
Malam hari pukul 21.00 kami berangkat lagi dan lagi menuju ke Pct, kami ke sana lagi untuk memuaskan rasa ingin tahunya Blewah tentang buku tts yang ada di bawah meja kasir, selain itu kami ingin ngobrol bersama mbah Joyo.
Glewo saat ini membawa mobil dengan sedikit ugal-ugalan, mungkin karena saking semangatnya dia untuk sampai disana, hingga hampir saja mobil ini menabrak sebuah benda mirip bulat mirip buah kelapa yang ada di tengah jalan ketika mobil kami melaju di sebuah persawahan yang lumayan sepi.
“Kalian lihat tadi yang hampir kita tabrak mas” tanya Indah dengan santainya
“Biarin Ndah, paling nanti yang ditakut-takuti kan si Glewo yang bawa mobil. Bukan kita sebagai penumpang Ndah hihihihi
“Memange apa yang tadi hampir kita tabrak rek” tanya Glewo dengan cueknya tanpa merasa bersalah sama sekali”
“Itu Ndas Glundung mas hihihihi” kata Indah singkat
“Kyaaaa!!!!, Sing bener ah Ndah, ojok guyonan rek” jawab Glewo yang memang penakut
“Hehehe bener mas, coba aja tanya samas mas Blewah ini mas hihihih”
“Iyo bener Indah, itu yang tadi mau mbok tabrak itu ndas Glundung rek hihihihih” kata Blewah
“Tapi ndase glundungnya ndak ngejar kita kan rek” kata Glewo sambil liat spion tengah mobil
“Ndak mas, santai aja, ndase itu cuma ada disana tok, karena daerah kekuasaanya ada disana aja mas” jawab Indah
“Eh Wah, kok kita Waji lagi, katamu kekuatan kita ndak ada apa apanya sama yang disana Wah” tanya Glewo
“Pancen Wo, tapi aku penasaran sama buku tts ini, menurut filingku buku tts ini ada semacam kode yang ditulis sebelum adanya banca’an mayit” jawab Blewah
“Wahahahah aneh aneh ae c*k, ndi onok orang nulis bikin kode rahasia sementara disekitarnya banyak mayat yang sedang pesta makan-makan ” tanyaku
“Lha iya Gel, mosok dalam situasi genting ada orang yang sempat sempatnya ngisi tts rek hahaha, utegke gendeng paling sing ngisi tts itu hihihihi” sambung Glewo
“Kalian nek ndak percaya yo wis, aku gak mekso rek hehehehe, pokoke liat saja nanti rek, apa yang akan kutemukan disana” balas Blewah
Perjalanaan menuju ke Waji berlangsung dengan cepat, karena lalu lintas malam hari yang cenderung sepi dan untungnya tidak ada gangguan lain setelah adanya ndas glundung itu.
Pukul 22.15 mobil memasuki wilyah pct yang berhawa sejuk, pelan pelan kami memasuki jalan yang mengarah ke hutan.
“Parkir koyok bisasane ae Wo, kita ngopi dulu aja, ben uteg iki rodok waras sedikit” kataku sambil melihat warung mbah Joyo
__ADS_1
Mobil melewati hotel Waji yang gelap gulita dan mengerikan, padahal siangnya kita kesana keadaanya ramai, banyak yang sewa kamar disana, tetapi sekarang keadaanya gelap gulita. Aku semakin yakin kalau siang tadi kami memang memasuki lorong waktu.
Kami menuju ke warung mbah Joyo setelah memarkir mobil di tempat biasanya kami parkir, kami berjalan melewati depan gerbang hotel yang mengerikan dan gelap gulita.
Kebetulan warung mbah Joyo sedang sepi, hanya ada satu orang yang sedang ngopi disini.
“Walah sing jaga kok ki peli rek. Mbah Joyone ndak ada” kata Glewo
“Gak popo Wo, sing penting kita bisa istirahat dulu sebelum memasuki Waji, siap kan mental dan kekuatan sik hihihihi”
Malam hari di warung mbah Joyo dengan udara yang sejuk cenderung dingin serta di pinggiran daerah pct dengan tujuan memasuki hotel Waji, memang sesuatu banget dan cenderung nekat!
“Mas Peli, tolong kopi susu empat ya mas” teriak Glewo dari meja yang bisa langsung melihat ke arah hotel Waji.
“Kalian ini apakah yang kapan hari itu ke rumah mbah Joyo ya mas” tanya pemuda kurus gondrong mburi tipis samping dengan senyum yang mengerikan, mengerikan karena gigi taring dia agak nonjol keluar sehingga mirip dengan taring drakuli, eh drakula.
“Iya mas Peli , eh, mbah Joyo mana ya mas, biasanya kan kalau malam gini dia yang jaga warkop mas” aku memanggil dia dengan panggilan Peli , sesuai dengan panggilan mbah Joyo kepadanya.
“Mbah Joyo lagi ngobati orang, ada anak-anak dari kampung sebelah yang kesurupan setelah ambil buah mangga di hotel itu” tunjuk ki Peli ke arah hotel Waji
“Katanya sih ngambil mangganya tadi siang mas, katanya lagi waktu dia ngambil buah mangga itu, dia merasa kalau hotel itu ramai sekali, hotel itu penuh dengan orang yang ada disana mas”
WHAAAT!!!..., tadi siang kan waktu kita kesana, dan memang suasana hotel sedang rame-ramenya kan. Berarti waktu kita sedang ada di kantor hotel atau waktu kita dikejar kejar sama mahluk mengerikan itu dong.
“Lha terus dia kesurupanya kapan mas, dan dapat berapa mangga hehehe” tanya Glewo
“Belum dapat mangga ogh mas, keburu kesurupan waktu dia sedang naik ke pohon mangga, dia kesana berdua aja mas, temanya nunggu di bawah, sedang kan dia naik ke atas mas”
Kan mamang di pohon mangga itu banyak mahluk berdaster putih dan ada juga mahluk yang hanya memakai kain putih kotor dengan ikat di atas kepala kayak permen.
“Terus gimana setelah mas Peli” tanya Blewah
“Waktu itu yang jaga warkop ini saya mas, ketika temanya kesurupan, teman satunya lari menuju ke warkop ini, dia ketakutan karena temanya masih ada dihalaman hotel itu dalam keadaan teriak-teriak ndak karuan”
“Saya yang selamatkan temanya yang kesurupan itu mas, saya yang usir beberapa mahluk aneh berbentuk manusia dengan mulut penuh darah dan dengan tangan yang memegang daging penuh darah yang masih ada potongan pakaianya”
Blewah melirik Indah, Indah mencolek pahaku, waktu itu kan kami mengalami kejadian yang sama juga menurut penglihatan Blewah dan Indah, kita sedang dikejar oleh manusia dengan mulut penuh darah juga!
__ADS_1
Bisa jadi kejadian kesurupan itu setelah kita pergi dari sini atau bisa juga sebelum kita datang kesini, tetapi kalau dia kesurupan mahluk aneh itu bearti mereka datang setelah kami pergi dari sini.
“Mas Peli, waktu kesurupan itu jam berapa mas, apakah disana terparkir mobil itu mas” tunjukku pada mobil Totok yang terparkir agak jauh pada mas ki Peli
“Hmm ndak ada mas, ndak ada mobi itu waktu anak itu sedang kesurupan, atau mungkin saja saya yang tidak perhatian mas, kalau warkop sedang ramai saya selalu fokus untuk berjualan saja mas”
Bearti Ki Peli tidak perhatian kalau disana ada mobil kami, dan kami pergi dari sana setelah Kami dikejar oleh mahluk aneh yang hanya Blewah dan Indah saja yang bisa lihat.
“Lha ini kalian pada mau ke mana mas. Kok malam-malam kesini mas” tanya Ki Peli
“Tujuan kami kesini itu ingin bertemu dengan mbah Joyo mas, kami mau minta pendapatnya karena kami sekarang ingin masuk ke hotel itu mas”
“Hihihih kalau mau kesana asal kuat aja ndak papa mas, atau kalian mau saya antar kesana, gimana?” kata Zulkifli atau dengan panggililan KiPeli sambil nyengir yang mengakibatkan gigi taringnya muncul
“Ndak usah mas , mas Ki Peli jaga warkop saja mas, nanti kalau ada apa-apa kan biar teman saya yang memangil mas Ki Peli hihihi” jawabku
“Oh iya satu lagi mas, apabila kalian masuk ke pintu gerbang itu, kalian jangan merasa kaget kalau tiba tiba pindah ke seuatu masa tertentu mas, karena disana itu aneh kok , kita tiba-tiba bisa pindah ke masa lalu”
“Dan kalau kalian panik , maka penghuni disana akan semakin berani pada kalian, jadi kalau tiba-tiba terjadi perpindahan masa, kalian angap biasa saja mas. Nanti kalau sudah keluar dari pintu gerbang itu semua akan kembali normal kok” jelas mas Ki Peli
“Lalu apakah anak anak yang kesurupan itu juga mengalami perpindahan waktu mas” tanya Indah
“Mereka masih kecil-kecil mbak, di dalam hati mereka cuma bermain dan makan, tidak seperti kita yang selalu ingin tau akan sesuatu. Anak-anak itu cuma bermain dan curi mangga sehingga mereka tidak mengalami perpindahan waktu mbak hehehehe”
“Eh..nanti mbah Joyo ke sini ndak mas kira-kira, soalnya kami ingin bicara dengan beliau mas”
“Mungkin kalau urusan dengan anak kecil itu sudah selesai, dia akan kesini mas, karena saya harus tidur, besok setelah subuh saya harus jaga disini lagi mas hehehe”
Setelah membayar dan sedikit basa-basi , kami lanjutkan petualangan ke hotel Waji pada malam hari, sebelum masuk Indah menyuruh kami untuk berdoa dan tidak lepas dari berdzikir.
“Kalian harus tetapi Dzikir mas, karena yang Indah lihat disana itu cukup yaah..., cukup menakutkan untuk dimasuki mas”
“Iya Ndah, kita masuk kesana hanya untuk mengembalikan buku tts ini saja kok Ndah, setelah itu kita keluar dari sana” kata Blewah
Aku dari sini bisa lihat mas Ki Peli sedang memperhatikan kami dari luar warungnya, dia mungkin khawatir dengan kami yang masih nekat saja untuk masuk ke dalam sini.
Pintu gerbang hotel yang tidak pernah tertutup ini seolah menyuruhku untuk memasukinya dan menikmati sisa hidup kami. Bener-bener mengerikan....
__ADS_1