buka, tapi kamu harus siap kalau ada  sesuatu di dalamnya Tro. Ingat, kita berhubungan dan bersinggungan dengan ghaib Tro, jadi bisa saja yang tidak masuk akal akan jadi kenyataan


Wajah Petro yang terkena sinar lampu minyak yang barusan kuserahkan kepada dia keliahtanya sudah yakin.

__ADS_1


Kubuka lemari besar yang ada di depanku agar kucing itu masuk ke dalam nya. Aku dengan santai membuka lemari, karena aku sudah pernah membuka lemari itu sebelumnya.


Bau yang luar biasa busuk keluar dari dalam lemari kayu berwanrna hitam itu. kulirik Petro yang ternyata hanya berusaha tegar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Kucing hitam yang kuberi nama mbak Bashi itu diam sambil melihat ke lubang hitam semacam terowongan yang ada di dinding lemari yang menempel ke tembok.


Aku maju  mendekati lubang itu, dan kemudian kuarahkan sinar lampu minyak itu ke dalam lubang hitam yang ada di dinding lemari.


Sebelumnya kan aku sudah kesini, tetapi hanya sampai beberapa meter masuk ke terowongan ini saja, aku tidak berani masuk lebih dalam karena aku hanya membawa senter Hp.


“Mirah, sebenarnya bagian belakang toko ini apa sih, kenapa ada lorong yang menuju kebelakang. Kalau bagian belakang toko ini adalah  gundukan tanah atau bukit ya aku paham, tapi kalau bagian belakang toko ini adalah rumah penduduk, itu baru ndak masuk akal” aku bicara agak keras agar Petro mendengar juga


“Mas Blewah ndak bisa mencampur adukan antara ghaib dengan keadaan nyata mas. Tadi waktu kita mulai masuk terowongan ini saja kita sudah ada di alam lain mas, kalau mas Blewah hanya berpatokan pada logika saja jelas tidak akan masuk akal mas”


“Meskipun tidak masuk akal, tapi mas Blewah menjalaninya juga kan, lalu apakah ini kenyataan? Apakah Mirah juga kenyataan yang bisa dipikir dengan akal manusia yang terbatas heheheheh”


“Wis ah Mirah yang penting temuin aku di dalam mimpi ya, buat aku mimpi basah..sah ..sah ..sah hihihi” kataku sambil melangkah menuju ke dalam terowongan


“Wah kamu itu sakjane purak-purak ngomong sendiri biar aku terkesan dan percaya atau memang kamu sama perempuan yang bernama Mirah itu se?”


“Hehehe, nek kamu tak jelaskan pasti gak akan percaya kan Tro, tapi nanti suatu saat nek Mirah sudah mempunyai kekuatan untuk menampakan diri di depanmu, pasti awakmu akan terheran heran hihihihi”


“Ayo kita jalan sajalah, dan satu lagi Tro, kamu gak usah takut atau gimana dengan banyaknya ghaib yang ada disini, pokoknya kamu ikuti langkahku ae Tro heheheh” tambahku


Mbak Bashi berjalan pelan di depanku, dan sekali kali dia menengok ke arah kami, mungkin dia ingin memastikan apakah kami mengikuti dia.


“Mas sebentar lagi ada pertigaan yang Mirah pernah katakan kepada mas Blewah itu, kalau ke kiri akan bertemu dengan banyak mayat dan kalau ke kanan  akan menuju ke arah yang jauh sekali”


“Mirah, apakah kita harus mempercayai kucing ini?”


“Mas Blewah apa sudah lihat siapa yang ada di dalam tubuh kucing itu?, kalau sudah lihat dan sudah yakin kan berarti sudah bisa ambil keputusan mau percaya atau tidak kan mas” tukas Mirah lagi


“Wah, terowogan iki bauknya makin parah, busuk sekali, koyok ada ribuan bangkai tikos. Apa kita teruskan ke sana Wah?” tanya Petro ragu


Aku tidak menjawab pertanyaan Petro karena aku sibuk perhatikan kucing yang ada didepanku. Ternyata kita sudah sampai di depan pertigaan, di depanku ada dua terowongan yang sama-sama gelapnya.

__ADS_1


Kata Mirah yang sebelah kiri itu adalah sumber dari bau busuk ini, dan kalau yang kanan itu akan menuju ke suatu tempat yang jauh sekali.


Mbak Bashi sedang duduk di lantai terowongan , dia belum memutuskan akan menuju ke lorong yang mana. Aku  biarkan saja kucing itu berdiam diri dan duduk di lantai  terowongan.


__ADS_2