
Seperti kemarin ketika aku pulang dan melewati area telaga selalu aku merasa ada saja yang ingin menampakan diri atau sesuatu yang ingin bertemu denganku.
Tapi sama dengan kemarin.. Aku bisa menolak mereka yang berusaha untuk berkomunikasi dengan ku.
Padahal aku sudah bilang bahwa aku sama sekali tidak ingin berbicara dengan mereka, apalagi mendengarkan apa yang mereka akan bicarakan kepadaku.
Karena aku yakin… yang namanya makhluk tak kasat mata itu pasti punya maksud tertentu apabila mereka ingin bertemu atau berbicara dengan seseorang.
Kukayuh sepedaku dengan cepat hingga aku sampai dirumah dengan selamat, Untuk hari ini sepeda tetangga yang kupinjam ini kutaruh di rumah saja.
Karena tadi sore tetanggaku bilang kalau sepeda itu taruh saja di rumah ini, dari pada setiap waktu aku selalu meminjam sore hari dan mengembalikan pada malam hari.
“Malam hari ini hanya terjual satu biji pakaian laki-laki, tapi tidak masalah, mungkin karena aku berjualan di tempat yang tidak terang”
Setelah cuci tangan dan kaki, aku langsung tidur…
Tidak Sholat dulu?.... Tentu saja tidak!
Aku belum percaya dengan Tuhan… memang aku berasal dari Timur tengah, dan wajahku juga ke menggambarkan wajah Timur tengah.
Tapi aku tidak percaya dengan Tuhan yang katanya sudah menciptakan seluruh alam semesta dan termasuk bangsanya aku dulu.
Aku tidur di ruang tamu, meskipun di kamar sudah ada kasur yang empuk, tetapi aku lebih suka tidur dengan beralaskan tikar anyaman yang sengaja ditinggal oleh mbak-mbak mahasiswa.
Aku memang sudah menjelma menjadi manusia, tetapi aku merasa bahwa alamku bukan disini. Tapi biar bagaimanapun aku harus bisa menyesuaikan diriku dengan keadaan baruku ini.
Tidak ada yang bisa menakutiku disini, apapun dianggap mengerikan tidak lebih mengerikan dengan keadaan rumah putih yang ada di gebang.
Aku mulai ngantuk dan kemudian tidur terlelap….
Baru saja aku terlelap, tiba-tiba aku dibangunkan oleh sesuatu.
“Man… bangun…”
Tentu saja tidak kuhiraukan sapaan sesuatu itu, aku tau sesuatu itu pasti akan mengajakku untuk melakukan sesuatu..
“Rochman bangun…! Atau saya bunuh kamu!”
Aku dengar..aku dengar ada yang sedang mengancamku… tapi aku tidak peduli!
“Baiklah Rochman.. Kamu akan saya paksa untuk bangun dan akan saya paksa agar kamu tersenyum ketika melihatku” kata suara perempuan tua yang ada di telingaku
“Aku tidak peduli.. Kalau mau bunuh aku silahkan bunuh saja.. Aku sudah mati beberapa kali dan merasa bosan dengan acara mati mati ini!”
“Aku tau kamu ini Ginten… aku tidak ada urusan dengan ghaib-ghaib lagi ginten!”
“Jangan membantahku Rochman… kamu bisa selamat dan ada disini juga karena jasaku!”
“Kamu memang sudah dimusnahkan anak-anak Sutopo, tapi kamu saya selamatkan ketika cahayamu tinggal sekecil satu butir beras!”
“Saya yang bawa kamu ke masa ini!” kata suara perempuan tua dengan nada membentak
“Aku tidak peduli… kamu bunuh aku sekarang juga aku tidak masalah… lebih baik kamu segera pergi dari sini Ginten..!”
“Aku hanya ingin hidup sebagai manusia, dan apabila kamu tidak suka dengan kehidupanku, maka kamu bisa bunuh aku sekali lagi atau buang jauh jauh cahayaku!”
“Saya beri kamu waktu sampai besok untuk berpikir lebih sehat lagi… besok saya akan datangi kami lagi Rochman!”
Suara yang biasa dikenal dengan suara ghaib itu sudah lenyap.
Dipikir dengan suara ghaib aku akan takut, meskipun aku memang adalah manusia, tetapi aku tidak takut dengan suara-suara yang tadi diperdengarkan Ginten.
Tapi apa memang yang menyelamatkan aku adalah si Ginten?
Apa alasan dia menyelamatkan aku hingga aku dibuang ke jaman ini?
__ADS_1
Apakah Ginten berkhianat dari Mak Nyat Mani?
Malam ini sama sekali aku tidak bisa memejamkan mataku…
Selain udara yang panas dan pengab di dalam rumah, aku juga sedang memikirkan perkataan Ginten tadi itu.
Aku terngiang ngiang dengan kata-kata Ginten yang mengatakan bahwa dia yang menyelamatkan aku, dan membawa aku kesini.
Kenapa dia harus selamatkan aku, apakah Ginten ada sesuatu denganku, atau dia punya niat jahat lain?
Duh… aku harusnya tidur dan istirahat malam ini, besok pagi sekali aku biasanya berkeliling desa untuk menawarkan bantuan kepada penduduk disini.
Tapi sampai detik ini, mataku tidak bisa kupejamkan, bahkan aku merasa tidak mengantuk sama sekali.
Atau mungkin dengan jalan-jalan di depan rumah dan menghirup udara malam di pedesaan bisa membuat aku mengantuk?
*****
Udara malam hari yang segar, udara yang berasal dari hutan dan padang rumput yang ada di belakang rumah.
Di teras rumah ini rasanya memang adem dan nyaman. Suara kodok dan ular saling sahut sahutan, tapi ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal tapi bukan ganjalan hati.
Celanaku terasa sempit ketika kulihat yang mengganjal itu adalah uleg uleg ku..
Tiba-tiba terlintas di kepalaku sosok mas Ilham yang ganteng itu….. Ach tapi apa mungkin aku bisa memiliki dia.
“Sialan.. Kenapa tiba-tiba aku keingat mas Ilham waktu tidur tanpa pakain!”
“Ah sudahlah.. Ngapain juga ingat-ingat orang yang tidak ingat kepadaku”
Aku berjalan santai tanpa arah…. Jalan terus hingga akui tiba diujung jalan yang berbatasan dengan padang rumput.
Memang kontrakan mahasiswi ini letaknya ada di ujung jalan yang berbatasan dengan padang rumput. Dan dulu katanya rumah ini mengerikan.
Untungnya aku dan teman-teman hantu berhasil mengusir pocong yang meneror rumah ini.
“HEIIII SIAPA KAMU!” teriak seseorang yang berasal dari belakangku
Reflek aku menoleh ke belakang.. Dan tiba-tiba dua sinar senter menerangi wajah dan tubuhku..
Ternyata ada dua orang yang sedang menuju ke arahku..
“Kamu Totok?.... Ngapain ada disini malam malam” kata salah satu orang yang aku belum jelas melihat wajahnya karena aku silau dengan cahaya senter yang diarahkan ke wajahku
“Iya pak… saya Totok… tolong senternya pak, mata saya silau sekali”
Senter itu kemudian diarahkan ke tanah, agar aku tidak silau.
Ternyata yang datang adalah dua orang penjaga malam desa ini. Mereka bertugas ronda dan keliling desa tiap malam.
“Oh pak Sapari dan pak Tukio”
“Iya Totok.. Kamu ngapain malam-malam ada disini?” tanya pak Tukio
“Saya tidak bisa tidur pak, saya pikir dengan jalan-jalan malam gini saya bisa ngantuk”
“Boleh jalan-jalan malam, tapi jangan ke sana pada malam-malam seperti ini, apalagi pada malam jumat kliwon, jangan sampai kamu hilang disana” sahut pak Sapari.
“Memangnya disana ada apa pak Kio?”
“Disana itu adalah tempat kerajaan Jin, dan pada malam jumat sering terdengar suara gamelan dan suara berisik seperti sedang ada pesta disana” jawab pak Sapari
“Pokoknya jangan sampai kamu ke sana Tok”
“Dulu mahasiswi yang ada disini juga kayak kamu gini, mereka penasaran dengan padang rumput yang ada disana itu”
__ADS_1
“Untungnya mereka ini penakut, dan tidak pernah menginjakn kakinya ke sana Tok” kata pak Tukio
“Kalau kamu tidak bisa tidur, ikut ronda bersama kami saja”
“Iya pak..ayowis pak, saya ikut ronda saja, daripada di rumah tidak bisa tidur
Pak Sapari dan pak Tukio…meskipun mereka ini mungkin sudah berumur setengah abad, tapi badan mereka tinggi besar.
Mereka cocok didapuk sebagai anggota keamanan desa.
Aku bisa bayangkan apabila mereka berdua membuka bajunya, pasti tubuh mereka gempal dan berotot.
“Mungkin karena malam ini panas, kamu jadinya tidak bisa tidur ya Tok?” tanya pak Sapari
“Bisa jadi pak, di rumah itu apabila pintu dibuka maka angin sejuk bisa masuk ke dalam pak, tapi kan tidak mungkin saya berani membuka pintu rumah pada malam hari”
“Hehehe takut sapa apa Tok?” tanya pak Tukio
“Takut sama ular pak hehehe, kalau sebangsa demit, saya tidak takut pak, kalau ular itu baru bikin saya panas dingin hehehe”
“Wah Totok mask takut sama ular sih..yang takut sama ular itu harusnya perempuan, kalau laki laki malah tidak boleh takut sama ular” kata pak Tukio
“Iya bener kamu Kio… kita kan pelihara ular juga.. Namanya ulo katok heheheh” kata pak Sapari
Kami bertiga berjalan pelan sambil sesekali kedua orang itu menyinari suatu tempat yang mencurigakan dengan senter mereka.
HIngga pada suatu tempat aku merasa ada yang aneh, ada sosok tua yang ada gemuk sedang memperhatikan aku..
Ginten!.. Ada apa dia disana, dan kenapa dia memperhatikan kami bertiga.
Kupalingkan wajahku agar aku tidak melihat Ginten yang ada di bawah pohon mangga sebuah rumah yang ada di sana.
“Kamu harus mengikuti apa yang aku suruh Rochman.. Aku adalah penyelamatmu…” suara itu mulai terngiang di telingaku.
Kugeleng gelengkan dengan cepat kepalaku agar suara iru hilang dengan segera. Telingaku berdengung seperti suara lebah.
“Kamu harus mau ikuti aku.. Atau dua orang yang bersamamu aku bunuh!” suara itu berdengung lagi di dalam telingaku.
Namun kali ini suara it berupa ancaman yang mengerikan, dia akan membunuh pak Sapari dan pak Tukio..
Apa yang harus aku lakukan… Ginten sudah mulai nekat dengan menebar ancaman.
“Kenapa Tok… kenapa dari tadi kamu menggeleng gelengkan kepalamu?” tanya pak Tukio
“Tidak tau pak, mendadak kepala saya sakit..” jelas aku berbohong kepada mereka berdua
“Kalau sakit lebih baik pulang saja Tok, mungkin kamu tidak cocok dengan udara malam” jawab pak Sapari
“Nggak papa pak Sapari, saya baik-baik saja kok”
Aku tidak mau membiarkan Ginten membunuh dua orang tidak bersalah ini, meskipun aku yakin bahwa aku sudah tidak punya kekuatan apapun, tapi paling tidak aku akan melindungi mereka berdua.
Suara berdengung itu terus muncul di dalam telingaku, semakin lama suara itu semakin menyakiti kepalaku.
Aku yakin ini adalah serangan yang dilakukan oleh Ginten karena aku tidak mau diajak kerja sama dengan dia.
Tapi tujuan dia mengajak aku kerjasama sebenarnya untuk apa, karena yang aku tau keadaan sudah selesai dengan musnahnya Dimas..
Ketika aku sedang sibuk dengan berusaha menghilangkan suara berdengung di telingaku, tiba-tiba pak Tukio terjatuh dan tak sadarkan diri..
“Lho Yoooo Tukioo.. Ada apa dengan kamu Yo” teriak pak Sapari kebingungan
Aku tau ini adalah ulah GInten yang memaksaku untuk ikut dengannya,.. Tapi aku menolak sehingga dia nekat menghabisi orang yang sedang bersama aku.
“Tenang saja Rochman… orang itu hanya pingsan saja hahaha, tetapi dia akan segera mati dalam satu menit apabila kamu tetep saja tidak mau mengikuti aku”
__ADS_1
Suara Ginten itu mulai muncul lagi di antara suara berdengung di kepalaku, aku semakin tidak tahan.. Aku tau Ginten tidak main main dengan pak Tukio itu.