
“Akhirnya saya tetap ada di sana, di bawah tanah itu hingga keadaan aman, setelah semua aman, kemudian Marwoto dan Suparmi bisa keluar dari ruang bawah tanah dan bisa melangsungkan pernikahan di desa tempat Suparmi tinggal”
“Kelima dokter dan kusir kuda, pak Ponidi meninggalkan tempat itu setelah teman-teman kalian dikirim ke masa depan” lanjut pak Tembol
“Mak Nyat Mani dan Soebroto sudah kembali ke tempat asalnya, tinggalah Mbok Ginten dah Misnah saja serta keluarga Marwoto dan kelurga Suparmi yang ada diruangan masing-masing hingga keadaan diluar benar-benar aman bagi mereka”
“Jadi ya menunggu hingga beberapa hari di sana mas. Dan yang bikin jengkel adalah ulah mbok Ginten yang selalu minta ditunjukan dan minta diajari cara mengoperasikan alat untuk merubah pintu lorong dan ruangan”
“Tetapi untungnya pak Pho tidak pernah terbujuk rayuanya, karena saya ada disana terus, hingga akhirnya setelah sekitar 3 harian Marwoto dan Suparmi siap keluar dari sana, termasuk mbok Ginten dan Misnah yang harus mengawal Suparmi atas perintah Mak Nyat Mani”
“Waktu itu saya juga antar mereka, tetapi sebelumnya pak Pho meminjam raga saya untuk merubah semua pintu dan lorong disana dulu tanpa sepengetahuan mbok Ginten dan Misnah”
“Jadi karena alat untuk mengoperasikan itu berbentuk fisik yang memerlukan bantuan manusia untuk menekan tombol dan tuasnya, maka pak Pho selalu meminjam raga manusia untuk bisa mengoperasikan alat itu. Dulu dia meminjam raga Dani, dan Ukik yang bertugas mengoperasikan benda itu”
“jadi rencananya, ketika rombongan dan saya sudah ada di luar, kemudian saya masuk dan menutup pintu lorong, setelah saya menutup pintu, maka semuanya akan berubah dengan sendirinya”
“Sebelumnya saya juga minta tolong kepada pak pho untuk segera memindahkan saya ke masa depan tepat setelah saya menutup pintu lorong rahasia”
“Pak Pho menyetujui dan dia pun berkomunikasi dengan leluhur dan pemilik rumah itu, ternyata mereka setuju untuk mengirim saya sebagai salah satu pemilik rumah ini ke masa depan, setelah semua aman dan semua yang tidak berkepentingan keluar dari sana”
“Nah pada jam yang sudah disepakati yaitu siang hari, kami berjalan menuju ke pintu keluar yang tembus dengan jurang yang ada di dapan vila putih itu mas. Saya posisi paling belakang, mbok Ginten dan Misnah ada di depan untuk meyakinkan bahwa di luar sudah aman bagi mereka”
“Pintu lorong yang dari batu itu didorong oleh Marwoto setelah mbok Ginten dan Misnah keluar menembus dinding pintu batu. Setelah dua keluarga itu sudah ada beberapa langkah diluar, kemudian dengan cepat saya tutup pintu itu, dan saya lari menuju ke ruang biru”
“Satu detik kemudian yang terjadi adalah suara mekanik yang berdesir dengan cepat untuk merubah semua lorong pintu dan ruangan. Semua berubah total hingga mbok Ginten atau siapapun yang diluar sana tidak bisa masuk ke dalam sini lagi”
“Pak Pho menghampiri saya dan berkata kalau perubahan sudah behasil dan sekarang ruang bawah tanah ini aman dari semua yang berusaha masuk kesini. Tidak lama kemudian saya merasakan hawa panas yang luar biasa, kemudian saya tidak sadar”
“Tau-tau saya sudah ada di sofa bersama kalian nak” kata pak Tembol mengakhiri ceritanya.
Ndak terasa perjalanan kami sudah sampai di perempatan, di depan ada toko yang menjual pakaian dan alas kaki juga.
“Gel, kamu bawa uang kan?”
“Bawa Tro, setelah ini kita cari makan Tro, sakno liat pak Tembol yang keliatanya kelaparan” jawab Dogel sambil menggendong mbak Bashi.
__ADS_1
Setelah dari toko pakaian, kami berjalan menuju ke depot rawon spesial, ndak tau kenapa Dogel langsung masuk ke sana, keliatanya dia sudah pernah makan di depot rawon ini.
Indah, dan Ngot hanya bisa melihat kami makan sambil menghirup uap dari rawon yang barusan diantar oleh seorang gadis cantik.
“Gel, kamu pernah makan disini ta, kok langsung ke depot ini?”
“Pernah Tro, dua kali hehehehe” jawab Dogel
Pak Tembol makan dengan lahap, sepertinya dia sudah lama sekali tidak pernah makan enak.
“Pak, setelah ini apa yang akan kita lakukan pak?” tanyaku penasaran
“Yang pertama akan saya lakukan adalah mengujungi desa Bs tempat tinggal Suparmi dan Marwoto, saya penasaran dengan keadaan mereka berdua nak”
“Di mana desa itu pak, kami belum pernah kesana soalnya pak” kata Dogel
“Nanti kita cari bersama sama nak, tapi kita harus cari kendaraan untuk kesana dulu nak, karena kalau dari sini jalan kaki membutuhkan waktu hingga empat jam jalan kaki nak” kata pak Tembol
“Mungkin disini ada ojek atau kendaraan umum untuk kesana nak, ayo kita ke depan sana nak, saya akan tanya kepada penduduk disini bagaimana cara ke desa itu” kata pak tembol setelah mereka menyelesaikan makanannya.
“Mas, lebih baik kita tidak kesana dulu kalau sora hari gini mas, karena disana kata demit yang Indah tanya keadaanya sedang tidak bagus, karena disana adalah desa kosong, tidak ada penghuninya sama sekali mas, dan desa itu akan dihancurkan untuk sebuah proyek mas” kata Indah dan Ngot yang ada disebelahku
“Pak Tembol, maaf saya mau tanya. Apakah pak Tembol bisa melihat mahluk ghaib pak?”
“Harusnya bisa nak, kenapa kamu tanya seperti itu?”
“Berarti bapak sudah tidak bisa lihat lagi pak, karena di sebelah kanan bapak ada teman ghaib kami yang selalu mengikuti kami kemana kami pergi pak” kata Dogel
“Hmm berarti kelebihan saya sudah dihilangkan setelah saya kembali ke masa ini” kata pak tembol dengan wajah tertunduk
“Teman ghaib saya bilang kita jangan kesana sewaktu sore menjelang malam, karena disana adalah desa kosong dan sedang akan dilakukan penghancuran karena akan dibangun sesuatu pak”
“Apa, disana kosong dan akan dilakukan penghancuran?” tanya pak Tembol dengan heran
“Begini saja pak, kita nongkrong di warung kopi itu, sekalian kita tanya-tanya tentang desa Bs pak, siapa tau informasi dari teman saya itu salah pak” kata Blewah dengan nada bicara yang bijaksana hahahah
__ADS_1
Warung kopi sepi yang letaknya ada di seberang depot rawon ini keliatanya cocok untuk mencari informasi tentang desa yang sedang dicari oleh pak Tembol.
Sore hari menjelang maghrib kami masih luntang lantung di pinggir jalan tanpa tau harus kemana, Dogel yang dari tadi sibuk dengan mbak Bashi pun mulai bosan dengan keadaan kita.
“Kopi hitam 4 pak” kataku kepada penjual kopi yang lumayan tua itu, mungkin umurnya sekitar enam puluh tahun, warung kopi ini sepi, apa mungkin kalah pamor dengan warkop yang menyediakan fasilitas Wifi
Tidak lama bapak-bapak atau lebih tepatnya mbah-mbah itu sudah menyajian empat gelas kopi hitam.
“Ini kopi buatan saya sendiri mas, jadi rasanya akan berbeda dengan kopi instan” kata penjual tua berkopiyah itu
“Kalian dari mana mau ke mana sore sore gini, apa belum dapat penginapan disini?” tanya bapak tua itu lagi
“Ndak mbah, kami kemari mau ke desa Bs, kami dar Mjkt mbah” jawabku
“Lho cari apa kalian kok mau ke Bs, desa kosong berhantu yang sebentar lagi akan dihancurkan untuk proyek tempat rekreasi” tanya bapak tua itu kepada kami
“Lha mbahnya berasal dari desa Bs?” tanya Dogel sok tau
“Iya mas, saya berasal dari sana, tapi saya pindah ke Br waktu ada wabah mematikan itu” jawabnya
“Lho wabah penyakit opo to pak” tanya pak Tembol
“Waktu itu sekitar belasan tahun lalu desa yang awalnya makmur subur dan damai itu kena wabah penyakit, seluruh penduduknya mengungsi, ada yang mengungsi ke desa sebelahnya desa Br ada juga yang menuju ke arah Trts”
“Kemudian 2 tahun lalu ada orang bos yang mau membeli tanah kami, lumayan mas, rumah dan tanah peninggalan almarhum mbah saya bisa laku harga yang tinggi hehehe”
“Sampeyan tinggal di sebelah mananya gapura desa pak” tanya pak Tembol
“Saya masuk ke dalam pak. Perempatan belok kanan, kemudian ada perempatan kanan lagi pak” jawabnya
“Sampeyan kenal sama yang namanya Widodo pak” tanya pak Tembol lagi
“Widodo siapa pak, saya ndak kenal pak”
“Eh Widodo yang rumahnya di gang itu juga pak, yang di depan rumahnya ada pohon mangga besar yang buahnya banyak sekali” kata pak Tembol
__ADS_1
“Oh itu rumah kosong pak, katanya sudah puluhan tahun rumah yang hancur itu kosong, cirinya ada pohon mangganya, dan mangganya selalu berbuah lebat. Tetapi tidak ada yang berani ambil mangga disana. Karena rumah itu berhantu" jawabnya