INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 123 (ADANYA PERUBAHAN)


__ADS_3

"Ayo kita masuk ke dalam sana, keburu sore lho teman-teman, setelah itu kita balik ke rumah abah Fuad lagi untuk laporan sama beliau apa yang kita lihat dan apa yang kita rasakan disini" kata Eko


Melalui pintu depan yang ada di teras, dimana di teras itu sesuai proyeksi telah terjadi kejadian perkhosaan atas diri Ibor oleh Wildan, dan juga tindak kekerasan yang dilakukan oleh Wildan yang kerasukan kepada Ukik dan Dani.


"Biar saya sajayang buka pintu itu mas, kalian siap-siap saja dibelakang saya" kata Eko yang sekarang sudah siap untuk membuka pintu vila.


Eko belum juga membuka pintu, dia menatap tajam handel pintu yang masih terlihat mulus itu, dia hanya diam dan menatap pintu itu.


"Handle pintu ini merupakan saksi atas apa yang terjadi disini, sebagian besar orang yang kesini sudah memegang  TAPI BO'OONG HAHAHAHAH"


Wih arek ini nemen koen, arek iki pancen gilak asli, kok bisa dalam keadaan tegang dan khawatir dia malah koyok wong edan!.


"Jangan gitu dong mas Eko, Indah kan jadi kaget, gimana kalau tiba-tiba Indah mati lagi untuk kedua kalinya?"


Akhirnya setelah kejailan mas Eko, kami masuk ke dalam vila yang kondisi di dalamnya ada beberapa barang berserakan, ada beberapa tas yang kosong isinya termasuk beberapa kardus yang berisi air mineral.


"Pintu kamar depan terbuka, kita coba masuk ke dalamnya yuk, siapa tau ada sesuatunya di sana " ajak Glewo


"Biar saya yang masuk duluan mas, karena di kamar depan ini keliatanya pernah ada yang mati" kata Eko kemudian mendorong pintu kamar depan dengan hati-hati


Eko masuk duluan ke dalam kamar depan yang tadi dalam keadaan terbuka sedikit pintunya, setelah Eko masuk, kami pun ikut masuk kedalam, ternyata di dalam masih terdapat beberapa tas ransel yang kemungkinan milik teman mereka yang tertinggal.


Ketika Blewah akan mengambil salah satu tas itu, tiba-tiba Eko melarangnya.


"Jangan ambil atau merubah tas-tas yang ada disini, biarkan saja seperti ini mas. ayo kita segera keluar dari sini karena saya sekarang merasakan akan datangnya sesuatu" kata Eko kemudian buru-buru menyuruh kami semua untuk keluar dari area vila ini.


Kami berlari sekencang mungkin hingga kami keluar dari pintu gerbang vila dengan selamat. Aku masih belum mendapat keterangan dari Eko kenapa kami semua lari keluar, kami kelelahan setelah lari dari dalam vila itu  dengan cepat.

__ADS_1


Dan betul juga tidak lama kemudian munculah kabut putih, kabut putih itu muncul dari arah atas menuju ke bawah. Kabut yang berbeda dengan yang ada di dalam vila yang berwarna abu-abu.


"Kalian siap-siap saja, jangan bicara atau komentar apapun, dan jangan bergerak sama sekali" kata Eko yang masih terengah-engah


Kabut itu perlahan-lahan menutupi kami termasuk juga vila yang ada didepan kami, kabut tebal berwana putih kapas itu lumayan lama juga menyelimuti vila dan kami. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami.


Hingga kurang lebih tiga menit kemudian kabut itu perlahan-lahan mulai hilang. Dan akhirnya semua menjadi terang-benderang. Kami semua selamat, tidak ada satupun yang celaka.


Tapi ada yang aneh dengan vila di depanku ini,  ada perubahan kecil yang terjadi di taman vila itu, beberapa pohon menjadi lebih besar dan halaman vila tidak Serapi sebelum ada kabut yang datang.


"Lebih baik kita segera pergi dari sini dulu mas, dari pada ada yang akan terjadi dengan kita, ayo cepat mas" kata Eko yang mendadak khawatir dengan keadaan kita


Mobil meluncur ke wilayah Gebang, suasana di luar mobil menjadi terang kembali selama perjalanan dari vila menuju ke gebang.


"Ada baiknya kita makan siang dulu saja mas Eko, agar kita bisa berpikir dengan tenang” kataku


Aku bawa mereka ke kedai atau depot makan yang kapan hari kami pernah makan disini. Sebenarnya aku ke sini karena ada alasannya, aku kepingin ketemu dengan pemilik depot ini sesuai dengan anjuran mbah Saripah untuk menemui mbah Sarijemb atau yang dipanggil mbah Sari saja.


"Ayo kita makan dulu mas Eko, setelah makan kita bisa teruskan perjalanan, terserah apakah kita balik ke Sby untuk menemui abah Fuad atau kita kembali lagi ke Mjkt mas"


"Nek pendapatku Gel, kita baiknya ke Sby, kita konsultasi lagi sama abah Fuad, tapi tergantung mas Eko juga,  jadi lebih baik mas Eko hubungi abah dulu saja mas, tanyakan apakah kita harus pulang atau harus gimana?" kata Glewo


"Halah, ayo mangan sik ae rek, aku wis luwe nanti kita pikir lagi setelah makan,  percuma mikir dalam keadaan weteng luwe, malah gak bisa mikir apa-apa awak dewe iki rek" kata Blewah


Kami memasuki depot makan yang sepi,  yang ada disini hanya kami berlima saja, tidak ada pembeli lain.


Ketika kulihat siapa yang ada dibalik meja kasir, mak deg!, ternyata perempuan tua yang pernah kutemui ketika aku bersama Totok dulu itu, perempuan tua itu tersenyum kepadaku dan kemudian memanggilku dengan lamabaian tangannya.

__ADS_1


"Eh kalian duduk dulu sana, aku mau pesen makanan ke ibu itu, aku pesenkan rawon semua saja ya, disini rawonnya enak soale rek"


aku menuju ke meja kasir, disana ada mbah Sarijemb sudah menungguku. Mungkin ini sudah saatnya aku harus berbicara dengan mbah Sari jemb.


“Selamat sore mbah, anu eh pesen nasi rawon lima porsi dan es teh juga mbah”


Mbah Sari hanya diam dan melihatku dalam-dalam. Kemudian dia mulai bicara...


“Nasi rawonnya tunggu sebentar ya mas, nanti anak saya yang akan melayani kalian” kata mbah Sari kepadaku


“Kamu ikut saya, saya ada sesuatu untuk kamu” kata mbah Sari yang kemudian berjalan menuju ke arah dapur.


Seperti terhipnotis, aku berjalan masuk ke belakang meja kasir dan mengikuti mbah Sari yang berjalan pelan ke arah dapur.


Anehnya temanku yang melihatku tidak berkata apa-apa kepadaku, mereka malah ngobrol sama mas Eko tentang apa yang tadi terjadi dengan kami .


Akhirnya di sebuah kamar yang  bernuansa agak gelap, mbah Sari berhenti dan menyuruhku untuk menunggu di depan pintu. Kemudian mbah Sari masuk ke dalam.


Hanya beberapa menit dia ada di dalam, kemudian dia keluar sambil membawa sesuatu ditangan kanannya.


Mbah sari kemudian menyerahkan benda yang dibungkus kain merah itu kepadaku. Mbah sari tidak berkata apa-apa. Udah gitu aja, kemudian dia kembali ke meja kasir seperti sebelumnya.


Tiba-tiba aku sudah ada di depan meja kasir dengan sendirinya.


“Gel, wooooii Gel, ayo makan sini, dari tadi kamu ada di depan meja kasir yang kosong iku ngapain?” teriak Blewah kepadaku. Tetapi tidak dengan Eko, dia hanya tersenyum dan memamerkan jempol kanannya kepadaku.


“Bagaimana mas, tambahannya apa selain rawon saja?” kata seorang perempuan muda yan keluar dari marah dapur dan menemuiku yang ada di depan meja kasir

__ADS_1


“Lho tadi ibu-ibu yang ada disini mana mbak?”


“Heheheh disini tidak ada siapa-siapa mas, tadi masnya bilang ke saya kalau pesen rawon lima dan esteh lima juga mas. Sebentar lagi saya antar ke sana pesenanya mas” kata perempuan muda itu lagi


__ADS_2