
Pukul 11.15 siang mobil kuparkir di sebelah kiri jalan yang berbatasan dengan hutan dan semak belukar, ketika Totok membuka pintu udara sejuk dingin dan bau pohon pinus segera masuk ke area kabin mobil yang sedari tadi bau parfum Totok yang menyengat.
“Yuk mas kita ke warung itu, disana ada mbah Kara, nama lengkapnya akunya kurang tau mas, tapi dia hanya minta dipaggil mbah kara saja mas.
Aneh , yang aku lihat hanya warung yang seolah tanpa penghuni, berdebu, kotor , dan tidak ada seorangpun pembeli atau pemilik warung itu.
Saat ini aku ada di seberang warung, posisi kami berdua belum mendekati warung yang kelihatanya sudah lama tidak dihuni, tapi kenapa Totok mengajaku kesini, sebenarnya ada apa disitu?
Totok berjalan mendahuluiku dia menyeberang jalan tanpa menoleh kanan atau kiri dulu, tapi keadaan disini kan sepi, jadi buat apa juga toleh kanan kiri dulu hihihi.
Aku mengikutinya dari belakang, kalau aku perhatikan dari belakang, di depanku adalah seseorang yang memakai dress panjang hingga menutupi kaki dengan rambut panjang terurai.
Keadaan ini benar-benar menipu, siapapun akan tertipu bila ada dibelakang Totok, jadi kadang kita harus hati hati melihat seorang perempuan dari arah belakang.
“Mas ayo sini , temanin akunya mas” panggil Totok yang sudah ada di depan warung kosong itu.
Aku yang tadinya hanya berdiri di samping mobil sekarang berjalan menuju ke tempat totok sedang berdiri. Yang tadinya aku ndak liat apa-apa ketika ada di samping mobil, ternyata sekarang diwarung itu ada seorang mbah mbah yang sedang duduk.
Mbah atau nenek itu hanya memakai pakaian ala kadarnya, dia memakai kaos warna kuning lusuh yang sepertinya pemberian dari sebuah partai politik ketika sedang kampanye ke daerah sini, bawahan mbah itu hanya memakai kain jarik batik warna coklat yang sudah lusuh juga.
Dia tidak memakai alas kaki sama sekali, tetapi yang mengerikan adalah tatapan mata nenek itu tajam sekali, dia melihatku dengan tatapan yang seolah ingin melahapku.
Keliatnya nenek itu sedang menilai dan melihat apa yang ada di dalam tubuhku. Sejenak kemudian dia tersenyum mengerikan. Mengerikan karena gigi nenek itu sudah banyak yang tanggal, dan hanya menyisakan gusinya yang hitam.
Totok eh Titik memegang tangan kanan mbah itu, kemudiaan tangan hitam dengan kuku kuku yang nampak kotor itu dicium oleh Titik.
“Sudah lama kamu ndak kesini nduk, bagaimana kabarmu nduk” tanya mbah itu kepada totok atau Titik yang masih memegang tangan nenek itu
“Mbah iki lho kenalke kancanku yang baru mbah” Totok menyruhku salim tangan kepada orang tua aneh yang bermata tajam itu.
“Namanya Agus mbah, Titik baru dua bulan ini kenalan sama dia. Gimana mbah, ganteng kan mbah” kata Titik sambil bermanja manja kepada mbah mbah itu
“Kulo Agus mbah, mbah asmanipun sinten mbah” aku berusaha bersikap sopan kepada orang yang jauh lebih tua dariku meskipun aku tidak mengenal dia dengan baik
__ADS_1
“Hmmm bocah iki lebih sopan dari pada yang kamu bawa kesini sebelumnya nduk, mbah suka sama temanmu yang ini Nduk” kata mbah Kara sambil melihatku dengan matanya yang tajam
“Asalmu soko ngendi cah bagus” tanya nya lagi
“Kulo saking Mjkt mbah” aku tidak mau menjawab panjang lebar karena mbah Kara ini seolah olah sedang mempelajariku dengan teliti
“Koe dari trah mana cah bagus” tanya mbah kara dengan tetap melihat mataku, rasanya mata mbah Kara itu berusaha menjelajahi apa yang ada didalam diriku, sehingga aku sendiri merasa nderedeg
Dia sekarang menanyakan trah lha aku saja ndak tau apa itu artinya trah. Kok malah ditanya aku dari trah mana, jelas ndak nyambung lah.
“Ngapunten mbah, trah itu artinya apa ya mbah?” aku berusaha jujur kepada mbah Kara yang baru kukenal.
“Trah kui garis keturunan cah baguuuus heheheh mosok cah bagus koyo koe iki ndak tau apa artinya trah” kata mbah Kara dengan mata yang masih berusaha menjelajahi diriku.
“Hehehe temenan mbah , saya ndak tau trah saya ini apa”
Keliatanya mbah kara ini melihat sesuatu yang ada pada diriku , tetapi aku ndak tau apakah yang ada pada diriku ini sangat berartinya bagi mbah kara sendiri , dan apa hubunganya antara trah dengan acara Totok kesini.
“Sudah ah mbah, ayo kita bicara tentang akunya aja mbah, ndak usah tanya-tanya tentang trahnya mas Agus mbah” kata Totok yang mungkin mulai jengah karena dari tadi mbah Kara selalu melihat ku
“Ayo sini nduk, masuk ke dalam sebentar, mbah mau ngomong sama kamu nduk”
“Bentar ya mas , akunya masuk dulu...biasa lah omongan sesama perempuan mas hihihihi” kata Totok yang masuk ke dalam warung bersama mbah Kara.
Aku mencium sesuatu disini, tetapi aku tidak bisa tau ada apa disini, tapi yang pasti ada yang tidak beres, aku curiga dengan totok yang membawaku kesini , aku yakin ada udang dibalik batu hingga Totok membawaku ke mbah Kara.
Cukup lama juga mereka ada di dalam warung itu, yang kurasakan ketika mereka berdua ada di dalam warung adalah rasa sepi dan sendiri. Aku tidak merasakan bahwa aku sekarang bersama dua orang yang sedang ada di dalam sana.
Aku merasa seolah olah aku sedang sendirian ada di sini , tidak ada siapapun atau tidak ada suara apapun, yang ada hanya suara serangga yang bernama garengpong atau bisa disebut tonggeret serta suara daun daunan yang terkena hembusan angin.
Aneh sekali, aku tidak bisa merasakan adanya manusia sama sekali di sekitar ku , bahkan warung ini sekarang nampak kusam kumuh dan berdebu lagi seperti ketika aku lihat pertama kali tadi.
Sendiri dan sepi tanpa ada suara apapun apalagi suara manusia membuatku berpikiran yang tidak tidak, dan semakin lama rasanya semakin manakutkan.
__ADS_1
Kenapa aku menjadi takut seperti ini? Kenapa tiba-tiba semua menjadi hening ketika Totok masuk ke dalam warung bersama mbah Kara, aku sebenarnya ingin mengintip apa yang sedang terjadi dalam, tetapi aku punya etika untuk tetap menunggu disini.
Yang bisa aku lakukan untuk meredam takutku hanya berdzikir saja, terus berdzikir tanpa henti hingga dari dalam warung keluarlah Totok yang diikuti mbah Kara.
Wajah Totok terlihat berbeda dengan ketika dia masuk ke dalam, tapi itu kan bukan urusanku, mungkin saja dia di dalam sedang mendapatkan wejangan untuk kembali ke kodratnya heheheh
“Yuk mas Agus kita balik yuk, eehm tapi sebelumnya akunya pingin liatin mas Agus vila yang tadi aku omongin itu mas” kata Totok sambil mengajaku pergi dari ini
Tentu saja sebagai seorang yang mempunyai tata krama aku harus pamit kepada pemilik rumah dengan baik lah.
Setalah acara pamit pamitan, kami berdua menuju ke mobil yan terparkir diseberang jalan, nah disini aku penasaran dengan sosok mbah Kara, ketika kutoleh kebelakang, ternyata sosok mbah Kara sudah tidak ada disana, dan keadaan warungpun kembali seperti semula kotor dan berdebu.
Ya sudah lah, mungkin mbah Kara sudah masuk ke warungnya, berpositiv thingking sajalah. Kami bedua masuk ke dalam mobil.
“Sekarag kemana kak Titik, kita balik atau terus?”
“Kita terus saja mas, nanti di depan ada tikungan ke kanan hati-hati ya mas, karena jalanya sempit lagipula di sebelah kanan kan jurang”
“Iya kak Titik, saya akan perhatikan apa yang kakak omongkan” aku merasa ada yang berubah dari diri Totok yang sebelumnya riang, tapi setelah masuk ke dalam warung mendadak dia sering diam dan melamun.
“Apa ini masih jauh mas” sengaja aku memanggil dengan sebutan mas agar dia menegurku, tetapi tidak, totok yang berdandan menor itu hanya diam saja
“Udah deket kok mas, nanti di sebelah kiri itu vilanya mas. Keliatanya enak ya kalau kapan kapan kita istirahat di sebuah vila disini mas, apalagi suasana Gebang yang sunyi ini beda dengan yang di Trts mas”
Aku tidak mengiyakan apa yang dia katakan, tetapi yang pasti disebelah kiriku ada sebuah vila yang cukup besar dan berwarna putih bersih.
“Stop dulu mas, akunya pingin turun liat vila itu, kira-kira yang punya siapa dan berapa harga sewanya ya” kata totok sambil membuka pintu mobil untuk melihat bagian dalam vila dari pintu gerbang.
“Sendainya akunya bisa sewa vila ini, untuk istirahat beberapa hari saja kan lumayan untuk menenangkan otak, akunya rasanya lelah sekali mas, kepingin istirahat mas heheh” kata Totok dengan terus memandang ke arah vila
Aku hanya menunggu di dalam mobil saja, aku sama sekali ndak ada minat untuk turun dan melihat dalam vila seperti yang dilakukan Totok.
Tapi vila ini unik juga, halaman vila ini luas kalau seumpama anak-anak Sutopo sewa vila ini pasti jossss, karena jauh dari perkampungan penduduk, tapi kalau dilihat lihat ya agak ngeri juga, vila ini pastinya bangunan jaman Belanda.
__ADS_1
Aku hanya bisa melihat dari kaca samping yang kubuka, sebuah taman vila yang terawat, rumput di taman yang terpotong rapi hingga suasana yang hening dan nyaman.
“ ....VILA PUTIH.... “ tulisan di papan nama yang ada di sebelah gerbang vila