
Aku tetap belum percaya dengan apa yang sedang kulihat sekarang ini, semua jelas sekali bagaikan film, tapi ini koyok film 3 dimensi, jadi terlihat nyata sekali.
Ketika ayah dari keempat anak itu selesai dengan petugas penerima tamu, kemudian gantian dengan customer satunya yang baru datang.
Amat disayangkan aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, seolah kita sedang menonton film bisu tapi sudah berwarna. Bapak dari rombongan keluarga berikutnya sedang ada didepan petugas reception
Dan sekali lagi amat disayangkan, aku tidak bisa lihat siapa yang bertugas di balik meja terima tamu itu, aku hanya bisa lihat tamu yang sedang berhadapan dengan yang jaga meja itu.
Sementara itu istrinya yang tadi memegang sebuah buku tts sedang duduk di sebuah bangku kecil tepat di depan kami yang barusan ditinggal oleh keluarga pertama yang sekarang menuju ke kamar yang ada di lorong ini, tetapi sayangnya aku tidak bisa lihat di kamar mana mereka berada.
Perempuan itu duduk dengan menyilangkan kakinya yang lencir dan indah tanpa ada borok dan bekas luka knalpot motor sama sekali. Kemudian setelah duduk nyaman, perempuan itu membuka buku ttsnya.
Aku bisa lihat dengan jelas perempuan yang ternyata cantik itu karena posisi duduknya persis di depanku, kami berhadap-hadapan dengannya secara langsung. Tetapi dia tidak bisa melihat kami, karena memang yang ada di depanku ini kan memang beda.
Mereka hanya proyeksi atas apa yang sedang terjadi di sana pada waktu itu. atau mungkin saja demit-demit jahat saat ini sedang menonton rekaman film kejadian pembantaian G30S PKI, eh salah, kejadian pembantaian di hotel Waji.
Jelas sekali perempuan itu sedang membuka halaman pertama dari buku tts yang dibawanya. Raut wajahnya seolah sedang berpikir tentang apa jawaban atas pertanyaan pertama pada halaman pertama buku tts itu.
Kemudian dia mengambil bolpoin yang ada di celah tas kecil yang sedang dia bawa, sebuah bolpoin yang begitu terkenal di masanya, bolpoin cetak-cetek merk pilot yang aku rasa adalah bolpoin paling empuk pada masanya.
Wajah perempuan itu kelihatanya sedang mengeja sebuah jawaban atas pertanyaan yang ada di buku tts itu. ketika dia akan menulis sebuah jawaban di buku ttsnya , tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam lorong atau kamar.
Setelah teriakan pertama, kemudian dilanjutkan dengan teriakan petugas reception yang mengerikan, lebih mirip suara beruang yang sedang menyerang lawannya.
Aneh juga kenapa aku sekarang bisa mendengar suara teriakan , tidak hanya teriakan dari petugas jaga hotel saja yang bisa kudengar, tetapi juga teriakan mengerikan yang berasal dari lorong dan kamar hotel.
Kulirik ketiga temanku, wajah Glewo dan Indah ketakutan, Indah menutup mulut Mungil nya dengan telapak tangan, kelihatanya mereka juga bisa mendengar suara teriakan dari petugas hotel ini.
Petugas reception itu menggeram dan berteriak bagaikan suara beruang yang menyerang lawannya, kulihat perempuan di depanku ketakutan, dan mulut perempuan itu menggambarkan kalau dia sedang teriak minta tolong. Tidak lama kemudian dia melempar buku ttsnya ke arah petugas reception itu.
Kenapa yang terdengar hanya teriakan dari petugas jaga meja tamu dan petugas yang mengantar tamu ke kamar masing-masing, kenapa teriakan para tamu yang disini aku tidak bisa mendengarnya?
__ADS_1
Setelah itu yang terjadi makin mengerikan, orang-orang yang ada di depanku saling serang, keluarga itu saling serang, keempat anak kembar itu sekarang sedang mengigit tubuh ibunya yang agak gemuk. Ayah mereka sedang menyerang babysiter, dan mendapat perlawanan dari babysiter itu.
Keadaan makin mengerikan karena darah yang muncrat dan tercecer dimana mana, suara geraman dan kunyahan sedang memakan daging terdengar dimana-mana, semua saling serang, semua makan dengan lahap, siapa yang terkuat itulah pemenangnya.
Ketika keadaan makin kacau balau, kami semakin lama bisa mendengar apa yang terjadi di sekeliling kami, semakin terdengar dengan jelas suara kunyahan, suara remahan tulang manusia yang sedang dikunyah, suara kepala yang dibenturkan di lantai dan kemudian pecah.
Semakin kesini kami semakin bisa mencium bau amis, bau anyir darah, dan bau busuk mirip kotoran manusia, mungkin ketika perut mereka dibelah untuk dimakan, kotoran manusianya pun ikut keluar dan berceceran di lantai juga.
Kulihat jam tangan digital ku, ternyata keadaan ini sudah berlangsung hingga hampir satu jam lamanya.
Dan semakin lama indra pendengaranku dan indra penciumanku semakin tajam mendengar dan mencium bau amis, anyir dan bau busuk atas apa yang sedang terjadi di sekitar kami duduk ini.
“Jangan bergerak dan jangan bersuara” bisik Sumirah kepada kami
THORHOOK!..THOORHOOOK!...., BERSIHKAN SEMUA KEKACAUAN INI SEKARAANG!
“Sebuah suara yang berat dan menyeramkan sempat berbicara dengan seseorang yang bernama thorhook, suara siapa yang berat serak dan menyeramkan itu, apakah dia itu pemimpin disini?” batinku
Kami masih terdiam di bagian bawah sebelah meja reception tanpa berbicara sedikitpun.
Aku sedang membayangkan nama Thorhook. Siapakah Thorhook itu, apakah dia adalah nama lain Totok, atau apakah Totok itu yang menyuruh Thorhook untuk membereskan kekacauan? Tapi gak mungkin, bukanya Totok itu melambai dan kebanci-bancian.
Ketika sedang asik berandai-andai, tiba-tiba ada sebuah kepala manusia yang menggelinding ke arah kami, kepala manusia yang putus tepat di bagian pangkal leher itu matanya melotot mengerikan.
“Yancook!” pekik Glewo secara spontan ketika melihat sebuah kapala yang penuh darah dengan mata yang masih melotot itu mengarah kepada kami.
Suara Glewo cukup keras untuk membuat bungkam geraman dan deru nafas yang mengerikan dari mahluk yang ada di sana.
Aku takut?, Jelas takutlah, mosok purak-purak takut. Tetapi hingga beberapa menit tidak ada satupun mahluk aneh yang menghampiri kami, sedangkan ndas glundung dengan mata melotot yang merupakan kepala ayah dari keempat anak-anak lucu itu tetap menghadap ke arah kami dengan menakutkan.
Sejenak setelah Glewo bersuara, kami tidak mendengar suara apapun baik suara geraman atau suara deru nafas yang mengerikan.
__ADS_1
Tetapi tidak lama kemudian beberapa binatang berkaki empat yang mirip dengan anjing, tapi memang mungkin anjing sih, tapi tidak mirip anjing, karena ada beberapa keanehan.
Wajah binatang itu mirip dengan manusia dengan telinga yang pendek , tidak menjulang tinggi mirip dengan anjing kebanyakan. Binatang itu menjilati darah dan kotoran manusia yang ada dilantai hotel dengan rakus.
Ketika binatang itu sedang sibuk dengan kegiatan jilatannya, tiba-tiba ada orang yang mendekat, kemudian tangan orang itu mengambil kepala buntung yang ada di depan kami.
“Huuddf untung ketemu, ada yang ketinggalan ini Tok” kata seseorang yang mengambil ndas glundung dan kemudian melemparnya ke arah orang yang dipanggilnya dengan Tok itu.
“Hubungi showroom mobil teman kita yang ada di sby, jual murah mobil yang ada di depan itu semua secepatnya” suruh orang yang dipanggil tok itu
Rasanya aku familier sekali dengan suara yang dipanggil Tok itu, suara itu mirip dengan suara Totok, tapi kenapa kok lakik sekali, beda dengan Totok yang kita kenal sebagai laki-laki melambai.
Dia menyuruh temannya untuk menghubungi seseorang di sebuah showroom mobil yang ada di kota sby, kasus ini berarti melibatkan seseorang pemilik showroom mobil yang ada di sby.
“Bro besok aku mau ke sby, kerja dulu bro hehehe, sekalian bersenang senang sama jenazah yang ada disana” kata seseorang yang dipanggil tok itu.
“Kalau kamu berubah pikiran bro, aku bisa daftarkan kamu juga ke tempat kerjaku. Lumayan Bro hahahaha” kata yang dipanggil Tok itu lagi
“Gak ah Tok, saya kerja jaga hotel aja, sekalian cari makanan buat ke bos besar disini” jawab lawan bicara dari yang dipanggil Tok itu.
"Bro kamu liat dompetku ndak?" tanya orang yang dipanggil Tok itu
"Mana saya tau Tok, dompet kamu yang pegang, mana saya tau dompet kamu ada dimana" jawab temanya
Aku punya pemikiran sendri tentang dompet yang dipanggil Tok itu, mungkin saja ketika terjadi pembunuhan dan pengkanibalan, tangan korban sempat mengambil dompet yang dipanggil Tok itu dan dilempar ke segala arah.
Amat disayangkan meskipun posisi kami duduk ini ada di bawah sebelah meja resepsionis, tetapi ndak tau gimana aku ndak bisa liat bagian atas, yang bisa kulihat hanya di depan, bagian kiri dan kanan saja.
Ketika aku berusaha melihat ke atas untuk melihat siapa yang sedang bicara itu yang ada hanya bayangan putih aja, sehingga aku tidak bisa lihat siapa saja yang ngobrol disitu.
“Mas, siap-siap kita lawan yang akan lewat di depan kita , apabila dia melihat kita mas” bisik Sumirah
__ADS_1