
Mereka tertawa-tawa didalam mobil yang menuju ke Mjkt setelah tadi berhasil membantai kawanan mahluk halus yang tadi mengikuti mereka.
“Tadi itu sebenarnya siapa mas? Tanya Glewo yang merasa berjasa karena melindungi Indah dan Blewah dari ghaib aneh yang menyerang mereka hanya dengan menggunakan satu batang lidi saja
“Lho justru saya yang tanya kepada kalian, mereka itu kiriman siapa. Ngirim kok yang ecek-ecek gitu mas. Ngirim itu yang sangar sekalian macam Gendruo pemakan organ Intim koyok yang ada di tempat kerja saya hahahahah” kata Eko
“Lhooo heeee mosok ada Gendruo pemakan organ intim rek?. Kalau organ tunggal saya tau mas, saya malah suka kalau ada acara organ tunggal, karena biduane asik-asik mas heheheh” jawab Glewo
“Wah kalian ini ketinggalan jaman. Nanti kapan-kapan saya ajak ke tempat kerja saya, kita tunggu sampai datangnya Gendruo pemakan organ intim orang mati hihihiih” kata Eko
“Makanya orang meninggal harus dimandikan sampai bersih termasuk organ intim dan bagian deborahnya eh duburnya, biar gak dijilatin sama penjilat dan pemakan organ asik-asik itu hihihihi” lanjut Eko
“Di tempat saya kerja itu banyak sekali demit yang kelakuanya aneh-aneh, termasuk demit Homo macam Totok yang menyetubuhi mayat laki-laki sambil makan organ dalamnya”
“Hiiih mas Eko ini cerita apa siiih, Indah risih mas dengar gituan iihh!” desis Indah yang ada duduk di belakang
“Lhooo itu beneran mbak Indah, eh waktu mbak Indah masih berupa mahluk halus, masak ndak pernah ketemu dengan gendruo macam itu mbak hehehehe”
“Bisa jadi gendruo itu sengaja pasang muka angker biar pada takut sama dia. Padahal ndak semua itu angker, kadang ada yang tampangnya sangar tapi hatinya hello kitty” lanjut Eko yang keliatanya gak waras, mungkin kelamaan kerja di tempat mayat-mayat.
Aku kemudikan mobil ini menuju ke Mjkt sambil mendengarkan Eko yang ternyata sedikit ndak waras itu, tapi apa mungkin ya ada gendruo pemakan organ Intim heheheh.
"Sapu lidi yang dikasih mbah Joyo itu apa sih sebenanya mas Eko" tanya Glewo tiba-tiba
"Itu sapu lidi biasa, tapi energinya yang luar biasa heheheh, benda itu dari tadi siang itu ikut kalian lho, masak kalian ndak terasa mas?"
"Gak kroso mas, mosok se kita diikuti sama sapu kerik heheheh" jawab Glewo
"Nah waktu kalian tadi ada di rumah abah Fuad, tiba-tiba sapu itu menampakan diri agar abah fuad menyuruh kalian untuk membawanya. Pokoknya kemana-mana jangan lupa bawa sapu itu mas”
"Lhe gak lucu rek mas Eko iki, mosok aku harus bawa sapu ini kalau masuk ke mall, lha dipikir aku iki lak petugas kebersihan mas hihihii" sahut Glewo
Singkat cerita kami sampai di rumah satu jam sebelum adzan subuh, sebenarnya kami sungkan juga dengan penduduk daerah sini, karena beberapa kali kami selalu pulang tengah malam hingga pagi hari.
"Masih ada satu jam sebelum adzan subuh rek, kalian gunakan waktu untuk istirahat rek, karena nanti kita akan jalan lagi ke vila gebang kan rek"
Setelah subuh berjamaah akhirnya kami tidak bisa memejamkan mata lagi, akibat kopi satu teko yang disediakan oleh Indah kepada kami , mamang asyu kok Indah iku.
“Jam berapa kita ke vila itu rek?” tanya Glewo
__ADS_1
“Bentar mas, Indah lagi siapin sarapan buat kalian, nanti setelah sarapan kita bisa pergi” kata Indah dari arah dapur
“Nanti apa yang akan kita lakukan disana mas Eko?”
“Kita lihat saja nanti mas Dogel, yang penting kita lihat dulu suasana disana kerena saya kan belum pernah kesana sebelumnya. Kita harus merasakan aura yang ada disana dulu mas” jawab Eko
“Kami pernah kesana mas, dan ada keanehan-keanehan disana, macam ada kabut pekat warna abu-abu yang menggambarkan keadaan disana, termasuk keadaan teman kami yang kelihatannya seperti sedang ada di masa lalu”
“Kalau ndak salah kita sudah dua kali ya dilihatin bayangan kayak gitu yo Wo?”
“Iya, kita sudah dua kali dilihatin kabut gelap dan ada bayangan seperti teman kami yang sedang naik dokar dengan pakaian jaman dulu mas” lanjut Glewo
“Hmm kelihatanya itu tanda untuk kalian mas, itu tanda bahwa mereka sedang dalam keadaan bahaya dan mungkin mereka sedang butuh bantuan mas” kata Eko
“Ada baiknya kita kesana secepatnya mas, karena bisa saja kita nanti akan melakukan sesuatu disana. Tapi saya belum tau apa yang akan kita lakukan disana, karena saya belum mendapat petunjuk”
“Nanti disana pasti kita akan dapat semacam petunjuk apa yang harus kita lakukan disana, tapi kita harus ada disana dulu mas heheheh”
Dengan adanya mas Eko ini makin membuat kami bersemangat lagi untuk melakukan penyidikan, tapi sayangnya oleh Abah Fuad penyidikan kami diarahkan ke vila Putih yang ada di Gebang itu. dan katanya lagi apa yang ada disana itu berhubungan langsung dengan yang ada di hotel Waji.
Pukul 07.15 kami sudah siap setelah selesai sarapan dan Indah plus Sumirah yang saat ini menguasai Blewah yang sudah melakukan tugas dapurnya. Glewo saat ini sedang mengambil mobil dari samping Mushola.
“Ini nanti kita akan lewat Waji mas, apa tidak ada keinginan untuk mampir mas heheheh”
“jangan mas Dogel, eh hihihih saya panggil Dogel aja ndak papa ya mas. Sesuai dengan nama panggung kalian heheheh”
“Jangan mas, lebih baik kita turuti dulu apa yang disuruh oleh abah, karena abah tau apa yang sedang terjadi dan mungkin akan terjadi di Waji mas”
Pagi yang cerah kami berlima menuju ke Gebang dengan melewati Pct terlebih dahulu, jalan yang relatif padat tidak menyurutkan niat kami untuk menuju ke vila putih di Gebang.
Mobil mendekati daerah Pct, saat ini daerah ini sangat panas karena matahari sedang giat-giatnya memancarkan sinarnya.
“Mas, di depan sana itu kita nanti ketemu dengan hotel Waji mas” kata Glewo di belakang kemudi
“Iya mas Wo, saya pernah kesana bersama abah, waktu itu abah sedang senang senangnya menyelidiki masalah Totok, tapi disana kami tidak menemui apapun” kata mas Eko
“Gel warung mbah Joyo sudah tidak ada disana” tunjuk Glewo pada tumpukan kayu bekas warung kopi yang tidak pernah tutup itu
“Iyo Wo, apa gara-gara kita ya semua nya jadi berantakan. Mbah Joyo meninggal, kemudian Kipli juga nyusul, seteah ini siapa lagi yang akan nyusul Gel”
__ADS_1
“Hussh. Gak boleh bilang gitu Wo, kita sekarang kan dibantu sama abah Fuad dan mas Eko, semoga dengan bantuan mereka kita bisa selesaikan masalah ini dengan baik Wo”
Setelah melewati hotel Waji yang siang ini masih nampak gelap dan mengerikan, kami lanjutkan perjalanan menuju ke arah Gebang.
“Mas Eko sebelumnya pernah ke Gebang apa ndak?”
“Belum mas, itu juga baru dengar kamarin malam dari cerita kalian dan abah Fuad, selama ini yang saya pikirkan hanya Waji saja, eh ternyata tadi malam abah bilang kalau ada lagi selain Waji hehehe” jawab Eko
Singkat cerita kami sudah tiba di Gebang, sebuah vila yang megah tetapi mengandung sesuatu yang masih merupakan tanda tanya.
“Jadi ini yang namanya Vila Putih yang dikatakan abah ada hubunganya dengan hotel Waji yang ada di Pct?” gumam Eko di depan pagar sebuah vila yang indah dan megah.
“Kalian sudah pernah masuk kedalamnya?”
“Belum mas, kalau di halamanya situ pernah mas. Yang saya bilang kami dihadang kabut itu lho mas”
“Ya sudah, sekarang ayo kita masuk , kalau bisa kita juga masuk ke dalam vilannya, gak cuma di halamannya. Tujuan kita kesini kan kata abah untuk menemukan teman kalian yang hilang itu kan”
“Mbak Sumirah, saya panggil Blewah dulu ya mbak, karena saat ini kami butuh Blewah untuk identifikasi pemilik alat-alat musik hehehe” kata Glewo yang kemudian memanggil nama Blewah
“Wah, kita ada di vila putih iki, teman kita dari Sutopo hilang disini. Di halaman belakang ada beberapa alat musik yang mungkin kamu tau siapa pemiliknya”
“Yo disaut ae Gel, bawak pulang!..., lumayan oleh gitar gratis rek heheheh” jawab Blewah
“Indah, kamu ndak papa kan? Kok dari tadi kamu diam saja Ndah?” tanya Glewo
“Biasaaa Indah itu mikir aku Wo, selama aku ndak ada Indah itu selalu mikir keadaanku c*k hihihi” jawab Blewah
“Indah merasa ada yang aneh di dalam sana mas, apalagi sama kamar yang di atas itu. kamar yang jendelanya ditutup dengan menggunkanan kayu itu mas” tunjuk Indah ke kamar atas
Kami masih ada di depan gerbang vila putih, mas Eko masih berusaha mengolah dan mendeteksi energy apa yang ada di sekitar sini. Memang kalau siang gini tidak ada siapa-siapa, tapi mungkin saja ada sesuatu di dalam atau sekitar sini yang bisa menunjukan keberadaan teman kami.
“Kita masuk ke dalam sana mas?” tanya Glewo
“Iya mas, kan kita berusaha cari teman kalian yang kata abah Fuad ada di sekitar sini tetapi tidak ada disini, kita masuk dulu di dalam sana, karena pasti ada jejak disana yang akan mengarahkan kita ke sebuah petunjuk” jawab Eko gila
“Kalian kan sudah dibekali oleh abah, sekarang mulai belajar menggunakan insting kalian agar lebih peka. Pokoknya gunakan semua panca indera kalian untuk merasakan apapun yang ada disini, baik itu buruk atau tidak” kata mas Eko
“Eh gini mas Glewo, mas Blewah, mas Dogel, dan mbak Indah. Setelah kita nanti ada di dalam halaman rumah itu, kalian akan merasakan perbedaaan hawa, perasaan, dan aura. Hal ini saya katakan sebelum kita masuk ke dalam sana agar kalian tidak kaget ya” kata mas Eko dengan wajah serius.
__ADS_1