INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 113 (PETRO)


__ADS_3

Mobil yang disupiri Glewo mengarah ke Sby, tetapi sebelumnya karena kami punya dana lebih, ndak ada salahnya kami makan rawon khas Mjkt yang ada di depot terkenal yang letaknya di sebelah pasar swalayan Sanrio.


Kami membawa anak-anak kembar empat  yang kami dapatkan dari hotel Waji, biar mereka tidak bosen ada di kamar belakang terus.


"Rawonnya auuwenak Gel!, tapi harganya bikin mules C*k" kata Blewah. Saat ini Kami biarkan Blewah mengusai tubuhnya dulu, karena kami tidak menuju ke wilayah Waji


"Gak papa Wah, sekali kali lah, mosok kita makan mie instan terus rek"


Sebelum berangkat kami sudah menceritakan kepada Blewah tentang buku tts yang dia sempat ngotot akan ada info lagi, dan juga peniti berkarat yang ada di kalender, dan asal muasal dompet yang dia temukan di meja receptions.


Untungnya Blewah mau mengerti kalau apa yang dia harapkan itu sebenarnya bukan petunjuk berikutnya, bahkan buku tts yang sekarang sudah kena darah baru, darah Kipli pun sudah kuberikan kepada Blewah agar dia bisa lihat apakah ada perubahanya.


"Jadi sesuai yang kemarin itu, dan kartu keanggotaan karyawan sebuah rumah duka, maka kita nanti akan coba tanya-tanya ke bekas tempat kerja Totok yang ada di sebuah rumah duka terkenal itu rek"


"Cuma yang aku bingung disini, kenapa ada perbedaan kepribadianya?. Totok yang kita kenal itu kebanci-bancian, sedangkan yang ada disini itu lakik tulen"


"Opo deke itu punya dua kepribadian Gel, suatu saat dia berperilaku layaknya perempuan, lha kalau pas sadar dia balik lagi jadi lakik tulen" kata Glewo


Perjalanan ke kota sby cukup melelahkan, karena di beberapa area terlibat kemacetan yang cukup bikin kepala spaneng, tapi kembali lagi berkat mobi Totok keluaran terbaru ini, kami cukup merasakan kenyamanan.


"Gel, kita ke tempat Petro kerja atau kita langsung ke bekas tempat kerja Totok?" tanya Glewo setelah melewati area pasar Wnkrm yang bikin emosi macetnya.


"kita ke Nggl dulu ae ke tempat kerja Petro Wo, aku pingin ngomomg sama dia, nanti aku dan Blewah yang akan ndatengi Petro, awakmu sama Indah tetap di mobil saja ya"


Mobil terus melaju ke daerah nggl, tempat Petro kerja. Pada dasarnya meskipun Petro melakukan hal-hal yang aneh, tetapi aku masih menganggap dia sebagai sahabatku, mungkin karena ada tekanan dari orang arab yang anaknya mati itu sehingga Petro sekarang berubah.


*****


Toko jual beli mobil bekas sudah ada di samping mobil kami , showroom jual beli mobil bekas yang lumayan besar tempat Pero kerja selama ini. Tetapi dari depan toko tidak nampak sosok Petro sama sekali.


"Wah ayo turun, kita lihat di sana ada Petro apa ndak, nek ada yang kita ajak bicara baik baik"


"Ndeh, setelah apa yang dilakukan Petro terhadap kita, awakmu mau ngajak Petro ngobrol baik baik?. Gak salah ta yang mbok omongkan ke aku iki Gel?" tanya Blewah dengan tidak percaya.


"Gak Wah, kalau diajak ngomong baik-baik gak iso, ya kita ajak ngomong  tidak baik ae, alias dihajar ae Wah heheheh"


"Lhaaa nek iki baru bener Gel, setuju dengan idemu iki aku Gel" jawab Blewah


"Wo jaga di mobil sama Indah ya, aku tak bikin perhitungan sama Petro hahahahah"

__ADS_1


Aku dan Blewah jalan menuju ke toko jual beli mobil bekas itu, saat kami masuk ke showroom, aku tidak liat Petro sama sekali hingga seorang karyawan disini mendatangi kami.


"Ada yang bisa saya bantu pak, cari mobil apa pak" tanya orang yang aku anggap sebagai sales itu karena cara bicara dia sudah mirip sekali dengan sales kartu kredit


"Saya mencari Farid mas, dia katanya kerja disini, saya saudaranya yang dari Mlng"


"Oh pak Farid sudah resign dari sini mas, dua hari lalu dia mengajukan pengunduran diri dari sini mas, keliatanya dia sedang dalam keadaan sakit ketika resign itu mas" kata sales itu


Nah kan apa yang kurasakan tentang Petro bener, perasaanku dari kemarin itu sudah ndak enak tentang Petro, kita harus ke tempat dia tinggal, gak mungkin dia tinggal di kosan yang dulu itu, dia pasti sudah pindh kosan lah.


"Ehm mas, tau tempat kos terbaru farid? Kami kesini karena dia sudah pindah kos" kata ku kepada sales mobil itu


"Tau mas, dia kos di deket sini kok mas, di Nggl Dd gang 1, nomornya saya lupa mas, pokoknya kosanya itu nomor tiga dari ujung gang buntu, rumahnya warna hijau mas"


Setelah basa basi sebentar, kami menuju ke alamat yang diberikan oleh sales itu.


Aku cerita kepada Glewo dan Indah kalau Petro mengundurkan diri dari tempat dia kerja karena sakit yang sedang dideritanya.


"Wah bener juga kata Sumirah, waktu dia serang kita itu Gel, coba kalau Petro bicara baik baik pasti kita tidak akan berbuat jahat kepada Petro kan Gel" Kata Glewo


"Yo sudah jalane deke gitu Wo, kita gak bisa menyalahkan diri kita, kalau seumpama ndak ada Sumirah dan bantuan Bawok, pasti kita akan bernasib sama , kita akan mati juga Wo"


Gang ini sempit, mobil tidak bisa masuk kesana, akhirnya mobil kami parkirkan di pinggir jalan, dan kami masuk ke dalam dengan jalan kaki.


"Rumah hijau nomor tiga dari ujung gang rek, ketoke rumah yang sebelah kanan itu, kalau yang kiri itu kan catnya coklat" kata Glewo


"Assalamualaikum....permisi "pekik Glewo di depan rumah berpagar hijau


"Waalaikum salam, maaf kami tidak mau membeli voucher discount mas, tolong rumah lainnya saja, ini kos kosan soalnya" teriak suara perempuan dari balik pintu yang dibuka sedikit


"Maaf bu kami bukan jualan voucher discount" kata Glewo dengan tampag ngowoh


"Lalu kalian dari penagihan bank? Kami sudah lunasi pinjaman kami di bank Abc mas" kata perempuan itu masih dari balik pintu yang dibuka sedikit sambil mengintip kami.


"Hehehe kami ini keluarga dari anak kos disini bu. Kami keluarga farid yang kos disini" kata Glewo lagi


Perempuan itu membuka lebar pintu rumahnya dan keluar menemui kami dengan wajah yang tiba-tiba berubah khawatir.


"Betul kalian ada adalah keluarga Farid?, kalau begitu tolong kalian lihat farid, karena dua hari ini dia tidak keluar kamar. Tiap saya ketuk kamarnya, dia selalu bilang kalau baik-baik saja dan sedang menunggu keluarganya yang akan datang"

__ADS_1


"Memangnya ada apa dengan farid bu?" tanya Indah


"Begini mbak, mas, dua hari lalu dia tiba-tiba jam 9.00 pagi dia pulang dari tempat kerjanya, alasanya gak enak badan, meriang dan pusing. Setelah itu dia masuk kamar dan tidak keluar dari kamar sama sekali sampai sekarang"


"Tiap saya ketuk kamarnya untuk menanyakan keadaanya ,dia selalau bilang kalau tidak apa-apa, saya khawatir karena sejak kemarin dia belum makan sama sekali"


"Tapi tiap saya tawari makan dia selalu bilang kalau masih kenyang. Tadi pagi saya nekat tanya dia sedang sakit apa, kemudian dia hanya bilang sedang menunggu keluarganya datang"


"Apakah kalian ini keluarga dia, kalau iya tolong segera bawa ke dokter, saya takut ada apa-apa dengan dia" lanjut perempuan itu sambil nyerocos


"Tolong tunjukan dimana kamar dia bu, kami akan masuk ke sana dan melihat keadaan farid, kemudian nanti akan kami putuskan untuk memulangkan atau membawa dia ke rumah sakit"


"Eh Gel apa ndak lebih baik kita panggil Sumirah, dia kan yang tau kejadian ini" bisik Glewo.


"Eh bu, ini teman saya mau buang air kecil dulu, dimana kamar mandinya bu" tanyaku kepada perempuan yang memasang wajah setengah panik setengah khawatir itu


Blewah tau apa yang  dimaksud teman temanya, dia segera masuk ke kamar mandi untuk berganti dengan Sumirah, aku sudah merasa bahwa Blewah sudah bisa diajak kerjasama untuk  bergantian dengan Sumirah.


Aku meminta supaya Indah menyebutkan nama Sumirah dengan nada yang keras, agar Blewah bisa berganti menjadi Sumirah.


"Ndah, siapa nama saudaramu yang ada digang 2 itu" tanyaku kepada Indah


"SUMIRAH mas...., SUMIRAH. kenapa mas Agus kok tanya itu mas"


Blewah keluar dari kamar mandi yang sudah berubah menjadi Sumirah, kami harus ingat untuk tidak menyebutt nama Blewah agar Sumirah tidak berubah menjadi Blewah lagi.


"Dimana kamar Farid Bu, kami mau lihat keadaanya. Dan ada baiknya Ibu jangan masuk, mungkin Farid malu kalau ibu masuk ke dalam kamarnya"


"Yang paling ujung itu mas, yang dekat dengan dapur itu" tunjuk ibu pemilik kos kosan pada kamar paling ujung dari lima kamar kos yang ada disini


...TOK...TOK...TOK...


Tidak ada sahutan dari dalam kamar, sekali lagi kami ketuk juga belum ada sahutn dari dalam kamar. Apa mungkin dia sedang tidur ya.


"Eh bu, kamar ini dikunci tidak bu, kalau tidak dikunci kami akan masuk ke dalam bu?" kata Glewo


"Di coba saja mas, dibuka saja pintunya, saya kok makin khawatir dengan keadaanya mas"


"Gini saja bu, ibu lebih baik duduk santai di ruang tamu saja ya, biar kami saja yang urusin Farid"

__ADS_1


__ADS_2