
Seharian ini kami habiskan untuk membersihkan dan memperbaiki becak motor yang keliatanya sudah lama mangkrak di belakang rumah bu Puji.
Untungnya di bagian dapur ada berapa peralatan pertukangan yang bisa kami gunakan untuk sedikit memperbaiki becak motor.
Setahuku alat pertukangan itu milik Om ku, dia kalau datang kesini selalu memperbaiki rumah mbahku kalau ada yang rusak.
Ketiga ban bentor ini sudah kempes tapi untungnya tidak bocor, setelah kami cuci dan sedikit perbaikan disana sini akhirnya becak ini bisa jalan kembali.
Ban yang kempes bisa kami pompa dengan pompa pinjaman dari bu Puji.
Mesin dari bentor ini juga masih bisa dinyalakan, keliatanya suami bu Puji merawat bentor ini, hanya saja karena sudah lama tidak dipakai sehingga keadaanya kotor.
Apa yang kami lakukan hanya perbaikan sederhana dan membersihkan saja tanpa ada perbaikan besar sama sekali.
“Nanti sore jalan-jalan yok rek, yang nyetir bentor gantian lho rek ” ajak Blewah
“Sekalian juga ke rumah orang tua Indah rek ,kita silaturahmi saja ke sana, sapa tau disana kita bisa dapat informasi yang akurat rek”
“Iyo gel, cocok nek ke rumah Indah sore hari, sapatau ada adiknya atau mungkin keponakanya, lumayan nek keponakan dia jadi kepenakan ku Gel hihihi” sahut Blewah
“Tapi daerah Gdg kalau dari sini yo lumayan jauh Gel , opo mesin bentor ini kuat kalau harus kita bawa sampai sana c*k” kata Glewo
”Kuat Wo mesin bentor ini dari mesin motor keluaran tahun 90 an kok dan keliatnya masih bagus , suarane aja sik halus, stateranya juga mak jreng kok”
“Sore ini kok hawanya masih panas yo rek, gimana kalau kita keluar setelah magrib aja sekalian, biar gak kepanasan rek” usul Glewo kepada kedua temanya
“Lho aku sih tererah kalian aja rek, pokok kita bisa ke rumah Indah, setelah itu kita bisa lebih santai, nek menurutku kita berangkat setelah ashar aja”
“Bener awakmu Gel, setelah ashar kita berangkat tetapi kamu yang nyetir yo, aku nyetir nanti malem waktu pulang aja ya” kata Glewo sambil memainkan stang becak
“Tapi nanti kita isi bensin full dulu rek, kebetulan kan deket sini ada pom bensin, setelah rel sepur sebelah kiri kan ada pom bensin rek”
“Becak ini bisa buat cari uang lho rek, dari pada kita gak ada pemasukan gimana nek kita mbecak ae, gantian mbecake rek” tanya Blewah
“Setuju Wah, nanti aku tak mangkal di stasiun aja, disana mesti rame nek waktu ada kereta api datang” jawabku
Sore ini kami sembahyang ashar di mushola seperti biasanya, setelah itu kami siap-siap jalan ke daerah Gdg yang harus melewati jembatan kali brantas.
“Gel Indah dimana, kok gak keliatan sama sekali , lha kalau mau kerumahnya kan deke kudu ngasih tau alamatnya” tanya Blewah
“Onok Ini deke ada di sebelahku, saat ini deke ndak mau nunjukin wujudnya ke kalian. Dia lagi sedih, kalau dia lagi sedih yang mucul iku wajah waktu deke mati, nanti kalian pada ketakuan rek”
“Gel tanyakan sisan, kalu kita sampek sana, apa ada adiknya. atau keponakanya yang aduhai semlohay Gel, lumanyan buat liat liatan Gel , dari pada tiap hari liat Blewah”
“Oooo ngawur ae Wooo Glewoooo” sambil tak keplak kepala si Glewo
Kami sekarang sudah ada di tengan kota, yang pertama nyetir becak ya aku , tapi ndak papa biarkan kedua temanku ini istirahat dulu, pokoknya nanti malam mereka harus mau gantian nyetir.
__ADS_1
Bentor kami sudah mendekati jembatan baru yang dekat dengan pabrik penyedap rasa di daerah Mjkt.
Ketika melewati jembatan Glewo dan Blewah harus turun, karena kaliatanya bentor ini kurang kuat kalau harus menanjak di jembatan ini.
Setelah jembatan, kami arahkan ke kiri ke daerah Gdg, kami ada di jalan raya Mlirip, di pinggir sungai brantas
“Ndah, kamu kasih kita arahan lho dimana rumahmu, kita kan ndak tau arah daerah sini Ndah, kalau kesasar susah lho kita Ndah”
“Terus aja mas, ikuti jalan raya Mlirip ini mas, nanti ke jalan Magersari, setelah itu belok kanan ke Sidoharjo, nanti ada pemakaman”
“Lho yekopo sih Ndah, kok malah ke pemakaman, memangnya kita kamu suruh nyekar siapa disana” tanya Glewo
“Rumah Indah itu tidak jauh dari pemakaman umum itu mas”
“Wah ternyata jauh juga ke rumah Indah rek heheh, tapi ndak papa jeh, kita nikmati aja udara sore menjelang magrib ini, nanti kita maghriban di masjid yang nanti kita temui Rek”
kami sudah ada si sekitar Sidoharjo disana ternyata ada masjid yang lumayan besar, kami sempatkan dulu untuk menunaikan sholat magrib disana sebelum kami lanjutkan perjalan.
Selama perjalanan Indah selalu duduk di atas rangka becak, dia duduk dengan santainya sambil menikmati angin semilir.
Kami lanjutkan perjalanan setelah kami laksanankan sholat maghrib, aku selalu ingat kata almarhum bapak ku, jangan tinggalkan sholat meskipun dalam keadaan apapun , karena dengan Sholat maka kamu akan selalu dimudahkan.
“Yang mana rumahmu Ndah, kita sudah ada di area pemakaman umum ini rek, ojok bilang kalau rumahmu ada di dalam area pemakaman lho yo” kata Blewah
Area pemakamam ini lumayan gelap juga, apalagi sekarang kan sekitar pukul 19.10 an, apalagi sekitar sini juga agak sepi hehehe
“Ayo cepet Ndah yang mana rumahmu, kesuen rek Indah iki, ndang sat set das des gitu lho Ndah, jangan koyok rengginang kena air, lembek” omel Glewo
“Bentar mas, Indah selalu sedih kalau melihat rumah Indah, Indah sedih karena tidak pernah mengikuti perintah Ibu Indah, Indah selalu melawan Ibu Indah mas”
“Ya sudahlah kan sudah terjadi, sekarang kamu sudah berupa hantu, jadi mau gimana lagi Ndah, ayo tunjukin rumah kamu itu yang mana Ndah”
Setelah muter-muter yang ndak gak jelas sama sekali, ndak tau karena dia ini lupa sama rumahnya atau memang sengaja Indah ini mengerjai kami, akhirnya kami diam di depan sebuah kuburan yang sangat luas.
Saat ini pukul 21.40, lama juga kami tadi diajak muter-muter Indah, keliatanya dia sengaja bikin kami kesal, tapi demi Indah kami tidak merasa marah sama sekali.
Tidak lama kemudian dia menunjuk ke dalam area perkuburan.... tangan dia menunjuk ke atap rumah yang dekat atau berada di area kuburan.
“Ndeh sing bener ae rek! ngawur ae kamu ini Ndah , ndak mau aku kesana!. Bisa gendeng aku kalau malam-malam gini masuk ke perkuburan yang asing gini Ndah”
“Sik sebentar aku mau tanya lagi, yang ada disana itu rumah siapa, itu bukan rumah ndah, itu tempat buat nyimpen keranda mayat Ndaaaaah!” kata Glewo saking jengkelnya dengan hantu satu ini.
“Itu rumah Indah mas, Indah pernah ada disana di bangunan yang ada disana itu lho, coba kalian masuk ke sana, liat disana ada keluarga Indah apa tidak!”
“Wiisss ndak mungkin, kamu ini pingin bikin kita ini dianggap gila sama pengendara yang lewat sini ta? Liaten dari tadi orang pada liat ke kita lho Ndah!, jangan ngawur c*k” kata Blewah dengan emosi
Indah hanya diam mematung , dia tidak bereaksi dengan kata-kata yang kami ucapkan, agak aneh juga kelakuan Indah, biasanya dia akan bereaksi dengan kata-kataku yang agak keras.
__ADS_1
Yang terjadi kemudian, mahluk yang ada didepanku yang aku kenal dengan nama Indah ini melayang masuk ke area kuburan yang luas gelap dan panjang ini.
Dia tertawa cekikan sambil melayang masuk ke area kuburan meninggalkan
kami yang sedang kebingungan sendiri di depan pintu masuk makam yang luas dan
panjang ini.
Kami hanya diam mematung melihat kejadian aneh sampai, sampai ada beberapa pengendara motor yang memperhatikan kami bertiga.
“Mas, kalian sedang apa di depan pintu gerbang makam ini” tanya tukang becak yang melintas di depan kami sambil menepuk bahuku
Aku kaget bukan main karena ada seseorang yang menepuk bahuku, ternyata dia adalah orang tua pengayuh becak yang sekarang sedang berdiri di depan kami.
“Kalian habis nganter siapa disini mas” tanyanya lagi
Aku masih bingung, harus aku jawab apa pertanyaan pengayuh becak ini, tidak lama kemudian dia memanggil temanya yang juga melitas di sini.
“Ono opo mbah?” tanya pengayuh becak lainya
“Ketoke ada korban lagi yang disuruh anter ke kuburan ini mas, tiga orang remaja yang masih belum sadar sepenuhnya iki mas, ayo bantu mereka
mas, kasihan mereka masih bingung”
Sebenarya aku dengar mereka berbicara, tetapi aku belum bisa merespon mereka berdua, ndak tau ada apa dengan otaku, apakah aku semakin lambat atau gimana.
Aku merasakan air segar membasuh wajahku dan kepalaku, rasanya dingin dan menyegarkan, aku bisa merasakan hembusan asap rokok yang kemudian
dihembuskan kewajahku oleh pengayuh becak tua itu.
“A..ada apa pak” tanyaku kebingungan
Glewo dan Blewah juga dalam keadaan yang sama dengan ku, mereka juga diguyur dengan air mineral dan disembur dengan asap rokok
“Kalian habis ngantar siapa kesini nak” tanya pengayuh becak tua itu
“S..saya antara yang namanya Indah, d...dia tinggal di rumah yang ada di dalam makam ini pak”
“Hehehe ternyata demit itu masih saja suka mengganggu orang, sudah sekarang kalian pulang saja, kalian tinggal di mana?”
“Kami tinggal di Mb1 belakang rel kereta Mkjt pak”
“Hmm untung rumah kalian tidak jauh, karena beberapa hari lalu ada juga yang disini , dia tinggal di kota S hehehe, sudah kelian sekarang pulang saja, dan jangan lupa berdoa selama perjalanan”
Setelah mengucapkan terima kasih kepada dua orang pengayuh becak, kami mengarahkan bentor kami menuju ke arah pulang.
Selama perjalanan kami sama sekali tidak berbicara, kami hanya diam dan memikirkan apa yang barusan terjadi dengan kami.
__ADS_1
Pukul 22.02 kami sampai dirumah mbahku.