
Aku tau teman-temanku tidak suka dengan tindakanku yang hanya mengumpankan teman-temanku untuk mahluk yang ada diluar sana, tetapi tindakanku itu tidak sungguh-sungguh, kau hanya cuma ingin tau reaksi mahluk yang ada diluar itu apabila Blewah dan keempat anak kecil itu mendekati nya.
Aku tau bayangan hitam itu tidak akan bisa menembus ke dalam pagar rumah ini, mangkanya aku berani menyuruh Blewah untuk menantang bayangan itu.
Teman-temanku tidak tau kalau nanti malam aku akan menghabisi mahluk itu atau minimal membuat dia bicara siapa yang menyuruhnya kesini. Itu sebenarnya tujuanku, tetapi sayangnya teman-temanku keburu marah dengan ku.
“Heh anak-anak, gimana yang diluar itu” tanyaku pada keempat anak yang sedang duduk sambil melihat ku
Saat ini aku bisa berkomunikasi dengan mereka, memang tidak menggunakan cara verbal, tetapi aku bisa merasakan suara mereka ada didalam kepalaku, meskipun kalau didengar dengan telinga suara mereka mirip suara orang yang sedang mencret.
“Coba aja keluar dulu saja om, hihihih. Siapa tau om bisa merasakan kekuatan dia om, jadi om bisa menakar sejauh mana om bisa melawan dia” kata anak-anak yang ada di depanku.
Jancik aku dipanggil om rek, asyu kok arek-arek cilik iki.
“Heh, kapan aku kawin sama tantemu, malah mbok panggil om rek”
Anak-anak kecil itu tertawa berguling guling mendengar omonganku. Tapi benar kata Indah, mereka ini bener-bener menghibur, mereka bisa membuat aku tersenyum dengan tingkah mereka.
Aku keluar menuju ke halaman rumah mbah ku, aku pingin tau bagaimana reaksi mahluk itu kalau aku ada di halaman depan.
Ketika aku membuka pintu dan berjalan pelan keluar, mahluk itu tiba-tiba bergerak liar kesana kemari, seolah olah di berusaha masuk ke dalam halaman ruman mbahku.
Bener-bener hebat memang pagar ghaib yang ada di rumah ini, hingga mampu manahan mahluk yang ada diluar itu.
Aku berjalan pelan mendekati mahluk yang masih bergerak liar mencari celah untuk masuk ke dalam rumah ini.
Ketika aku sudah dekat sekali dengan pagar , tiba-tiba mahluk itu terdiam, kami saling berhadapan meskipun dibatasi oleh pagar rumah dan pagar ghaib.
Kulihat mahluk hitam yang sedang berdiam diri tanpa bergerak sama sekali, tapi anehnya tiba-tiba mahluk itu bergetar hebat, bergetar mirip alat vibrator yang berbentuk seperti mik untuk nyanyi gitu
Aku tau dia sekarang sedang menyerangku, tetapi ternyata di dalam tubuhku juga ada yang menyerangnya, dan aku rasa dia kalah kuat dengan yang ada di dalam tubuhku.
Kurasa cukup ah, aku cuma mau coba mahluk itu aja, nanti malam baru aku akan lakukan lagi. Ndak enak sama tetangga kalau aku teruskan bunuh mahluk yang berupa bayangan itu saja.
Takutnya nanti aku tiba-tiba bergerak sendiri tanpa kusadari, lha nek misal aku gerak-gerak sendiri apane ndak dianggap wong edan sama tetangga sini.
“Lho kok sudah om, kok nggak sekalian aja dimatikan om. Asal om ingat, yang diluar itu bukan yang suka tidur di atas pohon dan bergelantungan di pohon lho ya om” kata anak-anak kecil itu
__ADS_1
*****
Sore sudah berakhir waktu maghrib pun tiba, untuk maghrib hari ini kami tidak melakukan di masjid dikarenakan bayangan hitam itu masih ada disana.
“Tadi kok ndak sekalian mbok matiin sih Gel” tanya Glewo
“Gak enak sama tetangga Wo. Takutnya nanti aku bergerak gerak sendiri, malah dipikir aku iki wong gak beres Wo”
“Lha sampai saiki jam 18.15 bayangan itu masih ada disana , dan sekarang keliatanya bayangan itu sekarang berubah lho Gel, coba kamu liat diluar Gel”
Wih benar juga kata Glewo, bayangan itu sekarang berubah menjadi sesosok mahluk yang menyerupai anjing, tetapi asu itu ukuranya besar, bukan besar sih, tapi bueeessaaar.
“Itu siluman anjing mas, dia akan semakin kuat pada malam hari , seharusnya tadi waktu sore hari mas Agus ada kesempatan untuk membunuhnya” kata Indah
“Tapi karena mas biarkan, akhirnya bayangan hitam itu sekarang berubah menjadi seperti itu mas” tunjuk Indah pada siluman anjing yang ukuranya sebesar mobil Totok
“Padahal nanti malam kita kan ada janji dengan Ki peli. Lalu bagaimana kita bisa keluar kalau siluman anjing itu ada di depan rumah mas” lanjut indah
“Nanti aku akan cari cara agar kita bisa keluar dari sini Ndah, yang penting pada intinya dia masih belum bisa masuk ke dalam rumah ini
Aku gerah juga dengan pertanyaan Indah, maka lebih baik kutemui saja mahluk yang kini ukuranya sudah sebesar mobil itu.
Di teras rumah yang terang karena sebelumnya lampu teras sudah kuganti dengan bohlam yang ukuranya lebih besar aku lihat siluman anjing yang sekarang makin besar ukuranya itu sedang duduk di depan pagar sambil melihat ke arahku.
Aku jelas ndak takut lah, karena aku yakin apa yang ada di dalam tubuhku ini jauh lebih baik dan lebih kuat dari pada si asyu itu.
“Su Asyu, apa maumu, kenapa kamu tidak pergi dari rumah ini” kucoba untuk berkomunikasi seperti aku berkomunikasi dengan keempat anak kecil
“Aku sedang menunggu temanmu dan dompet yang dibawa temanmu, serahkan temanmu maka aku akan pergi dari rumah ini” jawab si asyu dengan nada yang tidak bersahabat
“Kalau aku ndak mau serahkan gimana syu!?”
“Maka aku akan ada disini selamanya, sampa kau serahkan apa yang diminta tuanku” kata Asssyu lagi
“Siapa tuanmu su ...Asyu buruk rupa?” aku berusaha memancing emosinya dengan mulai mengata ngatai asyu jelmaan setan itu
“Kamu ndak perlu tau siapa tuanku, pokoknya serahkan apa yang tuanku minta, dan aku akan pergi dari sini” geram asyu
__ADS_1
Aku berjalan semakin dekat dengan pagar yang memisahkan aku dan asyu jelmaan yang bernama Toni ata syaiTonirojim itu, ketika aku makin mendekat, hawa panas yang terpancar dari tubuh asyu itu benar-benar sangat menggangguku.
Aneh juga, padahal sebelum jadi asyu, mahluk itu biasa-biasa saja, tetapi semenjak jadi asyu sekarang seolah dia mempunyai kompor dan tabung gas elpiji di dalam tubuhnya, sehingga memancarlan hawa panas.
“Hehehe hawa neraka sudah ada di tubuhmu Syu, sekarang aku akan mengirimu ke neraka sesuai dengan hawa panas yang ada di dalam tubuhmu Syu asu”
Aku semakin mendekati pagar hingga aku bisa menyentuh pagar rumah mbahku, hawa panas yang terpancar dari tubuh asyu ini benar-benar luar biasa, mirip kayak kalau kita sedang dalam acara pramuka dan menyalakan api unggun yang besar.
Dan apa yang aku perkirakan ternyata benar, ketika aku menyentuh pagar rumah mbahku, si asyu tiba-tiba mundur beberapa langkah, mungkin dia juga merasa panas dengan yang ada di dalam tubuhku.
“Kenapa kamu mundur syu...Asyu. kamu ndak kuat ada didekatku kah?”
Asyu itu samakin mundur ketika aku mulai berjalan menuju ke arah pintu pagar yang memisahkan aku dan asyu siluman.
“Kamu mau pergi dari sini atau mau mati dengan nikmat, bahagia, dan bersahaja?”
“Sama saja! Aku pulang tanpa membawa temanmu juga sama saja aku akan mati, jadi lebih baik aku mati disini saja AAARRRGGHHHHH”
Setelah berteriak, anjing jadi jadian itu mulai bergerak mendekatiku meskipun keempat kakinya gemetar ketika semakin dekat denganku.
“Liaten kakimu nderedeg itu lho syu! Pasti kamu kebanyakan colay ya? sampai keempat dengkul kakimu ndak mampu menopang tubuhmu kan?”
Semakin dia dekat denganku semakin dia tremor ndak karuan, aku tau dia tidak akan berani kepadaku, tetapi dari pada pulang dengan tangan hampa dan akhirnya dibunuh juga, maka dia lebih memilih kubunuh dengan cara terhormat.
“Syu, kemarin malam kamu yang bunuh mbah Joyo?, kok aku ndak percaya kalau kamu bisa membunuh mbah Joyo. Coba kamu lihat, kamu dekat dengan ku yang bukan apa-apa dibanding mbah Joyo aja kamu sudah gemeter gitu Syu!”
Terus terang aku memang sengaja untuk membuat dia terbakar emosi sehingga dia tidak bisa konsentrasi untuk menghadapiku. Tapi ya apa bener sih yang bunuh mbah Joyo itu Asyu ini?. Anjing ini ngadepi aku saja ndak berani, lha kok malah membunuh mbah Joyo dengan sangarnya.
“Gini saja asyu, kamu lebih baik pergi saja dari sini, aku ndak mau bunuh kamu dan aku ndak mau serahkan temanku, kamu bebas pergi dari sini. Aku sedang malas untuk membunuh mahluk macam kamu ini, karena menurutku kamu bukan tandinganku”
Aku ingin bermain trik dengan dia, pertama aku tidak mau membunuhnya, kemudian kuhina dan kuusir dulu dia dari sini, dan akan kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.
“Tapi sebelumnya saya mau tanya asyu. Siapa yang membunuh mbah Joyo itu, apakah kamu yang membunuh mbah Joyo?”
Aku tidak langsung menuduh dia yang membunuh mbah joyo, karena menurutku dia tidak akan bisa membunuh mbah Joyo, pasti ada hal lain yang membuat mbah Joyo meninggal.
“Bukan aku yang membunuh, tapi aku memang disuruh ada disana seolah aku yang membunuhnya” siluman anjing menjawab dengan kalimat yang membuaku puas mendengar jawabanya!
__ADS_1