
“Ten…. sebentar lagi maghrib…. Mana dekat dengan masjid pula Ten…”
“Memangnya kenapa Man?”
“Itu lhooo suara adzan maghrib… bikin aku kesakitan Ten!”
“Tahan saja Man. bukannya Tuhan memberi cobaan kepada umatnya sebatas kemampuan umatnya Man?
“Hahahahah aku kan bukan umat dia Ten… dan ini bukan cobaan Ten hahahah…meskipun aku gak paham dan gak ngerti apa yang diteriakan waktu adzan itu… tapi badanku rasanya sakit semua”
“Setahuku Adzan itu panggilan untuk waktu sholat bagi umat muslim… masak hanya panggilan saja kamu bisa sakit semua Man?”
“Gimana kalau ada orang yang ngaji.. Apakah kamu juga terganggu dan merasa kesakitan dengan suara orang ngaji?”
“Eh kayaknya nggak Ten… orang ngaji kan suaranya gak sekeras orang adzan.. Lagi pula meskipun aku gak tau artinya, tapi orang ngaji itu mirip dengan orang yang sedang nyanyi.. Jadi aku bisa merasakan alunan suaranya yang enak”
“Tapi meskipun terdengar enak…kalau aku dengarnya terus menerus, rasanya ada yang menusuk nusuk tubuhku dari dalam Ten… sama saja sakitnya!”
“Halah.. Kamu itu ternyata banyak alasan juga Man…. ayo cepat kita masuk ke makam saja… udah menjelang maghrib.. Coba lihat itu banyak mahluk aneh yang keluar dari area pemakaman”
“Mungkin mereka sedang jalan-jalan Ten.. atau mungkin mereka sama dengan aku.. Gak kuat sama suara Adzan, sehingga mereka semua pergi menjauh dari suara adzan itu”
“Ten…kamu tau nggak yang biasanya orang-orang katakan…. Kalau maghrib jangan keluar rumah, karena waktu maghrib itu banyak setan berkeliaran”
“Apakah mereka berkeliaran itu karena ketakutan dan merasa tidak nyaman dengan suara teriakan adzan ya Ten?”
“Hahahah mbuh Man.. yang setan kan kamu .. harusnya kamu tau apa yang terjadi ketika maghrib tiba”
“Iya Ten.. tapi aku ini kan manusia setengah setan Ten… sudahlah.. Ayo masuk ke dalam makam Ten”
Meskipun aku ketar ketir dengan suara adzan yang sebentar lagi akan berbunyi… aku dan Ginten tetap saja masuk ke area makam..
Memang bener kata Ginten.. Banyak demit yang bermunculan dan keluar dari area makam… mungkin saat ini mereka lagi cari makan malam heheheh
Kami berdua sudah sampai di bagian belakang dari makam umum ini. Di sekitar sini letak makam Painah ibu dari Marwoto..
“Hmmm tidak ada air atau bunga di tanah kering makam Painah ini Man… lalu ngapain juga tadi Marwoto dan Suparmi kesini ya?”
“Mereka kesini ya jelas berdoa untuk arwah Painah Ten.. dan juga minta maaf atas semua kesalahan mereka berdua selama ini”
“Eh tapi mana mbok Painah Ten… kenapa makam mbok Painah sepi-sepi saja?”
“Lh ya itu yang mau saya tanyakan ke kamu Man”
“Hmmm ada yang gak beres disini Man… gini saja Man… nanti tengah malam kita kesini lagi saja… kalau jam segini kayaknya percuma juga. Kita tunggu hingga tengah malam dulu sana Man”
“Sekarang kita balik ke rumah dulu Man… tapi saya kepingin lewat rumah Marwoto… saya kepingin lihat rumah itu kalau keadaan maghrib, malam, dan tengah malam hingga pagi hari Man”
“IYa ten.. Aku setuju sama omonganmu.. Ayo kita keluar dari sini sebelum banyak orang yang akan pergi ke masjid”
Aku dan Ginten cepat-cepat keluar dari pemakaman desa.. Dan untungnya pada waktu kami keluar belum ada penduduk sini yang jalan menuju ke mushola…
Tapi ketika kami sedang akan ke rumah Marwoto, kami bertemu dengan bapak-bapak dengan pakaian muslim rapi berbau wewangian khas untuk sholat.
“Wah.. ada mas Totok.. Maghrib-maghrib gini mau ke mana mas, kok malah menjauhi masjid?” tanya salah satu dari mereka
__ADS_1
“Hehehe iya pak.. Saya sh… sholat di rumah saja, kebetulan saya belum mandi pak”
“Sebaik baiknya bagi laki-laki muslim agar beribadah di masjid daripada di rumah mas Tok.. jadi saya anjurkan agar mas Totok sholat di masjid”
“I..Iya pak… mungkin besok saya akan lakukan pak, eh tapi untuk hari ini saya akan beribadah di rumah saja pak”
“Ya sudah mas Tok… sebentar lagi adzan maghrib tiba.. Sebaiknya mas Totok pulang ke rumah saja.. Gak baik ada di luar rumah pada waktu maghrib seperti ini”
Wah gawat juga kalau ketemu bapak-bapak pas waktu sholat tiba.. Bisa-bisa aku masuk masjid dan jadinya punya agama hihihihi.
Apa kata nenek moyangku kalau tiba-tiba aku masuk agama ini hahahaha.
“Man.. ini sudah waktunya kamu memeluk agama islam Man!”
“Hihihi buat apa beragama kalau hanya untuk kedok saja Ten, buat apa berpakaian rapi dan suci kalau memaksakan kehendaknya agar orang beribadah sesuai kemauan orang itu”
“Aku tau orang yang tadi menyuruhku sholat itu.. Dia kalau disini dijuluki raja jemblung.. Karena kegemaran minum minuman yang botolnya jemblung”
“Dulu ketika aku ada disini dengan anak-anak KKN.. kalau malam hari sampai pagi.. Di pos kamling yang berbatasan dengan hutan, orang itu bersama beberapa temannya selalu minum minuman keras Ten”
“Ya gak papa Man.. tapi kan dia masih ke Masjid… yah itung-itung balance lah.. Dosa nggak…dapat amal juga enggak Man hahahah”
“Ndasmu Ten… jadi kalau malam sampai pagi dia jadi setan. Sedangkan kalau maghrib gini dia jadi malaikat gitu Ten”
Gak terasa karena kami berjalan sambil ngobrol, kami sudah tiba di rumah Painah.
Ternyata di depan rumah Painah yang sekarang ditempati Marwoto beserta istrinya dan anaknya yang bernama Suharto dalam keadaan berkabut!
Dan yang mengejutkan di depan rumah ini juga ada mbok Painah yang sedang melihat rumah ini dari luar.
“Wah ada Rochman dan Ginten… kalian dari mana kok jam segini ke rumah ini?” kata mbok Painah
“Tadi kami berdua dari pemakaman.... Kami kepingin tau apa yang dilakukan Marwoto dan Suparmi di pemakaman itu”
“Eh apakah tadi mereka nyekar ke makam mbok Painah?”
“Nggak!.. Mereka tidak datang untukku…. Mereka disana sedang mengumpulan demit-demit yang ada di kuburan itu”
“Anakku melakukan perjanjian dengan demit yang ada di sana, seperti yang dia lakukan juga dengan demit yang ada di desa sebelah”
“janc*k!... saya pikir dia sudah tobat dan meminta maaf kepada njenengan mbok… eeeh ternyata masih saja melakukan perjanjian dengan setan!”
“Saya bisa saja berkata kepada demit-demit yang ada disana untuk tidak melayani Marwoto anak saya, tetapi saya penasaran, kenapa dia mau maunya melakukan hal seperti itu” kata mbok Painah
“Sekarang apa yang bisa kami bantu untuk mbok Painah?”
“Kalian tetap saya seperti biasanya, eh bukanya kalian akan pindah ke rumah Ginten, dan memulai hidup baru disana?” tanya mbok Painah
“Mau saya begitu… tapi Rochman ini yang tidak bersedia… katanya dia belum bisa menjamah saya” jawab Ginten dengan ngawur
“Hahahaha tenang saja Ten… kamu harus tetap merhansyang Rochman agar dia tetarik untuk menikmati tubuhmu dan melupakan tubuh laki-laki heheheh” jawab mbok Painah
“Bukannya begitu mbok, s..saya butuh waktu untuk menyesuaikan diri mbok. K…karena apa yang saya akan alami ini sangat berbeda dengan yang saya rasakan selama ini”
“Heheheh itu terserah kamu Man… pokoknya kamu dan Ginten harus punya anak untuk meneruskan keturunan kalian berdua…. Ingat dan pahami itu ya hehehe”
__ADS_1
“Ya sudah, untuk urusan Marwoto kita lihat saja perkembanganya dan apa yang akan dia lakukan di sini, sementara itu lakukan apa yang semestinya kalian lakukan”
“Jadilah penduduk desa sana yang baik dengan tetangga dan warga desa…”
“Saya pamit dulu ya Rohman dan Ginten…”
Mbok Painah pergi dari hadapan kami berdua…
Rumah Marwoto tetap saja penuh dengan kabut atau asap… tapi aku yakin yang ada di rumah itu bukn kabut, melainkan kumpulan demit, Karena kabut itu baunya busuk dan bergerak cepat.
Tapi aku penasaran apabila terdengar suara adzan, apakah kumpulan demit itu masih berkumpul di depan rumah Marwoto.
“Saya yakin setelah ini mereka akan meminta perlindungan Marwoto ketika ada adzan maghrib tiba Man”
“Kok kamu yakin begitu Ten?”
“Tunggu saja Man… kita lihat apakah mereka sama seperti kamu…. Apakah mereka akan masuk ke rumah Marwoto dan meminta perlindungan dengan Marwoto”
Sebentar kemudian adzan maghrib berkumandang.. Suara yang keras itu membuat jantungku berdebar debar.
Jiwa setanku meronta ronta meskipun aku tidak tau apa maksud dari adzan itu… tulangku rasanya sakit semua, hingga tubuhku terasa panas..
“Ten.. tolong aku…..”
“Tenang Man… sebentar lagi suara itu akan berhenti kok…. Atau kamu mau masuk ke rumah Marwoto..?”
“Coba kamu lihat demit yang ada di rumah Marwoto, hampir semuanya masuk ke dalam rumahnya, yang diluar hanya ada beberapa saja”
“Ten… t..tapi kenapa kamu tidak merasakan panas dan kesakitan seperti aku?”
“Saya sebenarnya sudah beragama Man.. ketika masih bersama Mak Nyat Mani dulu itu… jadi denger suara adzan dan orang yang sedang mengaji aku gak masalah Man hehehe”
“Sekarang tenang saja Man, nanti kita cari ustad yang bisa membimbingmu ke jalan yang benar”
“Arrggh gak mauuu!... biarkan saja aku jadi sekutu Tuhanmu Ten … hahaha aarrgghhh sakit!”
“Ya udah tahan saja Man, bentar lagi juga selesai kok… di depan rumah Marwoto juga ada yang santai dan gak terpengaruh sama suara adzan tadi itu, nanti kita tanyakan ke demit itu Man”
Suara adzan itu benar-benar menyiksaku, karena begitu keras dan lantang… karena letak rumah ini kan dekat dengan masjid.
Beda apabila ada di rumah kontrakan mahasiswa yang letaknya agak jauh dari masjid, disana memang aku kesakitan, tetapi tidak separah ini juga.
Tidak lama kemudian suara itu berhenti…. Sakitku berangsur angsur mulai hilang…
Yang tersisa sekarang hanya lemas saja…
“Gimana keadaan tubuhmu Man?”
“Wuuiih gila Ten.. sakit sekali… lebih baik kita hindari saja masjid untuk sementara waktu Ten..”
“Ayo kita ke sana Man… tanyakan ke tiga demit yang sedang duduk di pagar rumah Marwoto, kenapa mereka kok tidak merasa ketakutan sama sekali”
“Sekalian kita bertamu ke rumah Marwoto untuk, melihat apa yang ada di dalam rumah itu Man”
“Saya yakin di dalam sana Marwoto sedang melakukan hal busuk yang sama dengan yang dia lakukan di desa sebelah!”
__ADS_1