
“Gel, apa nanti malam kita ndak ke Gemezzz, takutnya Totok suda ada disana dan waktunya toko buka” kat Glewo
“Nanti tak telponya deke Wo, soale kan dia sampai sekarang belum telpon aku sama sekali. Aku nunggu dia telpon dulu, dan seandainya kalau dia telpon dan tanya kenapa ndak masuk, aku kan bisa bilang kalau ada di hotel Waji nunggu dia datang dari jalan jalanya”
Setelah melakukan pembayaran dimuka sesuai yang diminta Baldy, kami segera ke kamar nomor 6+, aneh juga biasanya hotel kan meminta pembayaran pada waktu check out, kenapa tadi petugasnya meminta pembayaran penuh pada waktu kita masuk kesini.
Aku dan Glewo sedang mengambil mobil Totok yang kuparkir di pinggir jalan. Aku sudah punya alasan apabila nanti Baldi mengenali mobil Totok itu, nanti kami akan beralasan kalau sedang menunggu Totok disini.
“Aku juga ngerasa aneh Wo, kenapa Blewah kok bersikeras untuk nginap disini, padahal kita kan niatnya cuman liat liat kondisi hotel saja. Tetapi mungkin deke ada alasan tersendiri Wo”
Mobil sudah kuparkir di bawah pohon mangga seperti sebelumnya ketika aku ada disini bersama Totok, hari makin sore ketika kami berlima ada didalam hotel yang pendingin ruanganya kami nyalakan.
“Aneh mas, semakin sore kok hawane semakin panas ya disini mas, harusnya kan disini hawahnya dingin” tanya Tifano
“Ndak tau Tif, makanya di sini kan disediakan ac agar hawanya tidak panas” jawabku
Semakin aneh saja disini, karena semakin sore disini semakin panas dan hawa disini juga semakin aneh, bukan dingin tetapi lebih ke anyep dan bikin gelisah...geli geli basah hehehe.
“Gel gak cari makan malam ra rek, keburu malam kita dan susah cari makan disini lho rek, jugaan kita siang kan juga belum makan rek” kata Glewo
“Nanti kita ke warkop di depan hotel dulu ae rek, soale disana juga jual sego bungkusan” ajakku
Maghrib pun tiba, aku semakin merasa gelisah dan aneh ketika ada di dalam kamar, ndak tau dengan keempat temanku, apakah mereka juga merasa seperti yang aku rasakan atau ndak.
“Whuuaaah rasane abot disini mas, rasane susah benafas” kata Broni yang wajahnya nampak tegang
“Maksudnya abot gimana Bron, soale kan kita ada berlima ada di sini, jadi mungkin karena penuh manusia akhirnya hawanya pengab ya” kataku untuk menenangkan Broni yang mulai merasa aneh
“Padahal Ac sudah tak setel suhu udara minimun iki rek, harusnya disini sudah sedingin kulkas lah, wong kamar segini dikasih ac dengan ukuran 1pk, apa ac ne rusak ya?” kata Glewo
“Gak mas, coba sampean di bawah hembusa ac mas, dingin lho kalau ada dibawah hembusan ac gini mas, masalahe yang dingin cuma di bawah sini saja mas, di sekitar lainya ndak dingin mas” kata Tifano yang sedang duduk di bawah hembusan ac yang dibuat maksimal
Maghrib sudah lewat, malam semakin kelam, aku putuskan ke warkop mbah Joyo depan hotel, siapa tau mbah Joyo masih ingat kepadaku, lagipula kami sudah lapar semua pada gelisah juga.
“Ayo ke depan aja rek, kita ke warkop mbah Joyo yang ada di depan sana” ajakku kepada temanku yang nampaknya sedang gelisah semua
__ADS_1
Kami keluar dari kamar bersama sama, dan untuk menjaga agar keadaan kamar tetap dingin maka pendingin ruangan tetap dinyalakan.
Dan satu yang aku tidak bisa lupa yaitu sinar lampu di sekitar sini, baik yang ada di dalam kamar maupun yang ada di taman hotel, semua bola lampunya besinar redup seperti kalau voltase listriknya turun.
“Aneh ya rek, cahaya lampu disini kok ndak terang sama sekali ya” kata Glewo “tak pikir cuma dikamar aja yang ndak terang, tibake di taman kamar ini juga sama saja rek, semuanya redup”
Aku tidak menjawab omongan Glewo karena aku merasa ada sesuatu yang sedang memperhtikanku, sesuatu itu ada di antara pepohonan di sekitar taman.
Kami masih berada di depan kamar nomor 6+, kelima temanku sedang berdiri di depan kamar dengan wajah yang bingung, mungkin mereka merasa aneh karena di sekitar sini cahaya lampu sama sekali tidak terang.
Keliatanya bukan cuma aku saja yang merasa aneh, keliatanya keempat temanku juga merasakan hal yang sama, tetapi mereka pendam sendiri rasa aneh itu.
“Mas, apa di hotel ini lampunya memang redup semua?” tanya Broni
“Yuk kita cepat ke warkop, aku sudah laper rek” sengaja aku ajak temanku untuk segera pergi dari sini, karena aku sekarang merasa ada sebuah kekuatan yang mulai mendekatiku
Kudekati Blewah yang keliatanya sedang melihat sesuatu di sekitar sini, karena mata BLewah hanya melihat ke satu arah dalam waktu yang cukup lama.
“Wah, ayo kita pergi dari sini cari makan yuk, wis laper sekali iki rek aku” ajaku kepada Blewah yang masih saja melihat ke satu tempat
Tempat yang saat ini blewah sedang lihat adalah di taman samping kiri kamar kami yang gelap gulita karena sama sekali tidak ada lampu. Lampu terakhir hanya ada di depan kamar kami.
“Sik rek, eeeh kalian pergi dulu aja ke warkop, aku mau ke kantor hotel dulu” kata Blewah yang tiba-tiba berubah arah menuju ke kantor hotel
“Kalian pergi ke warkop mbah Joyo sana, aku temani Blewah dulu rek, dari pada nanti Blewah ngerayu petugas jaga yang ada di sana itu” tunjuku ke meja resepsionis yang nampak kosong
Ketiga temanku segera berlari menuju ke luar hotel dan menuju ke warkop mbah Joyo yang terletak beberapa belas meter di sebelah kiri hotel.
“Ada apa Wah, kamu lihat apa tadi di samping kamar kita” tanyaku penasaran
“onok arek cilik ( ada anak kecil) , beberapa anak kecil yang bertampang ganas, mereka tadi lihat aku sambil memamerkan taringnya, tapi aku gak takut blas, tak pendeliki (aku pelototi) mereka, kemudian mereka pergi ke taman belakang Gel
“Aku soale dari tadi juga merasa ada yang lihat ke arahku Wah, tadi aku merasa ada puluhan mata yang sedang melihat kearahku”
“Lha itu Gel, selain anak-anak tadi itu ada juga memedi yang tadi lihat ke arah kita, tapi mereka ndak berani mendakati kamu koyoke Gel, mungkin karena apa yang mbahmu kasih ke kamu paling” kata Blewah
__ADS_1
“Lha sekarang kita ngapain ke kantor hotel Wah, kamu mau bicara sama Baldy ta?”
“Gak Gel, aku mau lihat kalender yang ada di dinding sana, aku pingin lihat sesuatu disana dan tahun berapa yang ada di kalender itu, dan juga ada sesuatu yang harus aku cocokan disana” jawab Blewah
“Apa yang mau kamu cocokan disana Wah”
“Nanti ae, nanti lak kamu tau dewe Gel” jawab Blewah lalu berjalan menuju ke arah kantor hotel
Pintu kantor tertutup rapat, didalam sama sekali tidak nampak Baldy, mungkin dia sedang ada di dalam ruangan yang terletak di belakang meja resepsionis.
Cahaya yang ada didalam kantor pun hanya berasal dari satu lampu yang terletak di tengah tengah ruangan , atau ada di antara kamar-kamar yang tertup pintunya dan itupun sama juga, redup!.
Blewah mencoba membuka pintu kantor hotel yang kalau aku perhatikan seperti sebuah gerbang menuju ke dimensi lain yang lebih mengerikan.
jeglek....krieeetttt.............
Ternyata tidak dikunci sama sekali, pintu yang sebagian besar kaca itu bisa dibuka dengan mudah, berarti pegawai hotel ini ceroboh hingga tidak mengunci pintu dikala tidak ada orang sama sekali di kantor hotel ini.
Blewah dan aku memasuki kantor hotel yang cahaya nya redup. Dan sekali lagi aku bisa merasakan adanya perubahan hawa dan suasana di dalam sini. Benar benar bikin gelisan dan agak hangat. Mungkin karena disini tidak ada ventilasi udara sehingga hawa yang ada disini terasa hangat.
“Gel, kita ndak perlu memeriksa apa yang ada disini, aku cuma mau lihat kalender yang ada disana itu” tunjuk Blewah pada sebuah kalender yang bergambar artis hot Indonesia pada era 90 an
Aku tunggu Blewah disini saja , disebelah meja kursi yang erlihat kuno. Blewah mendatangi kalender yang terletak di dinding sebelah meja resepsionis, dia keliahatanya sedang mengamati sesuatu disana.
Tidak lama kemudian Blewah mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, dia mengamati benda yang barusan dia ambil dari kantong celana depanya. Benda itu dia sandingkan di depan kalender, keliatanya dia sedang mencocokan sesuatu di sana.
Setelah puas dengan apa yang Blewah lakukan, kemudian dia menuju kembali ke arahku sambil melongok di balik meja resepsionis, keliatanya dia ingin melihat sesuatu disana, tetapi kan disini gelap, apa dia bisa lihat dengan baik?
“Wah , cari apa lagi kamu disana, ayo kita pergi dari sini , takutnya nanti Baldy akan muncul Wah!” teriaku dengan berbisik
Blewah hanya memberi tanda dengan tanganya agar aku diam , keliatanya disana ada sesuatu yang menarik selain hanya kalender yang ada di dinding.
Tidak lama kemudian Blewah selesai dengan aktivitasnya yang mirip mirip detektif urusan perghaib ghaiban hehehe.
“Ayo kita pergi dari sini Gel, ada yang janggal disini. Nanti kita bahas saja di warkop, tapi dengan catatan warkop dalam keadaan sepi”
__ADS_1
Kami berjalan mengendap endap di sisi dalam kantor hotel, tujuan kami adalah pintu kantor yang tadi kami buka, tetepi baru beberpa langkah, tiba tiba
Kriiieeetttt jeglek................ pintu kantor hotel bergerak pelan dan menutup dengan sendirinya!