
“Jadi sekarang kita tidak dibantu oleh Indah dan mbah putrimu Gel?” Tanya Glewo
“Iyo, semua gara-gara aku”
“Yo wis, untung awakmu sadar, kalau kamu memang gak berguna Gel” sindir Blewah
“Sekarang semua tergantung kamu Gel, nek kita masih mau teruskan apa yang sudah kita awali ya ayo gerebek hotel Waji, kita masuki semua ruangan di sana termasuk yang paling sangar sekalipun” kata Blewah
“Buktikan kepada mbahmu kalau kamu memang masih ingin menyelesaikan yang kamu mulai dan kamu mulai bisa bekerja dengan menggunakan segala kemampuanmu” kata Blewah
“Coba nek aku yang dikasih kekuatan itu, sudah dari kemarin-kemarin aku wis selesaikan semua ini Gel. Gak perlu ada korban sama sekali. Kalau pun ada korban itu adalah kita sendiri. Paham kan!” kata Blewah emosi
Bener blewah, aku memang gak berguna, tapi ini kan belum selesai, aku bisa teruskan dan selesaikan semua ini meskipun tanpa mbahku dan Indah sekalipun.
“Wis gak usah ngelamun, gak usah menghayalkan keberanianmu!. Pasti yang ada di kepalamu sekarang adalah rasa bersemangat kan. Tapi coba lihat nanti kalau kita sudah ada di depan sana dan menghadapi yang aneh-aneh, pasti kamu akan mlempem lagi c*k” sindir Blewah lagi
Aku hanya diam dengan perkataan Blewah yang memang ada benarnya, tetapi sekarang beda. Sekarang sudah tidak ada lagi Indah dan kemungkinan besar mbahku pun sudah tidak mau lagi menemuiku.
“Ayo kita selesaikan apa yang sudah kita mulai rek”
“Hihihih mau kamu selesaikan dimana Gel, mau kamu selesaikan di warkop atau di depot makan hihihi, pokoknya gini ae Gel, hari ini aku minta uang, aku mau balik ke Smg. Ngapain juga ada disini kalau kamu masih tetep tolol koyok gini?” kata Glewo
Glewo memang pantas untuk kecewa karena dia merasa aku tidak bisa diandalkan, tapi kubiarkan saja dia pulang ke daerah asalnya, aku bisa selesaikan semuanya disini sendirian bersama Blewah.
“Tenang Gel, biarkan Glewo pulang, aku tetap ada disini, aku penasaran dengan yang ada di hotel Waji, kita selesaikan di sana berdua saja” kata Blewah
“Wah, mbak kae masih ada didalam tubuhmu?”
“Masih ada, memang dia tak ajak tinggal disini, aku seneng kalau ada dia disini, aku bisa ngobrol sama diriku sendiri hahahahah” jawab Blewah
Glewo saat ini sedang mandi, apabila nanti dia memang menginginkan pulang ya tak biarkan dia pulang dan tak sangoni uang untuk biaya perjalanan ke jawa tengah.
“Gel aku jadi plng ke Smg Gel, aku bisa minta uang untuk biaya perjalanan Gel” kata Glewo
“Yo wis Wo, nanti tak kasih uang untuk biaya perjalanmu dan sekalian uang saku untuk kamu Wo”
__ADS_1
Siang ini Glewo kami antar ke terminal bus, Glewo kubiarkan pulang ke daerahnya, dan sekarang tinggal aku dan Blewah saja yang ada disini, dan mungkin juga si Mirah masih kerasan di dalam tubuh blewah.
“Wah, kita tinggal berdua, gimana? Kita sekarang ke Waji yuk, kita nekat ae basmi yang menghalangi kita sampai kita ketemu Totok”
“Eh..yancooook Wah, kan kita ninggalkan orang yang ngakunya bernama Totok di Gemezzz. Ayo kita kesana, sekalian kita obrak abirk Gemezzz”
“Lhooo yo ngene iki sing tak karepno dari awakmu Gel, bukan pribadi yang ragu ragu dan mendang mending hihihihi, ayo wis kita ke Gemezzz dulu, mumpung sapu lidine sik auuaakeh ini wakakaka” kata Blewah yang bersemangat gila gilaan
Dari terminal kami lanjutkan perjalanan ke Gemezzz terlebih dahulu, baru setelah itu kami ada rencana untuk mengobrak abrik Waji.
“KIta masuk ke Gemezzz lewat mana Gel?”
“Coba kamu liat di laci mobil itu, biasanya Totok taruh kunci Gemezzz disitu Wah” aku ingat dulu ketika pergi bersama Totok, totok selalu menyimpan anak kunci toko Gemezzz disana.
“Iki ta Gel?” tanya Blewah sambi memegang beberapa anak kunci dia ambil dari laci mobil.
“Iyo bener iku Wah, ayo kita ke Gemezzz sekalian bawa orang yang ada disana ke waji sekalian Wah” kataku dengan perasaan emosi. Kuambil anak kunci itu dan kumasukan ke kantong celanaku saja.
Siang ini di depan Gemzzz mobil kami hentikan. Aku dan Blewah sepakat untuk mencari orang yang kemarin sempat membuat Indah mengingat semua masa lalunya.
Halaman depan Gemezzz yang kotor diertai dengan banyaknya daun kering yang berserakan menandakan toko ini benar-benar sudah dilupakan
Pintu harmonika masih terbuka sedikit, tetapi teriakan minta tolong seperti semalam itu sudah tidak ada, apa mungkin dia sudah berhasil keluar dari sana ya?
“Wah , sapu pemberian mbah Joyo bawa saja, kita masuk ke dalam sana sekarang”
Dengan bermodal keberanian dan sapu lidi di tangan Bewah, kami akan masuk ke dalam Gemezzz sekarang juga, hahahahah tapi booong.
“Yekopo Wah, kita masuk ke dalam sekarang atau kapan?”
“Terserah awakmu Gel, mau masuk sesuk atau kapan-kapan ya gak papa. Aku lho nyantai gak gupuh blas kok” jawab Blewah kalem
“Tapi anu wah....”
“Tapi opo ? tapi nek kamu ndak masuk ke dalam terus kapan masuknya, gitu ta yang mau mbok tanyakan ke aku Gel?” tanya Blewah dengan lugunya
__ADS_1
“Ngene ae lho Gel, yekopo nek kita bikin tenda disini ae, jadi nek kepingin masuk ya tinggal masuk kesana aja, jadi tinggal nunggu awakmu siap masuk apa ndak. Gimana sip to ideku iki c*k!” kata Blewah
“Ndeh tambah gendeng koen iki Wah, masuknya ya sekarang rek... sekarang , ndak tunggu nanti nanti. Tapi tunggu sik Wah, apa perlunya kita masuk ke dalam sana?”
“Awakmu iki tibake mbulet koyok yembute pitek c*k. Wis gini aja Gel, yekopo nek kita ndak usah masuk ke dalam, tapi yang didalam suruh keluar aja, gimana menurutmu?”
“Oh iyoooo idemu masuk Wah, aku setuju nek gitu, kita suruh saja yang ada di dalam sana untuk keluar yo..yo...yo...”
“Suwi-suwi tak suwek suwek ndasmu Gel... kita ya harus masuk ke dalam sana dancooook!” teriak Blewah
“Males Wah enakan nunggu disini ae, sambil ngopi-ngopi, timbang masuk ke sana yang gak jelas blas”
“Karepmu Gel. Ternyata sifat aslimu yang mbok sembunyikan selama ini elek pol yo Gel, nek gitu aku tak turu nang njero mobil ae”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saya sebagai penulis lama-lama muak juga sama sifat dan kelakuan Dogel. Rasanya malas juga nulis tentang dia. Tapi berhubung Glewo sebagai nara sumber selalu memberikan semangat saya agar tetap menulis apapun yang terjadi, maka dari itu mulai detik ini POV saya ganti menjadi Blewah saja!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dogel iki tibake ndak punya nyali sama sekali , dia hanya besar omong tok ternyata, aku baru tau juga kalau temenku koyok gitu, padahal kami sudah berteman bertahun tahun.
Kalau aku ndak bertindak, ya akan kayak gini terus selamanya, jadi lebih baik aku yang jalan saja.
“Gel, mana anak kuncinya, biar aku yang masuk ke dalam , kalau kamu ndak berani, kamu di sini saja jaga mobil”
Kuminta anak kunci itu dari Dogel, karena aku tau dia tidak akan berani membuka pintu harmonika. Jadi untuk mempercepat segala sesuatunya, lebih baik aku saja yang bertindak.
“Lho mau mbok buka ta pintunya itu Wah, nanti nek ada apa-apa gimana?” tanya Dogel yang mulai terlihat panik
“Gak ngurus raimu Gel, selama kita percaya sama Allah, bantuan pasti akan datang dengan cepat” kataku sambil berjalan ke arah pintu harnonika itu.
Aku heran sama Dogel itu, selama di band dia itu yang kita anggap sebagai yang paling bijak, paling berani dan paling menjaga seduluran dan kekompakan. Tetapi dalam hal ini kenapa dia menjadi orang yang paling aku benci karena ketololannya dan sama sekali tidak bernyali.
************
__ADS_1
Mohon maaf. Mungkin novel saya kurang pas dan kadang saya tidak update. Karena saya sedang menjaga bapak di rs yang sedang pasang ring jantung. Jadi sekali lagi mohon maaf.
Terima kasih