INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....10.Marwoto yang aneh


__ADS_3

Aku heran dengan Marwoto dan istrinya… mereka bisa membiarkan tamu mereka di depan rumah hingga selama ini.


Apakah memang mereka sengaja untuk mengusir aku secara halus dengan cara menjemur tamunya di depan rumah?.


Kalau mereka bersikap seperti ini, berarti mereka bukan orang yang enak untuk diajak bertetangga. Aku yakin tetangga disini bersikap sama dengan ku..


“Nunggu siapa mas?” tanya ibu-ibu yang lewat di depan rumah Marwoto


“Saya nunggu pak Marwoto bu… tadi katannya masih sarapan”


“Oh …. Yang sabar ya mas… memang keluarga itu seperti itu.. Pokoknya yang sabar kalau mau bertamu di rumah mereka” kata ibu-ibu itu kemudian berjalan lagi meninggalkan aku


Lama setelah ibu-ibu itu pergi… pintu rumah Marwoto terbuka…


Di ambang pintu sosok orang tua dengan rambut yang sudah beruban muncul…


“Ada apa cari saya?” hanya pertanyaan itu saja setelah sekian lama aku menunggu di depan rumahnya


“Eh saya ingin bicara dengan bapak”


“Ya sudah bicara saja… ada perlu apa mencari saya?”


“Saya minta ijin untuk tinggal di rumah Ginten”


“Rumah rusak milik Ginten….?” orang itu mulai berubah wajahnya, dia kemudian  berjalan menghampiri aku.


“Siapa kamu…?”


“Saya Totok pak… saya kan kemarin sudah bertemu dengan bapak”


“Siapa itu Ginten…dan apa hubunganya denganmu?”


“Ginten saudara jauh saya pak”


“Kamu berasal dari mana… coba lihat KTP mu”


Waduh… lagi-lagi ada orang yang menanyakan soal KTP…


Memangnya KTP itu sangat penting disini, hingga tiap orang menanyakan tentang KTP.


Kalau aku tidak punya laku bagaimana.


“Saya tidak punya katepe pak.. Karena tas saya hilang waktu perjalanan ke sini”


“Kamu naik apa kesini, ketika tasmu hilang kamu ada di mana, dan apakah kamu sudah lapor polisi untuk meminta surat keterangan kehilangan identitas diri?” tanya Marwoto dengan mata yang terus memandangku


Marwoto dengan penuh kebencian menatap mataku.


Aku tau dia adalah yang berjasa bagi desa ini, dan mungkin juga dia adalah pejabat desa, tetapi apakah harus sesombong itu?


“W..waktu itu saya sedang berjalan kaki.. Tiba-tiba ada orang yang memukul saya di  pak.. Saya pingsan, setelah sadar semua barang saya sudah tidak ada”


“Dimana kamu dipukul waktu itu… di jalan apa, di kota mana, dan apa yang kamu lakukan di pinggir jalan sambil jalan kaki?”


“Tidak usah kamu jawab… saya tau siapa kamu… kamu gelandangan yang ingin tinggal secara gratis di desa ini kan?”


“Hanya dengan sedikit info tentang pemilik rumah yang bernama Ginten.. Lalu kamu nekat akan tinggal di rumah itu kan?” tanyanya lagi dengan nada yang semakin tidak enak


“Saran saya untuk kamu… pergilah dari sini selagi bisa..dan jangan coba-coba untuk kembali lagi kesini lagi, atau kamu akan saya laporkan ke polisi”


“Saya tidak ada maksud apa-apa pak…. Ginten yang menyuruh saya untuk Tinggal disini”


“Owwhhh kamu kenal dengan Ginten….kenal dimana, dan siapa itu Ginten?”

__ADS_1


“Bawa sini Ginten, agar saya bisa bicara dengan dia tentang rumah dia yang membuat desa ini terlihat kumuh.. Bilang sama dia rumah itu akan saya hancurkan apabila tidak ada yang bertanggung jawab!”


Aku salah ngomong… aku salah bicara dengan Marwoto.. Aku terdesak dengan mengatakan bahwa GInten yang menyuruhku kesini.


Aku tidak menyangka jawaban Marwoto malah menyudutkan aku..


“Jawab apa yang saya tanyakan tadi… bawa kesini  Ginten, dan biarkan saya bertemu dengan dia, karena kalau tidak, maka rumah itu akan saya robohkan agar desa ini terlihat Indah”


“Tidak bisa pak… Ginten tidak bisa saya bawa ke sini… karena…”


“Karena apa.. Karena kamu hanya mengaku ngaku sebagai kenalan Ginten dan ingin tinggal secara gratis di rumah itu kan…”


“Tidak akan saya izinkan….kalaupun memang kamu kenal dan disuruh Ginten untuk tinggal di rumah bobroknya, bawa dia ke saya. Saya akan bicara dengan Ginten!”


“Kamu sudah buang-buang waktu istirahat saya saja!”


Marwoto kemudian masuk ke dalam rumahnya… dia benar-benar menjadi sosok yang berubah.. Berbeda dengan ketika aku sebagai musuh dia.


Atau aku cari ibunya saja…. Tapi tidak mungkin ibunya masih hidup, Marwoto saja keadaanya sudah tua gitu…


Pagi menjelang siang ini lebih baik aku ke rumah Ginten saja, mungkin disana aku menemukan sesuatu yang berguna untukku.


Ketika kukayuh sepeda milik pak Peno.. tiba-tiba dari perempatan muncul anak Marwoto yang bernama Suharto..


Dengan menggunakan motor keluaran terbarunya, dia memacu motornya ke arah rumah Marwoto…


Dan motor itu hampir menabrak sepeda yang kunaiki ini.


Dia tidak meminta maaf, Suharto hanya melihatku dengan tatapan tajam… kemudian dia berhenti di depan rumahnya.


Aku masih berpikir dengan maksud Ginten agar aku tinggal di desa ini, apakah agar aku bisa tau kelakukan Marwoto dan keluarganya.


Ataukah Ginten menyuruhku agar merubah sikat Marwoto dan keluarganya?


Untuk mengatur hidupku saja aku tidak becus.. Kok sekarang malah aku harus atur hidup Marwoto dan keluarganya.


*****


Masuk ke desaku… aku berencana akan ke tempat warung makan mbok Nah…selain untuk makan aku juga akan bertanya tentang Marwoto


Biasanya mbok nah itu tau segalanya tentang penduduk disini.


Kukayuh sepeda lebih cepat ke arah warung mbok Nah yang jaraknya tidak jauh lagi..


Untungnya warung mbok Nah sedang sepi pembeli, jadi aku bisa bebas tanya tentang Marwoto.


“Mbok Naaah.. Saya mau beli makan mbok”


“Lha kok baru muncul mas Tok… banyak penduduk sini yang tanya ke mana mas Totok lho”


“Oh iya ta mbok, saya masih sibuk merapikan pakaian yang akan saya jual malam harinya mbok”


“Gimana bisnis pakaian bekasnya mas Tok…lancar?” tanya mbok Nah sambil menyiapkan makanan untuk aku


“Bisa dibilang lancar mbok… saya kan jualan juga baru dua hari ini mbok, kalau sudah seminggu baru bisa dilihat hasilnya hehehe”


“Iya lah mas Tok.. namanya dagang itu tidak bisa dilihat hasilnya dalam waktu satu atau dua hari saja…”


“Oh ya mbok.. Saya mau tanya sesuatu…”


“Mbok Nah tau yang namanya Marwoto dan Suparmi?”


“Jelas tau mas… Marwoto itu kan orang sini…rumah dia di gang sebelah masjid sana, tapi semenjak menikah sama Suparmi dia tinggal di rumah mertuanya”

__ADS_1


“Terus yang tinggal di rumah di desa ini siapa mbok?”


“Disini keluarga Marwoto punya dua rumah…satu di dekat masjid.. Dan satunya di sebelah hutan. Tetapi yang sebelah hutan itu sudah hancur dimakan usia”


“Tinggal yang di gang sebelah masjid itu yang masih ada… dan keadaanya kosong, karena mbok Painah ibu Marwoto sudah meninggal”


“Ada apa to mas Totok kok tiba-tiba tanya tentang Marwoto?”


“Kemarin saya kan ke desa sebelah mbok…saya ingin memeriksakan kaki saya yang dulu sakit itu, ketika disana rumah sakit kecil yang disebut dengan puskesmas itu sedang ramai”


“Kemudian saya jalan-jalan sebentar ke gang-gang yang ada disana, karena desa sebelah itu kayaknya makmur, rapi dan indah dilihat”


“Kemudian saya bertemu dengan orang tua dengan rambut penuh uban yang mengaku bernama Marwoto itu”


“Saya dicurigai mbok.. Diminta KTP segala. Dan ketika saya tidak bisa menunjukan KTP dia malah mengusir saya”


“Padahal niat saya ke sana untuk berobat saja mbok”


“Yah memang seperti itu mas Tok..dia kan orang yang berhasil membangun desa sebelah hingga sebagus itu.. Dulunya Marwoto orang biasa yang tinggal disini”


“Setelah menghilang beberapa lama …kemudian dia menikah dengan Suparmi, setelah menikah.. Keadaan desa disana maju dengan pesat”


“Dia tinggal disana bersama istrinya dan mertuanya… ibunya yang ada disini dia tinggal, hanya sekali dalam seminggu saja dia menengok ibunya”


“Dulu ketika Painah masih hidup, dia sering kesini, untuk sekedar makan atau ngobrol… kasihan dia, merasa ditinggal anak satu satunya yang dilindunginya”


“Painah pernah bilang kalau Marwoto tidak masalah ada di desa sebelah, tetapi harus ingat desa halamanya dan saya sebagai ibunya”


“Oalah gitu to mbok Nah.. dia memang sombong..dan sombongnya itu juga dengan ibunya sendiri ya”


“Oh iya mbok Nah… makam ibunya Marwoto dimana ya…saya mau nyekar”


“Di makam desa mas.. Jalan ini lurus saja… setelah melewati mushola.. Nanti disana ada makam desa”


“Mas Tok… Setelah makan mas Tok mau ke mana?”


“Saya mau nyekar dulu.. Kemudian saya ke desa sebelah lagi mbok… terus terang saya tinggal disini itu sungkan.. Saya harus cari tempat untuk tinggal”


“Bukankah saya sudah mulai punya uang untuk mulai hidup mandiri mbok hehehe”


“Iya benar itu mas Tok… memang kalau bisa keluar dari rumah itu saja, tidak enak sama yang punya , meskipun pemiliknya mengijinkan, tetapi istrinya itu lho yang tidak setuju heheheh”


“Ya sudah mbok.. Berapa habisnya makanan yang saya makan ini?”


“Memangnya mas Tok sudah punya uang?”


“Tentu saja ada mbok hehehe, berapa yang harus saya bayar?”


*****


Siang hari ini aku akan nekat ke desa sebelah… aku coba untuk ke rumah Ginten.. Siapa tau di dalam sana masih bisa digunakan untuk tempat tinggal.


Aku tidak peduli dengan Marwoto, meskipun dia akan mengusirku pun aku tetap akan ada di rumah Ginten… bukankah untuk mendapatkan kenyamanan memerlukan pengorbanan.


Sayang sekali aku saat ini sama sekali tidak punya kekuatan, aku butuh sesuatu untuk bisa melawan Marwoto dan keluarganya.


“Bisa… betul kamu mau kekuatan!” tanya suara Ginten


“Iyalah Ginten… siapa yang tidak mau kekuatan untuk jaga diri…”


“Kamu sekarang tidak usah ke makam Painah.. Nanti malam saja, tapi sebelum kamu ke makan Painah, kamu harus ke rumahnya yang ada di pinggir hutan”


“Disana ada sumur tua, minumlah air sumur itu , setelah itu  malam ini juga kamu ke kuburan Painah. Rasakan energi yang akan mendatangi dirimu nanti”

__ADS_1


__ADS_2