INDAH LAMINATINGRUM

INDAH LAMINATINGRUM
(SEJARAH ROCHMAN)....30. Dibebaskan dan tidak bisa pulang


__ADS_3

“Pak…. saya kesini itu tujuannya bukan untuk dituduh sembarangan…. Kalau bapak tidak memerlukan penjelasan dari saya, lebih baik saya pergi dari sini.


 “Jadi  saya dan Ginten tidak perlu berurusan dengan penegak hukum yang ruwet!”


“Padahal niat saya kesini adalah membantu bapak agar bapak paham apa yang terjadi dan bapak tidak salah memvonis orang”


“Ingat pak.. Pekerjaan bapak ini sama saja dengan pekerjaan orang yang bijaksana,karena harus bisa menentukan orang ini bersalah atau tidak”


“Salah atau tidaknya orang berasal dari keterangan segala aspek dan sisi kan…”


“Hussh Man,, jangan gitu… pak Polisi ini kan berusaha untuk menyelaraskan omongan dulu, beliau ini kan berusaha untuk memahami apa yang kita lakukan waktu itu disana”


“Ingat ya pak Polisi… tugas kalian ini mengayomi masyarakat dan menegakan keadilan… apabila ada warga yang ingin memberikan kesaksian, tolong jangan dipersulit dengan seakan akan warga itu adalah tersangka atau orang yang kongkalikong dengan tersangka!”


“Sekarang saya tanya ke sampean pak… apa bapak paham dan percaya dengan yang namanya ghaib atau ilmu yang berhubungan dengan persetanan dan praktek perdukunan tidak?”


“Kalau tidak percaya ya sudah… tangkap Marwoto dan jebloskan ke penjara karena kasus pembunuhan… mudah dan selesai kan?”


“Tetapi kalau sampeyan percaya dengan yang namanya ilmu hitam atau persetanan atau perdukunan… orang yang sedang bapak interogasi itu sama sekali tidak bersalah!”


“Jadi info yang bisa saya berikan sekarang ini. Jangan interogasi sendirian ,karena sampean tidak akan pernah paham!”


“Carilah orang yang paham dengan urusan seperti ini, agar orang yang sampeyan sebut sebagai tersangka itu bisa menjelaskan kronologinya secara benar…!”


“Saya rasa saya sudah cukup memberikan informasi kepada bapak polisi, saya sudah berusaha sopan, dan saya sudah memberikan masukan kepada bapak”


“Ayo Ten.. kita pergi dari sini… ternyata ada benarnya… seorang saksi atau seseorang yang memberikan keterangan tambahan bisa saja menjadi tersangka, karena pintarnya mereka dalam memproses keterangan yang diberikan oleh seorang saksi atau orang yang ingin memberikan keterangan”


“Kita yang wong cilik dan kurang pengetahuan bisa jadi tersangka dengan secara tanpa kita sadari”


*****


“Kamu ini ngawur aja Man… pak Polisi tadi sampai kebingungan dengan apa yang kamu omongkan Man”


“Biar aja Ten.. kita kesana kan tujuannya untuk memberikan keterangan tambahan yang bisa meringankan Marwoto… tapi yang ada malah mereka menyudutkan kita dengan KTP lah .. dengan tujuan kita malam-malam ada disana lah”


“Wong cilik itu gampang ditindas.. Ya hanya dengan pertanyaan yang berbelit belit seperti tadi itu Ten”


“Jadi menurutmu Man… wong cilik tidak harus berhubungan dengan penegak hukum, gitu?”


“Ya nggak gitu juga Ten… semua kan sesuai dengan prosedurnya…. Kalau memang salah ya salah  hehehe”


“Hah.. jawabanmu berbelit belit Man!


“Yah semua harus dipahami Ten heheheh… harus paham apa yang dimaui oleh mereka Ten, agar semua bisa dipermudah heheheh”


“Iya Man… tapi kamu harus tau, kita ini sedang berhadapan dengan siapa. Mereka itu penegak hukum yang yang sudah disumpah untuk…..”


“Disumpah  untuk setia dengan pasangan hidupnya gitu Ten hehehe?”


“Wis gak usah bahas penegak hukum… kita ini gak tau apa-apa tentang tugas mereka. Apa yang tadi ditanyakan oleh mereka itu kan sudah sesuai dengan prosedurnya, jadi ya wajar aja kalau mereka seperti itu Ten”


“Sekarang kita mau kemana Man?


“Balik ke desa Marwoto.. Ke rumahmu aja lah Ten.. sekalian mau bersih bersih.. Dari pada nganggur kayak gini”


“Man… gimana kalau kita cari penghulu untuk menikahkan kita saja Man?”


“Haduuuhh.. Aku gak mau nikah sama perempuan Ten.. aku gak mau sama perempuaaan!”


“Hiiih.. Biar aku gampang sembuhin kamunya Man”


“Kalau gak nikah kita kan sama seperti berzinah.. Dan dosa besar lho Man”


“Dosa… tidak berlaku bagi aku Ten… dosa itu berasal dari hawa yang keluar dari neraka, dan disanalah tempatku dulu berada”


“Dosa itu hanya pemikiran dari Tuhan agar orang menuruti apa yang diperintahkan dari Tuhan Ten”


“Sedangkan aku…. Aku sama sekali tidak percaya…dan kata raja setan… kita harus hidup bergelimang dosa agar kita bisa masuk neraka dengan mudah”


“Tapi kamu sekarang sudah manusia biasa Man… dan dosa itu harus kamu hindarkan”


“Aku pingin sembuhin kamu, agar kamu bisa hidup normal dan tidak melakukan hal yang dilarang Tuhan Man”


“Eh siapa juga yang minta disembuhin.. Kamu aja yang ngotot mau sembuhin aku Ten”


“Aku kayak gini ini karena aku sayang dan peduli sama kamu Man… aku juga kepingin agar kamu punya keturunan biar silsilah keluargamu jelas Man hehehe”

__ADS_1


“Halah Ten… silsilah kamu ae yo gak jelas gitu Ten hahahaha”


“Makanya Man.. kita nikah saja, kemudian aku hamil anak kita dan akhirnya aku dan kamu punya keturunan yang akan meneruskan silsilah keluarga hahahahah”


“Tambah gendeng otakmu Ten… tambah ngawur dan gak aturan kamu Ten!”


*****


“Rumahmu sebentar lagi sudah bersih Ten.. kita bisa tinggal disini”


“Tapi kalau cuma tinggal berdua dan tanpa ngapain-ngapain ya pecuma juga kan Man… harus ada sesuatu yang membuat hidup kita terasa nyaman kan”


“Eh apa itu Ten… aku purak-purak gak tau aja Ten..”


“Purak-purak aja terus Man… sekalian kamu purak-purak gak suka sama aku Man hehehe”


“Ingat kata Painah Man… dia kan ingin kamu bisa sembuh”


“Iyaaa..aku paham Ten.. sudahlah.. Nanti aja kita bahas lagi.. Kita selesaikan dulu pekerjaan membersihkan rumahmu ini dulu”


Seharian ini tidak ada apapun yang terjadi dengan kami… malamnya pun kami bisa berjualan dengan santai.


Sayangnya persedian pakaian bekasku makin sedikit, sehingga aku harus segera mencari penjual pakaian bekas apabila aku mau melanjutkan daganganku.


Pagi ini aku dan Ginten akan ke rumah dia lagi untuk melanjutkan bersih bersih rumahnya, rencana kami, nanti malam kami akan tidur di rumah Ginten setelah semuanya sudah bersih.


Tujuan  menginap disana agar kami bisa memantau perkembangan kasus Marwoto dan tentu saja hilangnya si Suharto dalam beberapa hari ini.


Aku nggak tau dimana Suharto berada, karena semenjak terakhir aku ketemu ketika dia sedang mengendarai motor,  setelah itu aku tidak pernah jumpa lagi dengan dia.


Seperti biasa setelah pak Peno pergi bekerja.. Aku dan Ginten berboncengan menuju ke desa sebelah.


Ginten yang tidak pernah sedih itu tidak pernah diam selama aku bonceng, selalu  ada saja yang bisa dijadikan topik pembicaraan selama perjalanan.


Hingga tidak terasa sepeda yang kami naiki ini sudah masuk ke gapura desa.


Jalan desa yang pagi menjelang siang ini sangat sepi, karena sebagian besar penduduk laki-laki sudah kerja dan meladang.


Tetapi beberapa belas meter di depan kami ada mobil berwarna biru muda yang sedang melaju pelan.


“Man.. siapa yang naik mobil itu ya…. Kok mobil biru itu jalanya pelan-pelan?”


Kukayuh lebih cepat  sepeda ini agar aku bisa tau siapa yang datang dan  kemana mobil itu mengarah.


Di perempatan depan ternyata mobil itu mengarah ke kanan… ini pasti mobil yang mengantar Marwoto dan Suparmi.


“Man… lihat itu.. Dia ke kanan Man…”


“Iya aku udah tauuu Ten huuufff.. Mmmph.. Capek c*k mengayuh sepeda agar laju kayak gini Ten”


“Kamu mau bilang kalau kamu keberatan gonceng aku Man?”


“Nggaaaak. Sama sekali aku gak keberatan Ten”


“Apa menurutmu aku ini gemuk sehingga kamu sampek ngos ngosan gitu Man?”


“Nggak… posturmu memang kayak gitu dan gak gemuk gemuk amat… asyudahlah.. Jangan banyak bicara Ten!”


“Sebentar lagi kita belok ke kanan juga Ten, dan kita akan lihat siapa yang ada di dalam mobil itu”


Ketika sepeda kuarahkan ke kanan, ternyata mobil bercar biru muda itu berhenti di depan rumah Marwoto dan Suparmi.


Dan benar… perkiraanku, yang keluar dari dalam mobil itu adalah Marwoto dan Suparmi.


Sepeda kuhentikan di perempatan jalan, dari kejauhan aku perhatikan kedua orang itu sedang berdiri di depan rumah.


“Kok mereka tidak masuk ke dalam rumah Man?”


“Kayaknya ada yang gak beres Ten.. kita hampiri saja mereka Ten.. kalau butuh bantuan, kita bantu sebisa mungkin”


“Hembooookk kok otakmu jadi gini Man.. kamu itu setan.. Setan gak boleh bantu manusia kan hahaha”


“Ten… aku ini setan, tapi mereka berdua kan juga bergerak di jalan setan.. Istilahnya mereka itu setan  jadi jadian heheheh. Atau setan palsu”


“Jadi sesama setan harus saling membantu dong”


Kukayuh sepeda kebo milik pak Peno mendekati mereka berdua yang masih berdiri di depan rumah tanpa bergerak sama sekali.

__ADS_1


Sepertinya ada yang sedang mereka baca di pagar rumahnya yang dikelilingi tulisan pita kuning.


Sepeda kuhentikan tepat di depan rumah dia… Marwoto menoleh ke arahku dan Ginten.


“Apa mau kalian datang kesini lagi.. Kalian belum puas melihat saya dan istri saya seperti ini?”


“Seperti ini gimana To.. aku kan sudah bilang… kamu itu harus balik ke rumahmu dan rawatlah makam ibumu painah… jangan kamu lupakan desa tempat kelahiranmu Tok”


“Sekarang salahku apalagi To?”


“Kalian baca saja tulisan yang ada di pagar rumah ini… saya sudah diusir penduduk sini!”


Hmmm penduduk sini beraninya cuma main tulisan saja hehehehe.


KAMI  PENDUDUK DESA BR TIDAK MENGHENDAKI KEHADIRAN MARWOTO DAN SUPARMI YANG TELAH BERSEKUTU DENGAN IBLIS,


KAMI PENDUDUK DESA BR MENGUSIR MARWOTO DAN SUPARMI… APABILA KALIAN BERDUA MASIH ADA DI DESA INI, JANGAN SALAHKAN TINDAKAN KERAS KAMI KEPADA KALIAN


TERTANDA                                                                                                                                                                    SELURUH WARGA DESA BR


“Wah sadis juga mereka To Marwoto.. Hahahah,  nah sekarang kamu bisa  pindah ke desa sebelah, bukannya disana kamu punya dua rumah To?”


“Iya … saya dan istri saya akan pindah ke sana.. Di sana sudah ada anak saya yang tinggal di rumah”


“Dan untuk kalian berdua.. Saya ucapkan terima kasih, karena dengan adanya kalian berdua petugas polisi itu memeriksa saya dan istri saya dengan cepat dan memahami hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun”


“Tapi ingat… saya masih dendam pada kalian, saya akan bikin perhitungan dengan kalian.. Apalagi kamu turunan Ginten.. Rumahmu cepat atau lambat akan saya kuasai!”


“Wuiih Toooo Marwoto.. Kamu ini baru saja bebas dari jerat hukum.. Kok ya masih saja bikin masalah sama kami.”


“Kalian sudah bikin hidup kami berantakan!”


“Heh.. asal  kamu tau, yang bikin hidupmu berantakan itu ya kamu sendiri To!.. kamu hidup di jalan setan, jalan yang selama ini menyertai aku hahahah”


“Jalan setan apa maksudmu!... saya tidak pernah bermain main dengan setan… ingat apa yang saya katakan, dan jangan coba-coba lari dari saya”


“Wah… kamu ngancam aku To hahahah…Kamu jelas tidak bisa melawan aku To!”


“Ingat To… mulut penduduk desa ini dan desa sana itu bisa saling berhubungan… mereka yang disana belum tentu juga sudah bisa menerima kamu hahahah”


“Hanya kami berdua yang bisa  membuat penduduk disana menerima kamu dengan lapang dada hahahaha”


“Ya sudah To.. selamat menempuh hidup baru hahahahah”


“Oh iya To… kalau butuh sesuatu datang saja ke rumah Ginten,... kami berdua ada disana untuk membuat keturunan hahahah”


“Eh Man.. kamu serius mau buat keturunan sama aku” potong Ginten


“Yanc**k.. Jelas gak niat lah Ten… gendeng apa aku bikin keturunan sama kamu hahahahah”


Kukayuh sepeda ini menuju ke rumah Ginten…yang penting untuk langkah awal kami sudah berhasil membuat Marwoto dan Suparmi pergi dari desa ini dengan pengusiran warga.


Tetapi tentu saja aku tidak mempercayai begitu saja apa yang tadi Marwoto bicarakan. Aku tau dia masih senang bermain dengan cara iblis.


Tapi aku yakin, setan tidak akan tinggal diam… setan pasti akan berbuat sesuatu pada keluarga itu.


Sekarang aku tinggal nunggu apa yang akan dia lakukan setelah ini.


“Man… saya kok merasa aneh… kenapa Suharto kok disuruh tinggal di desa sebelah?”


“Alasanya mudah Ten… karena Marwoto tidak mau Suharto tau apa yang sedang dia dan Suparmi lakukan di rumah itu”


“Semenjak kita datang, mereka kan ketakutan sendiri, dan mungkin setelah itu dia memanggil dukun panutannya. Dukun yang mati membusuk kemarin itu”


“Bisa jadi itu alasannya ya Man… gimana kalau kita ke desa kita saja Man, dan melihat rumah Marwoto yang ada disana?”


“Lha tadi aku sudah bilang mereka kalau kita ada di rumah sini Ten?”


“Tidak papa Man….biar aja.. Biar mereka jadi orang yang susah hahahaha”


“Biar mereka mencari kita, untuk saat ini kita sudah berhasil membuat dia pindah Ten.. kita harus lapor ke Painah dulu nanti malam”


“Iya Man.., saya setuju kalau kita nyekar ke Painah dan melaporkan apa yang sudah kita lakukan, dan sekalian tanya apa yang selanjutnya kita lakukan lagi Man”


“Lhooo kamu ini gimana sih Ten.. yang akan kita lakukan lagi ya jelas kan… mengamati tingkah Marwoto di desa sebelah dan meluruskan jalanya menuju ke jalan Tuhan”


“Wakakakak omonganmu ketinggian Man….!”

__ADS_1


“Kamu ini keturunan raja setan.. Ngapain juga kamu harus luruskan orang menuju ke jalan yang benar… bukanya kalau Marwoto mati dan masuk neraka itu baik untukmu?”


“Ndasmu Ten!.... Ini tugas kita hahahah,. Tapi bener kok Ten.., aku punya tugas mulia untuk menyadarkan Marwoto dan menuntun dia ke neraka..eh ke syurga Ten hahahah”


__ADS_2