
“Misi pertama kita berhasil Ten.. untuk malam ini kita bisa tidur nyenyak, karena besok pagi kita akan ke kecamatan untuk foto dan pengisian data KTP”
“Iya Man… Saya merasa saat ini kita berdua ini mirip saya sepasang suami istri yang sedang berlibur ya Man”
“Hahahaha aku tau arah pikiranmu Ten.. kamu pasti akan bilang….suami istri yang sedang liburan gak akan lengkap tanpa melakukan Fu fu fu kan heheheh”
“Ten… mosok aku harus jelasin bolak balik Ten.. aku ini belum bisa menjamah itu itu yang ada di tubuhmu Ten heheheh”
“Kamu itu kapan sembuhnya sih Man…. kamu itu harus punya keturunan Man.. gak bisa hidupmu kayak ginmi terus Man…”
“Coba kamu tanya setan-setan yang kamu kenal Man.. apakah mereka itu juga melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan?”
“Mereka pasti juga kepingin punya keluarga juga Man hehehe, mosok setan aja punya keluarga sedangkan kamu nggak Man”
“Ingat Man… Setan itu juga ciptaan Tuhan, mereka juga kepingin punya keluarga heheheh”
“Iya ya Ten.. aku sebenarnya ingin punya keluarga juga Man.. tapi aku jijik kalau harus masukan kuntilaku ke milikmu yang basah dan berlendir itu Ten….”
“Sebenarnya apa sih yang membuat laki-laki benar-benar tertarik sama milik perempuan yang basah dan berlendir serta ada bau yang gimana gitu Ten?”
“Yang harus bisa jawab ya kamu sebagai laki-laki Man.. apa yang membuat begitu menarik perhatian hehehe…”
“Lha Iya Ten.. banyak orang memperkosa atau menghabiskan uang banyak untuk menikmati benda basah berlendir dan agak gimana gitu hehehehe”
“Itu kan orang lain Man, kalau sama aku kan kamu akan aku tuntun Man.. pokoknya semua akan berlangsung dengan sebaik baiknya hehehe”
“Omonganmu makin gak genah Ten… tapi boleh juga tawaran punya anak itu Ten….akan aku pikirkan dulu Ten heheheh”
*****
“Aduuuuh adzan subuh ini bikin aku kesakian Ten AAAAHHHHH!”
“Gak di sana.. Disini juga ada adzan yang bikin aku kesakitan!”
“Biar gak kesakitan lebih baik kamu ikuti saja agama itu Man.. saya jamin kamu akan tenang dan gak kesakitan heheh”
“Ahhh bikin malu raja setan ae Ten.. gak akan.., aku gak mau punya agama!... agama bisa bikin masalah”
“Bikin masalah gimana sin Man…”
“Iya bikin masalah.. Tiap orang yang beragama akan membanggakan agamanya, hingga kemudian akan muncul pertikaian karena masalah agama ini Ten!”
“Sekarang aku tanya kamu Ten… apa kamu sekarang beragama Ten?”
“Heheheh saya tidak beragama apun Man…. tapi saya menyembah dan percaya dengan Tuhan.. Itu saja sudah cukup untuk membuat saya tenang Man”
“Lha iya Ten…. berarti tanpa agama pun kamu masih bisa menyembah Tuhan kan, dan kamu merasa tenang setelah berdoa kepada Tuhan kan Ten”
“Iya Man…makanya kamu berubahlah menyembah Tuhan… jangan cuma bisanya menyembah Pangerak setan aja kamu Man”
“Ah banyak omong kamu Ten.. kita ini cocok dan seimbang Ten.. aku menyembah setan, kamu menyembah Tuhan.. Kita ini sudah seimbang.. Jangan dibuat gak seimbang dengan menyuruh aku menyembah Tuhan hehehe”
“Kalau gak seimbang nanti alam akan marah Ten hehehe”
“Tambah gendeng kamu Man…ayo cepat mandi kita ditunggu jam delapan di kecamatan Man”
Kami berdua mulai berboncengan sepeda… kalau dari desa ini ke Gebang lewatnya gak ke desa Br, tetapi ada jalan yang langsung menuju ke Gebang.
Nanti di sebelum melewati telaga ada pertigaan, kita belok ke kanan menuju ke kota, kalau ke kiri arahnya ke deswa Br.
Jalan yang kami lewati ini adalah satu satunya jalan yang menuju desa, sehingga kalau pagi dan sore hari lumayan rame orang yang menuju ke Gebang.
Sepeda aku kayuh agak cepat karena sekarang sudah pukul tujuh pagi, dan kami saat ini sudah melewati telaga.
Mungkin tidak lebih dari tiga puluh menit lagi kami akan tiba di pasar Gebang, nanti dari pasar Gebang bisa tanya-tanya arah yang menuju ke kecamatan
*****
“Nuwun sewu… permisi pak.. Saya mau tanya kecamatan itu dimana pak?” aku tanya kepada tukang ojek yang mangkal di pertigaan gebang
“Kecamatan itu eehmmm…lurus aja mas ke arah sana.. Nanti setelah melewati masjid….di sebelah kanan ada kantor kecamatan”
“Terimah kasih banyak atas informasinya pak”
Kuteruskan mancal pedal sepeda kebo milik pak Peno…. Heheheh pekerjaan mancal pedal ini lumayan berat, karena ada Ginten yang mbonceng di belakang.
__ADS_1
Setelah melewati kantor polisi dan kemudian melewati masjid .. di sebelah kanan memang ada kantor kecamatan.
Nanti kami harus cari yang namanya pak Mustajib yang katanya menunggu di pos Keamanan Kecamatan.
“Man.. kayaknya yang namanya pak Mustajib yang sedang berdiri di depan pos itu deh..”
“Hihih pakaianya lucu Ten.. celana cutbray.. .. kemeja lorek-lorek hitam coklat.. Rambutnya agak botak bagian atasnya”
“Hussh, jangan menghina orang Man…gak baik tau menghina orang kayak gitu”
“Lebih baik kita dekati dan tanya saja”
Ternyata orang yang berpenampilan jadul itu benar pak Mustajib…
Meskipun penampilannya jadul, tapi dia baik sekali kepada kami.. Dia mengajak aku dan Ginten masuk ke ruang tunggu..
Kemudian dia masuk ke sebuah ruangan, dan tidak lama kemudian pak Mustajib keluar dari dalam ruangan dengan membawa dua lembar kertas.
“Karena pak Totok dan bu Ginten menggunakan jalur kilat untuk membuat KTP, jadi mohon ditulis di kertas ini, nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, golongan darah, status perkawinan, pekerjaan, dan agama”
“Untuk alamat saya sudah dapat dari teman saya Tolani” kata pak Mustajib
Aku saling pandang dengan Ginten… terus terang semua data yang diminta ini membingungkan aku, tapi ini harus diisi.
Lebih baik kuisi ngawur sajalah .. pokoknya KTP ini bisa jadi, dan aku rasa Ginten juga akan melakukan hal yang sama dengan yang aku akan lakukan juga.
Untuk status perkawinan jelas harus diisi menikah , karena infonya kami ini kan sepasang suami istri.
“Coba sini lihat apa yang kamu tulis Man….”
“Eh Ten, aku belum selesai nulis.. Coba lihat punyamu Ten.., eh aku mau contoh punyamu aja Ten”
Hmm agama Ginten ditulis islam… berarti aku juga harus nulis agama islam….kemudian pekerjaan dia berjualan pakaian.
Status perkawinan ditulis kawin oleh Ginten…
Okelah aku akan samakan dengan yang ditulis Ginten sajalah.
Setelah selesai dengan kertas yang kami tulis, kemudian pak Mustajib masuk ke ruangan yang tadi sambil membawa kertas yang sudah kami tulis tadi.
Dia juga menyuruh kami untuk menunggu disini, karena sebentar lagi akan dipanggil untuk foto.
“Iya jelas lah Man…berarti sebagai seorang istri boleh dong istrinya minta jatah tiap malam”
“Eh jatah apa maksudmu Ten.. ..yang jelas kamu ini nek ngomong”
“Ya jatah Man.. pokoknya mulai nanti malam, saya akan minta jatah ke kamu Man hehehehe”
“Hah.. Ginten, kamu ini kadang nggenah kadang gendeng!”
Tidak lama menunggu akhirnya kami melakukan foto diri..
Setelah semua selesai..KTP sudah kami pegang, dan setelah memberi uang kepada pak Mustajib.. Kami pulang ke desa tempat rumah kontrakan.
Kami pulang dengan bangga karena kami sudah memiliki satu identitas diri yang diperlukan oleh tiap warga negara Indonesia.
Sesampai di rumah…rencanaku aku akan ke rumah Marwoto, untuk sekedar mengecek keadaan dia dan istrinya saja.
“Ayo kita ke rumah Marwoto Ten.. aku penasaran apa yang sedang dilakukan Marwoto disana….apakah penduduk disini akan mengusir dia atau tidak heheheh”
“Jangan gitu Man.. nek dia diusir penduduk sini, kerja kita semakin ruwet, karena kita harus bisa membujuk penduduk disini untuk menerima Marwoto Man”
“Iyo.. bener juga Ten…. ayo kita kesana sekarang.. Mumpung masih siang ini Ten”
Rumah Marwoto tidak jauh dari tempat kami tinggal, jadi hanya perlu jalan kaki saja kami sudah sampai dirumah Painah.
Rumah ini sekarang sudah berbeda.. Lebih terawat daripada sebelumnya, mungkin karena ada Suharto yang ada disini sebelum Marwoto dan Suparmi datang.
“Ten.. kita perlu bertamu apa nggak ini?”
“Bertamu saja Man.. kita ajak mereka bicara baik baik dulu aja Man”
“Yang penting sekarang Marwoto sudah ada disini dan siap untuk memberikan pengaruh baik di desa ini Man”
“Hahahah aku kok gak yakin ya Ten.. dia itu sepertinya punya kepentingan di desa sebelah”
__ADS_1
“Jangan buruk sangka dulu Man.. lebih baik kita ajak dia bicara baik baik saja dulu, dan meminta maaf ke ibunya tentang apa yang sudah diperbuat selama ini Man”
“Ya wis Ten.. aku ketuk dulu pintu rumahnya.. Kamu tunggu di luar saja, kebetulan itu pintu pagarnya tidak terkunci”
Aku buka pintu pagar rumah yang tidak terkunci slotnya….tapi sesuai dengan kebiasaanku, aku selalu memeriksa apakah ada mahluk tak kasat mata yang menjaga rumah ini atau tidak.
Untungnya tidak ada satupun mahluk yang menjaga rumah ini.
“Permisiiiiiii.. Kulonuwuuuunn.. Pak Marwootoooooo”
“PERMISIIII PAK MARWOTOOOOOO”
Kutunggu beberapa saat saja untuk kupanggil dengan suara yang lebih keras lagi hehehe. Tapi untungnya pintu rumah nya tiba-tiba terbuka sebelum aku teriak dengan lebih keras lagi.
Ah ternyata yang keluar adalah anaknya yang bernama Suharto.
“Iya .. ada apa ya pak?” tanya Suharto berhadap hadapan dengan aku
“Bapak ada mas?” sebuah pertanyaan yang paling umum
“Bapak sedang ke makam mbah saya pak”
“Kalau bu Suparmi ada mas?”
“Sama pak.. Ibu dan bapak sedang di makam mbah. Eh maaf, sampeyan kok tau kalau bapak dan ibu saya ada di sini?”
“Ya saya tau lah mas.. Saya kan lihat orang tua masnya menuju ke desa ini”
“Lha bapak ini tinggal dimana sebenarnya?”
“Saya tinggal disini mas.. Saya tempati rumah kosong bekas mahasiswa yang dulu KKN disini”
“Kalau begitu.. Saya akan susul ke makam saja mas.. Kebetulan saya tau dimana makam Mbok Painah berada”
“Lho sampean tau nama mbah saya pak?”
“Tentu saja saya tau mas..hehehe, ya sudah.. Saya mau ke sana dulu saja mas”
*****
“Ayo ke makam Painah saja Ten, mereka ada disana sekarang ini”
“Hehehe akhirnya mereka sekarang mau minta maaf ke Painah Man”
“Oooo belum tentu Ten… pasti ada hal lain yang mereka lakukan di makam ibunya itu”
“Maksudnya gimana Man?”
“Mereka berdua terusir dari desa itu kan karena ulah kita Ten… dan kita pernah bilang kalau mereka harus minta maaf ke ibunya kan Ten”
“Bisa saja mereka berdua mengumpat dan memarahi ibunya karena ibunya menyuruh kita untuk melakukan pemindahan mereka ke desa ini”
“Oh iya..bener juga Man…”
Dengan setengah berlari aku dan Ginten menuju ke makam umum yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah Painah.
Belum sampai makam, ternyata Marwoto dan Suparmi sudah jalan menuju rumah…
“Wah ketemu disini Marwoto.. Habis dari makam ya hehehe”
“Yuk kita ngobrol tipis tipis To..Mi hehehhe”
Tidak ada jawaban dari mulut dua orang itu, mereka berdua jalan tanpa menghiraukan aku dan Ginten yang mencoba menyapa mereka berdua.
Keliatanya ada apa-apa dengan mereka berdua, karena wajah Marwoto dan Suparmi keliatnya dalam keadaan emosi.
“Man.. ayo kita ke makam Painah, saya kok curiga dengan tingkah mereka berdua”
“Ayo Ten…bener-bener kurang ajar itu si Marwoto, bisa-bisanya mereka berdua tidak menghiraukan kita”
“Jelas mereka tidak akan menghiraukan kamu Man…. kan gara-gara kita berdua mereka terusir dari desa sebelah”
“Hehehe iya juga Ten.. tapi asik juga kok kalau bikin marah dan bikin jengkel mereka berdua Ten”
“Nah kan sifat setannya mulai keluar Man.. ya ini sifat setan yang sebetulnya heheheh”
__ADS_1
Aku dan Ginten berjalan terus menuju area pemakaman umum, hari sudah siang menuju sore, ketika kami sudah sampai di pemakaman umum.
Ketika aku dan Ginten masuk... aku merasa ada yang aneh disini....