
“Sudah mas, ndak usah perhatikan hal lain yang tidak masuk akal mas, yang penting kita sudah dapat bukunya, dan sekarang kita harus pergi dari sini secepatnya” kata Indah
Aku masih penasaran dengan keadaan lantai yang berdebu itu, kenapa hanya ada jejak kaki kami saja yang ada disana, sementara tidak ada jejak kaki lainya, padahal Ki Peli mati disana kan.
Indah berjalan cepat di depanku, kabut masih melingkupi lorong hotel yang kanan dan kirinya adalah kamar yang sebagian pintunya terbuka. Tapi aku terus terang ndak berani lihat apa yang ada di dalam kamar yang pintunya terbuka itu.
“Gimana mas, sudah dapat bukunya?” Tanya Sumirah ketika melihat kami berdua datang
“Sudah mbak Mirah, ayo kita segera pergi dari sini mbak, sebelum ada sesuatu yang mengerikan” kata Indah dengan nada bicara yang penuh kekawatiran
“Telat Gel, liaten di luar sana, di halaman hotel itu” tunjuk Glewo ke arah halaman hotel yang gelap gulita karena mendung, serta kabut tebal yang mulai menyelimuti halaman itu juga.
"Iya bener mas Glewo, keadaan memang tidak membolehkan kita keluar dan berada di halaman hotel mas" kata Sumirah
“Apa kita berani pergi dari sini dengan keadaan yang gelap gulita seperti itu, lagi pula ada hal lain yang kata mbak Sum akan lebih mengerikan” kata Glewo dengan cara bicara yang santai cenderung pasrah hihihi
“Iya mas, diluar gelap dan penuh kabut, lalu apa kita nekat pergi dari sini” tanya indah
“Harus Ndah, kita ndak bisa tetap tinggal ditempat yang mengerikan ini. Gimana menurutmu mbak Sumirah?”
“kita terjebak disini mas, diluar sana itu sudah berbeda masa, kalau kita ada di dalam ini, berarti kita masih ada di jaman kita berada, tapi diluar sana sudah berbeda mas, disana sedang ada di masa beberapa tahun lalu sebelum terjadi sesuatu disini”
“Eh Wo sapu kerik atau sapu lidi yang dikasih Zulkifli ada dimana?”
“Tak taruh dibagasi mobil Gel. Lha tadi aku juga lupa mau turuninnya, kenapa Gel?”
“Ndak papa Wo, karena kita ada di tempat yang kita tidak kenal, kayaknya kita perlu sapu pemberian mbah Joyo itu”
“Gak ngomong dari awal c*k, tau gitu tadi kan tak bawa juga kesini sapunya. Wis lah banyak doa dan diam disini saja, bukannya kamu punya pertahanan diri yang dikasih mbahmu?” kata Glewo
“I..iya, tapi aku ndak tau cara gunakanya”
“Pancet ae Geeel...Gel, sudah berapa orang sepuh yang bilang kalau di dalam dirimu itu ada sesuatu yang hebat, dan sudah berapa kali mbahmu bilang tentang itu. Ojok longor-longor poko Gel!”
__ADS_1
Glewo kelihatannya marah denganku. Memang aku punya sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi diri, tapi aku masih belum bisa percaya dan tidak tau bagaimana caranya.
“Kabut kayak gitu itu bisa berapa lama kejadianya mbak Sum?” tanya Glewo kepada Sumirah
“Gak mesti mas, bisa hanya lima menit, tapi bisa juga semaleman sampai pagi mas”
“Terus bagaimana dengan yang ada didalam sana mbak Sum?” tunjuk Glewo ke arah dapur
“Ya ndak gimana-gimana mas, kita bertahan saja disini, bukanya mas Agus bisa lindungi kita dari hal-hal ghaib.... katanya” jawab Sumirah/Blewah yang melirik dan mengerling aku dengan endelnya.. jijik c*k
Kalau kita tetap diam tanpa berbuat sesuatu apapun inshaallah selamat kok mas, kecuali apabila nanti ada yang aneh-aneh, kemudian mas ini komentar tentang kejadian itu. Nah, kalau itu lain lagi ceritanya mas” kata Sumirah/ Blewah yang memegang lengan Glewo
“IIhhhh kamu kok pegang lengan ku siiiihhh, jijik cuk” tepis Glewo
“Maaf ndak sengaja mas, saya kan kebiasaan gitu, kalau saya takut saya selalu pegang lengan juragan perempuan saya mas” kata Blewah dengan mulut yang mecucu.
Cok cangkeme Blewah mecucu, kudu tak kareti ae rasane c*k!
“Gimana Gel, kamu bisa atasi apabila ada yang berbuat aneh-aneh sama kita ya Gel, ingat kamu punya sesuatu yang luar biasa pemberian mbahmu!”
Bawok memang sengaja dipanggil Sumirah untuk membantu kami apabila ada yang iseng dengan kami ketika kabut itu semakin tebal.
“Wo, kamu kan masih bisa lihat mahluk ghaib kan?”
“Iyolah Gel, kan sempat dibuka sama mbah Joyo kapan hari itu”
“Yo wis , jadi bantu aku kalau ada sesuatu yang mulai aneh-aneh dengan kita Wo”
“Yo sudah semestinyalah, kita saling bantu Gel, pokoknya jangan sampai kamu diam saja ketika ada yang menyerang kami Gel” kata Glewo sinis
Suasana hening dengan kabut putih yang mengambang semakin menambah kelam suasana, padahal harusnya ini kan siang hari, tetapi di halaman hotel terlihat gelap dan menakutkan.
Tetapi untungnya angin kencang yang tadi sempat membuat kami takut sudah reda sama sekali. Sekarang yang ada adalah hawa dingin dengan kabut yang mengambang.
__ADS_1
“Sebentar lagi ada yang mengerikan, semoga yang akan terjadi setelah ini adalah yang kalian perlukan mas, karena seperti yang saya bilang disini selalu ada pengulangan waktu mas, dan itu terus terjadi berulang kali” kata Sumirah
Belum juga Sumirah berhenti bicara, tiba-tiba pintu depan terbuka, serombongan keluarga masuk ke dalam ruangan hotel yang sekarang sudah berubah menjadi terang dan lebih meriah dengan musik instrumen yang enak.
Kami tetap duduk dilantai tanpa berani beranjak dari situ, serombongan keluarga itu kemudian duduk di kursi ruang tunggu, sementara laki-laki yang paling tua sedang melakukan reservasi di meja resepsionis.
Tidak lama kemudian pintu kaca itu terbuka lagi, serombongan keluarga yang terdiri dari anak balita kembar empat masuk ke dalam dengan seorang babysiter yang menemani keempatnya, babysiter itu cantik dengan pakaian putih dan rambut yang diekor kuda.
Mereka berdiri di pojokan dekat dengan satu-satunya kalender yang terpasang disana. Babysiter itu sibuk dengan keempat balita yang lumayan aktiv, keempatnya laki-laki dan berwajah ganteng mirip dengan ayahnya yang sedang antri untuk reservasi hotel juga.
Entah bagaimana kejadianya kok tiba-tiba kancing baju baby siter bagian atas itu tiba-tiba lepas, mungkin akibat ditarik tarik oleh salah satu dari keempat anak itu hingga terlihat dahdahnya yang cukup nganu itu terlihat.
kemudian babysiter itu memanggil ibu dari keempat anak itu untuk minta ijin mencari peniti yang dia simpan di tasnya.
Baby siter itu membuka tasnya dan menemukan dua buah peniti, ketika dia sedang membetulkan baju bagian atasnya, tiba-tiba anak-anak kembar empat itu berlarian di sekitarnya, dia kaget karena saat itu dia sedang memegang dua buah peniti, dia takut kalau peniti itu terkena salah satu dari anak itu
Yang satu sudah terpasang di baju bagian atasnya. Dan karena dia harus segera mengurus keempat anak kecil itu, peniti satunya dia pasang ke kalender yang ada di belakangnya. Selesai dengan penitinya, babysiter itu kembali mengasuh anak kembar empat.
Ayah keempat anak itu sekarang sedang ada di depan petugas yang bertugas di belakang meja resepsionis, keluarga pertama yang tadi sedang reservasi kamar sedang menunggu petugas hotel yang akan mengantar keluarga itu ke kamarnya.
Tidak lama kemudian pintu kantor terbuka lagi, ada sepasang suami istri dengan satu anak yang sedang masuk ke kantor hotel untuk reservasi kamar juga, ibu dari anak itu menenteng sebuah tas tangan kecil di tangan kananya.
Dan yang mengerikan tangan kiri dia sedang memegang sebuah buku teka teki silang, maklum tahun segitu mungkin ponsel belum secanggih sekarang yang bisa digunakan untuk bemain game dan lainya.
Aku, Glewo, Indah terdiam melihat kejadian yang aneh yang nampak nyata. Peniti, babysiter, buku tts, empat anak kembar!
Semua digambarkan dengan sempurna meskipun aku cuma bisa menerka apa yang sedang terjadi disini
Sayangnya aku ndak bisa lihat wajah petugas resepsionisnya, tapi dengan apa yang sedang terjadi disini sudah cukup jelas.
"Setelah ini adalah hal yang sangat mengerikan mas, dan perhatikan baik-baik apa yang terjadi mas, karena semua terjadi dengan cepat" bisik Sumirah kepada kami bertiga
"Kalian akan tau bagaimana dan apa yang akan terjadi sesungguhnya disini. Saya tau apa yang akan terjadi karena saya sudah bertahun -tahun lihat kejadian ini berulang-ulang" bisik Sumirah
__ADS_1
"Di area hotel ini aneh, karena kejadian disini selalu berulang-ulang tiap scene demi scene. Dan sayangnya selama ini tidak ada orang yang pernah melihat scene yang paling utama ini kecuali kalian " bisik Sumirah dengan serius.