
Saat ini pukul 09.00 tepat,
Aku dan kedua temanku sedang mencoba menyalakan kompor minyak yang ada di dapur, di dapur ini ada sebuah kompor yang berbahan bakar minyak tanah.
Dan secara kebetulan setelah kami periksa ternyata tangki tempat minyak tanah itu masih terisi penuh, sehingga aku berkesimpulan kompor ini harusnya bisa nyala.
“Kompor minyak ini haruse bisa nyala rek, biar kita ndak beli makan terus, bisa miskin kalau tiap hari kita beli makan terus rek”
“Iyo Gel, pokokke nek bisa kita masak sendirilah, sambil kita cari apa yang bisa kita kerjakan untuk menghasilkan uang disini”
Tadi, pagi kebetulan ada bakul sayur lewat depan rumah, Glewo dan. Blewah sempat beli beberapa bahan masakan, jadi hari ini kita ngak perlu beli makan diluar, harus ngiritlah karena aku ndak tau sampai kapan kami ada disini.
Sementara ini aku sedikit melupakan
peristiwa tadi malam , aku fokus bikin betul kompor mbahku yang mugnkin sudah tahunan tidak pernah dinyalakan.
Tetapi anehnya tempat penampungan minyak tanah nya masih terisi penuh, apakah minyak tanah itu tidak bisa menguap setelah bertahun tahun tidak pernah dipakai?
“Wo, coba bongkaren sumbune, sumbu yang menyentuh bagian minyak tanah, siapa tau sumbu bawahnya itu tidak sampai kena minyak tanah”
Glewo kebetulan sudah kotor, jadi biar dia aja yang bongkar-bonkar sumbu kompor, dari dulu mbahku ini tidak pernah mau memakai kompor gas LPG , kalau ndak salah alasanya karena takut nyala api dari gas LPG yang menyembur.
Kompor minyak tanah milik mbahku ini adalah yang model dua tungku, warna biru putih, kompor ini keadaan luarnya benar-benar bersih, mungkin karena mbak Puji yang rutin membersihkannya.
“Iyo Gel , sumbune sebagian sudah ndak nyentuh minyak tanah, sudah putus tapi koyoke kalau kita tarik kebawah masih bisa nyentuh minyak tanahnya kok”
“Buat sementara aja Wo, nanti kita beli sumbu kompor yang baru, kalau kompor satunya gimana Wo, coba liaten sekalian” kusuruh Glewo sekalian bongkar tungku kompor yang satunya.
Sementara Glewo membongkar kompor bersama Blewah, kesempatan ini aku gunakan untuk melihat isi lemari hitam yang ada di kamar depan.
Ternyata lemari ini bisa kubuka , di dalamnya tidak ada sesuatu yang aneh, hanya ada beberapa potong pakain mbah kakung yang masih terlipat rapi, tetapi aku ndak berani bongkar pakaian mbah kakung hehehe.
Lemari hitam ini kututup kembali karena aku tidak menemukan sesuatu yang spesial disana, atau nanti saja kalau ada Indah, mungkin aku bisa tanya Indah , apa yang ada di lemari depan ini.
“Gel, kesinio gel” teriak Glewo dari arah dapur”
“Opo Wo” aku tergesa-gesa kembali ke dapur setelah mendengar teriakan glewo
“Kompor yang ini masih bisa dipakai, sumbu kompornya sik bagus, tapi minyak tanahnya Cuma sedikit, gimana kalu kita pindah aja kesini minyak tanah kompor satunya Gel?”
“Yo gak popo pindahen ae Wo, lumayan nek ada kompor kita bisa masak , ndak beli di warung c*k”
“Mas Agus” suara perempuan menyapaku tanpa ada wujudnya.
Wah ada Indah, lebih baik aku tak teras depan ae biar kedua temanku ndak tau kalau ada Indah disini, aku soale belum cerita sama Glewo dan Blewah kalau yang kemarin kita antar itu bukan Indah.
“Mas, kenapa sih kok diam aja kalau disapa Indah” aku pura-pura tidak mendengar Indah berbicara, aku tidak mau kedua temanku tau kalau ada Indah disebelahku.
“Rek, aku tak kedepan, mau cek keadaan bentor kita, kalian betulkan kompor itu, setelah itu bikin nasi untuk makan rek
“Ndasmu Gel , lha mosok aku pembantumu c*k” jawab Blewah
__ADS_1
Hahahah Blewah ngamuk-ngamuk, tapi biarkan, yang penting aku bisa ke depan untuk nemuin Indah yang tetap berada di sebelahku terus.
“Ada apa Ndah, kamu kangen sama aku ta? Kan baru semalam kita ketemu”
“Ndak usah aneh-aneh mas, tadi mas Agus sudah chek lemari depan ya? ketemu ndak kerisnya mbah kakung?”
“Keris opo maneh Ndaaaah, wong lemari itu isinya cuma pakaiannya mbah kakung, aku ndak berani bongkar-bongkar lah”
“Mbah putri bilang disana ada sepasang keris yang tidak boleh dipisahkan mas, keris itu sudah lama tidak dipegang manusia, ada baiknya mas Agus sekali-kali pegang keris itu”
“Lha kerisnya itu di sebelah mana Ndah”
“Indah ndak tau mas, pokoknya mas Agus harus cari pegang dan bersihkan saja, tidak perlu dimandikan , cukup dipegang dan dibersihkan menggunakan kain bersih”
“Mas, Indah bisa minta tolong? Mas bisa ke rumah Indah mas, untuk lihat keluarga Indah dan kabari mereka kalau mas Agus sedang berusaha mencari jasad Indah mas”
“Tapi ini alamat beneran ndak, jangan-jangan kamu mau tipu aku dan temanku lagi, disuruh antar demit lagi!”
“Beneran lah mas, nanti Indah ikut juga kok mas”
“Memangnya kamu tinggal dimana, di Gdg juga? Di makam panjang juga hahahah”
“Mas Agus mulai ngawur wes!, Indah tinggal di kedudung mas, di kampung makam cina”
“Lhaaaaaa! Betul kan , ke kuburan lagi kapan hahahahh, kamu ini siapa lagi sih, masak dari kemarin aku dan temanku disuruh ke keburan terus sih”
“Aku ini Indah mas, memang alamatnya ya itu desa kedudung magersari , disana memang ada kampung di tengah makam cina nya mas”
“Yaaaah nanti diliat aja, aku bicara sama dua temenku dulu, tergantung nanti mau ndaknya kedua temanku kerumah keluargamu yang ada di kampung makam kedundung”
Lebih baik nanti temanku akan aku ceritakan tentang tadi malam, ketika aku bertemu dengan mbahku, biar mereka bisa tau keadaan rumah ini dan adanya mbahku disini.
Aduuuh ..kenapa tadi aku ndak tanya Indah tentang kenapa aku bisa tidur di dapur?
Nanti ajalah aku tanyakan Indah, aku curiga itulah dari demit-demit yang ada disini , demit iseng yang ndak suka sama aku karena mbahku sudah ketemu dengan cucunya.
“Yekopo Wo, kompore wis bisa ta”
“Jurgane datang Wah ..Blewah, tapi matane ndak keliatan ketoke, kompor wis nyala kok ya sik takok ae”
“Gan... juragan, itu kacungmu yang namanya Blewah lagi nyuci beras gan, silahkan juragan tunggu saja di ruang makan..danc**k!”
“Lambemu rusak Wo, gak tau sekolah yo lambemu Wo!”
“Pernah kok gan..lambeku sekolah di medaeng gan wakakakak”
“Rek kita habis ini jalan-jalan ke kedundung yuk rek, ke kampung makam cino, mau gak rek?
“Kemana Gel, kampung makam cino? Mau nyekar sopo meneh Gel, kmau ada sodara cina ta gel hehehhe” tanya Glewo
“Eeee ndak nyekar ke makamnya, tapi ke rumah salah satu penduduk disana, rumah Indah rek”
__ADS_1
Aku bingung juga jelasin ketemanku yang sudah jengkel dengan Indah karena kejadian kemarin malam”
Kalau Blewah mungkin gampang di ajak, dia itu kan cuek dengan segala hal yang ada di sekitarnya, pokoke bisa ngopi dan rokokan wis adem ayem uripe.
Kedua temanku ini dalam menyikapi mahluk halus itu beda-beda, kalau Blewah lebih ke arah menantang mereka, sedangkan Glewo lebih ke arah penakut, jadi susah juga menjelaskan kepada mereka tentang ajakanku ke rumah Indah .
Atau aku coba saja jelaskan yang semalam terjadi padaku ya, siapa tau mereka mau mengerti tentang adanya mbahku dan Indah disini.
“Gini rek, aku mau cerita tentang tadi malam, kalian boleh percaya atau tidak, tapi kuharap kalian percaya tetang ceritaku ini rek”
Kuceritakan kepada mereka berdua semalam apa saja yang sudah aku alamai hingga aku ditemukan kedua temanku sedang tertidur didapur.
Aku juga cerita tentang mbak Puji yang telah didatangi mbahku dan berkata kalau mbah putriku ingin bertemu dengan ku karena ada sesuatu yang akan disampaikan kepadaku.
“Semua itu keliatanya saling berkaitan rek, terserah kalian mau percaya atau tidak tetapi yang pasti aku semalam bertemu dengan mbah putriku dan Indah”
“Terus kelanjutan tentang indah gimana Gel , dia ngomong apa ke kamu?” tanya Glewo penasaran
“Maksudmu opo Wo, aku gak paham sama pertanyaanmu”
“Indah... , indah yang sekarang ada disini, apakah dia tetap ingin agar jasadnya ditemukan atau gimana?”
“Ya masih lah Wo, Indah disini sudah mendapat ijin dari mbahku kan, Nah tadi Indah bilang ke aku kalau dia minta kita kerumahnya”
“Dia minta kita ke keluarganya, untuk ngabari kalau kita akan membantu mencarikan jasadnya atas bantuan dari awah Indah sendiri.”
“Lha alamat rumah Indah itu di daerah Kedundung magesari, kampung yang ada makan cinanya”
“Yo wis lah karepmu Gel, pokoke apa yang kita suka ya kerjakan saja hehehe” jawab Glewo
“Ayo setelah kita makan dan setelah kita mandi bersih, aku kepingin liat keris yang mbahku suruh aku untuk bersihkan rek”
Setalah kami selesaikan makan dan mandi bersih, sekarang kami bertiga ada di depan lemari hitam yang ada di kamar tempat kami tidur.
“Kamu siap mbuka lemari ini ta Gel, nek sudah siap ya ndang dibuka karena kalau memang itu suruhan dari almarhum mbah ya harus kamu lakukan Gel” kata Glewo
“Iyo Wo, siap ndak siap ya harus grak rek, aku ya harus mau nerima warisan dari mbah ku , karena mbahu sendiri yang sudah nemui aku”
Seperti tadi waktu aku buka lemari ini , aku tidak menemukana apa-apa selain pakaian almarhum mbah kakungku, apakah keris itu ada ditumpukan baju mbahku?
“Gel iku di bagian dalam pintu lemari Gel, kamu ada dari tadi ndak liat ta?” Blewah berkata kepada ku
Ternyata di bagian dalam pintu lemari ini ada dua buah keris yang dicantolkan , aku ndak paham jenis apa dan fungsinya apa, aku juga ndak mau tau namanya apa dan harus diapakan.
Perintah mbahku sudah jelas, hanya bersihkan dan jangan dipisahkan saja kan, jadi ndak perlu sampai memandikan apalagi memberi sesajen segala.
“Mbahmu nyuruh kamu apa Gel, apa harus dimandikan atau dijamas gitu” tanya Blewah
“Gak Wah, Cuma disruuh bersihkan aja kok, Cuma itu aja ndak lebih ndak kurang”
“Ya wis nek giitu kamu ambil kain bersih
__ADS_1
kemudian kamu bersihkan keris itu , tetapi apa mbahmu nyuruh bersihkan semua atau hanya luarnya aja Gel” tanya Blewah lagi
“Mboh wah, pokoknya disuruh mbersihkan aja kok”