INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
BAB 53, TERSESAT


__ADS_3

Apa lagi ini yang di depan mobil, kenapa tiba-tiba di cuaca yang cerah ini muncul kabut? Tapi harusnya wajar memang waktunya muncul karena saat in sudah sore, waktunya kabut muncul.


“Mas... apa yang harus kita lakukan mas?” bisik Totok dengan suara tenang tanpa menoleh ke arahku sama sekali


Kenapa Totok bisa setenang itu nada suaranya, seolah dia hanya meminta pendapatku apa yang harus aku lakukan apabila ada kabut seperti ini. Padahal saat ini aku mulai panik , karena kita ada di suatu tempat terpencil tanpa ada orang yang lalu lalang disini.


Kabut atau gulungan asap tebal berwarna putih susu itu lama kelamaan berubah menjadi abu-abu mirip awan cb yang biasanya menimbulkan hujan deras dan petir, dan sekarang gulungan kabut mengerikan itu semakin mendekat ke arah mobil kami.


“Eh mas Totok sebelumnya pernah lihat yang kayak gini atau tidak?” aku berusaha untuk bersikap setenang munkin di depan  Totok, aku tidak  mau dianggap lebih penakut dari pada dia.


“Nggak lah mas, akunya baru ini aja liat kabut aneh ini mas,  gimana apa kita diam aja atau harus kita terobos kabut itu mas?” tanya Totok sambil menaruh telapak tanganya di pahaku. Buru-buru kuangkat tangan dia dari pahakum dari pada nanti nyasar ke persniling mobil lagi hihihi


Totok berbicara kepadaku seolah olah dia sedang menilai dan diaknosa pikiranku tentang apa yang ada di depan mobil Totok  yang sedang berhenti.


“Heeheheh karena saya bukan pemilik mobil maka saya terserah pemilik mobil saja mas, pemilik mobil menyuruh apa nanti kan bisa dipertimbangkan” aku berusaha mengambangkan situasi, aku ndak mau dianggap sebagai pembuat keputusan, karena disini aku hanya diajak Totok.


“Akunya gak  ada ide mas, kalau gitu apa sebaiknya diam saja disni “ kata Totok dengan wajah tanpa ekspresi dan selalu melihat ke depan


Semenjak bertemu dengan mbah Kara, kelakuan Totok semakin aneh, apakah aku harus waspada dan menuruti kata hatiku atau aku harus menuruti laki laki  yang memakai dress dan memakai wig panjang ini?


Kabut yang sekarang berwarna abu-abu itu semakin dekat ke arah mobil, mungkin antara kabut itu dengan mobil tinggal sekitar lima meter saja, aku harus segera mengambil keputusan, apa yang harus kulakukan apabila  dalam keadaan seperti ini.


Kuputuskan untuk diam, kupasang handrem mbil dan kumatikan mesin mobil, aku hanya berjaga jaga saja takutnya kabut abu abu itu membawa partikel partikel yang dapat membahayakan mesin mobil. Aku saat ini ndak mikir apa yang akan dikatakan Totok karena ulahku mematikan mesin mobil.


Hmm ada yang aneh dengan tingkah laku Totok, sekarang dia menatap kabut itu dengan tersenyum , dia tersenyum dengan melebarkan sisi kiri dan kanan mulutnya seakan akan sedang menantikan kabut itu datang kepadanya.


Kalau kalian tau video klip band Soundgarden yang judulnya lagunya Black Hole Sun, ketika perempuan blonde tersenyum lebar sambil menatap sesuatu yang ada dilangit, ya seperti itu lah Totok saat ini.


Kabut abu-abu itu semakin mendekat hingga kurang dari satu meter dari posisi mobil.... semakin dekat .... dan akhinya mobil ini ada didalam kabut abu-abu kehitaman yang cukup mengerikan


Aku yang berdzikir dari mulai awal datangnya kabut yang tidak normal ini rasanya aneh ketika melihat tingkah Totok yang seakan memang mendambakan keedatangan kabut abu-abu yang aneh.


Mobil ini sekarang sedang diselimuti oleh kabut, tetapi yang aneh adalah adanya bau busuk didalam kabin mobil, padahal semua jendela mobil padahal tertutup rapat, tetapi anehnya di dalam kabin mobil aku mencium seperti sesuatu  yang busuk dan  terbakar.

__ADS_1


Padahal seperti yang tak jelaskan tadi, semua jendela mobil sudah tertutup, apa mungkin ada celah di mobil ini sehingga ada bau busuk dan gosong itu bisa masuk ke dalam mobil?


Sudah ada sekitar satu menit kabut abu abu ini menerjang mobil, tetapi aku tidak berhenti untuk berdzikir, aku iseng menoleh ke arah Totok, aku ingin tau apakah dia masih tersenyum mengerikan sambil melihat kabut atau tidak.


Ternyata Totok masih tersenyum sambil memandangi kabut aneh ini, aku iseng menyipitkan mataku seperti yang kulakuan sewaktu ada di vila putih.


Ketika aku melihat Totok.. , Astargfirullah, Totok sekilas terlihat berupa mayat, sebuah mayat yang memakai dress perempuan!


Ketika kukedipkan mataku lagi, mayat di sebelahku sudah berubah menjadi Totok lagi, dia menoleh kearah ku sambil tersenyum sok manis sok endel.


“Ada apa mas Agus kok liatin akunya kayak gitu mas, kok kayak lihat hantu aja sih mas hihihi” tanya Totok yang masih lihat ke arahku


“Mas tolong on kan dong kunci mobilnya, akunya pingin dengerin lagu nih selagi nunggu kabutnya ilang mas” tiba-tiba Totok minta agar Kunci mobil di On kan saja.


Hmm dengaren dia pingin denger lagu padahal dari tadi mulai berangkat dari Mjkt hingga sampai  di vila putih kami sama sekali tidak menyalakan musik.


Kemudian dia memasang sebuah flash disk di tape mobil, kemudian dengan menggunakan remote contlol yang dia ambil di console box mobil  Totok memilih milih lagu, dan akhirnya sebuah lagu yang dia putar adalah


Aku tau seneng karo arek Mojoarum


Tiba’e dhewe’e gak kolu karo aku


Alasane dhewe’e “Raimu koyok garpu”


“Mas Agus tau lagu ini ndak, coba dengerin lucu lho mas lagunya”  kata Totok sambil menirukan suara Blewah yang bener-bener parah hebat di lagu itu.


“Saya tau lagu itu , tetapi  saya kurang suka lagu itu, karena vokalnya kok kayaknya fals dan tidak bisa nyanyi mas, lebih baik putar lagu Indonesia lainya aja mas heheheh” jawabku


Aku tidak memberi tahu Totok kalau aku dan kedua temanku Glewo dan Blewah adalah anggota dari band yang lagunya sedang diputar Totok.


Lagu kami itu sebenarnya masuk di album kompilasi metal yang berjudul metalik klinik, waktu itu sekitar tahun 97 an kalau ndak salah, tetapi anehnya sampai sekarang masih ada saja orang yang mendengarkan lagu itu.


“Lucu ya mas lagunya, apalagi suara yang nyanyi, kayaknnya waktu rekaman itu vokalisnya sedang sakit mules mules diare ya mas hihihii”

__ADS_1


Perlahan lahan kabut mengerikan ini hilang, suasana menjadi normal kembali, kucoba untuk menstater mobil karena suasna sudah semakin sore, dan Alhamdulillah mobil bisa dinyalak tanpa ada  kerusakan setelah dilewati kabut aneh tadi.


Mobil kujalankan pelan pelan, karena kabut tipis masih membayang disekitar sini, aku ndak habis pikir sebenarnya tadi itu kabut apa dan kenapa Totok sekilas berubah  menjadi mayat, dan sekarang dia memutar lagu  yang mengakibatkan matinya beberapa orang.


Totok mengulang lagu itu hingga dua kali , tiga kali, dan empat kali. Aneh sekali yang dilakukan Totok, dia mengulangi, menikmati, dan menyanyikan lagu yang berjudul Ngerap itu, sebenarnya dia itu doyan atau apa sih.


Durasi lagu itu kalau ndak salah hanya  empat menit sekian detik, dan dia sudah empat kali memutar lagu itu , harusnya posisi kami sudah sekitar enam belas menit dari posisi tadi kami berhenti kena kabut.


Tetapi anehnya kami masih jalan di antara hutan dan jurang, kenapa lama sekali, harusnya dengan 16 menit kami sudah sampai di daerah gebang.


Padahal waktu berangkat menuju ke sini tidak selama ini juga, tapi biarlah mungkin ini karena aku yang kurang konsentrasi sebagai supir bagi boss Totok!.


“Mas Totok apa suka lagu itu, kok sampai diulangi hingga empat kali dan sampeyan hapal seluruh syairnya pula mas” tanyaku


“Akunya suka sekali sama lagu ini , mau saya ulangi sampai sepuluh kalipun akunya ndak akan bosen mas, apalagi liriknya lucu, ada nama perempuan yang satunya Indah laminatingrum dan satunya I Gusti Lambat sari, yang bikin lirik ini memang jenius kok mas”


Hehehe dia belum tau kalau yang bikin lirik itu tukang parkir yang ada di toko Gemezzz, tapi hal ini tetap kurahasiakan selama kasus lagu kami dan kasus Indah belum selesai. Tapi yang aneh ini kenapa Totok sampai mengulang ulang lagu ini?


Sekarang sudah yang kelima kali dia mengulang lagu ini, tetapi perjalanan ini kok semakin aneh, jalan disini kok tidak semulus waktu kami berangkat kesini, dan yang aneh lagi aku kok rasanya asing dengan jalan ini, tidak seperti waktu kami tadi naik.


“Mas Totok, jalannya kok malah geronjal geronjal gini sih mas, kan tadi waktu kita berangkat jalanya tidak seperti ini mas” tanyaku kepada Totok yang masih saja mendengakan lagu Ngerap.


“Ndak  kok mas , perasaan sama kok jalannya dengan ketika kita datang kesini mas, memangnya mas Agus ngerasa gimana sih mas” jawab Totok yang mulutnya masih komat kamit menyanyikan lagu ini


“Kayaknya jalannya lebih jelek dan pohonya lebih banyak dari pada yang tadi mas, lagi pula sudah lima lagu ngerap tapi belum sampek sampek juga ke Gebang mas. Apa kita ndak salah jalan nih mas Tok?


Aku berusaha memberikan logika kepada Totok agar dia juga ikut mikir, dan ndak Cuma nyanyi lagu buruk itu terus menerus sampek rasane mbelenger. Sik...sik, tapi apakah yang dilakukan Totok ini termasuk sama dengan yang dilakukan beberapa orang yang sudah mati akibat lagu ini ?


“Mas Totok aku yakin kita tersesat ini mas, kita tidak pernah lewat daerah ini mas, apalagi ini sudah menjelang maghrib mas” kataku kepada Totok yang masih sibuk dengan lagu ini


“Nggak mas, coba lurus aja mas kita nanti akan ketemu gebang kok, ini kan sudah malam jadi penglihatan kita juga berpengaruh mas, dan akhirnya mas Agus merasa kita ini sedang kesasar mas”


“Ok tak cobanya pelan pelan jalan lurus kebawah, tetapi tolong  bantu saya perhatikan jalan, karena jalan ini semakin rusak dan semakin sepi”

__ADS_1


Tiba-tiba aku lihat ada bayangan sebuah dokar yang berjalan menuju ke atas, dokar itu berisi tujuh orang termasuk kusir kuda yang duduk di depan samping.


Bayangan dokar itu jelas sekali, bahkan penumpangnya pun aku bisa aku lihat, dan sebagian penumpang itu kok aku merasa kenal...


__ADS_2