
“Kamu akan ikut aku terus atau cuman sampai disini saja Gel, kalau ikut aku terus ya ayo, karena terowongan ini akan jauh sekali”
“Ada baiknya kita beli lampu senter dulu saja Wah, karena tanpa penerangan kita ndak akan bisa lihat apa-apa didalam sana” omongan Dogel mulai nggenah juga
“Ada benernya mas Dogel mas, lebih baik kita beli lampu senter yang terang dulu sebelum masuk kesana, karena kalian tidak tau apa yang ada disana mas, takutnya ada jebakan atau apapun yang ada disana mas” kata Sumirah
“Yo Wis Gel , aku cepat cari senter, tak tunggu di depan toko, soale toko ini sudah dalam keadaan terbuka, nanti sekalian Kamu taruh mobil di tempat aman, karena kita tidak tau berapa lama kita ada disana Gel”
Akhirnya kami berdua keluar dari toko, Dogel setuju untuk membeli lampu senter dan memarkir mobil di tempat yang aman. Aku tidak ikut Dogel, aku tetap disini, karena posisi Gemezzz sudah dalam keadaan terbuka.
*****
Hari sudah menjelang sore, aku masih menungu Dogel di depan toko, kendaraan lalu lalang tapi tidak ada Dogel yang berhenti di depan.
“Eh Mirah kira-kira Dogel ini beneran cari senter atau dia pulang terus tidur di rumah sih?”
“Ditunggu saja mas, dia serius kok. Dia saat ini ingin membuktikan bahwa omongan dia tidak asal njeplak mas”
“Hehehe yang njeplaplak itu yang enak lho Mirah hihihihi”
“Iiiih yang di njepaplak kan itu apanya mas hhihihi, beda maaas antara njepaplak dan njeplak” kata Sumirah
“Bedanya apa sih Mirah , coba jelasin pakek contoh hihihih”
“Contohnya nih...orang itu kalau ngomong asal njeplak, asal njeplak gak dipikir dulu. hehehe bener ndak mas” tanya Sumirah
“Iya beneeeerr, terus kalu njepaplak apa lhooo contone Mirah?”
“Eh mungkin gini mas. Kedua kaki orang itu di njepaplakan agar mudah di hihihihihi kan” jawab Sumirah
“Lho heee agar mudah diapakan?, gak jelas awakmu iki Sumirah wakakakakak” jawabku dengan suara yang keras sambil tertawa ngakak karena penjelasan Mirya
“BU.... ADA ORANG GILAAA, DIA NGOMONG DAN TERTAWA SENDIRI” teriak anak kecil yang berjalan bersama ibunya ketika mereka berdua melewatiku
“Sudah, jangan dilihat nak, ya begitu itu kalau orang yang tidak nurut sama orang tua, bisa gila kayak gitu nak” kata Ibu dari anak kecil itu
“Yancooook, aku duduk wong gendeng bu!. Dan wong gendeng itu bukan karena ndak nurut orang tua buuuu! ” teriak ku kepada mereka berdua
Kemudian ibu dan anak yang berjalan itu semakin mempercepat jalanya, atau lebih tepatnya mereka lari menuju ke arah kota.
“Sudahlah mas, jangan dihiraukan. Memang mas Blewah itu gila, mana ada orang waras yang bicara pada diri sendiri macam sampeyan ini mas hihihihi” kata Sumirah
__ADS_1
“Apalagi tampang mas Blewah ini cocok untuk dikatakan ndak waras mas. Rambut gondrong agak gimbal keriting, wajah hitam, dan pakaian yang tidak pernah ganti hihihihi” kata Sumirah
“Oh iyo Mirah, berarti aku iki gendeng yo hahahahah”
Aku tertawa tergelak ketika Sumirah mengatakan aku gila, tapi akibatnya yang tidak aku sadari. Ternyata ibu dan anak itu dari kejauhan masih memperhatikanku.
ibu yang bersama dengan anak kecil itu dari kejauhan kembali lagi ke arahku bersama beberapa orang dan satu orang satpam.
“Mas cepat selamatkan diri mas, Mirah merasa ada bahaya yang akan datang kesini”
Aku tau bahaya itu adalah orang yang akan mengusirku karena aku dianggap gila, karena aku tadi sempat mengata-ngatai seorang ibu dengan anak nya yang tadi lewat sini.
“Lari kemana Mirah, gak mungkin aku tinggalkan pintu toko yang terbuka seperti itu” kataku kepada Sumirah
“Adduuh gimana ini mas, atau mas Blewah masuk ke sana saja dan tutup pintu itu dari dalam sebelum mas Dogel datang?”
“Usulmu masuk juga Mirah, aku akan masuk ke dalam dan mengunci pintu harmonika itu dari dalam”
Aku segera masuk ke dalam toko sebelum orang-orang itu sampai kesini, bahaya juga kalau mereka sampai menangkapku dan memenjarakanku di panti sosial karena mengganggu pejalan kaki.
“Dogel ini kemana sih, dari tadi kok ya belum datang kesini” gumamku sambil kututup pintu harmonika toko sebelum orang-orang itu sampai ke toko ini.
“Mas Pintu itu sudah mas kunci kan mas?” tanya Sumirah
“Uwis Mirahku hihihi. Ada-ada saja sih, kok bisa mereka pada ngejar aku ya, disangka aku gila beneran iki Mirah”
“Wong memang mas Blewah itu orang edan kok ndak ngaku sih mas hehehe. Sekarang tunggu saja orang-orang itu menggedor gedor pintu toko, berdoa saja mas Dogel segera datang mas” kata Mirah lagi
Bener juga kata Mirah, tidak lama kemudian ada beberpa orang yang menggedor-gedor pintu harnonika toko, untungnya tadi sudah ku kunci dari dalam, dan untungnya gembok dan rantai juga sudah kumasukan.
“Woooi buka pintu ini atau kami dobrak kamu maling!” teriak orang yang ada diluar
“Bukan maling pak, tapi wong edan” kata suara seorang perempuan di luar toko
“Mirah, masak kita dikatakan maling sih hihihih”
“Kan memang maling mas, mas Blewah kan masuk tanpa ijin sama pemiliknya heheheh, kalau mas Blewah nanti dipenjara, terus gimana dengan Mirah mas hihihihi”
“Ndaklah, pintu ini kuat sekali, ndak ada yang bisa bongkar kecuali tukang las heheheh”
Kenapa aku dan Mirah selalu tertawa-tawa ya, padahal keadaan ini tidak untuk ditertawakan, tetapi anehnya aku dan Mirah seakan-akan menganggap semua ini enteng. Apa mungkin aku suda gila ya?
__ADS_1
Bukankah orang gila itu banyak yang tertawa sendiri, selain ngamuk-ngamuk dan ngoceh gak karuan heheheh.
“Toko ini sudah beberapa minggu tutup, dan kabarnya banyak penampakan disini, apa tadi ibu dan adik ini ndak salah lihat” tanya orang yang ada di luar
“Anak saya dan saya tidak salah lihat pak, memang orang gila kok pak. Rambutnya gondrong gimbal keriting, kulitnya hitam, dan bajunya kayak kumal gitu pak” jawab ibu-ibu yang tadi sempat lihat aku
“Tadi ibu lihat pintu toko ini terbuka atau tidak?” tanya suara lain lagi yang bertanya kepada ibu itu
“Terbuka lebar pak, bahkan anak saya bisa lihat didalam gelap dan mengerikan pak” jawab ibu itu lagi
“Kalau memang orang gila, mana bisa dia punya kunci untuk pintu harmonika yang terkenal kuat ini, tidak mungkin juga dia pemilik toko ini, karena kabarnya pemilk toko ini sudah mati” kata laki-laki satunya.
“Lha terus siapa tadi yang sempat meneriaki kami tadi?” ibu itu tidak begitu saja percaya dengan omongan laki-laki sebelumnya
“Kalian mungkin lihat penampakan saja bu, mana ada orang yang membuka pintu ini dan kemudian menutup secepatnya sebelum kita datang, seolah-olah dia tau kalau kita akan kesini”
“Ayo kita bubar, ibu ini hanya lihat penampakan demit saja, malah jadi merinding ada disini pak” kata laki-laki lainya
*****
“Hehehe mereka akhirnya pergi juga dari sini Mirah. Onok-onok ae kelakuan mak-mak iku”
“Biasa mas mak-mak gak bisa dikalahkan, Mirah kan juga calon emak-emak waktu sebelum meninggal”
“Eh Mirah, katamu yang ada disini juga mayat ya. Itu patung-patung peraga pakaian itu juga mayat?”
“Iya mas, ndak percaya, coba aja mas Blewah putusin salah satu tanganya, nanti kan keliatan, cuman Mirah ndak tau itu mayat dari mana dan mayat siapa”
“Ndak ah Mirah , biarin aja lah. Kita berburu yang ada di dalam sana saja, tapi kita nunggu Dogel dulu, soale aku sudah janji untuk nunggu dia datang”
“Yang diluar sudah sepi mas, apa ndak sebaiknya mas Blewah buka pintunya lagi? Siapa tau mas Dogel ada di luar?”
“Ya sik sebentar Mirah, aku belum yakin kalau mereka sudah pergi dari sana. Takutnya kalau kalau kita keluar, kita bisa digebukin sama warga”
“Mirah, aku kok curiga sama kelakuan Dogel yang tambah aneh ini. Apakah mungkin karena dia tidak kuat akibat dijejali oleh beberapa pemberian dari mbah putri dan beberapa orang tua lainya?”
“Ya bisa saja mas, dan kemungkinan besar iya mas”
Aku ndak tau sudah jam berapa ini, perkiraanku sekarang mungkin sudah lewat waktu maghrib. Dan untuk saat ini aku mulai merasakan adanya perbedaan hawa atau apa ya? Pokoknya aku merasa ada yang berbeda dengan situasi disini.
“Mas, Mirah juga ikut merasakan apa yang dirasakan mas Blewah, ada baiknya mas Blewah ada diluar untuk saat ini mas, karena Mirah merasa ada yang sedikit aneh dengan situasi disini”
__ADS_1